MENIKAHI ADIK MANTAN

MENIKAHI ADIK MANTAN
Bab 132 : Rose (Bonus)


__ADS_3

Ana menepikan mobilnya di pinggir sungai yang terkenal di kota itu, mereka keluar kemudian membawa serta jajanan yang sudah mereka beli sebelumnya.


Tanpa kata, Ana lebih dulu berjalan melewati Bumi. Dia tidak ingin bertanya soal wanita tadi, dia juga tidak ingin mendengar penjelasan apapun dari suaminya.


Ana duduk di kursi taman yang menghadap langsung ke sungai tersebut, sembari membuka bungkusan makanan disana. Bumi duduk di sampingnya, pria itu tahu, istrinya sedang marah.


"Aku tidak kenal wanita itu,"


"Dia sudah bilang kalian bertemu di club malam di Amerika, mungkin kau lupa." Ana menggigit odeng yang masih nampak mengepul itu.


"Maafkan aku," Bumi menunggu Ana menjawab permintaan maafnya, tapi malah dibalas dengan tawa kecil.


"Untuk apa? Tidak perlu minta maaf." Ana menggeleng pelan sembari melahap makanannya lagi.


Bumi pun menyerah, dia menghela napas panjang lalu ikut melahap makanan tadi. Menjelaskan pada Ana hanya akan membuat wanita itu semakin kesal.


Jadi, lebih baik diam saja.


Suara ponsel Ana kemudian berdering, terdapat satu pesan masuk yang langsung dia baca.


^^^Dari : Dongmin^^^


^^^Aku pamit pergi,^^^


^^^Maafkan atas kesalahanku malam kemarin.^^^


^^^Aku mabuk, aku pasti membuatmu dalam masalah.^^^


^^^Aku minta maaf Ana.^^^


Ana mendengus pelan, disaat Bumi hanya memerhatikannya dengan datar. Pria itu mengambil ponsel istrinya secara tiba-tiba dan membaca isi pesan yang dikirim oleh Dongmin.


Bumi langsung menghapus pesannya dan juga memblokir kontak pria itu, tidak lupa juga dia menghapus nomor Dongmin dari ponsel Ana. Istrinya hanya bisa tertegun melihat tindakan agresif suaminya.


"Kau tidak perlu menghapus nomornya dari ponselku," kata Ana sembari memutar bola matanya.

__ADS_1


"Kenapa? Kau masih mengaharapkannya?" Bumi terkesan nyolot dibanding biasanya.


"Bum! Apa maksudmu, setidaknya biarkan aku berteman dengan Dongmin." Ana merasa bersalah karena bahkan dia belum sempat membalas pesan pria itu.


"Berteman? Kau mau berteman? Aku tidak mengizinkan istriku berteman dengannya!" Bumi menaruh kembali makanan yang hampir dia makan itu dengan kasar, juga ponsel Ana yang tidak sengaja dia jatuhkan membuat layarnya retak.


"Dongmin adalah teman pertamaku semenjak aku ke kota ini, bagaimana bisa kau melarangku berteman dengan semua teman-temanku dulu. Hidupku tidak selalu tentang dirimu Bum!" Karena Ana masih emosi karena wanita tadi, dia pun melontarkan kata yang tidak bisa dia kendalikan itu dengan lugas.


"Aku suamimu!" Bumi berdiri sembari bertolak pinggang.


"Ya aku tahu, tapi kau tidak berhak memutuskan setiap pertemanan yang sudah ku jalin lebih dulu sebelum mengenalmu!" Ana menatap Bumi dengan tajam.


"Terserah kau saja kalau begitu," Bumi melenggang pergi meninggalkan Ana yang masih duduk di kursi itu. Dia mengendarai mobilnya dan dengan tega meninggalkan Ana sendiri disana.


Dia memukul stir beberapa kali, lalu terus melajukan mobilnya dengan cepat. Sedangkan Ana masih menangis tertunduk di kursi.


Bumi melajukan mobilnya dengan cepat, hingga pada saat di depan mall dosan suara mobilnya memekik karena dia mengerem dengan mendadak. Seseorang terjatuh di depan mobilnya, pria itu langsung leluar dari mobil dan melihat siapa yang menjadi korban kebodohnanya tadi.


Orang-orang membantunya berdiri, dan itu adalah wanita yang dia temui sebelumnya. "Kau tidak apa-apa?" Bumi terlihat panik melihat lutut dan siku wanita itu lecet.


"Tidak apa-apa," kata wanita itu sembari tersenyum.


Wanita tadi memang terlihat tertarik pada Bumi sehingga dia menyetujui usul yang Bumi berikan, mereka berdua pergi ke rumah sakit terdekat.


Sedangkan Ana masih menangis di depan sungai, dia tidak membawa tasnya jadi tidak mungkin dia pulang dengan jalan kaki. Sedangkan ponselnya tidak bisa digunakan lagi karena layarnya retak.


Ana memutuskan untuk menunggu Bumi disana, dia yakin suaminya itu tidak akan tega meninggalkannya sendirian disana. Dia yakin, bahwa Bumi akan kembali ke tempat itu menjemputnya.


Tapi, dua jam sudah berlalu, matahari sudah hampir tenggelam. Dia bahkan sudah harus bertemu pengacara Hyun karena janji temu mereka adalah jam 4 sore.


Namun, kenapa Bumi masih belum datang juga. Ana berdiri lalu melihat ke arah jalanan, tidak ada tanda mobil Bumi akan datang.


Sedangkan, Bumi sendiri malah sedang mengantar wanita tadi pulang ke rumahnya setelah dari rumah sakit, rumahnya tidak terlalu jauh dari pusat kota itu.


"Namaku, Rose." Wanita itu menoleh ke arah Bumi sembari tersenyum. Dia perlahan mengeluarkan sebuah lipbalm dari tasnya, dengan pelan-pelan dia menjatuhkan lipbalm itu ke mobil Bumi. Apapun tujuannya, pasti memang buruk.

__ADS_1


Sedangkan Bumi yang tidak sadar akan hal itu, masih fokus mengemudi ke arah rumah Rose, dia merasa bersalah karena telah membuat Rose terluka karena kecerobohannya tadi.


Tapi, dia juga tidak sadar bahwa ada istrinya yang menunggu dia menjemputnya.


Akhirnya, mereka sampai di depan rumah Rose.


"Pak Bumi, senang bisa bertemu denganmu lagi. Oh iya, apakah aku boleh meminta nomor teleponmu?"


"Bukan untuk apa-apa, hanya saja aku sedang membutuhkan pekerjaan. Jadi siapa tahu kau bisa membantuku." Rose mengatupkan mulutnya sambil menunduk.


"Kau butuh pekerjaan? Kalau begitu datanglah minggu depan ke KIK, aku sudah kembali bekerja disana, jadi kau bisa langsung datang dan menemuiku." Bumi hanya tersenyum tipis, dia tidak memberikan nomor ponsel sesuai keinginan Rose.


"Ah kalau begitu, baiklah." Rose tersenyum sembari meihat mobil Bumi berlalu.


"Cih, padahal aku meminta nomor teleponmu." gumam Rose sambil masuk kedalam rumah.


Bumi kembali mengendarai mobilnya, dia melihat ke atas dashboard ada tas kecil milik sang istri yang membuatnya ingat akan wanita itu. Dia segera kembali ke tempat dimana dia meninggalkan Ana.


Sesampainya disana Bumi tidak melihat Ana dikursi tadi, dia menunduk dan merasa bersalah. Bagaimana bisa dia melupakan dan meninggalkan istrinya sendirian dengan waktu yang cukup lama.


"Kau kembali?" Suara serak khas istrinya terdengar dari arah belakang tubuh Bumi. Pria itupun berbalik dan melihat istrinya berdiri memaku disana dengan mata yang sembab.


Bumi menghampiri Ana lalu memeluknya erat, "maaf" hanya kata itu yang mampu dia ucapkan pada Ana. Dia tidak menjelaskan kemana dia pergi sebelumnya.


Ana menghela napas panjang, dia membalas pelukan Bumi.


"Aku yang seharusnya minta maaf," Ana menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.


"Aku mencintaimu, mari kita pulang ya. Kau pasti lelah." Bumi melepaskan pelukannya dan menatap wajah sang istri yang terlihat habis menangis.


"Bagaimana dengan pertemuan kita?" Ana menunggu jawaban Bumi


"Aku akan menelepon pak Hyun dan meminta maaf atas ketidakhadiran kita. Aku yakin dia akan memakluminya," Bumi merangkul Ana lalu membawanya ke dalam mobil.


Ana mencium parfume asing, dia tidak ingat pernah memakai parfume semacam ini, apalagi Bumi. Tapi, wanita itu tidak ingin menaruh curiga apapun pada suaminya.

__ADS_1


Dia lelah jika harus bertengkar dan mendebatkan masalah sepele lagi.


...****************...


__ADS_2