
Mereka bertiga sedang melahap makan siangnya, lalu dikihatnya Minhyun yang baru sampai ke KIK. Pria itupun langsung disambut hangat oleh Ana dan Bumi. Sedangkan Dongmin terlihat acuh tak acuh.
"Duduklah!" Pinta Bumi pada sepupunya, pria itu pun mengikuti arahan Bumi. Mereka memesankan makanan untuk Minhyun lalu melanjutkan makanannya lagi bersama.
Sambil berbincang ria, mereka menghabiskan waktu makan siangnya disana. Sesekali Bumi kedapati sedang memerhatikan Anastasia.
Setelah makan siang selesai, Ana dan Minhyun pulang ke apartemen sedangkan Bumi dan Dongmin kembali bekerja. Mereka berjalan ke SeeU House. Para penjaga pun menyapa mereka yang berlalu pergi dari omperusahaan itu.
Bumi kembali ke ruangannya, dia duduk bersandar di kursi nya lalu fokus lagi pada dokumen yang bertumpuk di depannya. Dia membuka daftar proposal beberapa perusahaan, pria itu pun membukanya satu persatu proposal itu.
Dia membaca dengan teliti visi misi dari berbagai perusahaan, Lalu berhenti di proposal berjudul *Jung Corp* . Bumi meletakkan proposal itu, tanpa membaca nya sedikit pun. ini sudah kesekian kali perusahaan itu mengajukan proposal yang kurang menarik dari perusahaan mereka.
Bumi sedang mengkhawatirkan Bella sekarang, pada malam dia menyelamatkan Ana, pikirannya sedang tertuju kepada Bella malam itu. Sehingga, dia tidak sadar menyebut wanita itu sebagai kekasihnya.
Di pun menghubungi Bella sambil bersandar di kursinya,
"Bagaimana kabarmu?" Dengan suara beratnya dia menyapa Bella, pemuda itu menunggu respon wanita yang sedang dia telepon.
"Aku sedang tidak baik, bayi ini membuatku kesulitan!" Bella mengeluh, karena kelelahan mengalami morning sick.
"Aku akan mengirimkan segala keperluanmu, aku ingin sekali melihatmu dan pergi kesana, tapi untuk saat ini aku belum bisa, pekerjaanku masih banyak." Bumi mengetukan jarinya dimeja.
Terdengar suara wanita itu menangis, hormonnya menjadi tidak stabil semenjak hamil. Bumi mencoba menenangkannya, tapi wanita itu malah tambah menangis. Bella merasa sedih karena dia harus membohongi Bumi soal kehamilan itu, tapi tidak ada cara lain lagi baginya. Dia ingin anak itu dapat yang terbaik, terlebih dia tidak mau mengurus bayi itu.
"Istirahat saja!" Seru Bumi pada wanita itu.
Bella mendengus, "baik, aku istirahat dulu ya." Bella mematikan panggilannya karena merasa tidak enak hati pada Bumi
Kemudian Bumi menatap layar ponselnya yang kini sudah redup, dia kembali fokus menandatangani beberapa dokumen yang ada dimejanya. Tiba saja, seseorang mengetuk pintu ruangannya,
"Kau sudah tau apa yang dimaksud para wartawan?" Bumi bertanya pada Johan, ajudannya yang baru melenggang masuk ke ruangan pemuda itu.
"Ya sudah bos, ini.." Jawab ajudannya sambil memberikan sebuah rekaman dari ponsel.
"Kau yang siapa berengsek, dia kekasih ku beraninya kau menyentuh kulitnya, aku akan membunuhmu!" kira-kira begitulah ucapan yang ada di rekaman itu.
Bumi mengerutkan dahinya, dia menghela nafas panjang. Masalah apalagi yang dia hadapi sekarang, pikirnya.
"Apalagi ini?" Bumi merasa stress dengan masalah yang semakin membesar itu.
"Pastikan rekaman itu tidak tersebar!" Pinta Bumi pada ajudannya. Kemudian setelah ajudannya mengangguk dsn keluar dsri ruangan. Dongmin bergantian masuk keruangan Bumi, dengan mimik wajah tegangnya dia berbicara pada sepupunya itu.
"Rumor itu diberitakan lagi?" Dongmin terlihat panik mendengar rumor kencan Bumi dan Ana yang beredar.
"Ashhh sialan!" Umpat Bumi sambil mengernyitkan dahi.
"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Dongmin sambil menatap Bumi, pria itu juga tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Kemudian. Bumi mendapat panggilan dari ayahnya,
__ADS_1
"Siapa gadis itu? Kenapa ada berita yang mengatakan kalian kerumah sakit untuk periksa kandungan? JAWAB!" Ayah Bumi membentak anak itu.
"Aku bisa jelaskan ayah, ini hanya salah paham..." Bumi yang sedsng berdiri langsung mondar-mandir sambil menunggu ide dikepalanya.
"Pulang sekarang juga! Aku, kakekmu dan ibumu ingin bicara. Jika kau mau kami percaya, bawa wanita itu bersamamu kerumah dan minta dia yang menjelaskan kebenarannya!" Seru ayah Bumi yang terdengar marah.
Panggilannya pun terputus tiba-tiba, Bumi yang masih kebingungan masih tertegun tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
"Apa lagi ini sialan, mereka bilang aku dan Ana kerumah sakit untuk periksa kandungan? Yang benar saja!" Bumi meraih kunci mobilnya, entah dia akan pergi kemana tapi dia terlihat tergesa-gesa.
"Katakan saja yang sejujurnya!" usul Dongmin yang sama bingungnya.
"Kau mau kemana?" lanjut pria yang berada diruangannya itu.
"Aku harus membawa Ana ke rumah, untuk menjelaskan tentang kejadian yang sebenarnya pada ayah." Bumi keluar ruangannya dengan berlari.
"Aku akan kesana pulang nanti!" kata Dongmin yang agak berteriak.
......................
Ana yang baru saja selesai mandi, langsung berdandan di kamarnya. Dia memakai dress bermotif bunga, lalu menyemprotkan parfume ke tubuhnya.
"Ini membuat moodku membaik!" seru Ana pada dirinya sendiri.
Wanita itu menatap boneka biru kecil dan bunga pemberian Dongmin kemarin.
Tidak lama bel pintu berbunyi, dia membukanya lalu melihat Bumi dengan wajah panik dan ngos-ngosan berdiri di depan pintu.
"Ikut Aku!" Dia menarik pergelangan tangan Ana tiba-tiba.
"Mau kemana?" Ana melepaskannya dengan cepat.
"Kau ini kurang update ! Sekarang cek sosial mediamu, foto kita tersebar dimana-mana. Mereka membuat berita bodoh, Ayah dan kakekku marah besar jadi kau harus menolongku! Sekarang bantu aku menjelaskan kepada mereka, okay?" Bumi menatap wanita itu sambil menunggu jawabannya.
"Baiklah tunggu, Aku ambil tas dan kunci pintu dulu," Ana masuk ke dalam kamar lalu meraih tas kecil dan mengeratkannya di bahu. Dia pun tak lupa untuk mengunci pintunya.
Dia mengenakan masker diwajahnya, mereka turun ke lobi. Saat setelah disana, pintu lift pun terbuka. Bumi dan Ana melihat beberapa wartawan yang sedang mengerumuni mobil pemuda itu.
"Sial," Bumi menggenggam tangan Anastasia lalu membawanya berlari.
Dengan terus berlari dan agak kesulitan, pria itu merogoh ponsel di sakunya kemudian menelepon Johan, ajudannya.
"Kau dimanaaa? Cepat jemput aku di belakang SeeU House!" Bumi sesekali melirik ke belakang, penjaga Apartemen yang melihat para wartawan itu pun menghalangi mereka masuk.
"Syukurlah, mereka membantu." kata pria itu, Ana pun ikut menoleh ke arah belakang.
__ADS_1
"Apa kau gila? Kenapa nekat kesini dan menjemputku?" Ana mengernyitkan dahi merasa aneh dengan pria itu.
"Kau ingat? Ini semua karenamu kan? Aku jadi berada dalam masalah besar sekarang, kau harus bertanggung jawab!" Bumi berbicara dengan bermuka masam.
"Kau kira aku mau kejadian itu terjadi padaku?" Ana menatap Bumi tajam, sekarang pria itu pun menyesali perkataannya,
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyalahkanmu, aku hanya tidak tahu bagaimana menangani hal ini." Dia menatap Ana sambil membungkuk di depan wanita itu.
Ana memalingkan wajahnya kesal, dia juga tidak mau hal itu terjadi padanya. Tapi, kenapa prianitu jadi menyalahkannya begitu. Setelahnya, Johan tiba dengan mobil alphard putih, kemudian dia membukakan pintunya untuk Anastasia dan Bumi.
"Kau lebih dulu," kata Bumi.
Ana masuk lalu duduk disamping Bumi. Dia masih mengerucutkan bibirnya. Rasa kesalnya tidak semudah itu bisa dia hilangkan. Pemuda itupun mencoba menggoda Ana agar dia kembali tersenyum.
"Maafkan aku, aku berjanji setelah semuanya selesai aku akan membelikanmu es krim!" Bumi menyeringai ke arah wanita yang tidak menoleh padanya itu.
Ana pun mengirimkan pesan pada Somi untuk menginap lain kali saja.
Wanita itu kini menatap Bumi, dengan lengan yang melingkar didadanya.
"Janji? " Ucap wanita itu.
"Ya tentu, bahkan kau bisa membeli sebanyak apapun yang kau mau!" Bumi tertawa sampai matanya menyipit tidak terlihat, diikuti tawa Johan setelahnya.
"Ssshh! " Bumi mengkode Johan untuk diam, ajudannya itu pun terdiam seketika dan itu membuat majikannya tertawa terbahak.
Ana menaikan sudut alisnya, dia keheranan melihat tingkah aneh pria disampingnya itu. Ana menggeleng-gelengkan kepalanya, disaat seperti ini pria itu masih saja bisa tertawa, pikirnya.
Satu jam berlalu, Ana dan Bumi sampai dirumah mewah milik keluarga pria itu. Mereka pun turun dari mobil lalu dipersilahkan masuk ke dalam.
"Nonya, Tuan dan yang lain sudah menunggu di ruang makan" Ucap salah satu pelayan keluarga Kim.
"Yang lain? Apa mereka akan melakukan sidang terbuka? Kenapa harus ramai seperti ini?" Bumi menaikan sudut alisnya, lalu berjalan bersama Ana.
"Kau siap? Tarik nafas lalu keluarkan secara perlahan. Jangan gugup! Katakan saja apa yang terjadi sebenarnya." Bumi menyeringai diikuti anggukan Ana.
Ana dan Bumi pergi jalan beriringan ke ruang makan, disana mereka melihat ada Kakek Kim, ayahnya. ibunya juga Lee Ro Jun, dan istrinya, yang terakhir ada Minhyun.
Minhyun membelalak melihat Ana berjalan bersama Bumi, mereka pun disambut hangat oleh keluarganya.
"Ah ini dia cucu ku, duduklah!" Kata Kakek Kim pada pasangan itu.
Ana dan Bumi saling melempar pandangan, dia terlihat gugup. Kemudian mereka pun duduk berdampingan.
"Selamat datang di rumah kami, kami harap kau menikmati hidangannya." Ujar ayah Bumi.
...****************...
__ADS_1
...****************...