MENIKAHI ADIK MANTAN

MENIKAHI ADIK MANTAN
Bab 61 : Pendarahan.


__ADS_3

Setelah 15 menit perjalanan, Bumi pun sampai di kantornya. Dia berjalan menuju ruang kerjanya. Pria itupun memanggil sekretarisnya untuk masuk keruangan.


Bumi menunggu sambil menyandarkan tubuhnya di kursi kerja, dia mendengus pelan sambil memikirkan sesuatu.


Tak lama, sekretarisnya pun datang . Wanita berusia 40 tahunan itu menyapa bosnya dengan ramah. Dia tahu, jika mimik wajah bosnya seperti itu, pasti ada yang tidak beres.


"Kurasa akan ada berita mengenai Anastasia nanti, jadi... sebelum itu terjadi tolong urus itu untukku. Lalu, aku ingin bertemu dengan Tuan Park hari ini." Bumi nengambil pulpennya, dia memutar-mutarkan pulpen itu di jari jemarinya.


"Tuan Park? supplier kita?" Tanya wanita itu keheranan.


Bumi mengangguk pelan, "Ya, anaknya ! Mencari masalah dengan kekasihku. Aku harus mengurusnya dengan cepat sebelum aku pergi. Aku juga ingin menginfokan mu bahwa aku mengundur penerbanganku sore ini ke besok siang." Bumi mengerucutkan bibirnya, kali ini dia mengetuk-ngetuk meja dengan pulpen yang tadi.


Sekretarisnya mengerti perintah dari bosnya itu, lalu wanita tadi keluar dan langsung mengurus permintaan Bumi. Dia menelepon Supplier perusahaan, bernama Tuan Park yang tidak lain adalah Ayah dari Yeri.


Bumi mendapatkan semua informasi tentang Yeri itu dari Johan, jika Ana tahu tentang ini, mungkin dia akan melarang Bumi melakukannya. Maka dari itu dia melakukannnya tanpa sepengetahuan Ana.


Sambil menunggu Tuan Park datang, Bumi mengerjakan beberapa dokumen. Dia melihat perkembangan tiap departement diperusahaan. Dia sangat jeli untuk hal itu. Bumi juga pria yang royal kepada para karyawan, dia tidak segan untuk memberikan bonus jika target penjualan mereka tercapai atau bahkan lebih.


Setelah berkutat dengan dokumen selama kurang lebih 30 menit, Tuan Park datang. Sekretarisnya mengantar pria itu ke ruangan Bumi,


"Selamat Siang Pak, Tuan Park sudah datang." Skretarisnya langsung kembali ke ruangannya setelah Bumi menoleh dan mengangguk padanya.


"Selamat datang Tuan Park, silahkan duduk." Kata Bumi sambil berdiri dan mengulurkan tangannya.


"Siang Pak, Ada masalah apa pak?" Tuan Park langsung duduk setelah Bumi mempersilahkannya, dia agak gemetar karena pertemuan mereka sangatlah mendadak.


"Maaf aku harus membahas ini dengan Anda, jadi ada masalah kecil yang dilakukan putri Anda di Hankuk, Kau pasti mengenali kekasihku Anastasia kan?" Bumi menyeringai sambil menunggu jawaban Tuan Park.


"Ah tentu, Saya tahu wanita yang ada di acara KIK waktu itu. Tidak ada yang tidak tahu. Lalu apa hubungannya dengan putri ku Yeri Pak?" Tuan Park mengernyitkan dahinya, dia merasa aneh dengan perkataan yang Bumi sampaikan.


"Putrimu menampar kekasihku didepan umum, aku bahkan tidak tahu alasannya menampar calon istriku. Asal anda tahu, jika berita itu mulai menyebar dan ada rumor buruk tentang kekasihku," Bumi mencondongkan tubuhnya ke arah Tuan Park.


"Sudah pasti pamor KIK akan menurun, jika itu terjadi saya tidak akan segan untuk menghentikan kerjasama kita." Bumi bersandar lagi dikursinya, Tuan Park terlihat gelapan.


Dia merasa kesal, kenapa Yeri harus mencari-cari masalah dengan Pak Bumi.


"Saya benar-benar tidak tahu kenapa putri saya melakukan itu. Tapi, saya akan segera berbicara dengannya. Saya akan memintanya memohon maaf pada Nona Anastasia." Tuan Park mengangguk.


Bumi pun terlihat mengangguk beberapa kali,

__ADS_1


"Bagus kalau begitu, cukup itu saja yang ingin aku sampaikan."


Tuan Park berdiri lalu mengangguk, dia berjalan keluar. Saat hendak masuk kedalam lift dia berpapasan dengan Lee Rojun. Pria itu menyapa calon besannya.


Melihat raut wajah Tuan Park kebingungan, Rojun bertanya padanya.


"Ada apa? Kenapa tiba-tiba ke KIK?"


Tuan Park menghela nafas panjang, dia mengangkat kaca matanya lalu menekan kedua matanya yang terasa perih. Tuan Park menjelaskan pada Lee Rojun mengenai masalah yang dia alami.


Tidak terima dengan hal itu, akhirnya Lee Rojun berjalan menghampiri Bumi ke ruangannya. Pria itu terlihat sedang membelakangi meja kerjanya.


Tanpa ketukan maupun salam, Lee Rojun menerobos masuk.


"Kau sangat tidak Profesional Bum!!" cibir Tuan Rojun.


Bumi tertawa kecil lalu membalikan kursi yang dia duduki ke arah Lee Rojun.


"Ada apa? Kau bahkan tidak mengetuk ruanganku. Ingat, aku pimpinan dikantor! Show me some respect !! " Bumi memalingkan wajahnya dari pria itu dengan kesal.


Lee Rojun berjalan mendekat, telunjuk nya mulai mengarah pada Bumi.


Bumi menggeretakan giginya,


"Dengar! Apapun yang terjadi pada Anastasia, sudah pasti akan dikaitkan dengan perusahaan. Ini bukan lagi masalah personal, ini sudah menjadi masalah perusahaan. Aku tidak ingin nama perusahaan tercoreng. Terlebih, Anastasia adalah kekasihku. Aku bisa melakukan apapun untuk melindunginya."


"ck... Itu salah mu karena memilih wanita problematik sepertinya!!" Lee Rojun menyeringai.


Bumi dengan tatapan tajamnya berdiri,


"Jaga Ucapanmu! Atau aku akan-" .


"Akan apa? Menendangku dari perusahaan? Hebat sekali, kau sudah bisa mengancam pamanmu sendiri! Ingatlah, jangan terlalu mencintai sesuatu, mungkin saja dia akan menyakitimu suatu hari nanti." Lee Rojun menyeringai jahat.


Bumi yang tidak tahan berjalan mendekat ke arah pria itu, tapi Lee Rojun malah menatapnya dengan menantang.


"Aku tidak ada waktu untuk berkelahi karena kekasihmu itu."


Pria itu pergi dari ruangan Bumi, Bumi dengan raut wajah kesal menepis semua dokumen dimejanya. Dokumen itu berhamburan kemana-mana.

__ADS_1


Sekretarisnya yang mendengar kekacauan itupun, langsung datang untuk membereskan dokumen yang berceceran.


"Bagaimana? Kau sudah mengurusnya? Katakan pada Tuan Park aku ingin anaknya mengunggah video permintaan maaf pada Anastasia!!!!"


Bumi berjalan mondar-mandir untuk meredam emosinya. Dia sesekali bertolak pinggang, sekretarisnya yang sudah merapikan dokumen itu langsung berdiri dan mengangguk.


"Tentu, saya akan sampaikan."


Kemudian dia keluar ruangan dan kembali ke ruangan nya sendiri. Bumi masih mengatur nafasnya.


*


*


Amerika..


Bella, mulai mendekor kamar bayi di apartemennya. Dia merasa senang saat melihat dekorasi kamar nya yang cantik. Dokter bilang, jenis kelamin anaknya adalah perempuan.


Wanita ini terlihat senang, dia seharusnya tidak perlu repot mendekor kamar saat bayi itu akan diberikan pada orang lain. Tapi, naluri keibuannya mengatakn lain.


"Kau menggemaskan sekali, mama akan berusaha merawatmu dengan baik. Sebentar lagi, papamu akan datang. Jadi kita bisa merasakan kasih sayangnya." Bella mengelus perutnya sambil membayangkan Bumi.


Pria itu bahkan jarang sekali menanyakan kabarnya,


"Kenapa dia jarang sekali bertanya tentang kita? Apa papamu sibuk?" Bella mengerucutkan bibirnya agak sedih.


Setelah mendekor ruangan, Bella pergi ke dapur dan meminum air putih. Rasanya ada yang mengalir di bagian jalan lahir bayinya, Bella menunduk dan melihat pakaiannya sudah berlinang darah.


Dia menjatuhkan gelasnya karena panik, wanita itu mulai kekamar mandi untuk menyeka darah itu dan membersihkannya. Dia segera menelepon dokter kandungan untuk datang ke apartemen.


Tidak lupa, dia juga mengabari Bumi. Bumi yang masih dalam kondisi emosi merasa malas mendapat panggilan dari Bella.


"Bum, aku pendarahan!!" Tapi sesaat setelah mendengar kabar Bella pendarahan, dirinya mulai panik. Tanpa babibu, Bumi langsung pergi keruang sekretarisnya.


"Aturkan jadwal penerbanganku sekarang. Ke Amerika, cepat !!"


...****************...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2