
Malam harinya setelah semua kegiatan selesai Dongmin pun pergi ke apartemen Ana untuk menemani wanita itu, Sedangkan Minhyun masih ada disana dengan setia menemani Ana.
Bumi tidak tidak bisa berhenti memikirkan Anastasia, semakin mabuk dirinya semakin dia mengingat kenangan manis bersama wanita itu. Akhirnya pada malam itu, Bumi meraih jaketnya lalu pergi ke apartemen Ana diantar oleh Johan.
Bumi sendiri sudah mengetahui kepulangan Ana dari rumah sakit karena Johan selalu memberi kabar tentang Anastasia padanya. Pria itu berjalan keluar dari apartemennya dengan lingkaran mata hitam dan badan yang masih agak sempoyongan.
Dia meminta Johan untuk mengantarnya langsung ke apartemen Ana, entahlah dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan. Dongmin pun sedang berada dalam perjalanan ke apartemen Ana , tapi saat dalam perjalanan kesana pria itu mendapat panggilan dari ayahnya.
"Cepat pulang, ayah minta maaf. Ibumu sedang sakit!" itulah sekiranya yang di ucapkan ayah Dongmin, Lee Rojun.
Dongmin tertegun mendengar pernyataan ayahnya, dia khawatir karena ibunya kini tengah jatuh sakit. Maka dari itu dia memutuskan untuk tidak jadi ke rumah Ana.
"Ibu sakit? Baiklah aku akan segera kesana." ujar ayah Dongmin.
Pria itu pun langsunh menelpon Minhyun untuk memberi kabar bahwa dia harus pulang ke rumah. Tidak lama panggilan pun tersambung,
"Halo, aku sepertinya tidak jadi kesana. Karena Ibu sedang sakit." ujar pria itu sambil memutar balikan arah mobilnya.
"Ibu sakit? Kemarin ibu baik-baik saja." Jawab Minhyun bingung.
"Aku harus memeriksanya," imbuh Dongmin , kemudian mereka pun mengakhiri panggilannya.
Ana yang sedang bersama Minhyun pun menatap pria itu dengan heran, "Dongmin tidak akan kesini, ibu kami jatuh sakit." Terlihat sorot khawatir dari wajahnya.
"Aku tidak apa-apa disini sendiri, kau harus menemui ibumu. Apalagi dia sedang sakit, jangan khawatirkan aku." imbuh Ana sambil menyeringai.
Minhyun terdiam beberapa saat sampai akhirnya pria itupun setuju, "Kau benar, kau tidak apa-apa jika aku tinggal? Kurasa aku harus mengecek keadaan Ibu dulu."
__ADS_1
Ana pun mengangguk pelan, "tenang saja. Aku berjanji tidak aka menyakiti diriku lagi" wanita itu tersenyum melihat Minhyun yang kini sudah berdiri dan siap untuk pulang.
"Jaga diri baik-baik," kata Pria itu sambil tersenyum tipis.
"Ya, tentu" setelah itu Minhyun pun berpamitan pulang, Ana mengantarnya sampai ke ambang pintu lalu menungginya sampai pergi dari sana.
Setelahnya wanita itu pun kembali masuk ke dalam apartemennya, dia duduk di ruang tamu sambil menyilangkan kakinya dan menatap layar televisi yang sebenarnya tidak dia tonton itu. Ana meraih ponselnya, terlihatlah wallpaper fotonya bersama Bumi di sana. Dia belum sempat mengganti wallpaper ponselnya itu, kali inidia pun mencoba untuk menggantinya dengan foto lain.
Tidak lama suara bel pun berbunyi, Ana mengurutkan dahi. Dia pun berjalan ke arah pintu itu, awalnya Dia kira itu adalah Minhyun yang kembali karena ada sesuatu yang tertinggal di apartemennya. Tapi saat wanita itu membuka pintu, terlihatlah seseorang pria yang sangat dia kenali, ya itu adalah Bumi.
Pria itu sekarang sedang menatap Ana dengan lekat, sedangkan tangan kanannya menahan pintu apartemen. Ana dengan cepat mundur selangkah lalu mendorong pintu itu agar tertutup, tapi sangat disayangkan tenaga Bumi lebih kuat darinya.
Bumi pun berhasil masuk dengan menahan dorongan pintu dari Ana ,setelah masuk ke apartemen, Bumi pun menutup pintu itu rapat. "Mau apalagi kau kemari Bum?" Ana mengerutkan dahi, dia menatap priaitu tajam.
Bumi pun tidak menjawab, dia hanya menatap Ana dengan lekat. Pria itu benar-benar merindukannya, pikirannya kini sudah kacau dan dia sudah menggila akibat alkohol itu. Dia tidak bisa berpikir dengan jernih. Yang ingin dia lakukan hanyalah bersama wanita itu selalu.
"Apa yang kau lakukan Bumi?" pekik wanita itu yang mencoba keluar dari jeratan Bumi.
Masih dengan tatapannya yang lekat Bumi tidak terlihat akan melepaskan pelukan itu sama sekali. Kini, dia menghimpit Ana sampai tidak ada celah diantara mereka.
"Bum kumohon, lepaskan!" Ana memohon pada pria itu, tapi tetap tidak didengar.
Dengan terpaksa Ana menampar pria itu keras, "kau gila?" itulah pertanyaan yang dia lontarkan.
Bumi mengerjap dan merasa panas dibagian pipinya, pria itu mundur beberaoa langkah, dia menatap Ana. "Lakukanlah lagi, jika itu membuatmu lebih baik."
Dan Ana pun kembali menamparnya sekali lagi, napasnya berderu dengan emosinya yang kian memuncak. Dia merasa, kesal, sedih, marah, kecewa, semuanya dia rasakan. Dan kini terbayar dengan dua tamparan tepat di pipi pria itu.
__ADS_1
Ana mengalihkan pandangannya dari Bumi, dia menggigit bibir bawahnya sendiri untuk menahan tangisan yang akan segera pecah.
Bumi mendekat ke arah wanita itu, lalu memeluknya. Ana tidak protes, dia malah menangis sejadinya di pelukan pria itu. Di pelukan hangat yang selalu dia rindukan.
Bumi mengelus rambut Ana sembari menunggu tangisan itu reda, dia sama sedihnya dengan Ana. Bagaimanapun, mereka tetap harus membicarakannya dengan keadaan yang tenang.
Ana memukul dada Bumi pelan, "kenapa kau tega?" tangisannya pecah lagi di bahu pria itu. Bumi masih belum menjawab, karena Ana sendiri belum terlihat tenang.
Setelah cukup puas menangis dan mengeluhkan perasaanya, wanita itu pun mendangak ke arah Bumi, "kenapa tidak temani Bella yang sedang hamil?" pertanyaan itu membuat Bumi menunduk.
"Aku akan menjelaskannya padamu, semuanya, beri aku kesempatan untuk mengatakan ini." Bumi menatap wajah Ana dengan lekat.
Pria itu melihat air mata yang masih membasahi pipi wanita itu. Dia pun menyekanya dengan lembut.
Akhirnya, Ana mengizinkan pria itu untuk menjelaskan semuanya. Kini mereka sedang duduk di sofa bersama, awalnya terlihat sangat canggung, karena setelah pertengkaran yang mereka alami beberapa waktu terakhir dan juga berakhirnya hubungan mereka, baru kali ini mereka bersama lagi seperti itu.
Bumi menoleh ke arah Ana, Dia masih menatap wanita yang menatap datar pandangan di depannya.
"Lihat aku!" seru Bumi pada Ana, dengan perlahan wanita itupun menoleh ke arahnya.
"Jatuh cinta padamu bukanlah sesuatu yang aku rencanakan, aku mencintaimu, setelah kita sering menghabiskan waktu bersama mengurus persidangan soal pria yang melecehkanmu waktu itu. Aku tahu aku salah." Bumi tetap menatap Ana yang berekspresi datar.
"Awalnya, Bella tidak mau mengurus bayi itu, bahkan... Dia memintaku untuk menikahimu, dia bilang akan memintamu untuk menggantikannya sebagai ibu dari bayi itu. Tapi, akhir-akhir ini dia berubah pikiran, dia tahu aku mencintaimu." Bumi dengan keras mencoba menjelaskan.
Tapi, Ana tetap tidak berekspresi apapun, wanita itu tetap memperhatikan Bumi dengan datar dan tanpa komentar apapun.
...****************...
__ADS_1
...****************...