
Bumi berjalan menuju baseman, dia masuk ke dalam mobil. Dia menyadari bahwa parfume wanita yang hampir dia tabrak itu masih menyerbak di dalam mobilnya.
Bumi mendengus berharap Anastasia tidak curiga akan hal itu.
Setelahnya, dia mengemudikan mobil untuk langsung pergi ke rumah orang tuanya. Bumi merasa bersalah, karena harus menutupi kejadian tadi sore. Dia hanya tidak ingin bertengkar lagi dengan Ana.
Dia merasa, akhir-akhir ini mereka sering bertengkar. Mungkin karena keduanya tidak ada kegiatan lain selain di rumah. Maka dari itu, setelah kembali bekerja, dia harap semuanya akan jauh lebih baik.
Sesampainya disana, Bumi langsung disambut beberapa ajudan di depan rumah. Pria itu tersenyum dan menyapa mereka.
"Selamat malam Tuan Bumi," kata salah seorang ajudan.
"Malam," jawab pria itu sembari melenggang masuk ke dalam rumah.
Semua keluarga sudah berkumpul, bahkan Dongmin, Minhyun juga orang tuanya ada disana. Bumi menatap pria itu dengan malas, ibunya memeluk Bumi dengan erat.
"Selamat datang sayang, Ana dimana?"
"Dia sedang sakit,"
"Sakit? Yaampun kasihan sekali anakku, tidak apa-apa sekarang kau makan dulu ya." Ibu Bumi merangkul lengan anaknya untuk bisa bergabung dengan yang lain.
Bumi mendelik ke arah Dongmin, sedangkan Minhyun dengan sopan mengangguk dan menyapa pria itu.
Karena makanan sudah tersaji, akhirnya mereka memulai tujuan dari acara makan malam itu di laksanakan.
"Jadi, Dongmin akan pergi ke Busan. Dia akan mengurus perusahaan kita yang disana." Kakek Kim berbicara pada semua orang yang ada.
"Itu lebih baik, agar dia bisa belajar untuk melupakan istri orang lain." Satu kalimat yang Bumi katakan membuat semua orang membelalak.
"Bum," ibunya memperingati.
Dongmin hanya tertawa kecil, "aku sudah berjanji pada diriku. Jika kau tidak memperlakukannya dengan baik, aku akan merebutnya darimu!" pria itu mendelik ke arah Bumi.
"Siapa bilang kau bisa merebut istri sepupumu? Jaga sikapmu Dongmin! Masih baik kakek mempercayaimu untuk mengurus perusahaan di Busan!" Lee Rojun membulatkan pandangannya pada putranya.
Dongmin tidak berkomentar lagi, sedangkan Bumi menatap pria itu dengan tajam.
"Sudahlah, ada apa dengan kalian? Dongmin, kakek tidak tahu kenapa kau ingin merebut Ana dari sepupumu, tapi jika itu masalah yang sudah lalu. Sudahlah, dia sudah menjadi istri sepupumu. Alangkah baiknya sekarang kau fokus untuk menjalankan perusahaan kakek di Busan."
Dongmin hanya menunduk namun rahangnya terlihat menonjol menahan kesal.
__ADS_1
Bumi menatap Dongmin lalu tertawa kecil, "seharusnya aku menemani istriku dirumah daripada harus melihat kau disini."
Ibu Bumi mengelus punggung anaknya.
"Sudahlah, makan dulu."
Walaupun Bumi merasa tidak berselera tapi dia tetap harus menghargai ibu yang mengundangnya. Jadi, dia makan secukupnya lalu segera berlalu dari sana.
Di belakang rumah, Bumi di hampiri oleh Minhyun.
"Ana sedang sakit?"
"Ya," Bumi menoleh ke arah pria yang baru saja datang itu.
"Kami harus segera menyelesaikan proyek patung, apa dia sudah bisa masuk kuliah?"
"Sudah, minggu depan dia sudah mulai kuliah." Bumi meraih segelas minuman beralkohol di meja dekat dengan kolam berenang.
"Kuharap kau bisa memaafkan kesalahan Dongmin." Minhyun mewakili Dongmin untuk meminta maaf.
Bumi menyeringai, "bukan kau yang seharusnya meminta maaf tapi anak itu."
"Aku tahu, dia hanya sangat kecewa dengan keputusan ayah kami menjodohkanmya dengan wanita yang dia tidak suka." Minhyun menatap Bumi agak lama.
Minhyun mengangguk, tidak lama setelah itu Bumi berpamitan pulang karena dia khawatir Ana sendirian di rumah.
Dia pun langsung bergegas kembali ke apartemen, sebelum sampai rumah Bumi membelikan Ana beberapa camilan dan makan malam.
Setelah sampai di depan pintu, Bumi segera masuk dan mencari Ana yang sepertinya tidur di kamar.
Bumi melihat Ana yang terlelap, dia menghampiri istrinya lalu menyapu lembut puncak rambut Ana.
Bumi membersihkan tubuhnya lalu tidur di samping wanita itu.
Keesokan harinya, Ana dan Bumi sudah disibukkan dengan kegiatan mereka. Bumi bersiap pergi ke kantor dan Ana ke kampus. Belum lagi, kepulangan Baby Elle kerumah siang nanti.
"Sayang, jam satu siang aku akan menjemputmu untuk mengambil Beby di rumah sakit ya." Bumi meminum kopi yang sudah tersedia di atas meja makan.
"Ya, tentu sayang. Aku akan mengabarimu jika sudah selesai semua. Hari ini aku ada kelas sampai siang, dan setelah menjemput Beby aku harus kembali ke kampus karena aku dan Minhyun harus mengerjakan patung kami."
Ana meraih buku juga tas miliknya.
__ADS_1
"Maaf juga karena aku hanya menyiapkan kopi untukmu, aku benar tidak enak badan semalam jadi aku bangun telat." Ana mengerutkan dahi, sebelum Bumi memeluknya lalu mengecup kecing istrinya.
"Tidak apa sayang, kita harus segera berangkat sekarang." Bumi dan Ana bergegas keluar dari unit apartemen mereka menuju baseman.
Dua orang supir juga mobil yang berbeda sudah siap mengantar mereka untuk pergi ke tujuan masing-masing.
"Hati-hati di jalan sayang," Bumi melambaikan tangan pada Ana begitupun dengan isttinya yang masuk ke dalam mobil.
Ana menghela napas panjang, dia sudah siap dengan segala tugas yang menunggunya.
Sedangkan Bumi duduk bersantai di kursi penumpang dengan membaca koran terkini.
Setelah 15 menit perjalanan Bumi sampai di kantor, pria itu dengan sumringah menyapa semua orang yang ada disana.
"Selamat datang kembali pak Bumi," kata para penjaga yang menyapanya.
Dia hanya memberi seringaian terbaiknya pada mereka.
Dia juga melihat di koran berita tentang dirinya yang masuk kembali menjadi CEO di perusahaan sang kakek.
"Pak, selamat datang kembali" sekretaris Bumo yang sudah paruh baya itu terlihat senang menyambut bosnya kembali.
"Selamat pagi, bagaimana kabarmu?" Bumi tersenyum lebar sembari masuk kedalam lift di dampingi sekretarisnya.
"Sebenarnya, aku kurang baik. Akhir-akhir ini aku merasa sering lelah. Jadi, aku tidak tahu berapa lama akan bertahan di perusahaan ini." Bumi membelalak mendengar pernyataan sekretarisnya itu.
"Kau sakit? Sudah periksa ke dokter? Jangan meninggalkan perusahaan yang sudah menjadi rumah keduamu ini. Apalagi aku baru saja kembali."
Bumi dan sekretarisnya keluar dari lift dan pergi menuju ruangan miliknya yang masih dalam keadaan sama. Hanya beberapa barang yang memang di perbarui untuk kelangsungan pekerjaan.
"Aku tahu pak, tapi jika tubuhku sudah tidak memungkinkan aku tidak bisa berbuat apa-apa."
"Kau ingin pensiun?" Bumi menaikan kedua alisnya.
Sekretarisnya mengangguk pelan, "iya betul."
"Kenapa mendadak seperti ini, aku kan tidak bisa menjadikan istriku sebagai sekretarisku, karena dia belum lulus kuliah." Bumi duduk bersandar dikursinya yang nyaman.
"Tenang saja, aku sudah menyiapkan penggantiku yang mungkin akan kau sukai pak. Katanya, dia juga sudah bertemu denganmu."
Bumi mengerutkan dahi, dia masih belum mengerti siapa yang dimaksud oleh sekretarisnya.
__ADS_1
"Permisi pak, ada tamu yang mencarimu."