
Bumi dan Ana masuk ke dalam mobil, pria itu memerhatikan gadis yang belum mengenakan sabuk pengamannya itu.
"Kau mau aku yang memasangkan atau pasang sendiri?" Bumi menyeringai sedangkan Ana membalasnya dengan sorotan tajam. Seketika dia langsung menarik safety belt yang ada di sebelah kanannya.
"Aku bisa sendiri!" Kata Ana lalu memalingkan wajahnya, terdengar suara kecil yang keluar dari mulut pria itu.
Bumi langsung menghidupkan mesin mobilnya, selama dalam perjalanan tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Waktu sudah menunjukan pukul 09.00 malam, Bumi dan Ana tidak banyak bicara.
"Kau mau makan es krim?" Bumi menoleh ke arah Ana sambil menunggu jawabannya,
"Kau sudah janji kan? Jadi sekarang tepati janjimu!" Ana menatap Bumi sambil menyeringai.
"Tentu saja, kau boleh makan sepuasnya!" Bumi tersenyum sambil fokus menyetir, pria itu sangat senang menggoda Ana
"Dilihat dari gayamu, tidak mungkin kau tidak punya kekasih!" Ana menerawang Bumi dengan jarinya dia menggelengkan kepala sambil sesekali berdecak.
"Siapa bilang aku tidak punya?" Bumi mengangkat sudut alisnya.
Ana tertawa kecil , lalu mengalihkan pandangannya dari Bumi, "Ibumu" katanya sambil menatap keluar jendela.
"Kekasihku tinggal di Amerika," ucapnya singkat.
Bumi menggigit bibir bawahnya tanda dia berbohong. Dia tahu bahwa hubungannya dengan Bella sudah lama kandas, tapi harapannya pada wanita itu masih sangat besar, apalagi dengan kondisinya yang sedang hamil sekarang.
"Benarkah ? Jadi kalian sedang menjadli hubungan jarak jauh?" Ana menyipitkan matanya mencoba membaca ekspresi Bumi, apakah dia berbohong atau tidak.
"Kenapa? Kau tidak percaya?" Bumi memarkirkan mobilnya di Marcos Gelato.
"Aku percaya kok!" Ana tidak mendebatnya, dia keluar sambil menenteng tas kecil, Di susul pria itu setelahnya.
Mereka berjalan ke arah pintu masuk, belum sampai di ambang pintu seorang wartawan menghampiri mereka, "Jangan ganggu kami dulu ya!" Bumi menepuk pundak orang itu, menolaknya nya dengan sopan.
Wartawan itu mengangguk lalu pergi meninggalkan mereka, "mari masuk!" Bumi membuka pintu Marcos lalu mempersilahkan Anastasia masuk lebih dulu.
"Kau mau apa?" mereka berdiam diri sambil melihat beberapa menu di hadapannya,.
"Strawberry Yoghurt" Ana menunjuk gambar es krim strawberry.
"Baiklah, Strawberry Yoghurt satu dan choco mint satu!" Bumi memperhatikan Anastasia, wanita itu memilih es krim favorit Bella, pria itu pun memberikan kartu debitnya ke kasir.
"Silahkan tunggu sebentar," pegawai itu meminta mereka menunggu disalah satu kursi.
Bumi dan Ana pun berjalan memilih tempat duduk. Seperti biasa, pria itu memilih tempat duduk dengan pemandangan langsung ke jalan raya alias dekat dengan jendela. Dia menatap jalan raya yang masih ramai dipenuhi mobil yang berlalu lalang. Wajah Anaterlihat gelisah, dan Bumi menyadari itu.
"Ada apa?" Bumi memperhatikan wajah Ana dengan seksama.
"Tidak apa-apa," Ana tersenyum canggung.
"Dengan ekspresi seperti itu, kau masih menjawab tidak apa-apa?" Bumi memutar bola matanya kesal, dia mendengus pelan.
Saat es krimmya sudah siap, pria itu mengambilnya kedepan. Dia berjalan kembali ke tempat duduknya setelah mendapat yang dia inginkan. Dari pandangan Ana, Bumi adalah seorang pria yang sangat karismatik dan juga maskulin, dia sering melakukan hal kecil yang begitu menyentuh.
__ADS_1
Bumi pun menaruh es krim didepan mereka, Ana dengan semangat mengambil sendok es krim dan siap untuk melahap es krimnya.
"Terimakasih Pak Bumi!" Kata Ana sambil menyeringai, Bumi mendengus sebenarnya dia tidak suka wanita itu memanggilanya dengan kata pak, tapi untuk saat ini dia tidak akan protes. Pria itu hanya tersenyum pada wanita itu.
~
Mereka memakan es krim sambil mengobrol tentang banyak hal.
"Apa enak nya es krim choco mint?" Ana merapikan rambutnya ke belakang.
"Enak sekali, kau mau mencobanya?" Bumi menyodorkan es krimnya pada Ana.
"Aku akan mencoba nya sedikit," Ana menyendok es krim Bumi sedikit seujung sendok.
"Hmm rasanya seperti, pasta gigi hahaha." Ana tertawa kecil,
"Tapi enak!" Lanjut Ana samnil menyeringai.
"Coba aku mau punyamu!" Bumi merebut es krim Ana dsei tangannya.
"Aishh," tapi Ana tidak protes melihat pria itu menyendok es krim miliknya.
"Aku sudah sering mencoba yang rasa ini," tiba-tiba saja pria teringat dengan Bella, dia merasa buruk karena dekat degan wanita lain disaat dia hamil seperti itu.
Bumi meletak kan es krim Ana lalu mengembalikan itu padanya, "kenapa?" tanya Ana sambil menatap Bumi yang seperti kehilangan selera.
"Tidak apa," Jawabnya singkat.
"Apa semua wanita seperti ini? Dimana pun harus berfoto," Bumi dengan heran mengambil ponselnya lalu mengarahkannya pada Ana yang sudah berpose.
Bumi tidak langsung memotret nya, dia menatap Ana lewat layar ponsel beberapa saat. Pria itu tertegun 'cantik' batinnya.
Bumi memotret Ana dua kali dan hasilnya sangat Bagus, Ana menyukainya.
"Bagus sekali, terimakasih." Ana tersenyum melihat hasil jepretan Bumi.
"Ya, cantik sekali," Kata Bumi menyeringai sambil melihat Ana.
"Terimakasih, aku tahu aku cantik." dengan percaya diri wanita itu menyeringai sambil merapikan rambutnya kebelakang.
"Maksudku kameranya, cantik sekali. Kamera Merk ponsel ini memang jernih." Bumi beralasan lalu tertawa kecil.
"Cih" jawab Ana mencibir tapi kemudian larut dalam tawanya.
Waktu sudah menunjukan jam 10.30 malam, Bumi dan Ana sudah selesai menghabiskan es krimnya. Mereka keluar dari Marcos Gelato lalu masuk ke mobil untuk melanjutkan perjalanannnya. Gemuruh pun terdengar, sepertinya akan hujan deras.
Benar saja. Baru keluar dari tempat parkir, hujan sudah mengguyur mobil mereka.
__ADS_1
"Wah hujan," Kata Ana sambil melihat jalanan yang kini basah karena air hujan.
"Kenapa? Kau takut basah? Apa kau putri duyung?" Tanya Bumi mengejeknya.
Ana menatap Bumi sinis, Ana heran kenapa pria ini sering berubah-ubah, kadang menyebalkan kadang juga tidak.
"Berita terkini : Akan ada pemadaman listrik disebagian wilayah Kota Seoul untuk mengurangi resiko konslet, Hujan ini diprediksi akan terus berlangsung sampai Besok, semoga kalian semua selalu sehat"
Mereka mendengarkan berita di Radio, "pemadaman listrik?" Ana berkomentar sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Ada-ada saja hm," respon Bumi terhadao berita itu.
Setelah 30 menit akhirnya mereka sampai di gedung apartemen Ana.
Kini mereka di basemen untuk memarkirkan mobil. Sesaat mereka keluar dari mobil, Listrik pun padam. Ana spontan berteriak, "Aaaa."
"Bum, Bumi kau dimana?" Ana meraba mobil Bumi, saat ia menyentuh tangan pria itu, Ana pun kembali terkejut dan menjerit.
Bumi mengganggu Ana dengan mengarahkan senter dari bawah ke wajahnya, agar membuat suasana menjadi tegang seperti film horor. Ana menutup matanya ketakutan,
"Ini aku, ini aku Hahahahah!" Bumi tertawa gembira.
"Kauuuu!" Ana memukul lengan Bumi agak keras, dia kesal karena pria itu menjahilinya.
"Maafkan aku, apa kau mau melanjutkan perjalanan kita ke Apartemen mu? Atau kau mau ikut aku menginap di apartemenku?" Bumi menyeringai menyiratkan sesuatu.
"Tidak keduanya!" Ana melingkarkan tangannya di dada.
"Yasudah , aku pulang dulu ya!" Bumi menyeringai, dia hanya mengetes Ana.
"Tunggu aku! " Ana berlari kecil ke arah Bumi.
"Lebih baik kau ikut ke apartemenku," ajak Bumi meyakinkan Ana.
"Kita tidak tahu sampai kapan pemadaman ini berlangsung, aku tidak mau di apartemenmu dalam kondisi gelap gulita." Ucap nya hiperbola.
"Aku juga tidak mau!" Ana sedang berpikir,
"Baiklah, ayo ke apartemenmu" Ana mendecak putus asa, akhirnya dia masuk kedalam Mobil lagi. Pria itupun mengikutinya masuk ke dalam mobil,
"Basemen sangat menyeramkan," Bumi memperhatikan jalan yang berkelok. Akhirnya mereka pun keluar dari gedung itu, suasana diluar sangat gelap, Bumi mengendarai mobilnya menuju apartemen miliknya.
Ana tertidur di mobil, pria itu sesekali menatapnya. 15 menit telah berlalu, di luar masih hujan deras.
"Ana, sudah sampai" Bumi membangunkan Ana pelan lalu mematikan mesin mobilnya,
Ana mengucek matanya dan terbangun.
...****************...
...****************...
__ADS_1