MENIKAHI ADIK MANTAN

MENIKAHI ADIK MANTAN
Bab 128 : Pesta kelulusan (Bonus)


__ADS_3

"Sayang apa yang ini cocok untukku?"


"Sangat cocok," Ana yang sudah rapih dengan balutan gaun berwarna hitam brukat berjalan menghampiri suaminya.


Jari jemarinya langsung lugas mengikat dasi di leher sang suami.


"Kau sangat pandai melakukannya, ku kira kau tidak tahu caranya." tangan Bumi melingkar di pinggang sang istri.


"Aku melihat tutorialnya di youtube," Ana tidak kuasa menahan tawanya, begitupun dengan suaminya. Mereka berdua tertawa dengan bahagia.


"Soal nama bayi kita, kita baru memberinya nama sementara kemarin." Ana menyentuh dada Bumi lalu mendangah ke arah pria itu.


"Aku sangat menyukai nama itu, jadi buat saja menjadi namanya."


"Beby? Kau yakin?" Ana mengerutkan dahinya.


Kemudian, suara ponsel Bumi berdering. Pria itupun dengan sigap menjawab panggilannya.


"Halo,"


"Kau dimana?" rupanya, itu adalah suara ayahnya.


"Di rumah, sedang bersiap. Apa acaranya sudah di mulai?" Bumi menatap dirinya di cermin.


"Sebentar lagi akan dimulai, oh iya tadi kakek menyampaikan, dia tidak mau nama Kim dipakai di nama bayi itu."


Ana mendengar suara samar yang terdengar dari ponselnya, dia mendengus pelan. Wanita itu tahu, kakek Kim tidak menyukai bayi mereka.


Bumi melihat Ana dengan tatapan sedih, "baiklah, aku tidak akan memakainya."


"Sudah dulu, aku harus berangkat." lanjut pria itu.


Bumi mendengus pelan, dia melihat istrinya yang sekarang sedang menunduk, "Maafkan aku."


"Tidak apa-apa, aku tidak memaksakan kehendak." Ana tersenyum dengan getir. Dia merasa sedih, karena walau bagaimanapun bayi itu adalah keponakannya. Dia tidak bisa bayangkan jika bayi itu harus hidup dalam hinaan orang lain.


"Jangan sedih, dandananmu akan rusak jika menangis. Aku akan bicara lagi pada kakek soal itu." Bumi mendekat ke arah istrinya lalu memeluknya dengan lembut.


Ana mengangguk pelan, mereka pun segera keluar dari apartemen untuk menghadiri pesta kelulusan Dongmin yang di adakan di kediaman Lee Rojun. Katanya, itu juga akan menjadi momen pengumunan resmi pertunangan Dongmin dan juga Yeri.


Sepanjang perjalanan Ana hanya terdiam, bayi mereka sudah bisa dibawa pulang satu minggu lagi. Berbarengan dengan jadwal kuliahnya juga Bumi yang kembali ke kantor.


Dia sudah memikirkan bahwa dia akan dipenuhi dengan kesibukan setiap harinya.


Tangan Bumi menarik dan menggenggam jari jemari istrinya yang terlihat sedang melamun. Ana sontak menoleh ke arah pria itu dan tersenyum manis.


"Sebentar lagi kita akan sampai, aku tidak mau istriku berwajah masam. Bagaimana jika mereka mengira kalau kau tidak bahagia menikah denganku?"


Ana menyeringai tipis, "maaf, sudah membuatmu khawatir."

__ADS_1


"Tidak apa-apa selagi kau mau menebusnya," Bumi tertawa kecil.


"Kenapa semua hal yang kau lakukan tidak gratis," Ana mendengus pelan lalu ikut tertawa.


"Ku harus mengambil setiap kesempatan yang ada kan?"


"Ya, terserah kau saja." kata Ana lalu terfokus pada pandangannya ke luar jendela lagi.


Akhirnya, mereka sampai di rumah Lee Rojun, dekorasi yang serba biru juga beberapa penjaga yang memeriksa tamu yang akan datang sudah bersiap menyambut mereka.


"Selamat malam pak Bumi, ibu Ana."


"Selamat malam," kata mereka berdua dengan kompak.


Ana dan Bumi langsung melenggang masuk ke dalam, disana sudah ada keluarganya juga tamu undangan lain yang didominasikan oleh kolega perusahaan.


Dongmin terlihat gelisah, wajahnya suram dan tidak memancarkan kebahagiaan.


"Kesayanganku sudah sampai, apa kabarmu?" Ibu Bumi langsung memeluk Ana dan putranya.


"Kabar baik bu, bagaimana dengan ibu?" Ana tersenyum manis ke arah mertuanya, kemudian datanglah ibu Dongmin yang juga menyapa Ana. Sedangkan Bumi sedang berbincang dengan keluarga dan rekan kantornya.


"Ibu sangat baik juga," mertuanya tersenyum manis ke arah wanita itu.


Minhyun terlihat dari kejauhan, saat melihat Ana pria itu tersenyum lalu menghampirinya. Begitupun dengan Ana yang langsung terfokus pada pria itu, sudah lama mereka tidak bertemu.


Ibu Dongmin sedang asyik mengobrol dengan ibu Bumi.


"Tentu saja, Apa kabar?"


"Aku baik, bagaimana bulan madunya?" Minhyun menyeringai.


Pipi Ana seketika memerah, "apa itu patut untuk dipertanyakan?" Ana tertawa.


"Oh iya, dimana Dongmin?"


"Itu disana," Minhyun menunjuk seseorang yang sedang memakai tuxedo biru rapih tanpa dikelilingi orang lain, dia terlihat sedang menenggak alkohol ditangannya.


"Baiklah, aku menemuinya dulu. Aku akan kembali." Ana berpamitan untuk pergi menghampiri Dongmin.


Dia tahu, sahabatnya itu tidak pernah mau menikahi Yeri. Tapi, tidak ada pilihan lain baginya. Ana juga tidak bisa membantu banyak, dia tidak bisa menghentikan pertunangan itu karena itu bukan urusannya.


"Selamat atas gelarmu," Ana berdiri tepat dihadapan Dongmin dia agak membungkuk untuk menyapa pria itu.


Dongmin mendangah dan melihat Ana tersenyum ke arahnya, pria itu menenggak lagi segelas champagne yang sudah dia minum sebelumnya.


"Gelar ini tidak penting untukku, jika pada akhirnya aku tetap tidak akan hidup dengan bahagia." Dongmin sudah terlihat agak mabuk.


"Dongmin, jangan berkata seperti itu. Aku yakin, jika kalian tidak berjodoh sudah pasti kalian tidak akan bersama." Ana tersenyum mencoba menghibur Dongmin.

__ADS_1


"Kenapa? Kenapa tidak kau saja yang menjadi pendamping hidupku."


Ucapan Dongmin membuat Ana agak membelalak.


"Kau tahu, aku sudah menikahi sepupumu. Jadi alangkah baiknya kau tidak membicarakan hal itu lagi."


"Kenapa tidak? Aku yang selalu berada di sisimu, tapi kenapa kau tidak pernah melihatku sedikitpun?" mata Dongmin memerah.


"Dongmin, kurasa kau mabuk. Lebih baik kau sudahi minum-minumnya." Ana menghentikan lengan Dongmin dari menenggak minumannya.


"Aku mabuk karenamu, apa kau pernah membayangkan betapa sakitnya aku melihatmu bersama sepupuku?" Dongmin menunduk.


"Baiklah, aku kesini hanya untuk menyapa dan memberimu ucapan selamat. Aku tidak ingin membuat masalah dan memperkeruh suasana."


Dari kejauhan, Bumi memerhatikan Ana dan Dongmin.


Ana pun beranjak dari duduknya, tapi Dongmin dengan cepat berdiri menahan tangan wanita itu dan menarik Ana ke dalam dekapannya. Dengan cepat pria itu mendaratkan ciuman di bibir Ana.


Semua orang membelalak da terkejut melihat kejadian itu, Bumi yang sedang asyik mengobrol langsung berlari menghampiri keduanya. Sedangkan Ana yang masih tertegun atas perlakuan Dongmin dengan refleks mendorong pria itu menjauh darinya.


Ana menyeka bibirnya, "apa-apaan itu Dongmin?"


Bumi yang muncul di belakang Ana langsung menghajar pria itu sampai tersungkur.


Sedangkan Lee Rojun, Yeri dan keluarganya membelalak melihat Dongmin yang mencium Ana. Yeri melangkah maju ke arah wanita itu dan menamparnya.


"Sialan!" umpat Yeri pada Ana.


Ana merasa perih di bagian pipinya, sedangkan Bumi menoleh ke arah Ana, dia langsung menghampiri istrinya.


"Kau tidak apa-apa?" Bumi terlihat khawatir, sebelum akhirnya dia menarik kerah kemeja Dongmin dan kembali menghajarnya.


"Kau ingin mati?" Bumi terus menghajarnya, sampai Lee Rojun mendorong Bumi untuk menjauh dari Dongmin.


"Jangan membuat keributan di acara ini Bumi!" imbuh Lee Rojun sambil menatap tajam Bumi.


"Bawa istrimu itu menjauh dari anakku, dasar tidak tahu malu!" lanjutnya.


Bumi mengerutkan dahinya merasa emosinya sudah di ujung tanduk, tapi ibu dan ayahnya kemudian menarik pria itu.


"Sudah, kita selesaikan dirumah."


Akhirnya keluarga Kim pulang dari acara itu, Bumi hanya berdiam tanpa kata saat di dalam mobil, sedangkan Ana hanya merasa sedih dan bersalah atas kejadian tadi.


"Maafkan aku," kata Ana dengan suara yang berat.


Tapi tidak ada jawaban.


...****************...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2