
Keduanya sudah sampai di depan pintu unit apartemen mereka, Bumi membukakan pintu dan membiarkan Ana masuk lebih dulu. Ana duduk di sofa sembari menghela napas panjang.
Bumi agak menyesal karena perbuatannya, dia pun segera menghampiri istrinya dan memeluk wanita itu.
"Maafkan aku," Bumi memperhatikan setiap detail wajah sang istri.
"Untuk apa?"
"Yang tadi, aku pergi meninggalkanmu. Aku tahu, kau pasti merasa sedih." Bumi memeluk erat karena rasa bersalahnya. Dia juga teringat dengan handphone Ana yang rusak karenanya.
"Aku akan menggantinya dengan yang baru ya, karena senin kita sudah mulai sibuk jadi aku ingin menghabiskan banyak waktu hari ini denganmu." Bumi menyeringai tetap memeluk istrinya.
Kemudian , ponsel pria itu berdering.
"Halo, iya bu?"
"Halo Bum, Ibu ingin mengundangmu dan Ana untuk makan malam." jawab ibunya melalui telepon.
"Ah, makan malam? Baiklah tentu, aku akan tanya dulu pada Ana ya."
"Tentu, ibu tunggu dirumah ya." kata ibunya.
"Baillah, Dah sampai nanti bu."
Bumi langsung memutus panggilannya, sedangkan Ana dengan mata membulat menunggu Bumi berbicara.
"Ibu mengundang kita untuk makan malam di rumah."
Ana belum menjawab, dia masih menimbang akan hadir atau tidak. Kebetulan dia sedang merasa tidak enak badan dan perasaannya juga sedang tidak stabil jadi ada alasan untuknya menolak menghadiri acara makan malam.
"Bolehkah aku tidak ikut? Aku merasa tidak enak badan." Ana memegang kepalanya.
"Kau sakit sayang? Aku panggilkan dokter ya?" Bumi terlihat panik.
__ADS_1
Ana menggeleng, "tidak Bum, aku hanya merasa lelah dan ingin beristirahat. Jika kau mau, kau boleh datang dan sampaikan bahwa aku tidak bisa ikut."
"Kau yakin tidak apa-apa sendirian di rumah? Aku merasa tidak enak jika menolak tawaran ibu."
"Tentu tidak apa-apa, kau datang saja. Jangan khawatirkan aku, jika aku membutuhkanmu alu pasti akan menelepon." Ana tersenyum manis ke arah suaminya.
"Baiklah kalau begitu, aku akan mandi dulu." Bumi beranjak dari duduknya lalu mengelus lembut pucuk rambut Ana. Wanita itu hanya mengangguk sambil mendongak ke arah Bumi.
Suaminya pergi langsung ke kamar untuk mandi, sedangkan Ana merogoh ponselnya yang sudah retak dia sempat memikirkan Dongmin. Wanita itu merasa bersalah karena tidak membalas pesannya.
Bagaimanapun, Dongmin adalah temannya bahkan dia selalu ada dusaat Ana merasa kesulitan.
Ana mendengus pelan lalu memejamkan matanya. Dia juga teringat soal bau perfume asing yang tercium di mobil Bumi tadi. Sehingga dia ingin memastikan lagi, bahwa itu bukanlah kesalahan penciumannya.
Ana dengan diam-diam membuka ponsel Bumi karena merasa curiga, tapi tidak ada apapun disana. Dia tidak melihat adanya pesan maupun panggilan aneh terlihat di ponsel pria itu.
Ana pun mengembalikan ponsel itu ke tempatnya, dia kini mencoba untuk keluar dari apartemen. Berjalan ke arah lift untuk sampai ke basemen dimana parkiran mobil berada.
Ana sudah mengantongi kunci mobil Bumi, wanita itu menunggu pintu lift terbuka. Dia sembari melihat jam merasa khawatir kalau Bumi sudah selesai mandi dan mencarinya.
Setelah pintu lift terbuka Ana agak berlari menuju mobil suaminya, dia membuka pintu mobil dan berdiam sejenak untuk menghirup wangi parfume asing yang ada di dalam sana.
Kali ini, Ana yakin seratus persen bahwa itu memang parfume orang lain. Entah siapa yang masuk kedalam mobil itu Ana masih belum tahu. Tidak lama wanita itu melihat benda kecil yang mencuri perhatiannya, dia meraih benda berwarna pink itu dan melihatnya dengan seksama.
Walaupun itu adalah lip care terkenal namun Ana tidak merasa memilikinya. Dia juga tidak merasa bahwa dia memasukan itu ke dalam barang belanjaannya.
Ana membuka penutup lip balm itu untuk.memastikan apakah memang masih baru, jika baru kemungkinan besar memang Bumi membelikan itu untuknya. Tapi sayang, terlihat bekas bibir disana. Ana mendengus pelan, dia memejamkan mata dan mencoba mengontrol emosinya.
Dia tidak habis pikir dengan apa yang terjadi sekarang namun, dua tidak ingin menanyakan itu pada Bumi sekarang. Dia kembali menaruh lip balm itu disana lalu memotretnya sebelum dia ambil lagi dan dibawa ke apartemen.
Ana menutup pintu mobil dengan keras, lalu berjalan ke lift swcara tiba-tiba sampai satu mobil yang baru saja datang mengerem mendadak dan hampir menabrak Anastasia.
Ana merasa terkejut dan tertegun, sampai seorang pria keluar dari mobil itu dengan cepat dan memeriksa keadaan Ana.
__ADS_1
"Maafkan aku, kau baik-baik saja?"
Ana menatap pria yang baru dia temui tadi lalu mengangguk pelan, masih dengan wajah pucat Ana melanjutkan perjalanannya menuju lift meninggalkan pria tadi mematung melihat dirinya berlalu.
Entahlah, apakah Ama terkejut karena mobil itu atau karena lipbalm yang dia temukan di mobil suaminya. Yang pasti, kini dia merasa terguncang.
Ana membuka pintu apartemen, syukurlah Bumi masih di dalam kamar. Ana pun masuk ke dalam kamar mereka tanpa bicara sepatah kata pun. Bumi yang sedang mengenakan pakaian pilihannya sendiri merasa bingung, karena tidak biasanya dang istri tidak menyiapkan pakaian untuknya.
Terlebih, wajah Ana terlihat pucat sekarang.
"Sayang, kau baik-baik saja? Ada apa? Kenapa wajahmu pucat?" Bumi memegang pergelangan tangan Ana.
Ana melepaskan genggaman Bumi secara perlahan, dia mencoba bersikap biasa saja seperti biasanya. "Tidak apa-apa. Aku ketiduran di sofa, lalu mengalami mimpi buruk."
Ana menepuk pundak suaminya, memastikan pakaian hangatnya terpasang dengan benar. Menatap setiap inchi wajah itu membuat Ana ragu, apakah mungkin orang yang sangat dicintainya itu berkhianat? Ana ingin sekali mengelak pimikirannya, namun bukti kuat sudah ada ditangannya. Hanya tinggal menunggu waktunya untuk diungkap.
Bumi memeluk Ana dengan erat, "kau benar tidak apa jika aku tinggal sendirian?" suaminya terlihat sangat kahwatir.
"Ya, tentu. Pergilah sekarang, ibu pasti menunggumu. Aku hanya ingin cuci muka lalu tidur." Ana menyeringai tipis.
"Baiklah, aku pergi dulu ya. Kabari aku jika kau membutuhkan apapun, aku akan lamgsung pulang. Aku mencintaimu." Bumi hendak memcium bibir Ana namun dengan spontan Ana malah mundur menjauh dari Bumi.
"Kenapa?" Bumi mengerutkan dahi.
"Uhm, aku belum sikat gigi." dalih Ana sambil tersenyum.
"Baiklah, cepat gosok gigi , cuci wajahmu lalu tidur. Istirahat yang cukup, aku pergi dulu." Bumi tersenyum dan keluar kamar.
Dia sudah melihat kunci mobil yang tergeletak di atas meja ruang tamu, juga ponselnya yang ada disana. Tanpa curiga Bumi pun meraih kedua benda itu dan pergi keluar.
"Jangan biarkan orang lain masuk," Bumi mengatakannya sembari melirik ke arah kamar, tapi tidak ada tanda-tanda Ana akan mengantarnya sampai pintu. Jadi, dia pergi keluar sendirian.
Sebenarnya Bumi sudah merasa aneh dengan perubahaan sikap Ana, tapi dia pikir mungkin ini semua karena kejadian sore tadi.
__ADS_1
...****************...