
"Aku akan pergi untuk perjalanan bisnis." Bumi menggenggam tangan wanita itu.
"Untuk berapa lama? Kemana?" Ana mencondongkan tubuhnya, menatap Bumi.
"Sepertinya sekitar 2 bulan.. Ke beberapa negara di Eropa." Bumi merasa tidak enak, karena alasan sebenarnya dia mengajukan perjalanan bisnis itu adalah karena Bella. Dia ada kekhawatiran tentang kehamilan wanita itu, apalagi kehamilannya sudah menginjak 6 bulan.
"Semoga lancar," Ana tersenyum. Dia menyembunyikan perasaan sedihnya, dia tahu ini untuk perusahaan jadi dia tidak masalah dengan hal itu. Lagipula, bulan depan dia akan super sibuk dengan proyek pembuatan patung bersama Minhyun. Jadi dia sudah pasti, akan mengatasi rasa rindunya pada Bumi dengan baik nanti.
Bumi tertawa kecil lalu mengacak-acak rambut Ana, "Yahh kau terlihat sedih." Bumi memasang raut mengejek. Ana langsung mengerucutkan bibirnya.
"Kau tidak sedih? Kau pasti akan merindukanku nanti."
Bumi menatap Ana ketus, "Tidak, untuk apa aku merindukan si pencari masalah !!" .
Wanita itu melotot ke arah Bumi, "Ya sudah pergi saja sana!" . Ana melingkarkan tangannya di dada. Melihat ekspresi Ana yang lucu, Bumi tidak bisa menahan tawanya, dia tertawa terbahak sambil mengacak rambut Ana lagi.
"Aku pasti akan sangat merindukanmu." Bumi mendekat ke arah Ana dan memeluknya.
"Aku pulang dulu, aku harus segera siap-siap."
"Kau berangkat hari ini?" Ana membelalak. Sedangkan, Bumi berdiri meraih kunci mobil dan ponselnya.
"Ya, sore nanti aku akan pergi. Kau harus mengantarku ke Bandara."
Ana berdiri mengikuti Bumi berjalan dari belakang, pria itu memeluk Naa sekali lagi sebelum benar-benar pulang.
"Aku akan menjemputmu."
Bumi berjalan keluar dari SeeU House, dia beberapa kali menghela nafas panjang. Sekarang saatnya dia bicara pada keluarganya soal perjalanan bisnis ini.
Bumi memasuki mobilnya, dia menyelakan mesin mobil lalu mengendarai nya dengan kecepatan normal. Bumi mengetuk-ngetukan jarinya ke stir. Rencananya, dia akan menghadiri beberapa acara yang dilaksanakan disana.
Sebenarnya selama dua bulan, dia tidak benar-benar full ada dalam suatu acara. Total dari semuanya, ada 10 acara yang akan dia datangi. Pertama 3 pameran di Inggris, lalu ke 2 pameran di Irlandia, 4 pameran di German dan yang terakhir di Italia. Dalam pameran itu Bumi akan menampilkan produk dari KIK Otomotif.
Setelah sampai dirumah, dia disapa oleh para ajudan keluarganya.
"Pak Bumi datang, kebetulan didalam ada Tuan Dongmin." Kata salah satu ajudan mereka.
__ADS_1
"Dongmin?" Bumi nengernyitkan dahi, dia langsung masuk melewati para ajudan dan melihat langsung ke ruang makan.
Semua keluarganya terkejut melihat kehadiran Bumi, mereka langsung menyapa nya dan menyuruhnya sarapan. Dongmin menatap Bumi sambil mengangguk, kemudian dia melahap lagi makanannya.
"Kau disini?" Bumi duduk di sebelah ibunya, tepat dihadapan Dongmin. Kakeknya langsung angkat bicara mengenai kondisi anak itu.
"Rojun mengusirnya dari rumah." Kata Kakek sambil menunjuk Dongmin.
Bumi mengernyitkan dahi, "Di usir? Keterlaluan." Dia agak kesal. Pamannya itu benar-benar tidak sayang pada anaknya sendiri. Bagaimana bisa seorang ayah mengusir anaknya.
Bumi melihat pelayan baru yang semalam mengobati Dongmin,
"Siapa dia? Pelayan baru?" Bumi menoleh ke arah ibunya.
"Namanya Daisy, dia pelayan sementara pengganti Mera." Ibunya menoleh ke arah Bumi sambil tersenyum. Bumi hanya mengangguk, mendengar jawaban ibunya.
"Semuanya... Aku akan meminta izin pergi untuk perjalanan bisnis ku lagi." Bumi menyeringai, sedangkan Dongmin masih serius menyantap makanannya.
Dalam hatinya, dia bersyukur. Semakin cepat Bumi berangkat, semakin baik. Dia tidak ingin Ana selalu berada didekat pria pengecut itu.
"Kenapa mendadak?" Ibunya membelalak,menunggu jawaban anak itu.
"Bagus, itu ide yang luar biasa." Kakek Ketua memuji Bumi.
"Kau yakin? Kau tidak akan merindukan Ibu?" Ibunya menatap Bumi sambil tersenyum menggoda anaknya.
"Tentu saja aku akan merindukan Ibu." Bumi tersenyum dengan seringaian khasnya.
"Bagaimana dengan Ana?" Lanjut ibunya.
Uhuk uhukk. Dongmin tersedak, dia langsung meraih air minumnya dan menenggak air mineral itu. Bumi meliriknya lalu tersenyum kearah ibunya.
"Ahh aku juga akan sangat-sangat merindukannya."
"Kalau begitu ajak saja dia pergi." Usul Kakeknya, yang membuat Bumi serta Dongmin membelalak.
Dongmin langsung angkat bicara, "Aku tidak yakin Anastasia bisa ikut, kurasa... Dia punya proyek pembuatan patung bersama Minhyun, bulan depan."
__ADS_1
Bumi melirik Dongmin, dia langsung tersenyum. "Benar apa yang dikatakan Dongmin, kakek... Aku tidak ingin menggangu kuliahnya. Mungkin, jika dia sudah menjadi istriku aku akan membawanya nanti." Pria itu seperti sengaja membuat Dongmin panas.
Dongmin melirik Bumi dengan ketus, rasanya dia ingin muntah mendengar ucapan sepupunya itu.
Mereka menghabiskan sarapannya. Setelah selesai, Bumi langsung ke kamarnya dan mandi dengan air dingin. Pria itu keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang sudah segar. Dia berjalan ke walk in closet yang mewah.
Dongmin sedang bersiap-siap berangkat ke kampus saat Bumi sudah selesai. Mereka berpapasan di luar rumah.
"Pakailah mobilku selama aku tidak ada, kau boleh menjemput Ana. Aku tidak mau dia pergi sendirian ke kampus." Kata Bumi menatap bunga-bunga dihalaman yang cantik.
"Tentu saja, habiskanlah waktumu disana. Aku pasti akan menjaganya dengan baik dan melakukan itu semua tanpa kau minta." Dongmin masih terlihat ketus pada Bumi, dia segera berjalan meninggalkan pria itu.
Kakek ketua sudah meminta anak itu membawa mobil sendiri, jadi Dongmin pergi ke kampus dengan salah satu mobil milik keluarga Bumi.
Dia langsung menghidupkan mesin mobil dan mengabaikan Bumi yang masih berdiri disana.
Bumi menghela nafasnya panjang, dia yakin Dongmin akan menjaga Ana saat dirinya tidak ada. Bumi, sedang menunggu para pelayannya menyiapkan barang-barang yang harus dia bawa. Pria itu langsung masuk lagi kedalam lagi menemui ibunya.
Rupanya ibunya sedang memasak bekal untuk anaknya nanti, "Ibu sedang menyiapkan makanan untuk mu disana." . Saat melihat Bumi ibunya langsung tersenyum.
"Terimakasih, ibu yang terbaik." Bumi menyeringai. Lalu duduk di kursi yang ada pada dapurnya.
"Apa kabar Ana? Dia baik-baik saja?" Tanya Ibunya sambil menoleh ke arah Bumi.
"Dia baik-baik saja, aku baru menemuinya semalam." Bumi menyeringai, dia mengingat momennya bersama Ana semalam.
"Semalam?" Ibunya langsung menginterogasi anaknya.
"Hehehehe" Bumi hanya tertawa kecil sambil menyipitkan matanya.
Ibunya tersenyum melihat aura kebahagiaan yang terpancar dari wajah anaknya, sudah lama dia tidak melihat ekspresi itu. Akhirnya, Ana bisa membawa Bumi kembali seperti dulu. Anak yang ceria, ramah dan mudah tersenyum.
Bumi masih belum tahu, bagaimana dia akan menjelaskan pada kekuarganya, juga Ana mengenai bayi yang sedang di kandung Bella.
Akankah mereka menerima anak itu, ataukah mereka akan sangat kecewa?
Bumi membatin, terlebih keluarganya sangat menyayangi Ana. Jika Bumi menyakiti hati wanita itu, sudah pasti dia akan kena marah habis-habisan oleh keluarganya. Lagipula. Dia juga tidak tega melihat Ana kecewa. Dia sangat bimbang dengan semuanya.
__ADS_1
...****************...
...****************...