MENIKAHI ADIK MANTAN

MENIKAHI ADIK MANTAN
Bab 12 : Penguntit


__ADS_3

Happy Reading lohh~


......................


Hari sudah mulai gelap, setelah Dongmin dan Ana selesai bermain capit boneka, mereka memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu sebelum pulang. Ana masih mengeratkan boneka stich yang diberi Dongmin.


Waktu sudah menunjukan pukul 06.00 sore,


"Bagaimana kalau kita makan malam dulu ?" Ajak Dongmin.


Ana mengangguk, mereka pun akhirnya berjalan keluar sambil mencari restoran terdekat. Mereka memilih Restoran tenda shabu and grill dan masuk kesana. Mereka duduk sambil tersenyum satu sama lain, seorang pelayan mengantarkan soju yang memang harus disediakan disana.


"Silahkan diminum!" Kata pelayan itu, Ana dan Dongmin mengangguk.


Pria itu lalu menuangkan soju di gelas kecil untuk Ana.


"Kau tidak minum ya?" Dongmin mengangkat kedua alisnya menunggu jawaban Ana..


"Ini pertama kalinya" Ana menenggak sojunya lalu mengernyitkan mata.


"Kau baik-baik saja?" Dongmin mencondongkan tubuhnya,


"Ya, Aku baik-baik saja." Ana tersenyum.


"Aku akan menuangkannya untukmu," Ana menuangkan soju untuk Dongmin, pria itu tersenyum ke arah nya.


"Terimakasih.. Ana." Dia tersenyum tipis.


Ana merasa senang hari ini, rasanya seperti berkencan apalagi dia pergi dengan seorang Dongmin. Pria tampan dan baik hati ini meluluhkan hatinya. Ana tidak sadar kalau dia menatap Dongmin agak lama, Dongmin kemudian menatap Ana balik. Ana pun terkejut, pipinya semerah tomat sekarang. Dongmin tertawa kecil melihat ekspresi wanita itu.


"Yaaaaaak!! Hey! apa kalian berkencan???" Tanya seseorang yang muncul.di belakang Ana, Ana sama sekali tidak mengenali orang itu. Sepertinya, dia teman seangkatan Dongmin. Dongmin pun menatap pria itu, sedangkan Ana hanya menunduk malu. Dia takut rumor menyebar kemana-mana.


"Tidak!" Kata Dongmin memperjelas.


"Lalu sedang apa kalian berdua disini? Bahkan si seleb junior Anastasia memegang Boneka. Waaaah sudah kuduga kau pasti menyukainya sejak pertengkaran di-" ucapannya terpotong saat Dongmin menatapnya tajam.


"Kau membuatnya tidak nyaman!" Dongmin menggerakan kepalanya untuk menunjukan pada pria itu bahwa Ana merasa tidak nyaman dengan sikapnya.


"Maafkan aku, baiklah nikmati makanan kalian! Sampai jumpa hehehe." Pria menyeringai lalu pergi, dia bernama Jeno si raja gosip. Melihat Dongmin dan Ana berkencan, rumor itu pasti akan langsung menyebar sampai ke seluruh kampus.


Itu bukan masalah bagi dongmin, tapi bagi Ana? Itu mimpi buruk baginya. Seorang Mahasiswi baru berkencan dengan senior tampan dan terkenal di kampus. Apa dia sanggup mendengar rumor disana sini? Belum lagi para penggemar Dongmin dari kalangan seniornya.


Membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduknya merinding, akan semenderita apa hidupnya nanti. Ana menggeleng, Makanan pun tiba, Dongmin mulai menaruh daging-daging itu dipanggangan.


"Kau tidak apa-apa?" Dongmin memastikan keadaan Ana baik-baik saja.


"A-aku tidak apa-apa," Ana gelagapan,


"Kau tahu, kau tidak perlu menyembunyikan perasaanmu." Dongmin menunggu dagingnya matang.

__ADS_1


"Kau bisa menceritakan apa saja padaku, kecemasan itu terlihat di matamu. Kau tidak bisa berbohong atau mengelak." Dongmin menatap Ana lekat , lalu menaruh daging yang sudah matang di atas nasi Ana.


Ana menunduk menatap daging itu,


betapa baiknya pria ini ...... Batinnya


"Aku hanya khawatir," Ana menunduk.


"Tentang apa? Apa yang kau khawatirkan?" Dongmin masih menatap datar.


"Rumor...." Kata Ana.


"Berkencan," lanjutnya.


Dongmin melahap makanannya dan fokus memanggang daging-daging itu lagi.


"Itu bukan rumor kan?" Dongmin tertawa kecil menggoda Ana.


"Hah apa?" Ana membuka mulutnya sedikit terkejut,


"Walaupun rumor itu muncul, aku akan memastikan bahwa rumor itu tidak akan bertahan lama. Tidak perlu khawatir Ana." Dongmin mencoba meyakinkan Ana dan mengalihkan pertanyaan Ana tadi.


"Makanlah dulu! Jangan terlalu di pikirkan." Dongmin menyeringai.


"Ya kau benar, aku akan berusaha untuk mengabaikannya." Ana tersenyum sedikit terpaksa lalu memakan daging yang diberi Dongmin tadi.


Bohong jika dia bisa mengabaikan itu, selama ini dia memang selalu memikirkan hal-hal kecil yang bahkan tidak terlalu penting.


"Kau tahu, aku hanya seorang mahasiswi baru..."Ana ragu-ragu meanjutkannya.


"Lalu??" Dongmin menunggu jawaban Ana sambil menatapnya agak lama.


"Aku tidak bisa membayangkan jika para senior wanita bersikap sinis padaku, aku juga tidak terbiasa dengan rumor seperti itu." Ana melahap makanannya sedikit-sedikit..


"Kau harus berhenti memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentangmu, kau tidak perlu khawatir tentang hal-hal kecil seperti itu. Akan selalu ada rumor seperti itu dimana pun apalagi untuk orang populer sepertimu!" Dongmin menatap Ana menahan tawanya.


"Populer?" Tanya Ana sambil tersenyum.


"Ya, kau dengar tadi yang Jeno katakan 'Seleb junior' aku yakin para senior pria lain juga malebeli mu itu." Dongmin tertawa kecil.


"Kau memang sangat populer dikalangan para senior Anastasia." Dongmin meminum segelas soju sambil menatap Ana dan menyeringai.


Pipi Ana memerah, Dia tidak tahu harus menjawab apa.


"Aku??? Kenapa begitu? Aku tidak pernah berharap menjadi anak populer dan tidak ingin jadi populer. Bukankah kau yang paling populer di kampus? Semua orang selalu memperhatikanmu!" Ana mencoba menjabarkan fakta yang ada.


Dongmin hanya tersenyum lalu kembali fokus memakan makanannya.


"Aku tidak sepopuler itu, aku yakin sebentar lagi posisiku akan tergantikan olehmu dan adik ku Minhyun. Dongmin tertawa.

__ADS_1


"Ya kau benar, dia sangat tampan, orang-orang membicarakannya akhir-akhir ini !" Ana mengangguk setuju, tapi Dongmin malah kesal melihatnya.


"Tetap saja, dia tidak setampan aku!" Dongmin mengalihkan pandangannya lalu kembali menatap Ana dan tertawa bersama. mereka bersenang-senang malam itu.


"Kurasa, Telinga Minhyun sedang berdengung sekarang." Ana tertawa kecil. Dongmin menuangkan soju lagi untuknya.


Waktu menunjukan jam 09.00 malam,


Setelah selesai maka malam, mereka bergegas pulang menunggu Bus dihalte. Ana sudah meyakinkan Dongmin untuk tidak ikut bersamanya ke Apartemen, karena mereka berbeda arah.


Akhirnya Dongmin mengiyakan setelah beberapa kali Ana yakinkan. Dia hanya menunggu sampai Ana masuk ke dalam Bus. Ana melihat Dongmin di halte lalu melambaikan tangannya.


Ia memeluk erat Boneka biru kecil itu. Busnya hanya terisi beberapa orang, Ana mengenakan maskernya, lalu memejamkan matanya sebentar. Sepertinya perjalanan akan membutuhkan waktu 1 jam.


Ponselnya pun berdering, Ana segera meraih benda persegi panjang itu dari sakunya.


^^^Dari Dongmin :^^^


^^^Kabari aku jika kau sudah sampai di Apartemen!^^^


Ana tersenyum melihat pesan kecemasan itu, dia pun segera membalas pesannya.


^^^Dari : Ana^^^


^^^Ya tentu hehehe..^^^


Ana merasa tidak nyaman, sepertinya pria dibelakangnya memperhatikannya sedari tadi. Tapi dia mencoba mengabaikannya dan berusaha tetap tenang. Setelah hampir 1 jam perjalanan, busnya tiba-tiba saja berhenti. Padahal tinggal beberapa ratus meter lagi sampai.


"Ada apa?" Tanya Ana sedikit panik.


"maaf nona busnya mogok, silahkan turun dan menunggu bus lain atau naik taksi!" Kata Supir Bus, yang lain pun turun mendahului Ana.


Ana turun dan menunggu beberapa saat, tapi tidak ada kendaraan yang lewat, dia masih mencurigai pria tadi yang kini ada dibelakangnya. Ana memutuskan untuk berjalan kaki, sambil menghindari pria itu.


Tapi..... Pria itu malah mengikuti Ana,...


Jantungnya tidak tenang dan berdegup kencang, Ana mempercepat langkahnya, begitu pun Pria itu yang menyeimbangi jalannya dengan Ana. Kini Ana mulai berlari, sekarang dia sudah yakin kalau pria itu memang menguntitnya karena pria itu sekarang mengejar Ana juga.


Karena sudah larut malam, mobil yang lewat pun sudah jarang terlihat. Kemudian, tangan yang kuat mencengkram siku Ana dan menariknya. Pria itu tersenyum dibalik topinya,


"Hai cantik, mau berkenalan?" Kata pria asing itu.


Ana membeku, dirinya seperti membatu ditempat, dia tidak bisa berbicara sepatah katapun saking terkejutnya. Ana mencoba melepaskan genggaman pria itu. Tapi tangan itu cukup kuat dan Ana tidak bisa memberontak. Pria tadi menyeret Ana ke tempat yang lebih gelap.


"Kumohon lepaskan aku!" Ujar Ana memohon.


...****************...


...****************...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2