
Pagi itu, Dongmin meliht Anastasia sedang menunggu bus di halte. Dia menepikan mobilnya. Untuk sesaat Ana kebingungan, dia tidak pernah melihat mobil itu sebelumnya.
Dongmin turun dari mobil dengan senyum yang cerah, ekspresinya berbanding terbalik dengan suasana hati yang sebenarnya. Dia hanya ingin menyapa wanita itu dengan senyuman.
"Dongmin.." Ana membelalak.
"Pagi, Ana hari ini aku mulai masuk kuliah lagi. Kau mau berangkat bersama?" Dongmin menunggu Ana menjawab.
"Se-pertinya tidak perlu, Aku akan menunggu bus saja." Ana terlihat canggung, Dongmin tidak tahu alasan Ana bersikap seperti itu. tapi dia yakin itu karena Bumi.
"Aku tidak akan memaksamu. Baiklah. Sampai bertemu di kampus Anastasia." Dongmin menunduk lalu dia masuk kembali ke dalam mobilnya.
Didalam mobil terlihat wajah pria itu agak kecewa, dia menghela nafas panjang. Dia mengendarai mobil dengan kecepatan normal.
Ana merasa tidak enak karena harus menolak ajakan Dongmin, hal itu dia lakukan untuk menghargai Bumi sebagai kekasihnya. Dia tidak ingin membuat pria itu marah dan kecewa lagi.
Disisi lain, Dongmin terlihat semakin emosi. Dia menyadari bahwa Ana bersikap berbeda hari ini. Dia juga sangat yakin, itu disebabkan oleh Bumi.
"Ana, andai kau tahu yang sebenarnya." Dongmin mempercepat laju mobilnya.
Setelah sampai di kampus, dia bertemu dengan kawan-kawannya. Sial sekali, rumor perjodohannya sudah menyebar ke seluruh penjuru kampus.
"Weeeeeee Selamat atas perjodohannya" , Jeno menepuk Pundak Dongmin. Tapi pria itu malah membalasnya dengan tatapan tajam.
"Rumor darimana itu?" Dongmin mengangkat sebelah alisnya. Dia sangat geram, sudah pasti Yeri yang menyebarkannya.
Dia berjalan mencari wanita yang entah ada dimana itu, yang pasti dia ingin sekali segera bertemu dengannya dan menghentikan apapun yang sedang dia lakukan.
Dongmin berjalan lurus menuju kantin kampus, dia yakin wanita itu sedang bergosip disana.
Akhirnya, pria itu bertemu dengannya.
"Yeriiiii !!" Dongmin agak berteriak.
"Heyy sayaaang!!!" Yeri melambaikan tangannya pada Dongmin.
Pria itu berjalan mengarah padanya dengan tatapan tajam,
"Ikut aku!!!" itulah yang dia katakan pada Yeri. Dongmin menarik lengan Yeri agak kasar.
Mereka berjalan keluar dari kantin, Yeri menepis tangan pria itu di pergelangannya. Pegangannya membuat Yeri kesakitan sampai bekas merah melingkar ditangannya.
__ADS_1
"Aduhhh, sakit Dongmin. Kenapa kau kasar sekali !" Yeri mengermyitkan dahi nya, nampak geram pada Dongmin.
Mereka mengobrol di koridor yang sepi,
"Hentikan ocehanmu, aku menolak perjodohan kita." Dongmin menatap Yeri tajam.
Wanita itu langsung menyilangkan kedua tangannya di dada, dia melotot ke arah Dongmin dan menantang pria itu.
"Menolak? Ck !! Apa kau bisa membantah ayahmu?" Yeri tertawa kecil, seolah mengejek Dongmin yang selama ini tidak pernah membantah ayahnya.
"Cukup, aku tidak ingin berdebat denganmu. Aku hanya ingin kau berhenti mengoceh tentang perjodohan itu !!"
Dongmin langsung meninggalkan Yeri pergi, saat berjalan dia melihat Ana yang baru saja datang. Tapi Dongmin tidak menghiraukan Ana, sampai saat Yeri menyapa wanita itu.
"Heh Ana, rupanya kau sangat bangga menjadi rebutan keluarga KIK? Sampai kau beraninya membuat hubungan persaudaraan mereka menjadi renggang?" Yeri berjalan mendekat ke arah Ana, dia mendorong bahu Ana dua kali sampai Ana terdorong beberapa langkah.
"Aku tidak tahu apa maksudmu!" Jawab Ana, dia memang tidak tahu tentang keributan yang Dongmin dan Bumi lakukan saat acara itu.
Dongmin seketika menghentikan langkahnya. Dia berbalik perlahan. Kini orang-orang menonton mereka bak Drama Korea.
plakkk
Suara tamparan yang keras terdengar, Yeri melayangkan tangannya di pipi Ana.
"Aku muak dengan sok kepolosanmu!" Yeri berteriak di wajah Ana. Dongmin segera menghampiri wanita itu, lalu berdiri didepan Anastasia.
Dia melotot ke arah Yeri tajam, seakan ingin membalas tamparan itu. Tapi, dia tidak akan pernah melakukannya.
Ana yang masih kesakitan, menekan pipinya yang memerah. Tidak terasa dia meneteskan air matanya. Dia bahkan tidak tahu apa yang menjadi sumbu kemarahan Yeri.
Somi yang baru datang juga, melihat Ana sedang kesakitan. Dia dengan sigap menghampiri sahabatnya.
"Apa-apaan kau? Aku akan melaporkanmu ke perwakilan Mahasiswa!" Somi menatap wanita itu tajam.
"Kau baik-baik saja Ana?" Somi membungkuk mengecek keadaan Ana, wanita itu menangis. Somi pun langsung membawanya menjauh dari sana.
Dongmin yang melihat Ana dibawa oleh Somi hanya bisa menoleh ke arah mereka. Kemudian, dia memicingkan matanya lagi ke arah Yeri.
"Kenapa kau menamparnya? Dia tidak pernah melakukan apapun padamu!" Dongmin menggretakan giginya seolah menahan amarahnya untuk meluap.
"Karen aku membencinya!!!" Yeri berteriak, kegaduhan itu membuat semua orang memperhatikan mereka. Rupanya Yeri sengaja, ingin menjadi pusat perhatian semua orang.
__ADS_1
Dia ingin membuat Ana jelek dimata mereka.
*
*
Disisi lain, Bumi sedang bersiap-siap mengumpulkan semua dokumen yang dia butuhkan untuk disana. Dia sering tersenyum saat mengingat momen indahnya bersama Ana.
Duh.. Rasanya dia tidak ingin meninggalkan wanita itu, dia pasti akan sangat merindukan Ana nantinya. Dia hanya belum menemukan titik terang untuk masalahnya, dia berharap bahwa dirinya ounya keberanian untuk berkata jujur pada Ana. Mengenai bayi itu dan yang lain.
Ibunya yang menatap Bumi dari ambang pintu ruang kerjanya, lalu mulai berjalan menghampiri anak itu.
"hmmm pasti sedang memikirkan Ana." Tebak ibunya sambil menyeringai.
Bumi tertawa kecil sambil menunduk, dia menumpuk beberapa dokumen yang harus dia bawa dan dimasukan ke tas kerjanya.
"Aku akan sangat merindukannya." Kata Bumi sambil masih sibuk dengan apa yang dia lakukan.
"Kalau begitu... Ajak saja!" Usul ibunya, pria itu ingin sekali membawa Ana kemana pun dia pergi. Tapi, jika situasinya seperti yang dia alami sekarang. Itu tidak mungkin dia lakukan.
Bumi menggeleng, "Tidak mungkin bu, dia sedang kuliah. Bahkan baru semester satu."
"Iya juga, hmm ibu ingin sekali cepat menimang cucu." Ibunya memejamkan mata sambil mengayunkan tangannya, seolah sedang menimang bayi.
"Bu.. Ayolah, Ana masih sangat muda." Bumi tersenyum melihat tingkah ibunya.
"Kakek juga ingin segera melihat cicit, dia selalu bicara pada ibu. Kapan kau akan melamar Anastasia, hmm kau tahu kan... Kakekmu sangat menyukai Ana !!!"
Bumi menunduk sambil tersenyum, dia merasa gugup. Bagaimana jika Ana tahu dan dia merasa kecewa. Apalagi, semua keluarganya sudah menyukai wanita itu. Terlebih, apa kata mereka jika semua ini terbongkar.
Aku memacari adik kaka kandung? ... Bumi membatin
Bumi mengernyitkan matanya, dia berusaha membuang jauh-jauh kemungkinan hal terburuk yang bisa saja terjadi itu. Ibunya menatap pria itu dengan seksama.
Dia merasakan ada hal yang Bumi tutupi, tapi dia tidak tahu apa yang sedang anaknya tutupi itu. Dia hanya berharap itu bukan sesuatu yang buruk.
Bumi sudah selesai merapikan dokumennya, begitupun para pelayannya yang sudah siap menyusun dan membawa masuk beberapa koper yang akan dia bawa ke Eropa nanti.
"Terimakasih." ucap Bumi pada pelayannya.
...****************...
__ADS_1
...****************...