MENIKAHI ADIK MANTAN

MENIKAHI ADIK MANTAN
Bab 20 : KIK otomotif


__ADS_3

Setelah kunjungan ke rumah sakit selesai, Ana dan Bumi memutuskan untuk langsung pulang. Dokter tadi, mengatakan bahwa keadaan Ana sudah jauh lebih baik. Ini kemungkinan besar dikarenakan teman-temannya yang selalu mendukung wanita itu. Dia sudah bisa menerima lapang apa yang telah terjadi, sehingga keadaannya membaik seiring berjalannya waktu.


"Kau mau mampir ke kantorku? Tentunya, untuk Melihat Dongmin," imbuh Bumi sambil menyeringai,


"Hmm apa boleh? Aku ingin sekali kesana," Ana menyeringai menatap Bumi yang fokus berkendara.


"Tentu saja, mari kita ke sana dulu, dan yah... Kau harus segera melakukan aktivitas seperti biasanya," Bumi dengan tanpa ekspresi berbicara pada Ana.


...HANKUK UNIVERSITY...



Minhyun berjalan di koridor kampus, dia mendengar beberapa orang membicarakan hal mengenai dirinya. Bahkan beberapa wanita mulai menggodanya, entahlah apa yang diinginkan para wanita itum yang pasti, Minhyuj tidak tertarik dan memilih menghindar dari mereka.


"Hey Minhyun!" imbuh Jeno yang berlari ke arah Minhyun.


"Aku sudah menduga bahwa kau dan Dongmin itu bersaudara, hahaha karena wajah kalian memang sangat mirip." Jeno menepuk pundak Minhyun sambil tertawa dan sok akrab.


"Lalu apa keuntunganmu mengetahuinya?" Minhyun menatap Jeno tajam, dia merasa sentimental akhir-akhir ini.


"Hehehe tidak ada, aku hanya ingin mengucapkan selamat!" Jeno menyeringai canggung, dia melihat ekspresi Minhyun yang tidak ramah.


"Aku tidak butuh ucapan selamat," Minhyun melenggang pergi menjauh darinya, Jeno yang merasa terhina itu pun kesal dan mengumpat pada pria itu.


"Ah sialan,, mereka berdua sama saja," Ujar Jeno kesal.


Minhyun berjalan ke taman kampus, dia ingin menangkan diri disana, kalau dia tahu akan menjadi pusat perhatian di kampus pasti dia akan mengambil cuti seperti kakaknya, Dongmin.


Pria itu duduk disebuah kursi taman, di bawahnya berserakan dedaunan kering. Sepertinya, bulan ini sudah masuk ke musim semi.


Minhyun meraih ponselnya, dia berniat untuk menanyakan kabar Anastasia yang sedang pergi ke kantor polisi. Tak lama, panggilannya pun tersambung.


"Halo," Suara lembut wanita itu terdengar merdu di telinga Minhyun.


"Halo, Bagaimana hari ini?" Pria itu menunggu jawaban Ana, terdengar suara klakson mobil dari dalam ponselnya.


"Untunglah, semuanya berjalan lancar. Sekarang aku sedang dalam perjalanan menuju KIK. Kau bisa kesana juga nanti sepulang kuliah. Benar kan pak?" Ana menoleh ke arah Bumi yang sedang fokus menyetir.


Pria itu pun mengerutkan dahi, mendengar Ana memanggilnya pak rasanya dia merasa tua sekali. Padahal dia sudah biasa disapa seperti itu. Entahlah, kenapa dia tidak suka saat Ana mengatakannya.

__ADS_1


"Pak?" Bumi mengulang kalimat Ana dengan tatapan kesal.


"Ya, kesana lah nanti sepulang kuliah." Lanjut Bumi pada Minhyun lewat telepon.


Ana melirik Bumi yang masih fokus menyetir, dia menahan tawanya melihat mimik wajah pria itu. Dia tahu Bumi tidak suka, jadi menurutnya itu semakin menyenangkan.


"Baiklah, setelah pulang kuliah nanti aku akan kesana," Minhyun memutus panggilannya, setelah itu Ana pun langsung menatap Bumi yang masih ingin mempermasalahkan soal kata pak tadi.


"Pak?" Pria itu mengernyitkan dahi.


"Lalu apa? Paman? Bukankah 'pak' Itu panggilan formal, lagipula bukankah kau sudah terbiasa dengan panggilan itu?" Ana menatap Bumi heran, lagipun tidak ada yang salah dalam ucapannya.


"Panggil oppa saja!" Kata Bumi sambil tertawa kecil, dia pun agak geli mengatakannya.


"Eh oppa? Tidak tidak!" Ana menggeleng tidak setuju.


"Ayolah, bukan kah itu lebih cocok untuk pria imut sepertiku?" Bumi tertawa kecil lagi, dia merasa senang menjahili Ana terus menerus.


"Baiklah oppa! Hahaha," Ana tertawa sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan, dia merasa aneh karena itu kali pertamanya memanggil seseorang dengan sebuat oppa.


Ponsel Bumi pun terdengar berdering, pria itu meraih ponsel di sakunya lalu melihat layar untuk mencari tahu siapa yang memanggilnya. Ternyata itu dari Bella, mantan kekasihnya. Dia pun menjawab panggilan itu lalu mendekatkan ponselnya di telinga sambil menyetir dengan satu tangan.


"Suara siapa itu?" Bella menekankan suaranya cemburu.


"Apa maksudmu?" Bumi meletakan telunjuknya di bibir, pria itu ingin Ana tidak bersuara untuk saat ini.


"Aku mendengar tawa seorang wanita tadi, siapa dia? Teganya kau, aku sedang hamil disini, tapi kau malah asik bersama wanita lain." Wanita itu menggerutu di dalam panggilannya, Bumi pun menghela nafas panjang, rasanya malu jika harus berdebat dengan Bella di depan Ana..


"Kita bicara nanti ya, aku sedang mengemudi. Ini berbahaya," Dalih pria itu, dia hanya menghindar dari Bella.


"ITU ALASAN MU SAJA KAN!" Bella berteriak dan suaranya bahkan terdengar oleh Ana, Bumi menoleh ke arah Ana dengan canggung. Dia merasa malu dengan sikap Bella yang seperti itu. Untunglah, Ana tidak tahu siapa wanita itu.


Bumi memutuskan panggilannya, dia menatap Ana merasa tidak enak.


"Maaf," Kata Bumi sambil tersenyum canggung.


"Tidak perlu minta maaf" Jawab Ana singkat.


Sesampainya di KIK Otomotif....

__ADS_1


Bumi membukakan pintu mobil untuk Ana, mereka berdua melenggang masuk ke gedung yang hampir mencakar langit itu. Keduanya disambut baik oleh para penjaga dan karyawan disana.


Memang ada sebagian yang mulai membicarakan rumor mengenai berita kencan itu, banyak karyawan yang mengira mereka memang berhubungan. Apalagi, Bumi kini datang bersama Anastasia ke sana.


Mereka pergi ke ruangan Bumi, pria itu masuk mendahului Ana ke ruang kerjanya. pemuda itu mempersilahkan Ana untuk duduk di sofa yang ada di ruangannya.


Pria itu langsung meminta Housekeeping untuk menyiapkan minuman untuk Anastasia. Tak lama, minuman itupun datang.


Dongmin yang mengetahui keberadaan Ana, langsung menghampiri wanita itu di ruangan Bumi. Beberapa menit kemudian masuklah pria itu keruangan sepupunya dengan memakai setelan tuxedo yang sangat indah dikenakan olehnya.


Ana sampai membelalak melihat pria itu melenggang masuk bak seorang model catwalk. Jantung Ana berdegup kencang saat Dongmin berjalan mendekatinya, Bumi pun hanya tertawa kecil melihat keduanya.


"Sepertinya dia terkesima denganmu hahaha," Goda Bumi pada Dongmin dan Ana. Wanita itu spontan langsung menatap Bumi tajam, sedangkan pria di hadapannya hanya tersenyum padanya.


"Kalian sudah makan siang?" Tanya Dongmin pada mereka berdua.


"Belum," Jawab Bumi singkat, dia berdiri dan bersiap untuk makan siang.


"Mari kita makan siang bersama," Dongmin pun meraih tangan Ana dan menggenggamnya. Wanita itu agak terkejut melihat perlakuan pria itu padanya.


"Hey ini dikantor! Kau tidak mau masuk majalah gosip kan? Lepaskan tangannya, lagipula jika ayahmu tahu kau pasti akan dihukum!" Bumi mendekat ke tengah mereka berdua, dia memisahkan kedua tangan itu. Lalu berjalan lurus keluar ruangan.



(Gambaran Avaneesh Bumi saat itu)



(Gambaran Anastasia Jung)


Ketiganya pergi ke cafe bersama, Bumi yang mendahului diikuti Ana di belakangnya, dan Dongmin berjalan paling belakang. Semua orang menatap pemandangan tak biasa itu, ketiga orang yang auranya bersinar melenggang di depan mereka.


Seorang pria berseragam hitam yang sepertinya penjaga perusahaan itupun berbincang lewat telepon dengan seseorang.


"Kurasa, itu orangnya. Aku akan mengirimkan fotonya padamu pak." katanya sambil memerhatikan Ana yang kini duduk bersama Bumi dan Dongmin.


"Cari informasi mengenai gadis itu lalu laporkan kepadaku segera!" Seru seseorang lewat telepon.


...****************...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2