
Kakek ketua dan ayah Bumi kini sedang berada di ruang kerja anak itu. Bumi yang baru masuk langsung di todong dengan segala pertanyaan oleh kakeknya. Sambil duduk di sofa raut wajah kakek Kim terlihat kesal dan juga bingung.
"Bisa kau jelaskan? Bagaimana bisa kau membawa wanita hamil kerumah?" Tanya pria itu.
"Dia mengandung anakku kek," jawab Bumi sembari berwajah datar.
"Apa kau bodoh? Kau yakin itu anakmu? Apa kau sudah memastikannya dengan jelas?" kakek Kim tidak habis pikir dengan cucu satu-satunya itu, dia terlihat gampang percaya.
"A-aku yakin, kami sudah saling mengenal sejak lama. Dan dia tidak mungkin berbohong." Bumi mencondongkan tubuhnya dan meletakan sikunya di lutut.
"Kakek tidak habis pikir, bagaimana dengan Ana? Jangan bilang dia dirumah sakit karena tahu hal ini? Apa kau bodoh? Kakek tidak bisa mempercayainya sebelum kebenaran soal anak itu diketahui. Setelah anak itu lahir, segera lakukan tes DNA!" Kakek Kim menatap tajam cucunya yang kini menunduk.
"Benar yang di katakan kakek, Bum, setidaknya kita lakukan tes DNA setelah anak itu lahir." sahut ayahnya yang juga mengerutkan dahi.
"Baik Ayah, Kakek, maafkan aku karena sudah membuat kekacauan ini." Bumi menunduk, kali ini dia jadi teringat dengan Ana.
"Semua orang tahu bahwa Ana adalah calon istrimu, lalu kenapa sekarang muncul wanita hamil itu. Astaga, apa yang harus keluarga kita katakan pada media? Kau ingin reputasi keluarga kita hancur ya?" ayah Bumi berdiri karena merasa kesal, dia berjalan mondar-mandir di sekitar sofa.
"Tidak boleh ada yang tahu soal ini, a-aku tidak berniat menikahinya. Aku hanya ingin anak itu lahir dengan selamat ayah, kakek."
__ADS_1
"Lalu, apa rencanamu setelah itu?" kakek Kim menatap datar cucunya.
"Setelah anak itu terbukti anak biologisku, aku akan merawatnya dan meminta Ana menikahi denganku, kita bisa mengatakan bahwa itu adalah anakku dan Ana." Bumi dengan entengnya mengatakan niat selanjutnya.
"Kya! Berani-beraninya kau mempermainkan perempuan seperti itu! Lebih baik kau nikahi wanita hamil itu, lepaskan Ana dan biarkan dia menikah dengan yang lain, hanya karena kau cucuku bukan berarti aku akan membela perbuatanmu yang salah! Kalau perlu kau turun dari jabatanmu sekarang agar skandal mu ini tidak mempengaruhi perusahaan!" Kakek Kim menatap Bumi tajam, pria tua itu sangat merasa kasihan terhadap Ana dan juga kesal karena cucunya yang ceroboh itu dengan gampangnya mengatakan hal bodoh.
"Kau tidak bisa melakukan hal itu pada Anastasia, Bumi!" Imbuh ayahnya dengan lugas.
"Sudahlah, Kakek dan ayahmu akan pergi ke rumah sakit menemui Ana, kau urus semuanya sendiri!" Kakek Kim berdiri dan melenggang pergi dari ruangan itu , diikuti oleh anaknya di belakang.
Bumi hanya menatap datar kakek dan ayahnya yang perhi dari ruangan, kemudian dia langsung menunduk dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan, dia juga merasa bodoh karena telah dengan enteng mengatakan hal itu.
"Kakek benar, aku harus melakukan tes DNA." imbuh Bumi sembari bangun dari duduknya, dia akan pergi ke rumah sakit juga untuk menemui Ana di sana.
Ibu Bumi yang sedang berbicara dengan Bella tentunya tidak menaruh curiga apa-apa. Dia sangat percaya dengan apapun yang anaknya sampaikan. Jadi dia hanya akan merawat wanita hamil itu dengan baik sampai melahirkan sesuai keinginan Bumi.
Kakek ketua dan Ayah Bumi sudah pergi ke rumah sakit, sedangkan dia tidak bisa ikut kesana karena ada Bella yang harus dia temani. Kemudian, suara langkah kaki pun terdengar, dilihatlah Bumi dengan tergesa berjalan menuruni tangga.
__ADS_1
Ibu Bumi dan Bella saling menatap satu sama lain, "mau kemana nak?" tanya wanita berambut sebahu itu. Wanita itu selalu bersikap lembut pada putranya.
"Aku harus pergi dulu, Bella tinggalah dengan nyaman disini!" tanpa mengatakan tujuannya, Bumi langsung berjalan keluar rumah, dia segera masuk ke dalam mobilnya yang masih terparkir di garasi.
Pria itu melaju dengan kecepatan yang normal, sudah saatnya dia memberanikan diri bertemu dengan Anastasia. Jika selalu bersembunyi, kapan dia akan menyelesaikan masalahnya? Pria itu dengan fokus terus menyalip beberapa mobil di depannya. Kali ini, kecepatan mobil dia lajukan diatas normal.
Di rumah sakit, kakek Kim dan juga ayah Bumi baru saja sampai, tuan Jung langsung menyambut orang penting itu disana. Para ajudan keduanya menunggu dengan rapih diluar kamar rawat. Sedangkan, Yuri sudah pulang sejak tadi pagi karena dia juga harus ke kampus.
"Selamat pagi," kata Kakek Kim pelan, mereka berjalan menghampiri Ana yang kini mencoba untuk bangun dari tidurnya.
"Tidak apa-apa, jika kau merasa lemas. Tidak perlu di paksa untuk bangun Ana." kakek Kim tersenyum ke arah Ana, dia tidak bisa menyembunyikan rasa empatinya terhadap wanita itu.
Begitupun dengan ayah Bumi yang memegang bucket bunga besar untuk Ana, "ini untukmu!" katanya sambil menaruh bunga itu di sofa.
"Terimakasih, ayah." ucap Ana dengan lirih.
...****************...
...****************...
__ADS_1