
...KAMPUS...
Dongmin bergabung dengan yang lain, aneh saja dia satu-satunya yang duduk bersama mereka. Sedangkan di sisi lain para senior menatap pria itu heran.
"Dia suka pada Anastasia kan?" Kata salah seorang dari senior Hankuk.
"Ya, sepertinya." sahut yanh lain.
Mereka semua tertawa saling melempar candaan, disaat Yeri menatap mereka dengan sinis. Ana melihat Dongmin yang sedang lahap dengan makanannya.
Tidak lama ponsel Ana berdering, anehnya itu nomor yang tidak dia kenali. Semua yang ada di meja melihat Ana.
"Aku menjawab panggilanku dulu ya semuanya," Ana pergi ke ruangan yang tidak bising untuk menjawab panggilan itu.
Sesaat setelah tersambung, wanita itu langsung menyapa seseorang dibalik panggilannya.
"Halo," kata Ana dengan suara lembut, tapi tidak ada jawaban dari sapaannya tadi.
"Halo," katanya sekali lagi. Ana mendengus.
"ck" dia berniat untuk memutus panggilannya, tapi kemudian orang itu pun bersuara.
"Halo," kata pria tadi.
"Siapa ini?" Tanya Ana yang keheranan.
"Hmm, kau sudah lupa suara kekasihmu?" Pria itu mulai mengoceh, sebenarnya Ana tahu bahwa itu suara Bumi, bahkan dia sempat merasa tertegun mendengar suara pria itu dari ponselnya. Dia sungguh sangat merindukannya.
"Maaf, aku tidak punya kekasih. Mungkin kau salah orang," Ana agak geram karena sekarang pria itu menghubunginya seperti tidak ada rasa bersalah. Setelah apa yang dia lakukan? Memutuskan hubungan secara sepihak!
__ADS_1
"Ana, maafkan aku." Ujar pria itu, hembusan nafasnya terdengar dibalik panggilan itu.
"Untuk apa?" Tanya Ana yang malas membahas hal itu, dia sudah berusaha mengerti keadaan pria itu. Tapi dengan seenaknya dia memutuskan hubungan mereka.
"Untuk sikapku, kau tahu aku sangat sibuk sekali disini. Ak-" Omongannya terpotong,
"Yasudah, jika kau sibuk tidak perlu menghubungiku." Wanita itu masih merasa kesal, dia memutus panggilannya dengan Bumi. Dia tidak mau berbicara dengan pria itu untuk sementara.
Kehadiran sahabatnya sudah cukup membantu meringankan rasa sakit yang dia rasakan. Ana masih berdiri ditempat itu, hubungan mereka rumit. Ada sesak didadanya yang bisa dia ungkapkan. Wanita itupun menghela nafas panjang lalu berjalan kembali ke kantin.
Untunglah makanannya tadi sudah habis dan tray nya sudah dia taruh sebelum menjawab panggilan Bumi. Ana berjalan menuju teman-temannya, Dongmin yang sangat peka kini mulai menilai ekspresi wajah Ana.
Dia rasa, ada sesuatu yang Ana sembunyikan mengenai perasaannya yang dia tidak tahu apa. Somi yang ada di sana pun memberi ide brilian untuk menghibur wanita itu.
"Sebentar lagi semester satu akan kita lewati dengan bahagia, bagaimana jika kita berfoto sebagai kenang-kenangan kita awal kuliah? Setuju?" Tanya Somi pada Lee Ze juga Ana.
"Baiklah, kita akan berfoto sepulang kuliah nanti, jangan lupa ajak Yuri!" kata Somi.
Ana pun mengangguk lalu mengirimkan pesan pada Yuri.
^^^Dari : Ana^^^
^^^Yuri-ah, Somi punya ide brilian. Dia mengajak kita untuk berfoto studio pulang kuliah nanti.^^^
Pesan pun terkirim dengan cepat, sambil menunggu balasan, mereka semua kembali ke ruang praktik. Hanya Dongmin yang kembali bergabung bersama rekannya.
"Kau berani sekali mendekati Ana di depan tunanganmu," Jeno memukul pundak Dongmin.
Yeri sudah pergi sejak tadi, dia merasa kesal karena Dongmin masih dengan terang-terangan menunjukan ketertarikannya pada Anastasia.
__ADS_1
"Kami tidak bertunangan!" Dongmin mengesap americano nya.
"Tetap saja, dia kan calon istrimu." Sahut pria itu.
"Sudahlah, aku mau ke kelas." Dongmin berdiri sambil mengeratkan tas gendongnya juga membawa americano yang belum selesai dia minum.
Ana yang kembali ke ruang praktik bersama Minhyun, Somi dan juga Lee Ze pun mulai melanjutkan pekerjaannya yang tadi.
Kali ini Ana dan Minhyun sedang memerhatikan hasil dari kerangka yang sudah 10% mereka buat, "Apakah ini sudah pas?" tanya Ana pada Minhyun.
Pria itu pun meneliti setiap bagian yang sudah terpasang, dia mengangguk, "kurasa sudah sesuai dengan sketsa yang kau buat. Begitu kan?" Tanya Minhyun balik.
"Kurasa masih ada yang kurang," Ana memerhatikan lebih dekat. Lalu beralih melihat sketsa yang dia buat. Nyatanya dia memang melupakan suatu bagian dsri sketsanya. Minhyun pun tidak sadar akan hal itu.
Ana pun mulai memperbaiki sketsanya lagi, sedangkan Minhyun hanya memperhatikan Ana dengan serius. Wanita itu dengan konsentrasi tinggi mulai menggambar bagian yang kurang, pria itu mengagumi Ana di dalam hatinya.
Anastasia begitu berbakat dalam bidang ini, sedangkan Somi dan Lee Ze mulai menyatukan beberapa besi yang dijadikan kerangka karya mereka. proses mereka sudah mencapai 7%, kurang sedikit dari pasangan Ana dan Minhyun.
Minhyun pun memberikan Ana sebotol air mineral agar wanita itu lebih fokus, "minumlah dulu agar pikiranmu fresh dan pekerjaan kita lebih cepat selesai!" Seru Minhyun.
Ana menyeringai, "aku tidak yakin ini akan selesai hari ini."
Minhyun pun tertawa kecil, "aku juga tidak yakin, tapi setidaknya kita sudah menyelesaikan 30% atau bahkan lebih dari itu." ujarnya sambil tersenyum pada Ana.
"Siap Pak!" Kata Ana sambil tertawa, diikuti oleh tawa Minhyun setelahnya.
...****************...
...****************...
__ADS_1