MENIKAHI ADIK MANTAN

MENIKAHI ADIK MANTAN
Bab 109 : Kepergian ayah Ana


__ADS_3

Keesokan paginya, ponsel Bumi berdering keras. Dia berusaha sekuat tenaga meraba-raba ponsel itu di dekat tubuhnya, tetap sambil memejamkan mata akhirnya pria itu mendapatkan benda itu. Kepalan pria itu terasa pengar, bahkan perutnya seperti ingin mengeluarkan semua isinya.


"Halo?" Katanya dengan suara berat.


"Nona Ana pulang pagi ini, dan sepertinya dia akan langsung ke Bandara." ujar pria di dalam ponselnya.


"Sudah boleh pulang? Ke Bandara? Apa Ana akan pergi?" Mata Bumi mengerjap mendengar kata Bandara.


"Tidak pak. Tuan Jung yang akan pulang ke Indonesia. Nona Ana dan Tuan Minhyun akan mengantarnya ke Bandara." jawab orang itu.


"Syukurlah Johan, kepalaku sedang pengar untuk saat ini siapapun yang bertanya tentangku bilang saja aku sedang tidak ingin di ganggum tolong sampaikan pada sekretarisku ya!" Bumi mengerutkan dahi sambil menekan pelan celah antara kedua alisnya.


"Baik pak!" sahut pria itu.


Tidak lama, panggilan pun terputus. Pria itu kembali menaruh ponselnya di sofa, dia harus bangun tapi kenapa tubuhnya terasa berat sekali. Terdapat puluhan pesan dari Bella yang belum dia baca, dia bahkan tidak ingin meliriknya sedikit pun.


"Aku harap itu bukan anakku," gumamnya dengan frustasi. Dia terbangun dari sofa dan bersandar dalam posisi duduk.


"Aish kenapa aku mengatakan itu? Jika itu benar anakku pasti aku akan menyesal telah mengatakannya." ini antara perang batin dan pikirannya sendiri, hatinya berharap bahwa ini hanya kebohongan semata, tapi pikirannya mengatakan lain.


Semuanya akan terbongkar jika anak itu lahir dan Bumi melakukan Tes DNA pada anak itu. Kini dia bangun dari posisinya dan berjalan ke arah kamar mandi, pria itu masih merasakan sakit di kepalanya.


Dia membuka pintu kamar mandi secara perlahan, lalu menatap dirinya yang berantakan di cermin, dia segera membuka pakaiannya dan mandi di bawah guyuran air shower.


*


Disisi lain, Anastasia sedang mengemas pakaiannya ke dalam tas, Minhyun dan ayah Ana juga membantunya beres-beres. Mereka semua sudah siap untuk langsung ke Bandara. Mereka akan pergi menggunakan taksi yang sudah menunggu di luar rumah sakit.


Ana dan keduanya langsung turun dan keluar dari rumah sakit, lalu memasuki taksi yang sudah agak lama menunggu. Minhyun membukakan pintu untuk Ana.


"Terimakasih," kata Ana.


"Sama-sama" jawab Minhyun sambil tersenyum.


Mereka segera mengantar ayah Ana ke bandara, Ana yang duduk di samping ayahnya hanya sedang bersandar pada pria itu. Dia merasa berat untuk melepaskan ayahnya pergi.

__ADS_1


Minhyun yang ada di kursi depan hanya memperhatikan Ana dari cermin yang mengarah pada gadis itu. Setelah 30 menit berkendara akhirnya, mereka sampai di Bandara Internasional Incheon.


Ana memeluk ayahnya sekali lagi, wanita itu meneteskan air matanya dan menyandarkan kepala di dada sang ayah.


"Hati-hati di jalan Ayah," imbuh Ana sembari memeluk erat pria itu.


Ayahnya pun mengangguk dan mengelus pucuk rambut Anastasia, "Terima kasih jaga dirimu baik-baik ayah akan sering menghubungimu dan doakan supaya perusahaan kita semakin membaik di sana. Dah sampai jumpa," ayah Ana tersenyum kecil.


"Hati-hati pak Jung," imbuh Minhyun sambil tersenyum.


"Terimakasih, sampai jumpa!" Ayah Ana menaiki eskalator untuk ke atas sembari menyeret kopernya.


Ana hanya menatapnya dengan sendu sampai pria itu menghilang dari pandangannya. Setelah Tuan Jung pergi, Ana berjongkok tak kuasa menahan tangis, dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan menutupi air matanya yang menetes. Entah, ini kali keberapa Ana menangis.


Untunglah, Minhyun yang melihat itu pun, ikut mencongkongkan dirinya di depan Ana lalu memeluknya. Pria itu pun mengusap lembut punggung Anastasia seraya menenangkan wanita itu.


Ana mengarahkan pandangannya pada Minhyun, "mari ku antar pulang, kau masih butuh istirahat yang cukup." Minhyun mencoba membangunkan Ana dari posisinya. Mereka pun kembali berdiri dan saling menatap satu sama lain, pria itu mengeluarkan sapu tangan di sakunya dan menyeka air mata Ana yang mengalir agak deras.


"Terimakasih Minhyun," ujar Ana.


*


*


Bella yang sejak malam menunggu Bumi pulang pun tak kunjung melihat pria itu, akhirnya dia bertanya pada ibu Bumi kemana kira-kira Bumi pergi. Sejujurnya, Ibu Bumi sangat yakin bahwa putranya itu menemui Ana. Terlihat dari caranya yang tergesa-gesa dan ekspresi pria itu yang pucat.


Walau, ayah Bumi mengatakan tidak melihat putranya disana tapi ibunya yakin bahwa anak itu pasti pergi ke rumah sakit.


"Mungkin Bumi sedang ada di apartemennya atau ada di kantor, kau tunggu saja disini ya" ucap Ibu Bumi. Mereka semua kini sedang menyantap sarapan di meja makan keluarga.


Kakek ketua menolak untuk sarapan disana, dia hanya meminta sarapan di bawa ke kamar. Hanya ayah dan ibu Bumi juga Bella yang ada disana. Ayah Bumi tidak banyak berkomentar tentang perginya anak itu.


"Dia tidak mungkin di kantor, dia sudah mundur dari jabatannya." kata Ayah Bumi sembari terus fokus pada santapannya.


Ibu Bumi pun menoleh ke arah suaminya, awalnya dia akan merahasiakan itu pada Bella. Tapi, kini akhirnya wanita itu tahu soal kemunduran Bumi dari KIK.

__ADS_1


Bella membelalak, "apa ibu bisa beri tahu aku dimana apartemen Bumi?" Kata wajita itu sembari masih memegang sendok di tangan kanannya.


"Kau mau kesana? Tapi, keadaanmu sedang hamil, ibu ragu jika kau keluar bisa saja ada seorang wartawan yang mengikutimu." Ibu Bumi terlihat ragu mengizinkan Bella keluar rumah.


"Tidak apa-apa. Toh mereka akan segera meresmikan hubungan keduanya, media harus segera tahu alasan anak kita mundur dari perusahaan." jawab Ayah Bumi ketus.


"Tapi, sayang..." sela Istrinya.


"Sudah dulu, aku harus ke kantor. Jika kau mau menemui Bumi, mintalah salah satu supir mengantarmu Bella." Ayah Bumi merapikan jas nya, allu meraih tas yang sudah asistennya sediakan.


Pria itu pun langsung pergi keluar setelah berbicara pada Bella, sedangkan wanita itu hanya mengangguk pelan.


Setelah sarapan selesai, Bella langsung bersiap-siap pergi ke apartemen Bumi. Wanita itu pergi bersama salah satu supir keluarga Kim. Walaupun Ibu Bumi merasa agak tidak setuju, dia tetap membiarkan wanita itu pergi.


"Bum, kenapa jadi seperti ini sih" gumam ibunya yang ikut merasa pusing dengan keadaan keluarganya.


Bella pun bergegas pergi, ke apartemen pria itu. Sembari mengelus perutnya. Dia tersenyum karena merasa senang mengingat ucapan ayah Bumi bahwa hubungan mereka akan segera di resmikan.


"Ibu sangat senang, kita dan appamu akan segera bersama" katanya dengan semangat.


Bella baru ingat bahwa dia harus segera mengabari ibunya. Wanita itupun mengirimkan pesan pada ibunya bahwa dia sudah berada di Korea.


^^^Untuk : Ibu^^^


^^^Bu, maaf aku baru bisa mengabari.^^^


^^^Sebenarnya sejak kemarin, aku sudah ada di Korea.^^^


^^^Aku tinggal di kediaman Kim sekarang.^^^


Wanita itu mengirimkan pesannya langsung pada ibunya, lalu menaruh ponselnya kembali kedalam tas.


...****************...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2