MENIKAHI ADIK MANTAN

MENIKAHI ADIK MANTAN
Bab 7 : tetangga


__ADS_3

Ibunya Dan Bella sedang sibuk mengatur rencana dari A sampai Z agar Anastasia masuk perangkap mereka, tapi bukan kah yang namanya takdir itu hak mutlak Tuhan?.


Apa yang Melewatkanmu tidak akan pernah menjadi takdirmu dan apa yang ditakdirkan untukmu tidak akan pernah melewatkanmu.


Jika Anastasia akhirnya bersama Bumi, bukankah itu sudah kehendak Tuhan? Sekuat apapun mereka berencana, jika dia tidak berjodoh dengan Bumi, pasti rencana mereka tidak akan berhasil.


"Ibu akan menghentikan semua biaya kuliah dan biaya hidup nya disana."


"Ibu yakin itu akan berhasil? Aku mengirimnya pesan tapi dia mengabaikan pesan ku."


Bella menyandar ke dinding, Perutnya masih terlihat rata tapi dia mengalami gejala morning sickness ¹ yang hebat.


"Ibu yakin, dia tidak akan bertahan lama tanpa uang, sedangkan biaya kuliahnya sangat mahal , dia juga tidak akan berani meminta kepada Nenek Kakek, kau tahu kan Nenek dan Kakek hanya menyayangimu" Ibunya tertawa.


"Aku merasa kasihan padanya," Bella merasa iba terhadap adiknya.


"Ibu melakukan ini demi kau Bella, Jaga bayi mu baik2 dia asset keluarga kita" Ancam Ibunya.


......................


Bumi masih belum stabil, dia masih sering mabuk-mabukan dan menghabiskan uang dengan para wanita bayaran untuk mendampinginya minum. Performa perusahaan semakin menurun seiring dengan kacaunya kinerja Bumi.


Di kesempatan Lain Lee Ro Jun ingin mengambil keuntungan agar anaknya Lee Dongmin dan Minhyun bisa terjun langsung melanjutkan bisnis disana. Setidaknya mereka bisa memulainya dengan magang,


Beberapa hari setelah acara penyambutan, semuanya berjalan seperti biasa, Ana tidak lagi melihat Dongmin di Bus, Halte maupun Kampus.


Dia sudah mengirim pesan beberapa kali tapi tidak ada balasan jadi dia tidak lagi mengirimnya pesan. Sedangkan Minhyun menjauhi Ana, karena dia merasa bersalah padanya.


Ting ting...


Dongmin mengetes piano diruangan khusus bermusiknya, setelah memutuskan cuti selama seminggu dia hanya bersantai dan bermain musik di Apartemennya, dia bahkan tidak menghadiri kumpul keluarga yang diwajibkan ayahnya setiap minggu.


Bahkan dia tidak menyentuh ponselnya sedetik pun. Seketika dia teringat kejadian waktu itu, karena emosinya. Dia memghentikan kegiatannya lalu meraih ponselnya.


Terdapat 38 pesan, 12 panggilan..


2 diantaranya dari Ana, yang berisi,


"Kau tidak di bus?"


"Apa kau baik-baik saja?"


Dongmin tersenyum dan mulai mengetik untuk membalas pesan Ana, tapi dia mengurungkan niatnya dan menghapus huruf demi huruf yang terlanjur dia ketik tadi.


Sepulang Kelas pertama Ana melihat Minhyun dan Jadu sedang berjalan di halaman kampus.


"Minhyun!!" Ana berlari kecil menghampirinya.

__ADS_1


"Heiii Ana sudah lama tidak bertemu," Jadu menyapa.


"Hei !!" Ana tersenyum.


"Tolong izinkan kami berbicara."


Ana meminta izin kepada Jadu, Minhyun mengangguk memberikan kode kepada Jadu. Jadu melambaikan tangan lalu pergi meninggalkan mereka berdua.


"Mau pergi ke halte bersama?" Minhyun tersenyum.


"Ya tentu," Ana dan Minhyun berjalan bersama ke Halte bus didepan kampus.


"Kenapa kau menghindariku?" Ana bertanya tanpa basa-basi.


"Aku merasa bersalah padamu," Minhyun menunduk merasa bersalah.


"Kenapa? Aku tidak apa-apa" Ana tersenyum, Ana jelas tahu bahwa keributan waktu itu bukan disebabkan olehnya, jadi dia santai saja apapun rumor ynag beredar di kampus, dia tidak peduli.



"Aku tau, ini bukan karena aku jadi kau tidak harus merasa bersalah." Ana tersenyum , lalu mereka sampai di Halte Bus.


"Apa kita searah?" Ana menatap Minhyun.


"Kurasa ya." Jawab Minhyun ragu-ragu.


Tidak lama Busnya tiba, mereka segera masuk kedalam bus,


"Kau benar, Aku dan Dongmin memang punya masalah diluar itu." Minhyun melihat Ana.


"Tapi, Aku belum bisa mengatakannya padamu, maafkan aku." Minhyun menunduk.


"Tidak apa-apa, kau tidak perlu memaksakan diri." Ana tersenyum.


"Apa kau baik-baik saja?" Minhyun menanyakan kabar Ana.


"Aku baik-baik saja, walau banyak gosip beredar bahwa kau dan Dongmin bertengkar karena aku, senior Wanita menatapku dengan sinis, tapi tenang saja aku tidak peduli pada mereka." Ana tersenyum lagi.


"itulah alasan aku menjauhimu sementara waktu, aku merasa bersalah padamu dan aku tidak ingin rumor itu bertambah kacau, " Minhyun tertawa begitupun Ana.


Ana pun sampai didepan apartemen nya, dia heran kenapa Minhyun ikut bangkit dari duduknya.


"Kau ?" Ana kebingungan.


"Sebenarnya, kita bertetangga." Minhyun menggaruk alisnya , lalu berjalan mendahului Ana.


Ana menguntitnya dari belakang mencari penjelasan.

__ADS_1


"Hah? Kau serius? Tapi kenapa kau baru bilang."


"Kau tidak bertanya dimana aku tinggal dannn aku sedang menghindarimu, jadi aku berusaha untuk tidak bertemu denganmu." Minhyun tersenyum malu.


"kenapa seperti itu? Kau tinggal dilantai berapa?" Ana mengerucutkan bibirnya, dia agak kesal karena baru tahu hal itu.


"7" Minhyun menyeringai,


"Sebenarnya kita pernah bertemu," Lanjut Minhyun.


"Benarkah?" Ana masih tidak percaya.


"Iyaa, tapi kau mungkin tidak akan ingat." Ana dan Minhyun masuk Lift, Ana menekan tombol 6 sedangkan Minhyun 7.


"Jika kita bertetangga, kita harus makan bersama lain waktu." Ana tersenyum kearah Minhyun.


Minhyun yang gugup menatap Ana mengangguk, Ana keluar dari lift lalu menuju Apartemennya.


"Aku duluan."


Minhyun bernafas lega, rasanya suasananya menjadi sangat canggung tadi, pipinya memerah. Tidak lama Minhyun pun keluar lalu berjalan ke Apartemennya.


*


*


Pria ini duduk sambil menyilangkan kakinya, terlihat istrinya yang pendiam datang membawakan potongan buah untuk suaminya itu.


"Kau harus segera mengambil posisi diperusahaan."


"Kenapa harus?" Dongmin menjawab ayahnya ketus, dia muak sekali dengan obsesi ayahnya itu.


"Sepupu mu si Bumi itu dia sedang kacau sekarang, semenjak pulang dari Perjalanan bisnisnya dia sering mabuk-mabukan dan pulang dibawa oleh para wanita, ini kesempatan mu belajar agar kau siap mengambil alih jika si Bumi itu tidak sanggup, aku tidak mau jika kau hanya menjabat di perusahaan cabang." Lee Ro Jun mengomel sambil mengunyah buah yang dibawa istrinya.


"Aku tidak mau, aku tidak berniat mengambil alih dan aku akan memeriksa keadaanya." Dongmin tetap acuh.


"Apa kau mau aku meminta adikmu Minhyun ? dia sepertinya lebih bisa diandalkan, kau tidak perlu repot-repot melihat sepupumu, dia bukan bayi, kenapa kau begitu peduli kepadanya hah tapi tidak peduli pada ayahmu, sialan." Lee Ro jun melempar garpu ke piring sampai terpelanting ke bawah meja, dia sangat kesal dengan anak nya yang keras kepala itu.


"Terserah ayah saja jika ayah lebih menyukai dia. Silahkan saja. Sudah dulu aku sibuk." Dongmin menutup panggilannya, nafasnya terasa menggebu, itu adalah gambaran emosinya yang dia pendam selama ini.


Ayahnya selalu memaksakan kehendak nya pada anak-anaknya, dia selalu menganggap bahwa anak adalah asset yang bisa dia atur sesukanya, padahal mereka juga punya perasaan dan keinginan tersendiri. Itu menyebabkan ikatan antara Ayah dan anak merenggang.


...****************...


...****************...


...****************...

__ADS_1


Kamus Author


Morning sickness ¹ : kondisi mual dan muntah yang dialami oleh ibu hamil trimester awal (3 bulan pertama kehamilan).


__ADS_2