
...Hubungi aku saat semuanya telah usai ......
...Karena hatiku sedang sekarat ......
...Bangunkan aku,...
...saat goncangan-goncangan ini telah pergi ......
...Dan keringat dingin menghilang ......
...Aku akan muncul kembali ......
Anastasia menatap ayahnya dengan sendu, wanita itu ikut sedih melihat ayahnya yang menangis. "Ayah, maafkan aku ... Pikiranku tak lagi waras," ucap Ana lirih.
Ayahnya menggeleng, dia menatap mata gadis kecilnya yang kini hanya kesedihan tersirat di sorot mata itu. "Kau harus bangkit, putri ayah, yakinlah pria itu tidak pantas mendapatkanmu. Pasti ada yang lebih baik darinya, jangan menangis nak."
Ana kembali menangis medengar ucapan ayahnya, rasanya semakin dia dilarang menangis semakin dia ingin melakukannya. Anastasia memeluk ayahnya erat, melihat orang yang dia kasihi ikut larut dalam kehancurannya membuat wanita itu bersalah.
"Kenapa kau melakukan hal bodoh Anastasia?" Ibu Ana langsung mengambil langkah mendekat ke ranjang putrinya.
"Diam! Jangan memperparah keadaan putriku!" Ayah ana mendelik ke arah istrinya.
"Aku yang gila karena telah melahirkannya!" seru ibunya. Minhyun membelalak mendengar ucapan itu, begitupun sekretaris Bumi. Dongmin sudah merasa kesal terhadap ibu Ana. Tapi sangat tidak sopan jika dia ikut menyela.
__ADS_1
Ana menunduk lalu menatap ibunya lagi. "apa aku pernah memohon untuk dilahirkan olehmu? Apa ini kesalahanku bahwa kehidupanmu tidak sesuai dengan yang kau inginkan? Aku tidak ingin melihatmu, sebagai ibuku atau siapapun. Pergilah! Aku memintamu." deraian air mata membasahi pipinya lagi, ibunya hanya menambah beban pikirannya jadi untuk apa dia disana.
Wanita itu mengerutkan dahi lalu melenggang pergi dari ruangan. Semua orang hanya bisa kebingungan melihat kekacauan itu.
Setelahnya, yang lain pun berpamitan pulang. Disana, hanya menyisakan ayahnya dan juga Yuri. Dongmin dan Minhyun pulang ke rumah yang berbeda. Dongmin sendiri masih tinggal di rumah Bumi.
Pria itu mengemudi dengan kecepatan lamban, dia memikirkan satu hal yang gila. Melihat kondisi Ana seperti itu, akankah lebih baik jika dia membawa Ana pergi dari negara itu? Dia hanya ingin Anastasia menjauh dari lingkungan yang tidak sehat.
Mental Ana beberapa kali terguncang, walaupun dia berusaha terlihat baik-baik saja. tetap saja saat dia sendiri dia tidak bisa membohongi dirinya.
*
*
Keesokan paginya di Amerika, Bumi dan Bella langsung berangkat ke bandara untuk pulang ke Korea. Pria itu dengan hati-hati membantu ibu dari calon anaknya sampai duduk di kursi penumpang. Mereka duduk di fisrt class untuk menjaga privasi mereka tetap aman dan nyaman.
Dia selalu melirik ke arah ponselnya untuk melihat pesan dari sekretarisnya mengenai kabar terbaru tentang Anastasia. Sang sekretaris menyampaikan bahwa Ana dalam kondisi yang memprihatinkan dan juga lemah. Wanita itu terkihat pucat, bahkan Bumi dikirimkan foto Ana yang sedang terbaring di rumah sakit.
Pria itu beberapa kali mengumpat di dalam hatinya mengenai Dongmin, menurutnya, pria itulah yang menyebabkan semua ini terjadi. Dia tidak sadar, bahwa semua ini berawal karena keegoisan dirinya sendiri.
Bella mendengus beberapa kali, rasanya dia seperti berbicara dengan patung saja karena semua perkataannya selalu di abaikan.
"Bum! Kau mendengarku atau tidak?" Kata Bella dengan kesal, Bumi yang tersentak langsung melihat ke arah wanita itu.
"Ada apa?" tanyanya kebingungan.
__ADS_1
"Sudah kuduga, kau tidak memperhatikanku. Sejak tadi aku mengajakmu mengobrol tentang tempat tinggal kita disana. Kau mau membawaku kemana?" Bella mendengus lagi, dia begitu lelah bicara dengan pria dihadapannya.
"Ke rumahku." Jawabnya singkat.
"Kau serius? Aku akan tinggal bersama keluargamu?" Mata Bella terlihat berbinar terang, wanita itu merasa senang karena Bumi membawanya ke rumah keluarganya.
Bumi mengangguk pelan, pikirannya hanya sedang tertuju pada Anastasia. Dia hanya ingin segera sampai dan segera menemui wanita itu di rumah sakit.
*
*
Sesampainya di rumah, Dongmin bertemu keluarga Bumi yang sedang makan malam bersama. Mereka pun meminta Dongmin untuk bergabung.
"Kau dari mana saja? Kenapa tadi terburu-buru?" Tanya Paman Kim.
"Aku ke rumah sakit," kata Dongmin sambil duduk bersama mereka.
"Kenapa? Ibumu sakit ya?" Tanya Ibu Bumi sambil melahap makananya.
"Ana sedang sakit," jawaban Dongmin membuat bibinya terkejut bahkam sampai menjatuhkan sendok yang dipegangnya.
Begitupun, Kakek Ketua yang mengerutkan dahi menatap Dongmin. "Kau serius? Dimana dia di rawat?" tanya pria tua itu.
"Di Mary Hostpital kek." Dongmin membalikan piringnya untuk mengambil lauk makan malam. Wajah bibinya terlihat pucat, ternyata wanita itu takut jika Ana mengetahui hal yang ditutupi Bumi. Dia bahkan tidak berani menanyakan alasan kenapa Ana di rumah sakit.
__ADS_1
...****************...
...****************...