
Pagi yang sejuk bersmabut sinar matahari yang cerah langsung menyorot ke kamar tidur Anastasia. Wanita itu masih dengan posisi yang sama, yaitu menelungkupkan kepalanya di bawah bantal. Suara alarm dari ponselnya membiat dia menggerutu kesal.
Dia belum makan sejak kemarin siang, kini perutnya pun mulai keroncongan seperti kaleng berisi koin. Dia duduk dari posisi rebahannya lalu melamun sebentar, rambutnya yang acak-acakan tidak cepat dia rapihkan. Toh siapa juga yang mau melihat?
Ana berjalan keluar dari kamarnya,
Klek
Suara pintu terbuka, dia langsung melangkahkan kakinya ke dapur tanpa ragu. Sejak semalam dia terus mensugesti dirinya bahwa dia baik-baik saja. Melihat setiap sudut ruangan apartemennya, sesak di dadanya mulai datang.
Dia ingat kebersamaannya dengan Bumi, tapi sesaat dia juga teringat tentang kehamilan kakaknya yang berarti mereka berdua sudah melakukan lebih dari apa yang Ana duga.
Dia menghela napas panjang sambil menunggu air minumnya terisi penuh, Ana melamun sepersekian detik sampai airnya meluber ke tangannya.
"Ah sial," umpatnya, lalu segera menjauhkan gelas itu dari dispensernya. Ana duduk di kursi meja makan, dia menenggak habis air putihnya.
Glek glek...
Kemudian wanita itu kembali berjalan untuk ke kamar mandi, seperti harinya yang biasa dia sekarang sudah siap untuk berendam di bath ub. Wanita itu menaruh sabun dengan wangi lavender di bak mandinya itu. Kemudian dia melepaskan satu persatu pakaiannya dan masuk ke dalam bath ub yang masih mengisi air.
Dia menyandarkan lehernya pada bak mandi, memejamkan matanya dan menikmati suara gemericik air yang masih mengisi penuh bak mandinya. Sekuat apapun dia mencoba, tetap saja itu bukan masalah sepele baginya.
Semalam, dia sudah memblokir kontak Bumi dari ponselnya, dia tidak mau melihat proa itu lagi dimanapun. Lagipula, mereka memang sudah putus.
Setelah tiga puluh menit berendam dan merilekskan tubuhnya, Ana langsung membilas badannya dan menggosok gigi. Dia berjalan keluar ruangan dengan mengenakan handuk kimono yang dia miliki.
__ADS_1
Selangkah demi selangkah dia berjalan pelan,
"SURPRISE! KAMI SUDAH DATANG!"
Ana menatap orang-orang itu dengan datar. Rupanya, Dongmin meminta sahabat-sahabat Ana untuk mengecek kondisi wanita itu. Yuri dan yang lain melohat Ana dengan tatapan aneh. Wanita itu tidak bereaksi apapun.
"Aku ke kamar dulu," dia berjalan lurus debgan raut wajah yang datar. Yuri dan yang lain saking bertukar tatap, tapi sehabis itu mereka langsung duduk di sofa seperti biasa.
Ana berjalan ke kamar tidurnya, dia duduk di tempat tidur sambil menatap datar ke depan. Wanita itu membuka nakas di sampingnya, dia melihat sebuah gunting yang ada di dalam laci itu. Ana pun mengambil benda tajam itu.
Sudah satu jam lebih Ana tidak keluar, padahal sudah saatnya mereka semua pergi ke kampus tapi wanita itu belum muncul.
"Yuri, tolong cek Ana! Lama sekali," ujar Somi yang sedang melingkarkan tangan di dadanya.
Ze sedang sibuk merepikan rambut pendeknya yang agak berantakan. Yuri pun mengangguk, dia berjalan mendekat ke arah kamar Anastasia. Lalu mengetukan pintu saat sudah sampai di ambang.
Tok tok tok
"Baby Anaaaa!" panggilnya lagi.
Tok tok tok
"Kau tidur ya?" Yuri mengernyitkan dahi lalu menoleh ke arah Somi dan Ze di belakangnya. Wanita itu menggeleng.
"Buka saja!" pinta Somi, Yuri pun membukanya secara perlahan.
__ADS_1
"Aaaaaaaah!" Teriak wanita itu sampai tersungkur ke belakang, dia terkejut melihat darah bercucuran di handuk putih Anastasia.
Somi dan Ze langsung berdiri dan menghampiri Yuri, "ada apa?"
Pemandangan yang tidak mereka duga terpampang di depannya. Ana tergeletak tak berdaya, tangannya bercucuran darah.
"Cepat panggil ambulan!" Seru Somi, Ze pun dengan panik langsung memanggil ambulan untuk datang kesana. Sedangkan Yuri masih syok dan tercengan dibawah.
Somi sudah mengangkat kepala Ana, dia berusaha membangunkan wanita itu. Syukurlah, nadinya masih berdenyut dengan normal, hanya saja jika telat di tangani ini akan semakin membuat kondisinya parah.
Setelah 10 menit berselang mobil ambulan pun datang dan langsung membawa Ana kerumah sakit. "Kalian tolong kemasi beberpaa pakaian Ana, dan juga hubungi Dongmin, Minhyun ataupun keluarganya!"
Somi menemani Ana di ambulan, sedangkan Yuri dan Ze mengemas perlengkapan Ana untuk ke rumah sakit. Darah bercucuran itu tidak ada yang berani membersihkannya. Melihatnya saja sudah membuat mereka ngeri.
Ze sedang mencoba menelepon, tak lama panggilannya pun tersambung.
"Minhyun! Ana menyakiti dirinya sendiri! Dia sedang dilarikan ke rumah sakit sekarang!" Ze terlihat panik sambil berbicara dengan Minhyun di ponsel, tanpa basa-basi rupanya pria itu langsung bergegas ke rumah sakit.
Minhyun yang berniat pergi ke kampus pun jadi mengalihkan tujuannya ke rumah sakit, sambil menelepon Dongmin dia memberitahu pria itu bahwa Ana dilarikan kesana.
Ana segera di tangani oleh dokter di rumah sakit, karena dia kehilangan banyak darah wanita itu harus segera melakukan tranfusi. Ayah ibunya belum di kabari sama sekali.
...****************...
__ADS_1
...****************...