
Keesokan hari nya Dongmin terbangun dalam keadaan pengar, dia masih terbaring di tempat tidur kamarnya. Dia melihat langit-langit rumah dengan pandangan yang agak buram.
"Ah kepalaku" Dia meringis pusing,
Seorang wanita diusia 40 tahunan masuk ke kamarnya, wanita itu duduk di samping tempat tidur Dongmin membawa nampan berisi sup untuk mengobati pengarnya.
"Bu"
"Ibu mengerti perasaanmu" Ibunya mengelus kepala Dongmin.
Pria itu langsung duduk menatap ibunya, dia menghela nafas panjang.
"Aku tidak setuju dengan perjodohan itu, itu hal terbodoh yang pernah aku dengar. Apalagi aku dijodohkan dengan Yeri, kenapa ayah tidak pernah memikirkan perasaanku?"
Ibunya menghela nafas panjang, dia sangat mengerti perasaan Dongmin. Dia bahkan sudah bicara pada suaminya mengenai perjodohan itu. Tapi perkataannya tidak pernah didengar.
"Kita doakan saja agar ayahmu merubah pikirannya."
Dongmin mendengus, dia yakin ayahnya itu tidak akan berubah pikiran kecuali Dongmin mati dan tidak bisa lagi dijodohkan.
*
*
Ana berjalan sempoyongan ke arah kamar mandi, dia menatap dirinya dicermin sebentar. Wajah bantalnya masih cukup terlihat. Dia langsung membasuh wajahnya dengan air.
"Ah segar sekali"
Dari luar kamar mandi terdengar suara teleponnya berdering. Ana segera keluar lagi lalu menghampiri sumber suara itu.
Dia meraih ponselnya yang ada di sofa,
"Halo" Ana menyapa sambil merapikan rambut panjangnya.
"Kau baru bangun? Lihatlah ini sudah jam berapa? Kau tidak begadang kan?" rupanya itu Bumi, dia terdengar sedang mengomel sekarang.
"hmmmmmm" Ana dengan malas merespon Bumi.
"Sudah dulu ya aku mau mandi, bye" Ana memutuskan panggilan dari Bumi.
"ck .." Ana melampar ponselnya ke sofa.
Ana berjalan kembali ke kamar mandi dan berendam di bath ub selama 30 menit. Hari ini adalah hari libur jadi dia dia bebas beraktifitas.Ana sudah memikirkan rencana untuk menemui ibu dan ayahnya di hotel Amarysm. Dia harus segera siap-siap berangkat kesana.
Ana memejamkan mata sambil mengingat momennya bersama Bumi semalam. Mengingat bagaimana pria itu membalas ciuman dan merangkul pinggangnya.
__ADS_1
"Apa dia seperti itu juga pada Bella?"
Ana membuka matanya, ternyata stereotipe mengenai seorang wanita akan membenci mantan dari kekasihnya itu benar adanya. Dia merasa panas dan kesal mengingat hal itu. Tapi dia juga tidak bisa membenci nya, lagipula itu sudah berlalu kan.
"Apa dia melihat ku sebagai bayang-bayang Bella?" Pikiran aneh itu muncul lagi, Ana mengernyitkan dahi. Ah dia merasa kesal sendiri dengan pikirannya. Akhirnya dia menyelesaikan acara berendam yang dia niatkan akan berlangsung selama 30 menit itu.
Tentu saja siapapun akan berpikir hal yang sama dengan Ana, wanita itu hanya khawatir. Dia menjadi bayang-bayang kakaknya. Dia sudah cukup lelah menjadi bayang-bayang Bella terus. Semoga saja Bumi tidak menganggapnya seperti itu.
Ana membilas tubuhnya dibawah guyuran air yang menetes dari shower. Wanita itu sudah membersihkan diri dari ujung rambut sampai kaki. Sekarang waktunya dia bersiap-siap.
Bumi juga selalu mengirimkannya uang, Ana sebenarnya tidak memperhatikan kapan pria itu mengirimnya, Tapi, yang dia tahu saldo di akun banknya selalu bertambah setiap bulannya.
Ana memilih polkadot mini dress berwarna hitam sebagai ootd ¹ nya, tidak lupa dengan topi hitam untuk menyempurnakan penampilannya.
Dia memang selalu tampil cantik dengan apapun yang dia kenakan. Ana berjalan sambil meraih tas kecil hitam nya, dia menaruh ponselnya disana.
Ana berjalan keluar dari SeeU house, lalu berdiri di halte bus yang tidak jauh dari sana. Setelah menunggu sekitar 10 menit, busnya tiba. Ana tersenyum lalu masuk ke dalam bus , dia merasa senang karena akhirnya dia naik kendaraan umum lagi.
Ana mengenakan earphone sambil mendengarkan lagu dari grup band Day6 - You were beautiful.
Yeppeosseo
Nal bulleojudeon geu moksori
Da da
Geu modeun ge naegen
Lagu ini menceritakan tentang kenangan bersama mantan kekasih (wanitanya) yang tidak bisa dia lupakan. Ana sangat menyukai lagunya, Tapi dia tidak berharap Bumi menjadi sosok di lagu itu, bagimana pun hubungannya dengan Bumi memang atas dasar perasaannya.
Dia ingin pria itu move on dan fokus pada hubungan mereka berdua. Ana sudah tidak memperdulikan apapun lagi. Selagi jalan untuk hubungan keduanya terbuka.
Ana akhirnya sampai di Hotel Amarysm, dia berjalan ke bagian resepsionis untuk meminta mereka menelepon orang tuanya.
"Atas nama Tuan Jung"
Pegawai itu langsung menelepon kamar ayah Ana dan mengatakan ada seseorwng yang mencari mereka.
Selang beberapa menit, ayahnya menghampiri Ana. Pria jangkung itu memeluk putrinya erat.
"Ayah sangat merindukanmu" Dia mengelus rambut putrinya pelan.
"Aku juga merindukan ayah"
__ADS_1
"Kau sudah sarapan?" tanya Ayahnya
Ana menggeleng, kemudian mereka berjalan bersama ke arah restoran bintang lima yang ada di hotel itu. Ana menoleh ke kanan kiri, memperhatikan setiap keunikan bangunan hotel, sangat luar biasa hotel yang dipilih Bumi sangatlah mewah.
Ana membelalak saat melihat Bumi dan Ibunya sedang mengobrol.
"Kau disini?" Tanya Ana
Bumi menyeringai seperti biasanya, dia memperhatikan Anastasia. Lalu mengarah kan pandangannya ke mini dress yang dia pakai.
Ana duduk di samping Bumi.
"Apa kabar Ana? Ibu sangat menyukai Pria ini, Avaneesh Bumi, dia sangat tampan dan perhatian. Kau beruntung mendapatkannya." Ibunya menepuk pundak Bumi pelan.
Beruntung mendapatkannya? Cih bisa-bisanya ibu berkata seperti itu.
"Ibu salah, aku lah yang beruntung mendapatkan Ana. Dia wanita yang baik dan pekerja keras" Bumi menatap Ana lalu dibalas senyuman oleh wanita itu.
"Kau pasti tahu soal kakaknya, dia lebih pekerja keras dibanding Ana. Bahkan sekarang dia sedang di Amerika mengejar karir dan cita-citanya" Ibunya Ana semakin membuat suasana menjadi panas.
Ana menatap tajam ibunya, Bumi dan Ayah Ana sangat peka terhadap perasaan wanita itu. Belum mulai sarapan, suasana menjadi sangat tidak enak.
"Ya aku tahu Bella, tapi kurasa untuk satu hal lain, Ana lebih baik darinya. Karena Ana masih bisa menerima dan menghargai pendapat orang lain. Walaupun Ana tidak seambisius Bella tapi kurasa itu kelebihannya." Bumi mengelus punggung tangan Ana.
Ana menatap wajah Bumi lekat, dia sangat dibuat jatuh cinta oleh pria ini. Apalagi dia berani memasang badan untuk Ana dihadapan ibunya. Sedangkan Ayahnya menatap Bumi sambil tersenyum. Dia melihat ketulusan dari pria itu.
Dia yakin, Bumi akan menjadi pendamping yang baik untuk Ana. Selama ini ternyata ibunya belum memberitahu ayahnya soal kehamilan Bella. Karena jika ayahnya tahu ibunya berencana menjadikan Ana pengganti ibu untuk bayi itu. Pasti dia akan marah besar.
Ayah Ana lebih membebaskan putrinya untuk melakukan hal yang dia inginkan, tapi kadang kali dia juga terhasut oleh istrinya itu.
Bumi berbisik ditelinga Ana,
"Yang tadi tidak gratis"
Ana mengernyitkan dahi menatap pria itu, tatapan nya terlihat nakal sekali. Ana sampai bergidik.
...****************...
...****************...
...****************...
Kamus Author
Ootd : Outfit of the day (Pakaian yang digunakan hari ini).
__ADS_1