
Malam itu Bumi menghabiskan waktunya di kantor, mencari kesibukan tanpa di temani siapapun. Mengutak-atik Laptop dan beberapa berkas.
Betapa kesepiannya dia, orang yang dia harapkan bersamanya malah yang paling mengecewakannya. Di tambah kekasih bayarannya yang berpacaran dengan sepupu nya sendiri.
"Sedang apa mereka?" Tiba-tiba saja terbesit di pikiran Bumi,
Dongmin keluar dari apartemen Ana dengan wajah yang kesal, di dalam Apartemen terdapat Anastasia dengan ekspresi kebingungan.
Dia sukses di permainkan oleh pikiran dan hatinya sendiri.
Hatinya mengatakan ya, tapi pikirannya tidak.
Ana berdiri lalu berjalan ke dapur untuk menenggak satu gelas air putih, dia menyandarkan tubuhnya ke kitchen set bernuansa silver dan putih.
(kenapa aku sangat labil seperti ini sih)
Itu lah yang ada di benaknya sekarang, baru beberapa menit yang lalu dia merasakan yang namanya dicintai dan mencintai, tapi sepersekian detik kemudian dia merubah itu menjadi mimpi buruk paling mengerikan.
Minyun bahkan sudah memperingati Ana tentang hal ini sebelumnya, bahkan Bumi. Bukankah akan lebih mudah jika dia menerima tawaran Bumi dan mengikuti skenarionya?
Kenapa dia harus mempersulit diri dengan mencoba berhubungan bersama Dongmin, bahkan hubungannya sudah gagal kurang dari 24 jam.
"Kenapa aku bodoh sekali, bisa-bisanya aku mempermainkan perasaan orang lain seperti ini" Ana menenggak air putihnya lagi.
Dia menaruh gelasnya di sink, lalu berjalan kembali ke Ruang tamu, dia mengingat kejadian tadi.
Setelah Ana mengungkapkan perasaannya, dia teringat perkataan Bumi,
"Aku harus menandatangani perjanjian dengan Bumi"
satu kalimat itu memunculkan masalah antara dia dan Dongmin, Ana menjelaskan tentang perjanjian dan syarat-syarat yang Bumi ajukan kepadanya. tentu saja Dongmin tidak menyetujuinya, jika ini karena uang dia pun mampu nenghidupi segala kebutuhan Anastasia.
Tapi yang jadi masalah adalah 'Apakah ayahnya mengizinkan itu? Sedangkan secara finansial, Dongmin masih diatur oleh ayahnya' .
Dongmin marah karena menganggap Ana lebih mementingkan uang ketimbang perasaannya pada wanita itu,
kenyataanya mungkin iya, Ana butuh uang itu dan orang yang bisa memberinya itu adalah Bumi.
tapi bukan kah Ana dan Dongmin masih bisa berhubungan dibelakang layar? Seperti syarat yang Bumi ajukan.
Dongmin hanya ingin semua orang tahu bahwa Anastasia adalah miliknya, apa rasanya jika harus menutupi suatu hubungan.
Anastasia mengenakan Blazer nya lalu segera pergi keluar malam itu, dia berjalan sambil memainkan ponselnya.
"Kau dimana?" Ana menelepon Bumi
"Dikantor, Ada apa? Bukannya kau sedang BERDUAAN bersama Dongmin" Bumi menekankan kata berduaan
__ADS_1
"Mari bertemu, aku akan kesana"
Ana berjalan menuju KIK otomotif dengan berani, karena jam masih menunjukan pukul 08.00 malam suasana Jalan pun masih ramai dengan mobil yang lalu lalang, jadi tidak ada yang perlu dia takuti.
Sesampainya di depan gedung Ana di hadang oleh seorang penjaga
"Permisi ada keperluan apa? Yang tidak berkepentingan dilarang masuk" Pria bongsor gagah berani itu menghalangi jalan Ana.
(mustahil dia tidak mengenalku, padahal wajahku sudah terpampang dimana-mana) batin Ana
Seorang pria lainnya yang Ana kenal menepuk Pria bongsor itu sambil berbisik, Ana tidak tahu pasti apa yang dia bicarakan, tapi setelah hal itu terjadi pria itu membiarkannya masuk.
"Maafkan aku karena tidak mengenalimu, silahkan masuk, Pak Bumi sudah menunggumu" Pria tadi mengangguk lalu mempersilahkan Ana masuk ke gedung.
Ana berjalan menuju Lift, lalu pergi ke lantai 4 dimana ruangan Bumi berada. Dia mengetuk pintu ruangan pria itu,
Ana memperhatikan sepasang heels yang dia kenakan.
(saking terburu-burunya kenapa aku harus mengenakan ini sih)
Ana menyesali tampilannya, kenapa dia tidak memakai sendal jepit saja pikirnya. Kenapa harus tampil se-niat ini.
Bumi membuka kan pintu ruangan nya, Dia memperhatikan Ana dari ujung kaki sampai ujung kepala, pria itu menyeringai.
"Kau merindukan ku?"
Ana berjalan melalui Bumi lalu masuk keruangan itu.
"Langsung ke intinya saja" Ana duduk di kursi milik Bumi sambil bersandar
Bumi sangat tertarik melihat pemandangan itu,
"Aku menolak tawaranmu" Ana mengibaskan rambutnya ke belakang,
"Yang terpenting sekarang adalah perasaanku" Ana menunggu respon Bumi
Pria itu malah tertawa lalu berjalan menghampirinya,
Dia memutarkan Kursi yang diduduki Ana sampai menghadap tepat di wajahnya. Bumi mencondongkan tubuhnya untuk mendekat ke arah Ana.
"Kau naif sekali" Katanya sambil menyeringai
Ana menoleh ke arah Pria itu, Bahkan Bumi tidak bergeming dengan gerakan yang Ana buat, dia malah makin menantangi Ana.
"Nikmatilah keputusan mu, kau akan menyesali itu"
Bumi melepaskan pegangannya pada kursi itu, dia kembali berdiri tegak dan mundur beberapa langkah dari Ana, satu tangannya mengantongi saku celananya.
__ADS_1
Ana berdiri lalu berjalan melalui Bumi, belum sampai di ambang pintu Bumi menarik pergelangan Ana.
"Kau sama keras kepalanya seperti kakakmu"
Ana melepaskan tangannya kasar, kenapa pria ini jadi berubah 180° , apa kepalanya terbentur sesuatu? Dia terlihat lebih dingin dari sebelumnya.
Ana bahkan sesaat merasa takut berada diruangan itu.
Setelah Ana pergi, Bumi tersenyum seperti seorang psikopat, pikirannya sangat kacau. ditambah dengan Anastasia yang menarik ulurnya seperti itu, dia semakin tertantang untuk menaklukan wanita itu. Urusan Dongmin adalah urusan yang mudah baginya, sekali mengatakan pada ayahnya saja, Dongmin tidak akan bisa berkutik atau melakukan apa-apa lagi.
Emosinya sedang tidak stabil, untuk menutupi kelemahan dan kesedihannya itu, dia berlagak sok keras dan dingin, dia berniat akan secara terang-terangan menunjukan kedekatannya dengan Ana kepada Bella.
Agar wanita itu sadar bahwa dia tidaklah sepenting itu baginya.
Jadi, Ana lagi-lagi akan menjadi umpan dan bayang-bayang saja.
"Kita lihat saja kau lebih baik bersamaku" Bumi memutar kursinya sambil memainkan pulpen yang dia pegang.
Bumi menelepon seseorang di ponselnya.
"Aku dan wanita itu tidak benar-benar berpacaran, tebak siapakah yang sebenarnya kekasih wanita itu?" Bumi tertawa
"Ya, Anakmu Lee Dongmin" Senyuman Bumi itu tersirat kesedihan dan kekecewaan.
"Uruslah dia, jangan sampai kalian aku hapus dari daftar kepemilikan KIK" Bumi menutup panggilannya.
Dia menyandarkan kepalanya ke Kursi dan memejamkan matanya.
dia pun tertidur dengan posisi seperti itu.
Anastasia dengan cepat masuk ke gedung apartemennya, dia melihat Minhyun dengan ransel dibelakangnya. Minhyun menatap Ana untuk sesaat.
"Minhyun kau mau kemana?"
Ana mendekat ke arah Minhyun, rupanya seseorang sudah menunggu nya didalam mobil
"Aku harus pergi, aku tidak akan tinggal disini lagi, sampai jumpa Ana"
Ana terbelalak lalu memegang pergelangan Minhyun, dia butuh penjelasan.
"Kenapa tiba-tiba?"
Minhyun menggeleng tak mau memberikan jawaban, dia tetap berjalan melewati Ana, Ana masih melihat Minhyun berlalu dihadapannya. Darah nya terasa bergejolak, dia merasakan kesedihan saat Minhyun berlalu dan masuk kedalam mobil itu.
Ana kembali ke apartemennya, berjalan dengan lemas dan menunduk.
...****************...
__ADS_1
...****************...