
Bumi masih asyik dengan kegiatannya di ruang permainan, memang sangat bosan bermain sendiri. Tapi, dia tidak ingin mengganggu Anastasia saat ini. Saat ponselnya berdering, pria itu langsung menjawab panggilan tersebut.
Dia tertegun mendengar kabar yang di sampaikan seseorang padanya lewat telepon, bahkan kakinya terasa lemas. Bagaimana dia menyampaikan itu pada Ana?
Pria itu berjalan memasuki lift untuk ke kamar Ana. Dia mengetuk secara perlahan. Lalu membukanya, wanita itu sedang terbaring di tempat tidurnya dengan nyaman dan memejamkan matanya.
"Ana..." kata Bumi dengan lirih.
Ana membuka matanya secara perlahan, "berjanjilah kau tetap akan tenang."
Sambil mengerutkan dahi Ana mencoba bersandar ke tempat tidur, "ada apa Bum?"
Bumi masih ragu mengatakannya, "aku mendengar berita kecelakaan.. Dan Johan bilang, itu pesawat yang di tumpangi Tuan Jung.' Bumi menunduk.
Sedangkan, bola mata Ana membulat, dia menggeleng beberapa kali tidak percaya. Dia mengibaskan selimutnya lalu hendak berjalan keluar. Bumi dengan sigap menahan tangan kecil Ana.
"Lepaskan Bum! Aku harus memastikannya!" Mata wanita itu berkaca-kaca. Dia merasa terpukul dibagian ulu hatinya. Rasanya sesak dan kesulitan bernafas.
"Aku akan mengantarmu," Bumi beranjak lalu menarik lengan Ana keluar dari kamar. Mereka mmkeluar dari villa setelah Bumi meriah kunci mobilnya.
Dengan kecepatan penuh, pria itu mengemudi. Sedangkan pakaian mereka masih tertinggal disana, Anastasia berusaha mencari tahu nomor penerbangan sang ayah. Dia menelepon kantor ayahnya yang berada di Indonesia,
Diberitakan bahwa kecelakaan itu terjadi di laut sebelum tiba di Indonesia, pesawat hancur berkeping-keping karena menukik tajam. Sehingga banyak korban yang jasadnya hancur karena ledakan.
Tim dari Korea sudah dikirim kesana untuk mengidentifikasi korban yang berasal dari negeri ginseng itu.
Anastasia dan Bumi melaju dengan kecepatan tinggi untuk sampai ke sumber informasi mengenai kecelakaan ini. Banyak orang yang kesana untuk melihat daftar korban. Banyak tangisan meraung-raung di area itu.
Setelah satu jam setengah berkendara, kakinya terasa lemas. Ana tidak kuasa untuk keluar dan mencari tahu. Dia tidak ingin, tidak ingin mendengar kabar buruk apapun.
__ADS_1
"Biar aku yang mencari tahu," Bumi berinisiatif untuk menggantikan Aan bertanya pada mereka. Banyaknya keluarga yang mencari anggota keluarga mereka pun membuat Ana semakin ketakutan.
Dia takut, bahwa mimpi buruk ini adalah kenyataan. Ana menggeleng menahan Bumi. Lalu melepas sabuk pengamannya. Dia membuka pintu secara perlahan. Bumi ikut keluar menjaga wanitanya. Dia melihat Anastasia jalan tertatih ke kerumunan orang yang meronta meminta kejelasan status keluarganya.
Banyak media dimana-mana, sehingga keduanya di sorot oleh beberapa awak. Apalagi, setelah kemunduran Bumi dsri jabatannya. Mereka langsung aji mumpung dan menyelam sambil minum air.
"Tolong pak, kenapa bapak kesini? Apa ada keluarga bapak yang ikut jadi korban?" dengan tidak sopan, salah seorang wartawan menghadang Bumi dan Ana. Itu membuat pria itu kesal sehingga dia hanya menatap tajam pada wartawan itu.
Bumi memegang kedua bahu Ana dan berjalan menjaganya dsri belakang, Tangis Ana pecah, saat melihat Bella dan ibunya berdiri di depan sana. Mereka sudah tahu lebih dulu kabar itu. Ana berjongkok dan menangis, dia menggeleng terus menerus dan mendangah ke arah Bumi yang ikut mencongkong di belakangnya.
"Bum, ini tidak benar kan?" tanyanya dengan lirih.
Bumi hanya bisa menunduk tanpa kata, dia tidak bisa melihat Ana menangis lagi.
"Bum jawab aku!" Tangisannya semakin pecah. Bella melihat wanita itu dan Bumi dsri kejauhan, dengan air mata berlinang wanita itu memghampiri keduanya.
Ana pun beranjak dan memeluk wanita itu erat, keduanya saling berpelukan erat melihat kebenaran bahwa ayahnya termasuk dalam kecelakaan itu.
Bumi berdiri dan emmatung dibelakang Ana yang sedang memeluk Bella, sedangkan Ibu Ana memalingkan wajahnya dari pemandangan itu, dia sama menangisnya dengan kedua orang itu.
Bella merasa bersalah, karena akhir-akhir ini dia telah mengecewakan ayahnya. Wanita itu, belum sempat menyatakan permohonan maafnya pada sang ayah. Dia terus menerus menangis, sedangkan kandungannya yang lemah itu, bisa saja ikut stress.
Benar saja, saat Ana melihat kebawah, darah mengalir deras ke kaki wanita itu, Bella dengan terkulai lemas hampir jatuh dari tangan Ana.
"Bella!" seru Ana yang kini dibantu oleh Bumi memegang kakaknya.
Di situasi sulit seperti ini, mereka harus di berikan cobaan lainnya. Ibu Ana sangat panik melihat anaknya pingsan dan berlumuran darah dari jalan lahir.
Begitupula dengan Bumi, pria itu segera membopong Bella ke mobilnya diikuti Ana dan ibunya dibelakang. Mereka segera pergi ke rumah dakit terdekat.
__ADS_1
Dongmin yang tahu soal kecelakaan itu melihat daftar korban oesawat yang sudah di umumkan di televisi. Begitupun dengan keluarga Bumi, mereka sudah mengenal tuan Jung. Jadi, mereka sangat terkejut dsn mencoba menelepon Bumi berkali-kali.
Karena tidak ada jawaban akhirnya mereka mencari informasi pada ajudannya, Johan.
Dongmin yang sedang tidak bisa kemana-mana hanya bisa menggerutu dan memukul tembok. Dia sangat kecewa karena disaat seperti itu, Ana pasti butuh dukungannya. Dia tidak tahu, bahwa sudah ada Bumi disamping wanita itu.
Sesampainya di rumah sakit, dokter langsung menyarankan untuk dilahirkan secara C-section, Ibunya, Bumi dan Ana tidak ada pilihan lain selain menyetujui saran dokter. Ini semua demi keselamatan keduanya.
Bella terkulai lemas setelah mengalami pendarahan hebat, semuanya hanya bisa menunggu di luar ruang operasi dan berharap operasinya berjalan lancar. Bumi pun menelepon anggota keluarganya dan mengabarkan berita itu.
Keluarga Kim segera ke rumah sakit untuk mengetahui perkembangannya, mereka ikut kesana untuk memeriksa keadaan Bella dan bayinya. Juga untuk bertemu Anastasia dan mengucapkan bela sungkawa atas kepergian ayahnya.
Rencananya, sisa jenazah sang ayah akan dikirim ke negara asal setelah selesai diidentifikasi. Bumi mengutus seseorang untuk mengikuti perkembangan kabar mengenai ayah Anastasia dan Bella.
Ibu Ana terlihat terkejut dan syok, dia merasa menyesal karena belun sempat meminta maaf juga pada suaminya. Sedangkan, kondisi Bella yang memprihatinkan, dia berharap anak dan cucunya sehat dan selamat dalam proses operasi itu.
Bumi duduk di ruang tunggu bersama yang lain, tidak lama Ibu, ayah dan kakeknya datang menemuinya di ruang tunggu. Bumi berdiri lalu memeluk ibunya, dia merasa khawatir dengan keduanya. Juga, melihat Ana menunduk dan menangis membuatnya ikut larut dalam kesedihannya.
Setelah memeluk Bumi, ibunya menghampiri dan duduk di samping Ana, wanita itu memeluk Ana yang langsung menangis sejadinya.
Bumi, ayah dan kakeknya hanya bisa melihat pemandangan itu dengan sendu, mereka tidak bisa melakukan apa-apa jika sudah menyangkut takdir.
Ana menangis di pelukan ibu Bumi, sedangkan ibunya menjauh dari ruang operasi dan berjalan di sekitar koridor. Wanita itu merasa lututnya lemas sehingga tidak kuat berjalan lagi.
Tangisannya pecah sembari menunduk.
...****************...
...****************...
__ADS_1