MENIKAHI ADIK MANTAN

MENIKAHI ADIK MANTAN
Bab 113 : makan malam bersama


__ADS_3


Bumi mendengus pelan, "Apa kau mendengarkanku?" dia agak terganggu dengan tidak adanya respon dari Ana. Wanita itu langsung menoleh ke arahnya, "aku mendengarkanmu, tenang saja."


"Aku sangat merindukanmu!" ujar Bumi sembari menatapnya dengan seksama.


Ana mendengus pelan, "aku tidak merindukanmu!" jawabnya agak ketus.


"Kau berbohong! Kenapa kau sampai melukai dirimu seperti ini?" Pria itu mulai mengomel ke arah Anastasia sembari menarik lengan yang terluka dengan pelan.



Ana menarik kembali lengannya, "tidak apa, anggap ini tanda berakhirnya hubungan kita." katanya dengan datar, lalu beranjak dari duduknya untuk pergi ke dapur dan mengambil minum.


Bumi menghela napas pelan, dia menyandarkan tubuhnya di sofa itu, bekas tamparan Ana masih terlihat agak merah di pipinya. Tak lama, Ana membawa satu kaleng minuman untuk Bumi dan menaruhnya di depan pria itu tanpa berbicara sepatah kata pun.


Bumi menyeringai tipis, pria itu kemudian meraih minuman yang Ana bawa tadi lalu meminumnya. Setelah penjelasannya yang panjang lebar, wanita itu masih tidak peduli akan alasan dibalik itu semua, yang jelas sekarang kakaknya sedang hamil dan dia tidak tertarik untuk kembali pada Bumi.


Tapi, ada satu hal yang mengganggunya, kenapa Bella meminta Bumi menikah denganku?


Anastasia membatin, dia tetap menatap lurus pandangan di depannya, Bumi mendekatkan diri ke arah wanita yang duduk di sampingnya itu. Dia membelai lembut rambut Ana dan menyelipkan rambut yang berantakan ke belakang telinganya.


"Izinkan aku menemanimu, disini." imbuhnya sembari menatap wanita itu lekat.


Ana menoleh ke arahnya, dia merasa kasihan melihat pria itu sekarang, bekas tamparannya masih samar ada disana. Lingkaran mata hitam yang jelas terlihat.


"Baiklah, tapi mandi dulu sana! Aku tidak bisa ditemani oleh orang yang bau alkohol!" Ana meraih bantal sofanya lalu menaruh itu di atas pangkuannya.


Bumi tertawa kecil, dia masih memainkan rambut Ana. "Ya tentu," ibarat robot yang mengikuti semua perkataan pemiliknya, begitulah Bumi sekarang.


"Sebentar aku ambilkan handuk," Ana beranjak lagi dari duduknya, untuk pergi ke kamar dia mengambilkan handuk bersih lalu memberi itu pada Bumi.


"Terimakasih," ucap pria itu sembari berdiri lalu berjalan menuju kamar mandi.


Ana kembali menjatuhkan tubuhnya di kursi, sambil menunggu pria itu selesai mandi dia memainkan ponselnya. Wanita itupun membuka fitur blokir yang dia lakukan pada nomor Bumi. Lalu meletakan kembali ponselnya.


Dia mendengus pelan sembari memejamkan matanya. Dilihatnya sayatan tangan yang kini membekas.


Selang 20 menit berlalu, Bumi pun keluar dari kamar mandi, sejujurnya dia selalu meninggalkan beberapa setel pakaiannya disana, jadi dia tidak perlu khawatir. Dengan hanya mengenakan handuk dibagian tubuh bawahnya, pria itu pergi masuk ke kamar Ana.


Dia mengambil sebuah sweater berwarna hitam. Setelah itu dia agak merapikan rambutnya. Lalu melenggang pergi keluar dari kamar. Dia berjalan menuju ruang tamu, dilihatnya Anastasia sudah tertidur dan membaringkan tubuhnya di sofa.


Pria itu mendengus pelan, lalu mendekat ke arahnya, Bumi ingat dia belum makan sejak tadi pagi dan Ana pun terlihat belum makan. Jadi dia memesan makanan untuk mereka secara online.

__ADS_1


Sembari menunggu makanan datang, Bumi yang duduk di bawah pun memperhatikan Ana.



Dia merasa bahagia saat bersama wanita ini, dia melupakan segala kegelisahan dan kegundahan saat berada di sampingnya. Bumi pun membelai lembut rambut Ana.


"Jika kita bertemu lebih dulu, sudah pasti akan kunikahi segera." bualan yang aneh itu menggelitik dirinya sendiri, dia baru sadar usia mereka terpaut 10 tahun.


"Ah tidak-tidak, maksudku andai aku tidak melakukannya waktu itu. Maafkan aku, " Bumi menelungkupkan wajahnya di depan Anastasia.


Tidak lama makanan mereka pun datang, Bumi langsung beranjak ke pintu untuk mengambilnya. Setelah meraih makanan itu tidak lupa ia ucapkan terimakasih.


Bumi langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan makanannya dipiring, lalu kembali dengan membawa itu. Dia menaruhnya di meja ruang tamu. Perlahan dia mendekat lagi ke arah Ana, "sayang, bangun!" katanya sambil menyeringai.


Ana membuak matanya perlahan. Wanita itu memperhatikan Bumi, "apa aku sedang bermimpi?" katanya sembari menatap Bumi di hadapannya.


"Tidak, mari kita makan malam dulu." Bumi pun membantu Ana untuk duduk, kemudian dia duduk di sebelah wanita itu dan memberinya segelas air putih.


"Terimakasih," kata Ana singkat. Lalu dia menaruhnya lagi di meja itu.


"Kapan kau membelinya?" Ana mengerutkan dahi.


"Baru saja. Aku memesan secara online" jawabnya sambil tertawa kecil.


"Kau memaafkanku?" Tanya Bumi bersemangat.


"Aku belum sepenuhnya memaafkanmu, aku hanya tidak ingin memikirkan masalah itu, lagi." Ana menatap makanan di depannya.


"Mari perbaiki hubungan kita," kata Bumi dengan entengnya.


"Tidak ada yang bisa diperbaiki, kita hanya bisa berteman saja. Kau tahu, kita tidak mungkin bersama lagi." Ana menoleh ke arah Bumi.


"Baiklah, itu lebih baik daripada tidak sama sekali." Bumi menghela napas.


"Yah," jawab Ana.


"Mari makan" pria itu mengambil lebih dulu ayam madu yang sudah dia pesan.


Ana melihat Bumi dengan seksama, yah, ini lebih baik daripada tidak sama sekali.


Dia merasa harus ikhlas melepaskan pria ini kembali bersama kakaknya, dia tidak bisa menghalangi jalan mereka. Terlebih, ada calon bayi mereka, yang harus dinantikan. Bayi itu tentu, harus mempunyai orang tua yang utuh.


Ana ikut melahap makanan yang sudah pria itu sediakan, malam itu mereka melahap makanan sambil sesekali melemparakan candaan walaupun awalnya agak canggung mereka kini mulai berdamai dengan keadaan.

__ADS_1


Ana juga tidak bisa terus menerus marah pada Bumi.


"Maaf, aku menamparmu!" kata wanita itu.


"Aw, rasanya sakit sekali." Bumi memegang pipinya.


Ana hanya tertawa kecil, "kau bilang aku boleh melakukannya jika itu membuatku merasa lebih baik."


"Ya, tapi tidak sekeras itu juga, rasanya pipiku seperti kebas." Bumi menyeringai ke arah Ana.


"Benarkah?" Ana mencoba memeriksa pipi pria itu.


"Ya," jawab Bumi sambil menatap Ana.



Wanita itupun kini mendelik ke arahnya, lalu melepaskan tangannya dari pipi pria itu.


"Tadi terasa sakit," imbuh Bumi sambil tertawa.


"Kau ingat? Aku berjanji membawamu ke pantai waktu itu." Kata pria itu sambil menatap wajah Ana lekat.


"Ya. Dan janji itu tidak akan bisa kau tepati." jawab Ana sambil mendengus.


"Aku bisa dan aku mau. Bagaimana jika besok kita ke pantai?" Bumi menyeringai ke arah wanita itu.



"Aku tidak mau menjadi bahan berita di media." Ana memalingkan wajahnya.


"Semua orang tahunya kita masih berhubungan kan? Jadi tidak masalah," Bumi mencoba merayu wanita di depannya itu.


"Anggap saja untuk menebus kesalahanku," ujarnya lagi.


Ana menimbang-nimbang sekitar beberapa menit, "bagaimana dengan Bella?"


"Dia tidak akan tahu, aku tidak ada hubungan apapun dengannya. Aku akan melakukan tes DNA tentang bayi itu setelah lahir." Buki bersandar ke sofa.


"Bum kau jahat sekali, kau tidak yakin itu anakmu?" Ana mendengus kesal, dia memalingkan wajahnya dari Bumi.


...****************...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2