MENIKAHI ADIK MANTAN

MENIKAHI ADIK MANTAN
Bab 115 : Tamparan keras


__ADS_3

Keesokan paginya...


Keduanya masih tertidur dengan posisi yang sama, "aduh badanku pegal." keluh Ana sambil melepaskan pelukan Bumi.


Tapi tangan pria itu kembali melingkari perutnya, " lima menit lagi," tawar Bumi sambil menenggelamkan wajahnya. Tidak lama, suara bel pun terdengar. Ana mendengarnya dengan samar, lalu menoleh ke arah Bumi yang masih memejamkan mata.


"Sepertinya ada seseorang dipintu, lepaskan dulu." Ana melepaskan jeratan Bumi lagi.


"Aku tidak mau," pria itu malah semakin memeluk Ana erat.


Klik ...


Pintu unit apartemen Ana terbuka..


Ana mengerjap karena dia keheranan, siapa yang bisa membuka pintu apartemennya. Suara langkah kaki mendekat ke arah mereka.


"Bum! Lepaskan! Tidak kah kau dengar ada seseorang yang masuk." Ana melepaskan pelukan Bumi dengan paksa, lalu beranjak dari tidurnya. Saat akan menghampiri asal suara itu, Ana sudah melihat seorang wanita berbadan dua dan juga wanita 50 tahuanan di hadapannya.


Bumi pun kini menoleh ke arah mereka semua, masih dengan posisi berbaringnya. Matanya masih mengantuk.


Wanita tadi pun menghampiri Ana, Plakk Tamparan keras mendarat ke pipi wanita itu. Membuat Bumi segera berdiri dan menarik lengan Ana mendekat ke arahnya.


"Bella! Apa yang kau lakukan?" Bumi mengerutkan dahinya, dia menatap Bella dengan amarah.


Ana memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan itu, "kau kesakitan?" Bumi memeriksa keadaan Anastasia yang masih menunduk.


"Dasar J4lang!" Bella menunjuk ke arah wajah Anastasia.


"Hentikan!" Bumi menepis telunjuk wanita itu.


"Ana, tega sekali kau melakukan ini pada kakakmu!" ucap wanita dibelakang Bella, yeah itu adalah ibu mereka.


Ana melangkah maju dan berdiri di samping Bumi, "tega? Aku tidak melakukan apapun!" Ana menatap tajam keduanya.


"Dasar!" Bella hendak menampar wanita itu lagi, tapi dengan sigap Ana menahan serangannya.

__ADS_1


Bumi menatap Ana yang kini mulai berani melawan keduanya, pertengkaran sengit itu masih berlangsung dihadapannya. Bella melepaskan tangannya dari pegangan Ana.


"Kau benar-benar tidak punya hati nurani! Lihat, aku sedang hamil. Dan kau Bum! Kenapa tega padaku dan anak kita?" Bella menatap tajam pasangan itu.


"Aku ingin tes DNA!" imbuh Bumi tegas.


Ibu Ana mengambil langkah di samping Bella, dia mengerutkan dahi dan menatap tajam Bumi. "Hey, kau gila! Ini anakmu, bisa-bisanya kau meminta tes DNA. Pasti ini karena ulahmu kan Ana!"


"Tidak, ini tidak berkaitan dengan Ana. Aku sendiri yang menginginkannya!" jawab Bumi.


Ana menoleh ke arah pria itu dan Bumi pun menggenggam erat tangan Anastasia. Sedangkan Ibunya dan Bella menatap keduanya dengan benci.


"Jangan pernah menyentuh yang bukan milikmu, Bum kau adalah miliku selamanya!" Bella mendekat ke arah Ana.


"Milikmu? Bagaimana bisa Bumi menjadi milikmu saat dia sangat menginginkanku!" Ana membalas tatapan tajam wanita itu, Bumi membelalak melihat Ana mengatakan itu, tapi ada rasa senang di hatinya.


"Aku mencintai Ana, Bella!" jawab Bumi.


"Brengsek! Kalian gila!" Bella mendorong Bumi agak keras, sedangkan ibunya mencoba menahan wanita itu.


"Sudah, kita pulang saja." kata Ibunya pada Bella.


"Aku memang tidak pernah ingin menjadi anakmu!" sahut wanita itu dengan tatapan tajam.


Mendengar hal itu, keduanya pun menatap Ana dengan tajam. Kemudian, mereka pergi meninggalkan tempat itu. Tidak ada yang bisa mereka lakukan lagi, saat Bumi ada di samping Ana.


Ana terlihat sangat terkejut dengan kejadian tadi, tubuhnya agak lemas sekarang sampai Bumi harus menahan wanita itu. Dia pun memeluk Ana dengan erat. Sedangkan Ana, hanya berdiri tanpa ekspresi.


Bumi membawa Ana ke sofa. Lalu mengambilkannya air minum. Setelah itu dia memberikannya pada Ana. Bumi agak kesal dengan sikao kedua orang tadi. Setelah itu, Bumi mencoba menenangkan Ana.


"Berendamlah, itu akan membuatmu lebih baik." kata Bumi sambil memainkan rambut Ana.


Wanita itupun menoleh ke arahnya, dia mengangguk. Lalu beranjak dsri duduknya, dia berjalan menuju kamar mandi. Sedangkan Bumi, pergi ke dapur lalu membasuh wajahnya di wastafel. Dia segera menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.


Pria itu, sembari melihat bahan makanan yang ada. Disana hanya ada roti dan telur jadi dia akan membuat sandwich saja.

__ADS_1


Ana sedang menatap dirinya di cermin, bekas tamparan Bella masih terasa, apa aku jahat? Batinnya. Dia merasa bersalah saat melihat perut itu, dia takut jika anak itu memang benar anak Bumi. Lalu bagaimana jadinya? Dia menyakiti keponakannya sendiri.


Wanita itu berkaca-kaca, kemudian menyeka air mata yang hampir menetes itu. Dia membuka pakaiannya lalu segera menyiapkan air untuk berendam.


Sambil menunggu air terisi penuh, Ana membasuh wajahnya dan menggosok gigi. Dia menghela napas beberapa kali untuk menenangkan dirinya. Baru kali ini dia meluapkan amarahnya pada mereka, setelah selama ini dia diam saja. Ana tidak bisa terus berlarut seperti itu, dia merasa tertindas.


Bumi masih sibuk mengocok telur yang akan dijadikan dadar itu, dia memastikan wajan anti lengketnya sudah cukup panas untuk di taruh telur. Setelah itu, dia pun mulai menuangkan telurnya.


Sembari menunggu telur matang, pria itu menatap cemas kamar mandi dari kejauhan. Dia merasa bersalah, karenanya hubungan mereka jadi lebih tidak baik dari sebelumnya. Bumi pun menenggak segelas air putih, karena tenggorokannya terasa sangat haus sekali.


Ana mulai merendam dirinya di bawah air sabun berwangi lavender, dia memejamkan matanya lalu bersandar.


Menenangkan..


Batinnya..


Setelah selesai. Bumi mulai menghias makanannya pada piring. Malamnya terasa nyenyak, tapi kenapa paginya menjadi kacau seperti tadi. Dia pun mendengus pelan.


Setelah 20 menit berlalu, Bumi pun mulai khawatir, karena Ana tidak kunjung keluar dari kamar mandi. Dia takut wanita itu melukai dirinya lagi, jadi dia memutuskan untuk mengetuk pintu kamar mandi.


Tok tok tok


"Kau belum selesai?" tanya Bumi.


"Ana?" lanjutnya.


Ana yang sedang meemjamkan mata pun langsung mengerjap pelan, dia beranjak dsri bath ub lalu berdiri di nawah shower. Mendengar suara itu, Bumi pun merasa tenang, dia segera menjauh dari sana.


Tidak lama, Ana pun keluar dengan mengenakan handuk kimononya, dia berjalan langsung ke kamar tanpa menoleh ke arah Bumi. Wanita itu langsung mengunci diri dan memilih baju yang cocok untuknya.


Setelah di rasa pas, dia pun segera mengenakannya, Bumi yang agak bosan menunggu pun memutuskan untuk mandi dulu. Kali ini, dia tidak akan mandi dengan lama, karena jika terlalu lama. Sarapannya akan menjadi dingin dan tidak enak lagi.


Setelah selesai, Ana pun mulai merapikan rambutnya. Dia sedikit memakai perona wajah dan juga lip balm untuk mempertegas warna bibirnya.


Wanita itu pun kangsung keluar dari kamar dan ke dapur menemui Bumi, Tapi, rupanya Bumi sudah masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


...****************...


...****************...


__ADS_2