MENIKAHI ADIK MANTAN

MENIKAHI ADIK MANTAN
Bab 122 : Ragu


__ADS_3

Tentunya, Bumi sebagai seorang kekasih yang baik selalu mendampingi wanita itu. Ibunya kini menatap dirinya dengan tajam, "kau yakin mau merawat bayi itu? Teganya wanita itu membohongi kita."


Ana masih menunduk tidak berkomentar apa-apa, karena dia juga merasa sangat bersalah. Bumi beranjak dari duduknya dan mencoba menenangkan ibunya. "Bu.. Kumohon, ini jelas bukan kesalahan Ana, dia sama sekali tidak tahu tentang hal itu. Ini jelas kesalahanku, karena terlalu percaya pada Bella."


"Bagitupun dengannya! Kau juga tidak bisa mempercayai wanita ini sepenuhnya! Lihat ini," Wanita itu memberikan sebuah lembaran, rupanya itu adalah laporan kartu kredit yang jumlahnya tidak sedikit.


Bumi tertegun lalu menoleh ke arah Ana, sedangkan wanita itu masih belum sadar bahwa kartu kredit milik Bumi yang diberikan padanya telah hilang. Bumi mencoba menjelaskan pada ibunya, "aku memang memberikannya pada Ana bu, ayolah jangan membahas hal itu. Aku tidak masalah dengan itu semua."


Bumi menyeringai, dia berusaha terus membela Ana agar tidak di pandang buruk oleh keluarganya. "Terserah kau saja Bum, ibu sangat pusing." Ibunya melenggang pergi sembari memegang kepalanya yang terasa nyut-nyutan.


Bumi menghampiri Ana sembari memegang lembaran kertas tadi, dia duduk di samping wanita itu. Ana pun mengarahkan pandangannya pada benda yang dipegang Bumi. "Apa ini Bum?" dia meraih hal itu, melihat jumlahnya yang fantastis hanya kurang dari sebulan tentu saja membuat Ana membelalak.


"Aku tidak pernah membelanjakan kartu itu, karena uang yang kau kirimkan saja sudah lebih dari cukup." Ana mencoba menjelaskan


"Hey, tidak apa-apa. Aku sudah memberikannya padamu, jadi pakailah." Bumi menatap Ana sembari memegang tangan wanita itu.


"Bum, bagaimana bisa ada laporan penggunaan sebanyak itu jika aku tidak membelanjakannya sama sekali." Ana mencoba mengingat-ingat dimana dia meletakan kartu itu. Dia mengutuk dirinya sendiri karena telah dengan ceroboh menaruh sesuatu pemberian orang lain seperti itu.


"Maksudmu, kartu yang ku berikan hilang?" Bumi menunggu jawaban wanita itu, kemudian dia mendengus pelan.


"A-aku belum tahu," jawab Ana dengan tidak yakin.


"Tidak apa, aku akan meminta kartu itu di tutup saja, agar tidak terjadi hal seperti ini lagi." Bumi beranjak dari duduknya, dia menatap Ana lalu mengulurkan tangannya. Ana pun meraih tangan pria itu dan berdiri di depannya.


"Lain kali, jangan ceroboh." Bumi menatap Ana agak lama, wanita itupun mengangguk pelan, dia merasa bersalah.


"Mari pergi," Bumi menarik lengan Ana.


"Kemana?" Wanita itu mengerutkan dahinya.


"Ke apartemenku" bisik Bumi ke telinganya.

__ADS_1


Ana hanya mengangguk pelan, lalu berjalan bersama pria itu keluar dari rumah. Mereka segera menaiki mobil untuk pergi menuju apartemen Bumi. "Tinggalah bersamaku," Bumi menoleh ke arah wanita itu.


Ana hanya menyeringai pelan, "kita belum menikah" jawabnya singkat.


"Sebentar lagi kita akan menikah," Bumi menyeringai tipis.


"Sampai saat itu, barulah kita bisa tinggal bersama." Ana menoleh ke arah pria itu dengan senyuman tipis. Merek lanjutkan perjalanan mereka lagi.


Sesampainya di apartemen, Bumi langsung menggandeng lengan Ana dia tidak melepas itu sama sekali sampai masuk ke unitnya. Bumi sesekali menoleh ke arah Anatasia, yang masih sering melamun. Dia yakin, wanita itu masih merasa kehilangan.


"Bum, kakek ketua seperti tidak suka dengan bayi itu." Ana merasa khawatir dengan bayi kecil itu nantinya.


"Tenanglah, mungkin awalnya akan sulit bagi mereka untuk menerima tapi setelahnya pasti mereka akan menyayanginya." Bumi membuka pintu apartemennya lalu masuk bersama Anastasia.


Dia memesan makanan untuk mereka makan, tidak lupa juga beberapa camilan lainnya. Setelah mengundurkan diri Bumi memiliki banyak waktu untuk bersantai. Pria itupun ingat soal proyek patung Ana yang mangkrak.


"Bagaimana proyek patungmu?" Pria itu duduk di samping wanitanya di sofa.


"Kau haus?" Bumi meneliti wajah gadis itu, dan Ana pun mengangguk.


Pria itu beranjak mengambil minuman ke dapur, sedangkan Ana masih menatapnya dari kejauhan. Wanita itu ikut berdiri dan berjalan ke arah lorong, dimana ada foto Bumi dan Bella disana. Wanita itu membelalak saat fotonya sudah tidak ada lagi disana. Dia pun bertanya pada Bumi yang kembali dengan dua minuman ditangannya.


"Kau mencari apa?" tanya pria itu.


"Fotomu, dan... Bella" Ana menatap Bumi dan meraih satu minuman yang dipegangnya.


"Sudah ku simpan sejak lama, aku tidak akan memajangnya lagi disana." Bumi merangkul pinggang adik mantannya itu.


"Kenapa?"


"Tentu karena aku sudah memilikimu, aku tidak ingin kau cemburu dengan masa laluku."

__ADS_1


"Bum, aku tidak masalah. Maksudku, setelah kita menikah nanti, aku akan tetap mengenalkan Bella sebagai ibunya pada bayi itu. Aku tidak akan mengambil tempat Bella." Ana mendongak ke arah Bumi.


"Tentu saja, aku tidak akan memaksamu. Lalu? aku harus mengenalkan diri sebagai siapa? Apa kau mau bilang bahwa kita mengadopsinya?" Bumi menatap langit-langit apartemen.


"Bum, tentu saja tidak. Kita belum tahu siapa ayah dari bayi itu, jadi untuk sementara waktu, kumohon. Perkenalkan dirimu sebagai ayahnya." Ana memeluk pinggang Bumi dan melihat pria yang lebih tinggi darinya itu.


Bumi menunduk melihat wajah kekasihnya, " tentu saja, apapun yang kau inginkan." Bumi merapikan rambut Ana ke belakang telinga wanita itu.


"Mari kita kembali ke ruang tamu!" Bumi merangkul Ana, lalu mereka pun berjalan bersama kesana.


"Terimakasih, Bum." Ana tersenyum tipis ke arah pria itu.


"Menginaplah beberapa hari disini. Aku yakin, tinggal di apartemenmu sendiri akan semakin membuatmu sedih dan kesepian. Aku tidak ingin kau merasa seperti itu." Mereka duduk bersama di sofa, lengan pria itu masih dengan hangat merangkul bahu Ana.


"Baiklah," Ana menatap Bumi dengan lekat, wanita itu mendekatkan diri dan mengecup bibir pria itu sekilas. Bumi pun tersenyum dengan pipi yang merona.


"Aku pengangguran sekarang," katanya sembari bercanda.


"Kau mau menikah dengan pria tanpa pekerjaan sepertiku?" Pria itu menaikan kedua alisnya sambil menahan tawa.


Ana menghela napas pelan, "kau tahu selagi bersamamu, memakan makanan sisa pun tidak apa-apa."


Ana tertawa dengan candaannya sendiri, diikuti tawa Bumi yang lebih keras darinya. "Aku tidak akan membiarkanmu menderita, aku berjanji. Tapi, kuliahmu harus terganggu karena aku ingin menikah denganmu lebih cepat."


"Tidak apa-apa, asal kau masih mengizinkanku untuk kuliah." Ana menyeringai tipis.


"Lakukan apapun yang kau sukai, tapi jangan melupakan tugas utamamu sebagai istriku. Kau tahu, aku anak yang manja, aku pasti akan sering meminta perhatian lebih darimu." Bumi meraih tangan wanita itu dan mengeluskan tangan itu ke pipinya.


"Tentu saja, aku berjanji." Ana menatap pria itu lekat.


...****************...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2