
Disisi lain setelah Konferensi,
Semua orang berkumpul di satu ruangan milik pak Kim yang luas, Dongmin baru melenggang masuk sedangkan kakek Kim, ayah Bumi dan Lee Rojun sudah berada di dalam ruangan.
Rojun berdiri dan berjalan menghampiri Dongmin, pria itu langsung mendaratkan pukulan tepat di pipi anak sulungnya.
BRAKK
Dongmin tersungkur sampai ke dekat kakek Kim, semua orang terkejut bahkan Bumi dan Minhyun yang ada di belakang pria itu.
"Dasar sialan!" umpatan itu keluar dari mulut Lee Rojun.
Kakek Kim yang melihat kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri, langsung berjalan dan membantu Dongmin berdiri. "Hentikan, Ini semua kesalahanmu! Bukan Dongmin, kenapa kau menyalahkan anakmu bodoh!" Pria tua itu memukul kepala belakang Lee Rojun. Walaupun Dongmin bukanlah cucu langsungnya tapi pria itu sangatlah menyayanginya.
"Bangun cucuku sayang" Pria tua itu membantu Lee Dongmin berdiri, membantunya duduk di samping anaknya, Kim Jun.
Sedangankan Rojun membelakangi Dongmin dan pamannya, dia merasa kesal karena pernyataan anak itu, kini semua orang tahu bahwa Minhyun adalah anak kandungnya. Padahal selama ini, dia sudah dengan susah payah menutupi itu semua.
"Paman, dia membongkar aib ayahnya sendiri!" Rojun mendelik ke arah pamannya yang tak lain adalah kakek Kim.
"Aib? Seorang anak tidak bisa di labeli sebagai aib hanya karena kesalahan kedua orang tuanya! Kau sendiri yang melakukan perbuatan bodoh." Kakek Kim terlihat kesal mendengar ucapan Rojun yang menyebutkan bahwa Minhyun adalah aib keluarga.
"Lagipula, sampai kapan kau akan menutupi fakta itu? Dia berhak mendapatan hal yang sama denganku! Kau harus mengakui kesalahanmu kepada semua orang, itu satu-satunya cara untuk menebus kesalahanmu pada mendiang ibunya. Bertanggung jawablah atas apa yang telah kau perbuat! Jika kau terus seperti itu kau tidak lain hanya seorang pecundang!" Wajah Dongmin memerah , begitupun matanya yang terlihat berkaca-kaca. Ayahnya itu sudah keterlaluan.
Bumi yang hanya menyaksikan pertengkaran hebat itu mulai menyadari bahwa Dongmin memang menyayangi adiknya, Minhyun. Hanya saja pria itu masih belum sepenuhnya menerima. Bumi menepuk pundak Minhyun, karena setelah mendengar ucapan Rojun soal aib. Pria itu tertunduk.
"Mari ke ruanganku," Bumi mengajak Minhyun pergi, pria itu mengangguk menyetujui. Kemudian mereka berjalan ke ruangan sepupunya yang tidak jauh dari sana.
"Dongmin, pergi ke ruangan kakakmu sana!" Kata kakek Kim, dia membiarkan cucunya itu pergi dari sana.
Dongmin mengangguk, dia juga tidak tahan terus di sana melihat ayahnya yang pecundang. Pria itu berjalan menyusul kedua saudaranya.
Minhyun yang sudah lebih dulu masuk ke ruangan kemudian memeriksa ponselnya, dia melihat panggilan tidak terjawab dari Anastasia. Dahinya mengerut, dia lupa kalau Ana sedang sakit, apakah wanita itu sendirian dan mencarinya?
Dia langsung menelepon balik Anastasia, sesaat Dongmin masuk ke ruangan, panggilan Minhyun pun tersambung. Sedangkan, Bumi sekarang sedang menyandarkan diri di meja kerjanya.
"Halo, Ana kau bersama siapa disana? Maaf, aku tadi tidak langsung pulang kar-"" Ucapan Minhyun terpotong, karena Ana langsung berbica padanya.
"Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu? A-aku melihat beritamu di televisi." Ana bertanya pada Minhyun dengan gelagapan, dia takut ucapannya menyinggung pria itu.
"Aku akan menjelaskannya nanti," Kata Minhyun, saat tahu panggilan itu dari Ana, Dongmin pun berjalan ke arah adiknya. Dia langsung merebut ponsel pria itu dan mendekatkan ke arah telinganya.
"Kau!" Minhyun membelalak melihat kelakuan Dongmin, sedangkan Bumi hanya mengamati kakak beradik itu sambil sesekali tertawa.
__ADS_1
"Ana..." Dongmin ragu untuk berbicara padanya, dia merasa bersalah.
"Dongmin?" Ana mencoba menebak suara yang keluar dari teleponnya.
"Iya, ini aku Dongmin. Aku dengar, kau mengalami hal yang buruk kemarin. Maafkan aku," Dongmin menatap gedung menjulang di seberang lewat tembok kaca ruangan Bumi.
"Ini bukan salahmu, lagipula aku sudah membaik." Jawab Ana lugas.
"Kalau begitu, aku akan menemanimu malam ini. Apa aku diizinkan?" Dongmin menunggu persetujuan Ana atas permintaannya tadi.
"Tentu, datanglah kesini bersama Minhyun." Katanya.
"Baiklah, aku akan kesana. Terimakasih Ana," Kemudian panggilan itu mereka akhiri. Dongmin memberikan ponsel pria itu lagi padanya.
Bumi dan Minhyun memperhatikan Dongmin dengan seksama. Sepupunya itu, hanya menyeringai. Dia ingat karena dia belum sempat kesana lagi untuk memeriksa keadaan wanita itu.
"Untuk apa kau kesana? Biar aku yang menjaganya sama seperti kemarin malam," Kata Minhyun ketus.
"Jika Bumi bilang padaku apa yang terjadi kemarin malam, sudah pasti aku yang akan menjaganya!" Dongmin memicingkan matanya, dia pun menaikan sebelah alisnya dengan geram.
"Aha , lebih baik kita minum dulu, kalian mau makan apa? Aku akan pesankan." Bumi terlihat pusing melihat duo itu bertengkar, jadi dia mencari cara agar mereka kembali membaik.
"Tidak perlu!" Ucap mereka bersamaan.
"Aku hanya bercanda," lanjut Bumi sambil menyeringai.
Kemudian mereka berdua melenggang pergi tanpa pamit, itu membuat Bumi merasa kebingungan dengan sikap keduanya.
"Ada apa dengan mereka? Apa mereka menyukai gadis itu? Kurasa akan ada pertarungan antar keluarga, kenapa juga mereka harus menyukai wanita yang sama." Bumi menggeleng-gelengkan kepala merasa heran.
...APARTEMEN ANA...
Setelah Yuri pulang, untunglah ada Somi, Lee ze dan Jadu yang bergantian menjaga Anastasia. Mereka sekarang berada diem ruang tamu dan makan camilan bersama. Keadaan Ana sudah mulai membaik dengan sendirinya. Wanita itu, sudah dapat berguyon dengan para sahabatnya.
Ting tong
Semua orang saling bertukar tatap, mereka menerka siapa yang sudah datang. Somi pun berjalan untuk membukakan pintu, dilihatnya dari layar bel pintar seorang pria yang dia kenali berdiri di luar.
Somi pun membukakan pintu untuknya, "Masuklah!" Kata wanita itu sambil berjalan kembali ke teman-temannya.
Minhyun pun menghampiri Ana dan yang lain, pria itu memperhatikan wanita itu yang kini sudah terlihat membaik dari sebelumnya.
"Duduklah," Kata Ana melambaikan tangannya ke arah Minhyun.
__ADS_1
Pria itupun duduk di samping Anastasia, "Kau sudah membaik?" tanya Minhyun dengan lembut.
"Ya, aku sudah membaik." Ana tersenyum, ketiga orang yang lain hanya mesem-mesem tidak jelas melihat pemandangan mereka berdua.
"Apa kalian berkencan? Kenapa kau dan Dongmin bertengkar karena Ana?" Jadu yang berbicara sembarangan langsung menutup mulutnya merasa bersalah.
"Apa kalian bertengkar lagi?" Ana menatap Minhyun tidak percaya, kenapa pria itu dan Dongmin selalu dalam perkelahian sengit.
Minhyun hanya tersenyum malu sambil menunduk, dia tidak bisa menjelaskannya sekarang. Karena masih banyak yang lainnya, dia hanya akan berbicara pada Anstasia saja.
07.00 Malam,
Tidak lama ketiga orang itu selain Minhyun berpamitan pulang, sedangkan Minhyun tetap di sana menemani Ana. Entah sampai kapan, mungkin jika tidak masalah dia akan menemani wanita itu sampai pagi lagi.
Minhyun membantu Ana merapikan semua piring kotor dan barang yang berantakan. Dia memang dikenal sebagai pria yang perfeksionis ¹, Dia tidak bisa melihat barang kotor sedikitpun, bahkan satu helai rambut yang terjatuh pun akan dia ambil cepat-cepat dan dibuang.
Setelah selesai berbenah, mereka berdua mengobrol. Minhyun berbicara tentang apa yang terjadi pada Dongmin dan dirinya, mereka berbincang cukup lama sampai ada suara bel lagi yang terdengar dsri luar.
Minhyun membuka pintu untuk orang itu, ternyata Dongmin yang datang. Pria itu mengenakan jaket jeans berwarna biru. Terlihat sangat rapih dan wangi. Terlihat pria itu juga membawakan bunga dan berbagai cemilan,
"Kau masih disini? Pulang sana! Hushh" Dongmin menerobos masuk dan malah mengusir Minhyun dari sana.
"Kau saja yang pulang!" Jawab Minhyun agak geram.
"Ikuti apa yang aku bilang ya adik," Dongmin menggoda Minhyun, Ana tertawa geli melihat tingkah mereka. Kedua orang itu senang melihat Ana tertawa seperti tadi.
"Selamat malam Ana," Dongmin menyapa Ana sambil membawa makanan yang dia bawa.
Ana tahu jika mereka berdua ada disini pasti mereka akan bertengkar, jadi dia memutuskan untuk membiarkan Minhyun pulang dulu. Lagipula, pria itu belum istirahat sama sekali setelah menjaganya semalaman.
"Malam," Kata Ana pada Dongmin. Wanita itu kemudian menoleh ke arah Minhyun.
"Minhyun kau boleh istirahat, Aku akan baik-baik saja bersama Dongmin. Terimakasih telah merawat dan menjagaku semalaman, aku sangat berhutang padamu," Ana tersenyum tulus pada pria itu, Minhyun juga menatap Ana dan membalas seringaian itu.
"Aku sangat senang bisa merawatmu, Aku pulang dulu, jangan macam-macam!" Dia melirik ke arah Dongmin dengan tajam. Pria itu hanya menaikan sebelah alisnya dan menyeringai seakan menggoda Minhyun.
...****************...
...****************...
Kamus Author
__ADS_1
Perfeksionis ¹ : orang yang selalu berusaha tampil sempurna dengan menetapkan standar yang terlalu tinggi untuk diri sendiri dan atau orang lain, yang sering kali disertai dengan kritik berlebihan terhadap diri sendiri juga orang lain.