
AMERIKA, JAM 06.00 SORE,
Bumi masih berkendara di sekitar sana, dia sedang mencari tempat yang pemandangannya indah. Tak lama dia menemukan sebuah danau yang pemandangannya langsung ke arah matahari terbenam.
Dia menepikan mobil lalu turun, dia berjalan ke arah danau dan duduk di tepian sambil melihat pemandangan matahari terbenam yang indah. Langit yang berwarna jingga menambah keindahan pemandangan didepannya. Itu, membuat hatinya sedikit merasa tenang.
Walaupun masih ada perasaan khawatir pada Ana, tapi matahari itu sedikit mengobatinya. Untuk beberapa lama, dia masih menikmati matahari terbenam di sana. Sambil sesekali melihat ponselnya, barangkali ada kabar dari kekasihnya itu.
Dia merasa sangat bosan dan tidak tahu harus melakukan apa. Padahal saat perjalanan bisnisnya waktu itu, dia tidak seperti ini. Jika ada kesempatan dan waktu luang, dia selalu pergi ke bar untuk minum disana.
Mungkin alkohol bisa sedikit mengobatiku.
Bumi membatin, dia beranjak dari duduknya kemudian masuk lagi ke dalam mobil. Dia berkendara mencari mencari club malam terdekat di sana. Saat melihat bar bertuliskan useless dia langsung melipirkan mobil dan masuk ke dalam bar itu.
Dia melewati beberapa penjaga sampai akhirnya dia diizinkan masuk kedalam. Pekikan suara musik hampir mmebuatnya tuli, sudah lama dia tidak ketempat seperti itu.
Bumi duduk di depan Bartender , dia melihat ke sekeliling. Riuhnya orang-orang yang sedang berpesta sambil minum-minum, ditambah bau alkohol yang sudah lama tidak dia cium itu.
"Aku ingin Tequila," kata bumi pada bartender itu.
Pegawai itupun mengangguk, "baiklah tunggu sebentar" jawabnya pada Bumi.
Pria itu pun menunggu untuk beberapa saat sampai dia disuguhkan satu botol minuman pesanannya dan gelas kecil. Dengan kemeja salur yang dia gunakan, dia menenggak minuman itu sedikit demi sedikit.
Tenggakan pertama membuatnya sedikit lega, rasa pahit dari minuman itu mulai memudarkan kecemasannya pada Anastasia.
Tenggakan kedua membuat dia hampir lupa pada kekhawatirannya juga, dia menghabiskan waktu disana selama berjam-jam. Tanpa disadari, dia lambat laun menjadi mabuk.
Bella yang sedang bersantai di apartemennya merasa kesal karena Bumi tidak bisa menemaninya malam ini. Dia sedang menonton Tv sambil memakan popcorn, dia mencoba menelepon pria itu tapi tidak ada jawaban.
"Apa dia menghindar? Nak ! Lihatlah Appa mu, begitu tega pada kita!" Gerutu Bella pada bayi didalam kandungannya.
Tiga kali sudah dia menelepon pria itu, tapi tidak ada jawaban. Akhirnya, Bella menelepon resepsionis hotel dan menanyakan keberadaan Bumi.
Setelah panggilan tersambung, Bella langsung bertanya tentang keberadaan pria itu.
"Selamat malam, apa saya bisa meminta bantuan?" Tanya Bella langsung ke intinya.
"Maaf, sebelumnya untuk keperluan apa?" Jawab sang resepsionis.
"Saya istri dari Tuan Avaneesh Bumi, bisakah kau membantuku untuk menelepon pria itu dikamarnya?" Bella menunggu jawaban, dia menaruh popcornnya dimeja.
"Baiklah, tunggu sebentar."
Bella menunggu untuk beberapa saat,
__ADS_1
"Halo, maaf tidak ada jawaban." Kata resepsionis itu, Bella mengerucutkan bibirnya. Dia berpikir keras, kemana sebenarnya pria itu pergi.
"Baiklah, terimakasih." Bella menutup panggilannya.
Dia merasa agak cemas pada Bumi, maka dari itu dia berusaha menelpon pria itu terus. Tapi sudah lima kali dia memanggilnya, tidak ada jawaban satupun.
Ke mana dia pergi Kenapa dia tidak menjawab panggilanku?
Bella membatin, saking khawatirnya pada Bumi, Bella jadi tidak bisa tidur. Dia berjalan mondar-mandir terus menerus, sambil menunggu jawaban panggilan pria itu.
Bahkan waktu sudah menunjukkan jam 09.00 malam.
Bartender itupun sudah memperingati Bumi, agar tidak minum terlalu banyak. Karena dia bisa saja mabuk berat nantinya, kemudian seorang wanita seksi dengan pakaian berwarna maroon pun menghampiri Bumi, wanita itu duduk disampingnya sambil memegang lutut pria itu, dengan genitnya dia menggoda Bumi.
Bumi yang sudah mulai sempoyongan dengan mata sayu melihat wanita itu.
"Halo,"sapa wanita itu.
Bumi hanya tertawa kecil, lalu menjawab sapaannya.
"halo!" Kata Bumi sambil menyeringai.
Wanita itu perlahan mencondongkan tubuh bagian depannya ke arah Bumi, pria itu memutarkan bola matanya sambil tertawa kecil melihat tingkah wanita didepannya.
Dia sama sekali tidak tertarik bahkan tidak terangsang sekalipun, dia ke sana bukan untuk mencari pelampiasan nafsu tapi dia hanya ingin mencari ketenangan atas pikirannya yang sedang kacau.
Wanita itu mulai merekatkan lagi posisinya pada Bumi, dia bahkan mulai berani melingkarkan tangannya pada lengan Bumi.
"Kau bukan asli sini kan?" Tanya wanita itu sambil tersenyum.
Bumi tidak menjawab, dia memalingkan wajahnya.
"Mau bersenang-senang?" Ajak wanita tadi, Bumi yang tadinya tertawa kecil seketika langsung terbahak.
"Aku tidak mau, aku punya kesenangan sendiri, kekasihku jauh lebih segalanya daripada kau!" Bumi menyeringai sambil menunjuk wanita didepannya.
Dengan wajah yang marah dan mata yang membelalak wanita itu berdiri.
"Tolak lah aku dengan sopan!"
plakkk..
Sebuah tamparan mendarat dipipi pria itu, dia hanya menyeringai dan menatap wanita itu tajam.
__ADS_1
"Pergi saja! Hus hus," Bumi tertawa, sepertinya dia sudah mabuk berat.
Bartender yang merasa cemas pun, mulai bertanya pada Bumi.
"Pak, berhentilah minum, kau bisa tergeletak disini nanti. Apa ada seseorang yang bisa kuhubungi?" Rupanya, Bartender hanya khawatir pria ini menganggu yang lainnya.
"Memangnya kenapa? Bukankah AKU MEMBAYARMU !" Bumi hilang kendali, dia malah berteriak pada pria itu.
Sebelum ada penjaga yang menghampiri Bumi, bartender tadi mendekat kearahnya lalu meraih ponsel Bumi dikantong celana.
"Hey MAU APA KAU BRENGSEK?" Tanya Bumi sambil berdiri sempoyongan.
Pria itu mencoba membuka kunci ponsel dengan sidik jari Bumi, sesudah terbuka dia mencari aplikasi perpesanan.
Dia mencoba menelepon nama yang memiliki emotikon hati disampingnya yaitu Ana.
Kemudian panggilannya tersambung,
"Halo?" Dengan suara berat khas orang mengantuk Ana menjawab panggilan itu.
"Maaf Nona, Pria yang ku kira kekasihmu ini sedang mabuk berat di bar useless, mungkin kau bisa menjemputnya." Kata bartender itu.
"Mabuk? Ta-tapi aku sedang di Negara lain sekarang." Ana merasa khawatir mendengar apa yang pria itu ucapkan.
"Ah bagaimana ini? Baiklah terimakasih nona."
Belum sempat Ana bertanya, pria itu sudah menutup panggilannya. Ana dibuat kebingungan dan khawatir.
"Kenapa Bumi di Bar?" Gumamnya, setelah itu dia tidak bisa tidur lagi.
Sedangkan pria tadi kini mencoba menelepon Bella, Bella yang memang sedari tadi menunggu kabar dari Bumi pun merasa senang, karena ada telepon dari pria itu.
Dia pun menjawab panggilan itu dengan cepat.
"Halo bum! kau di mana? Aku menelpon ke hotel, tapi kau tidak menjawab! Kau di mana sekarang?" Tanya Bella cemas.
Pria asing itu pun menjawab pertanyaan Bella,
"Maaf Nona, pemilik ponsel ini sekarang sedang mabuk berat di Bar Useless di sekitar pusat kota New York. Bisakah kau menjemputnya?Aku khawatir dia akan menimbulkan masalah."
Bella membelalak, mulutnya sampai terbuka sedikit. Lalu dia pun dengan cepat menjawab iya kepada pria itu.
"Baiklah aku akan segera ke sana," Bella pun langsung menutup panggilannya.
Dengan cepat dia meraih tas dan memakai sweater untuk membuatnya tubuhnya hangat. Dia Meraih kunci mobilnya dan tidak lupa untuk menutup pintu apartemen. Dia segera masuk kedalam lift lalu turun ke Baseman, dengan cepat Bella mengendarai mobilnya dan bergegas ke bar itu untuk menjemput Bumi.
__ADS_1
...****************...
...****************...