MENIKAHI ADIK MANTAN

MENIKAHI ADIK MANTAN
Bab 105 : Ciuman perpisahan


__ADS_3

Kakek ketua dan ayah bumi sedang duduk di hadapan Anastasia, dilihatnya tangan Ana yang diperban membuat kecurigaan mereka semakin besar. Mereka sudah menduga bahwa alasan Ana di rumah sakit ini adalah karena Bumi dan wanita hamil itu.


Ana dan ayahnya belum tahu bahwa Bella ternyata sudah pulang ke Korea dan ada di kediaman keluarga Kim. Wanita itu juga belum menghubungi keluarganya sama sekali.


Tidak lama Bumi pun sampai di rumah sakit Mary's , pria itu keluar dari mobil dengan tergesa lalu berlari kecil masuk ke dalam rumah sakit. Dia menekan tombol lift sembari memgeluarkan ponselnya. Dia melihat pesan yang di kirim oleh Johan, "Kamar 012, lantai 7" gumamnya sambil menghafal.


Ting


Pintu lift pun terbuka dengan lebar, sambil mendengus pelan Bumi keluar dari sana. Dia menoleh ke arah kanan dan mencari nomor kamar Anastasia. Pria itu langsung dapat menebaknya, karena ada beberapa ajudan yang dia kenal berdiri di luar ruangan. Ajudannya itupun menoleh ke arahnya, dia pun berdiri lalu memberi salam pada Bumi, " Selamat pagi pak!" ucap salah seorang dari ajudannya.


Bumi hanya menjawab dengan bahasa tubuhnya, dia meletakan telunjuk di bibir agar ajudannya itu diam-diam saja. Lalu salah seorang dari mereka pun mendekat ke arah Bumi untuk berbisik, "didalam masih ada pak ketua dan juga ayahmu Pak" imbuh salah seorang dari mereka.


"Baiklah Ana semoga lekas sembuh, Kakek dan ayah pulang dulu ya. Kami harus ke kantor," ujar ayah Bumi sambil tersenyum tipis.


Saat tahu bahwa kakek dan ayahnya akan keluar dari ruangan Bumi pun dengan sigap bersembunyi di lorong berlawanan dari jalan keluar. Ia hanya ingin menemui Anastasia secara diam-diam, jika keduanya tahu pasti dia akan dilarang habis-habisan.


Setelah kakek ketua dan juga ayahnya berjalan keluar dari sana pria itupun langsung muncul kembali. Para ajudannya pun sudah ikut pergi dengan kakek dan ayahnya. Bumi berjalan secara perlahan ke kamar rawat Ana, dia agak ragu untuk masuk ke dalam, tapi dengan meyakinkan diri, Bumi pun melenggang masuk sembari menghela nafas panjang. Dia berjalan ke dalam ruangan di mana Ana berada.


Tuk tuk tuk


Suara sepatu pantofel pria itu terdengar nyaring di telinga, tapi Ana sama sekali belum menyangka bahwa yang datang adalah Bumi, sampai saat ayahnya menoleh dan terkejut melihat kedatangan orang itu. Ana dengan spontan ikut mengarahkan pandangannya ke orang itu juga, ayah Ana terkejut melihat pria itu berani sekali datang kesana.


Ayah anak yang tidak bisa menahan emosinya pun langsung berdiri dan secara agresif pria itu langsung menarik kerah kemeja Bumi. Lalu mendorongnya sampai tersudut ke dinding ruang rawat itu. Ana yang melihat itu pun tidak bisa menahan air matanya, wajahnya pun terasa sangat panas seperti hatinya.


Sakit yang dia coba lupakan itupun kembali dia rasakan, tapi tidak sesakit saat melihat pria yang dicintainya di hajar oleh ayahnya sendiri.


"Beraninya kau menemui anakku!" Seru ayah Ana yang masih menarik kerah kemeja Bumi. Mata pemuda itupun berkaca-kaca.

__ADS_1


"Izinkan saya berbicara pada Ana, setelah itu saya akan menjauh darinya saya berjanji. Kumohon beri saya satu kesempatan untuk menjelaskan." kata Bumi.


Pernyataan pria itu, membuat hati Ana semakin sakit. Padahal dia berharap hal itu hanyalah kebohongan belaka, nyatanya ucapan itu membuatnya semakin yakin bahwa apa yang di katakan Dongmin adalah benar adanya.


"Beraninya kau!" ayah Ana memukul wajah Bumi dengan kepalan tangannya.


"Ayah! Kumohon hentikan ... " Ana tidak tega jika melihat pria itu harus babak belur di tangan ayahnya. Dia tidak mau melukai pria itu sekalipun telah menyakitinya.


"Tidak apa-apa ayah, Izinkan kami untuk berbicara empat mata." Dengan tangisan yang membasahi pipinya Ana berusaha tegar, ayahnya yang menatap wanita itu dengan iba pun menerima permintaanya.


"Baiklah, Ana" Dia melepaskan cengkramannya dari kerah kemeja Bumi, lalu pergi keluar sambil menunduk.


Bumi masih terpaku melihat Ana yang menangis, matanya berkaca-kaca dan memerah, dia berjalan mendekat ke arah wanita yang dicintainya itu.


"Kenapa? Kenapa menyakiti dirimu seperti ini?" Bumi menunduk sambil berjalan mendekat, air matanya menetes sedangkan Ana memalingkan wajahnya. Dia tidak ingin Bumi melihatnya rapuh seperti itu.


Bumi pun duduk di kursi dekat tempat tidur Ana, dia menatap wanita itu lekat, lalu menarik tangannya yang di perban dengan lembut.


Ana menoleh ke arah Bumi dan menatap lekat wajah pria yang sangat dia rindukan itu. "Itu benar?" hanya itu yang bisa Ana tanyakan pada Bumi.


"Bahwa kau dan kakakku-" Ana tak kuasa melanjutkan ucapannya, wanita itu kembali menangis, air matanya mengalir deras ke pipi.


Bumi dengan sekuat tenaga berusaha untuk tegar di depan Ana, padahal dia sama hancurnya dengan wanita itu. Apalagi melihat kondisi orang yang dia cintai serapuh itu.


Bumi mengelus lembut punggung tangan Ana, tangan itu yang selalu dia rindukan dan wajah Ana yang selalu dia mimpikan membuat hatinya lebih hancur. Bumi pun menyeka air mata Ana dengan perlahan.


Dia harus jujur, dengan berat hati dia mengangguk pelan, lalu menunduk agak lama.

__ADS_1


Air matanya menetes pada celana berwarna putih nya, tidak ada kata yang mampu dia ucapkan, hanya bahasa tubuh yang sanggup dia tunjukan pada Ana. Tangisan Ana kian mengeras, ternyata itu jauh lebih sakit dari dugaannya. Ana pun merasa kesulitan bernafas, dadanya terasa sesak karena pahitnya kejujuran itu.


"Kenapa? Tidak sejak awal Bum? Kenapa sudah sejauh ini?" Badan ana bergetar, tangan yang di genggam Bumi pun perlahan ia lepaskan dari cengkraman itu.


"Karena aku mencintaimu, aku tidak ingin kehilanganmu!" Bumi menatap mata Ana, Mata mereka menyatu dan air mata yang membasahi pipi keduanya tetap tidak bisa menyembunyikan cinta yang berkobar di dalam sorot mata itu.


"Bum, jika aku tahu, aku bahkan tidak akan pernah ingin memulai ini!" Ana memalingkan wajahnya dari Bumi.


"Itulah sebabnya, Aku mencintaimu dan aku tahu aku egois, itu semua karena aku tidak ingin kehilanganmu. Anastasia, mari kita rawat anak itu bersama." Bola mata Bumi membulat, rupanya dia tetap ingin merawat bayi itu dan mendapatkan Ana juga.


"Lalu, kakakku? Aku tidak ingin menyakitinya Bum!" Ana menatap pria itu datar.


"Kakakmu tidak pernah ingin merawat anak itu sejak awal, bahkan dia memintaku untuk menikahimu Ana!" Bumi bangun dari duduknya, kini dia mendekat ke arah Ana dengan posisi berdiri.


"Cukup Bum, hubungan kita sudah berakhir." Ana menyeka sisa air mata yang membasahi pipinya, dia memalingkan wajahnya dari Bumi.


Alangkah terkejutnya Ana saat tangan pria itu menyentuh pipinya dan menarik wajahnya dengan lembut.


Bibir Bumi yang basah kini menyatu dengan bibirnya, hal yang sangat dia rindukan itu tidak bisa dia tolak, pikirannya berkata tidak tapi hatinya berkata lain.


Ana memejamkan matanya sembari mengalirkan air mata ke pipinya, Bumi menekan kepala belakang Ana agar keduanya lebih menyatu dengan cumbuan itu.


Tapi seketika Ana mengingat bayi yang ada dikandungan Bella, dia pun mendorong Bumi menjauh.


"Cukup Bum, pergilah!" Ana mengarahkan telunjuknya ke pintu keluar, dia tidak ingin melihat Bumi di sana lagi.


Bumi hanya bisa menatap Ana dengan datar, dia tertegun dan merasa sedih dalam waktu yang bersamaan.

__ADS_1


...****************...


...****************...


__ADS_2