MENIKAHI ADIK MANTAN

MENIKAHI ADIK MANTAN
Bab 96 : perdebatan


__ADS_3

Dongmin yang juga basah kuyup langsung berlutut di hadapan Ana, pria itu masih menggenggam payungnya lalu memeluk Ana erat dengan sebelah tangannya.


"Maafkan aku, jika saja aku memberitahumu sejak awal. Mungkin, kau tidak akan sesakit ini." Kata Dongmin lirih, dia ikut menangis bersamanya. Untunglah, suasana di sana sedang sepi, jadi mereka tidak menjadi pusat perhatian.


"Hu hu hu," Ana menangis sampai terisak.


"Bangunlah, aku akan mengantarkanmu pulang." Dongmin menatap Ana yang kini mendongak ke arahnya. Tangan yang tadi dia pakai untuk memeluk wanita itu, kini telah menyeka air mata Ana.


"Tolong antarkan aku ke orang tua ku Dongmin." kata Ana lirih, dia ingin menemui ibu dan ayahnya disana. Dia yakin, ibunya pasti sudah tahu tentang ini sejak lama.


Dongmin membantu Ana berdiri, kemudian dia dan Ana kembali ke tempat parkir cafe tadi, disana barulah orang-orang mulai memperhatikan mereka berdua. Dengan kondisi basah kuyup, mereka masuk ke dalam mobil.


Ana mulai terlihat menggigil, dia kedinginan. Untunglah Dongmin menyediakan sebuah jas dimobilnya sehingga itu bisa digunakan untuk menghangatkan tubuh Ana. Dia meletakan jasnya di pundak wanita itu.


"Terimakasih," ucap Ana lirih.



"Kau bagaimana? Maafkan aku sudah merepotkanmu." Ana menoleh ke arah pria baik hati di sampingnya.


"Kau tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja." elak Dongmin, Ana tahu pria itu juga sama kedinginannaya dengannya.


Mereka mulai berkendara ke hotel dimana orang tua Ana berada, Dongmin sesekali melihat wanita itu, dia hanya berdiam diri sepanjang perjalanan. Ada rasa sesal di dadanya, tapi dia lega karena telah mengungkapkan kebenarannya.


Dinginnya udara membuat kulit Dongmin serasa tertusuk, untunglah hotel itu tidak jauh jadi dia bisa segera sampai dan mengantarkan Ana kesana. Dia khawatir. Jika terlalu lama dalam kondisi kedinginan wanita itu akan jatuh sakit.


Dongmin hanya mengantar Ana sampai ke lobi, dia tahu wanita itu sangat butuh waktu untuk sendirian. Dia hanya berharap, Ana tidak berlarut dalam kesedihannya.


"Terimakasih Dongmin," ujar Ana.


"Sama-sama," jawab Dongmin singkat.


Ana berjalan ke dalam hotel tersebut, kakinya terasa lemas dia seakan tidak bisa menopang berat tubuhnya sendiri. Wanita itu masuk ke dalam lift, dia menekan tombol dimana orang tuanya menginap.


ting ... pintu lift terbuka.


Langakh demi langkah dia jalani, menahan isak tangis yang ingin dia keluarkan lagi. Sesampainya di ambang pintu, wanita itu mengetuk secara perlahan. Dilihatlah ayahnya membuka pintu kamar hotel dengan mata yang membulat.


"Ada apa nak?" ayahnya terkejut melihat putrinya yang langsung menangis dalam dekapannya. Pria tua itupun menutup segera pintu hotel.

__ADS_1


Ibu Ana muncul di belakang ayahnya sambil menatap kebingungan.


"Kenapa dia menangis?" tanya ibunya sinis. Ayah Ana menoleh ke arah istrinya.


Begitupun dengan Ana yang kini sudah tidak mendekap ayahnya, dia berjalan ke arah ibunya dengan air mata yang mengalir deras. Suasana nya kini begitu mencekam, ibu Ana merasakan tatapan tajam putrinya.


Kebencian yang tersirat dalam sorot mata itu kini terlihat jelas daripada sebelumnya.


"Jika kau tidak menginginkanku kenapa kau melahirkanku? Kenapa semua yang kulakukan selalu salah dimatamu?" Pertanyaannya membuat kedua orang tua itu tercengang.


"Apa maksudmu? Jika aku bisa! Sudah ku gugurkan kau sejak dalam kandungan!" Ucapan menyakitkan itu keluar dari mulut ibunya.


"Jika aku tahu, aku hanya akan melahirkan seseorang yang meninggikan suaranya di depanku seperti ini, Aku pasti ak-" lanjut ibunya yang kemudian terpotong oleh perkataan ayah Ana.


"Cukup bu!" bentak ayah Ana.


Air mata Ana kian mengering, rasanya dia sudah menguat dan tahan atas segala ucapan keji yang keluar dari mulut ibunya itu. Dia tidak gentar, dia masih menatap tajam ke arah ibunya.



"Akankah lebih baik jika aku mati? Jawab aku!" teriak Ana pada ibunya.


Ana tertawa kecil, "karena itukah kau menutupi kehamilannya?"


Ayah Ana memebelalak menatap anak perempuannya, "apa maksudnya Ana?" katanya.


"Ayah belum tahu? Tanyakanlah pada ibu yang tahu kebenarannya!" Ana menatap keduanya tajam.


"Jelaskan padaku!" seru Ayah Ana.


"Dia sudah gila!" umpat ibunya pada putrinya sendiri.


"JELASKAN!" Kali ini ayah Ana sudaj hilang batas kesabaran, dia merasa kesal dengan sikap istrinya.


"Jika ibu tidak mau menjelaskan, biar aku." kata Ana dengan lirih.


"Bella hamil, anak Bumi ayah." sorot matanya kosong, dia tidak tahu harus bereaksi apalagi, Ana hanya menatap datar ayahnya.


"Benarkah bu? Perkataan anak kita?" ayah Ana meminta kejekasan.

__ADS_1


"Ya! Mereka sudah berhubungan jauh sebelum pria itu bersama Ana, jadi jangan salahkan Bella!" ibunya tetap tidak ingin Bella menjadi kambing hitam ayahnya.


Ayahnya merasa jantungan, dia merasa sesak juga tidak tahu harys berbuat apa, ayang pasti dia sangat membenci Bumi.


Kemudian Ana jalan berbalik dari ayah dan ibunya itu. Dia melenggang pergi dari tempat itu, kemduian berjalan keluar dari hotel.


"Ana!" panggil ayahnya sambil berlari.


"Kumohon ayah, izinkan aku untuk sendiri dulu."


Setelah itu, Dia melepaskan sepatu hak tingginya dan berjalan menyusuri jalan sambil terguyur hujan yang cukup deras. Dia membiarkan pmjad Dongmin kembali terguyur hujan.


Ayah Ana kembali ke kamar dengan raut wajah yang marah.


"Jelaskan padaku bagaimana bisa Bella hamil anak Bumi?" matanya mendelik ke arah istrinya.


"Ah ayolah! Dia dan Bumi memang sudah berhubungan sejak lama. Memangnya kau mau putri pertamamu punya anak tanpa seorang suami? Biarkan Ana merasa seperti itu, dia pasti akan sembuh seiring berjalannya waktu!" ujar ibaunya yang seakan mati rasa pada perasaan Ana.


Ayah Ana hanya terdiam mendengarnya. Dia bingung, keduanya adalah anak mereka, sehingga sulit untuk membela salah satu dsri keduanya.


Sampai langit menggelap, wanita itu berjalan terus menyusuri jalanan basah yang dia pijak. Tanpa alas kaki, baju dan jasnya kini sudah mulai menyatu dengan air hujan tersebut.


Sepatu hak tingginya masih ada digenggaman, wanita itu akhirnya sampai di gedung apartemennya. Dia melenggang masuk ke gedung itu dan..... Brukkk! Dia terjatuh tepat di sana.


Para penjaga apartemen langsung kelimpungan, mereka membantu Anastasia. "Nona Ana? Kau baik-baik saja?" tanya mereka dengan panik.


Ana mengangguk walau kondisinya terlihat berbanding sebaliknya, "Aku baik-baik saja," dia dibantu berdiri oleh para penjaga itu.


"Cepatlah masuk ke kamar, tanganmu sangat dingin. Apalagi, bajunya sudah basah begini!" seru pria tinggi itu.


Ana tertawa kecil, tak tahu apa yang sedang ia tertawakan.


"Baiklah, terimakasih." Ana berjalan kembali ke apartemennya, dengan kondisi yang semrawut, tampilannya sungguh memprihatinkan siapapun yang melihatnya.


Dia membuka pintu apartemen lalu berjalan masuk ke dalamnya, wanita itu menatap lurus setiap sudut ruangan yang ia tinggali. Kemudian dengan datar pergi ke kamar mandi untuk melepas semua pakaiannya dan mandi.


...****************...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2