
Sudah 30 menit berlalu, Bumi merapikan dasi nya sambil berkaca di depan cermin. Dia baru selesai bicara dengan bayi di kandungan Bella lewat telepon.
30 menit sebelumnya...
Sesaat panggilannya sudah tersambung, wanita itu langsung membentak Bumi.
"Aku tidak mau bicara denganmu ! bicara saja pada bayi ini" Bella menaruh ponselnya di perut yang mulai membesar itu.
"Apa kabar sayang? Kau baik-baik saja hari ini? Aku sangat merindukanmu" Bumi tersenyum menyapa calon anaknya.
"Ayah sangat merindukanmu" Lagipula dia tidak ingin bicara pada Bella, Bumi hanya ingin menyapa bayi yang ada didalam perutnya.
"Hari ini, ayah ada Acara di perusahaan. Doakan lah agar acara ini berjalan lancar. Oh iya... Disana juga ada tente mu loh" Bumi menyeringai berbicara lewat teleponnya.
"Ck" terdengar suara Bella mencibir
"Sudah ! Jangan berpura-pura lagi, kalian hanya bersandiwara kan?"
Pada malam yang indah itu, mood Bumi hancur mendengar ucapan wanita itu. Dari mana dia tahu soal itu.
"Aku tidak bersandiwara" Bumi berjalan keluar rumah sambil mencari supir pribadinya. Dia yakin, dia tidak perlu menjemput Anastasia. Karena wanita itu akan datang bersama ibunya.
"Adik ku sudah bilang semuanya. Jangan bilang, kau memalsukan hubunganmu karena bayi ini?"
Bumi menghela nafas panjang sambil bersandar di kursi belakang, kini raut wajahnya terlihat serius.
"Aku sedang malas untuk berdebat, sudah dulu." Bumi memutus panggilannya. Dua bersaudara itu sangat suka sekali mencari bahan untuk diributkan. Itu membuatnya pusing.
Disana Bella memicingkan mata, kesal. Kenapa pria itu menghindar dan tidak menjawab pertanyaannya.
Selama diperjalanan, Bumi hanya diam seribu bahasa. Disisi lain, Ana dan Ibunya sedang bersiap untuk datang kesana.
"Kau cantik sekali" Ibunya Bumi memiringkan kepala sambil memperhatikan Ana lekat. Dia tersenyum bangga karena sudah merasa melakukan yang terbaik. Anaknya pasti akan senang.
Ana menyunggingkan senyuman tulusnya, dia merasa agak nervous. Ini kali pertamanya hadir dipesta orang-orang penting.
Jangan gugup Ana, kau harus percaya diri. Ingat, kau kekasih orang penting untuk sekarang. Ana membatin.
Mereka berjalan keluar lalu segera naik ke dalam mobil. Selama diperjalanan, dua wanita ini mengobrol mengenai kampus mereka. Bahkan tentang prestasi calon ibu mertuanya itu.
Setelah 15 menit, akhirnya mobil sampai di area parkiran KIK otomotif. Mereka berjalan kaki masuk ke gedung, di sambut oleh para penjaga dan orang-orang yang berpapasan disana.
Dengan pakaian off shoulder seperti itu, Ana merasa udara dingin langsung menusuk kulitnya.
__ADS_1
Ana dan Ibunya Bumi berjalan masuk ke ruangan pesta yang di adakan di Aula perusahaan itu. Mereka melihat Ayah Bumi dan juga Kakek ketua disana.
Dua pria itu membuka mulutnya sedikit, terkejut dengan kecantikan mereka berdua.
"Astaga... Apa ini istriku?" Pak Kim menggoda istrinya dengan melihat sambil memutari badan ibunya Bumi itu. Dia sangat terpesona.
Selang 10 menit dari kedatangan Ana, Bumi sampai disana. Dia masuk keruangan dengan menyapa semua tamu undangan yang hadir. Matanya langsung tertuju pada seseorang, dia menghentikan langkahnya sejenak lalu berjalan lagi mendatangi sang kekasih dengan ekspresi takjub.
Rambut Ana yang berkibaran seperti di tiup angin, menambah sepuluh kali lipat kecantikannya.
Cantik! .... Itulah yang ada dipikiran Bumi sekarang.
Ana terlihat seperti bidadari yang turun dari kayangan. Wanita itu telihat kikuk melihat Bumi yang menatapnya tak berkedip.
"Heyyyy. sapa dulu kakek, ayah dan ibumu. Setelah itu kau boleh fokus padanya" Kakeknya tertawa kecil
Bumi menunduk menyeringai,
"Maafkan aku, Selamat malam Kek, Ayah dan Ibu ku yang cantik." Bumi memeluk ibunya.
"Lihat" Ibunya meminta anaknya menatap Ana yang berdiri disana agak gugup.
Hati Ana berusaha tak acuh dan bersikap biasa saja, walaupun saat ini rasanya ia deg-degan setengah mati.
"Kekasihmu terlihat lebih cantik saat bertemu langsung" Seorang pria bergabung dengan keluarga itu, Pria itu adalah Walikota disana sekaligus teman dari ayah Bumi.
"heyy, apa kabar?" Ayah Bumi menyambut pria itu.
"Bum, kau benar-benar luar biasa. Bukan hanya dalam bisnis saja kau berhasil, tapi dalam percintaan juga." Pria itu mengernyitkan mata kagum pada Bumi.
Bumi hanya tertawa kecil lalu menarik Ana mendekat ke arah nya dengan merangkul pinggang wanita itu.
Terlihat dari arah pintu masuk Aula, semua anggota keluarga Lee Ro Jun datang, Dongmin dan Minhyun menatap Ana agak membelalak. Terkesima melihat betapa cantiknya wanita itu.
Ana semakin canggung karena dia menjadi pusat perhatian banyak orang, bagaimana tidak, dia adalah kekasih pewaris perusahaan itu. Tentu saja dia akan menjadi pusat perhatian.
Ana menghela nafas panjang, Bumi menoleh ke arah wanita itu berseringai. Ana menatapnya dengan gugup.
Pria itu menarik Ana lebih dekat, saat Dongmin dan Minhyun mendekat Bumi tersenyum melihat para sepupunya tampil dengan menawan.
"Gaun itu sangat cocok denganmu" Alih-alih memuji cantik. Dongmin memilih memuji pakaian yang Ana kenakan. Ana tersenyum tipis menatap Dongmin.
__ADS_1
"Aku pergi dulu" Bumi meninggalkan Ana bersama Dongmin dan Minhyun karena dia harus menyapa tamu yang lainnya.
Ana bernafas lega, akhirnya dia ada di zona nyaman nya, yaitu dengan sahabatnya ini.
"Huuftt akhirnya aku bisa bernafas" Ana melirik Bumi yang sedang menyambut para tamu undangannya.
Dongmin tertawa kecil melihat Ana, dia mengambilkan Ana segelas wine dari pelayan yang melewati mereka.
"minumlah, agar kau merasa lebih santai"
Ana langsung menenggak minuman itu sampai habis dalam sekali teguk. Dia masih melihat ke arah Bumi. Kali ini pria itu sedang mengobrol dengan seorang wanita.
tuk tuk tuk
Suara langkah kaki mendekat ke arah mereka, Lee Ro jun menatap Ana dari ujung kaki ke ujung kepala. Dongmin geram melihat ketidaksopanan ayahnya.
"Hebat sekali, kau bisa nenghadiri acara sepenting ini" pria itu menenggak wine nya juga.
Ana tidak berbicara sepatah kata pun. Dia tidak niat berdebat dengan ayah dari sahabatnya itu.
"Dongmin, Minhyun ikut ayah. Ayah ingin mengenalkan kalian pada teman Ayah disana" Rojun menunjuk sekumpulan orang.
Minhyun dan Dongmin menatap Ana tidak tega, mereka pergi dan meninggalkan Ana sendiri lagi.
Ana memeluk tubuh dengan kedua tangan, dia merasa dingin.
"Kau kedinginan? ingin aku beri kehangatan?" Bumi yang muncul dari belakang Ana, berbisik ke telinganya. Ana spontan menoleh, hembusan nafas ke belekang telinganya membuat wanita itu geli.
Bumi menyeringai mulai menggoda Ana. Ana mengerucutkan bibirnya kesal.
"tidak perlu"
"Kau bosan? Ingin ke ruanganku huh?" Bumi menyeringai lagi, seringaiannya seperti tersirat sesuatu.
"Jangan berpikir kotor! " Ana mengangkat sudut bibir atasnya.
"ck Pikiranmu buruk sekali padaku" Bumi balas menyinyir.
Mereka selalu berdebat di setiap kesempatan.
...****************...
...****************...
__ADS_1
...****************...