
AMERIKA, Jam 11.00 Malam,
Malam itu, sesampainya di apartemen Bella. Wanita itu meminta bantuan penjaga apartemen untuk membopong Bumi ke atas.
Setelah sampai di dalam apartemennya Bumi langsung direbahkan di kasur. Pria itu kini sudah tidak sadarman diri, dia sudah tertidur seperti orang kelelahan.
Bella mengenal nafas panjang, sambil bertolak pinggang dia mengamati Bumi. Atas apa yang pria itu katakan tadi, Bella jadi merasa bimbang. Tapi dia juga merasa kesal dan marah, Bella pun mendengar bunyi dering di ponsel Bumi. Dia pun meraih ponsel itu lalu melihat nama yang ada dilayar, itu Ana.
Tapi dia malah melempar ponselnya kembali ke kasur, dia tidak ingin menjawab panggilan itu.
"Mau apa sih perempuan itu?" kata Bella kesal.
Bella lalu berjalan keluar kamar sambil mengelus perutnya, dia mengambil air minum di dapur. Dia bersandar ke kitchen set yang dia punya. Kitchen set yang bernuansa pastel itu. Bella mendengus pelan,
lalu apa yang aku harus lakukan sekarang?
Batinnya, dia memikirkan soal nasib hubungannya dengan Bumi kedepan. Padahal jelas sudah tidak ada masa depan lagi bagi hubungan mereka.
Malam itu Bella tidur menemani bumi di sampingnya.
*
*
SEOUL , JAM 09.00 PAGI,
DIKEDIAMAN KELUARGA BUMI,
Dongmin berjalan ke ruang makan dilihatnya Bibi, paman dan kakeknya Sudah berada di sana. bibinya pun menyapanya dengan manis.
"Selamat pagi nak."
Dongmin menyapa balik bibinya itu, "Selamat pagi Bi." Dongmin tersenyum tipis ke arah Ibu Bumi. Dongmin duduk di samping bibinya, lalu mulai membalikan piring dan mengambil sendok juga garpu.
"Apa Bibi sudah mendapat kabar dari bumi?" tanya Dongmin. Bibinya pun menoleh ke arah keponakannya itu. "Sudah, Memangnya kenapa?" sambil menyuap makanan, wanita itu sesekali melihat pada Dongmin.
Dongmin mengangguk mengerti, berarti Ana juga sudah mendapat kabar juga dari pria itu, pikirnya.
"Tidak apa-apa bi, aku hanya cemas, apalagi melihat Ana yang menunggu kabar darinya. Dia sangat khawatir." Kata Dongmin sambil melahap sarapannya.
Ibu bumi langsung mengingat Ana, wanita itu menatap Dongmin agak lama. "Kau benar juga, Ibu juga melihat dia begitu khawatir saat tahu bahwa ponsel Bumi tidak terbawa, jika bisa kau ajak Ana kesini ya."
Satu keluarga itu pun melahap makananya sampai selesai jam sarapan, Dongmin yang sedang tidak ada kelas langsung keluar ke sekitar halaman.
Dilihatnya Daisy, sedang menyiram tanaman milik bibinya. Dongmin pun berdiri di belakang wanita itu. Daisy yang menyadari langkah kaki pria itu pun merasa terkejut, dia menoleh lalu berkata "Tuan Maafkan saya, saya tidak tahu ada tuan di sini." Katanya.
Dongmin melihat wanita itu dengan tatapan datar, "tidak apa-apa lanjutkan saja! Aku hanya ingin sedang mencari udara segar."
Dongmin melingkarkan tangannya ke dada, dia mengingat permintaan Bibinya tadi, mengenai Anastasia.
__ADS_1
Dongmin pun langsung mengeluarkan ponselnya dari saku, dia mulai mengetikkan pesan untuk dikirim kepada Ana.
^^^Dari: Dongmin^^^
^^^Ana, Bibi ingin kau ke rumah nya sekarang.^^^
^^^Apa kau bisa? Jika bisa, Aku akan menjemputmu nanti.^^^
Pesan itu terkirim langsung kepada Ana, dia Lalu menaruh ponselnya lagi ke saku celananya. Sambil menunggu balasan dari Ana, Dongmin menawarkan diri untuk membantu Daisy menyiram tanaman.
"Kau mau aku bantu?" tanya Dongmin pada Daisy.
Dengan canggung dan gelagapan Daisy menoleh ke arah Dongmin.
"Tidak tuan, tidak perlu. Sebentar lagi sudah selesai kok." Kata Daisy sambil menunduk.
Dongmin mengangguk pelan, "baiklah." Katanya, lalu dia segera kembali dalam rumah untuk meraih kunci mobilnya.
Saat dia berjalan menuju kamar, Dongmin mendapat pesan dari Ana pada ponselnya.
Ponselnya pun berdering, dia langsung meraih ponsel itu lagi lalu melihat pesan yang Ana kirim padanya.
^^^Dari : Ana^^^
^^^Aku sedang di rumah nenek,^^^
^^^Maafkan aku, tolong sampaikanlah salamku pada ibu Bumi.^^^
^^^Terima kasih Dongmin.^^^
Dongmin menghela nafas panjang, dia melihat pesan itu dengan datar. Lalu mengetikkan balasan untuk Ana.
^^^Dari : Dongmin^^^
^^^Baiklah Ana, tidak apa-apa.^^^
^^^Aku pasti akan menyampaikannya.^^^
^^^Ngomong-ngomong kau dengan siapa disana?^^^
Tanya Dongmin penasaran, pesan itu langsung dia kirim lagi. Dia berjalan ke arah kamar tidurnya. Lalu meraih kunci mobil di samping tempat tidur. Paman dan kakeknya sudah berangkat ke KIK Otomotif.
Sedangkan bibinya, sedang ada arisan dengan kelompok sosialitanya. Jadi, dia sangat merasa bosan di rumah. Sehingga dia memutuskan untuk jalan keluar.
Dia juga merasa sudah lama tidak bertemu dengan Minhyun, walaupun mereka sering beetengkar, tapi setidaknya hubungan mereka kan sudah membaik.
Jadi Dongmin berinisiatif untuk mengajak pria itu minum kopi di cafe dekat kampus mereka. Dongmin pun berjalan keluar dari rumah. Dia masih melihat Daisy dengan pekerjaan yang belum selesai.
Dia tidak menghiraukannya, Dongmin hanya terus berjalan lurus ke arah mobilnya. Dia lalu memasuki mobil itu, lalu menyalakan mesin mobil.
__ADS_1
Dongmin melaju dengan kecepatan normal, dalam perjalanan dia menekan tombol panggilan untuk Minhyun. Dia pun menunggu panggilan itu terhubung.
Tak lama panggilan pun terhubung, "halo" Sapa Minhyun.
"Kau di mana?" tanya Dongmin.
"Aku di kampus, tinggal satu kelas lagi. ada apa?" tanya Minhyun pada Dongmin.
Dongmin agak ragu untuk menyampaikan niatnya, tapi dia tetap mengatakannya pada Minhyun.
"Aku ingin mengajakmu ngopi di cafe dekat kampus kita. Dan aku juga ingin memberikan mu sketsa yang Ana titipkan padaku, maaf aku baru sempat." Kata Dongmin.
"Baiklah, tentu. Aku bisa kalau kau mau, datang saja nanti kesini lalu kita bertemu di sana." Jawab Minhyun mengiyakan ajakan kakaknya.
"Oke," Jawab Domin singkat.
Panggilan itu pun diakhiri oleh mereka berdua, Dongmin masih fokus ke.jalanan.
Sedangkan, di Busan......
Ana sekarang sedang membantu kakeknya berkebun, dia tidak menelepon bumi setelah kejadian itu. Karena dia tahu, pria itu masih mabuk berat dna mustahil dia akan menjawab panggilannya.
Ana memutuskan untuk menghubungi Bumi nanti saja, setelah pria itu bangun atau bahkan, dia akan menunggu Bumi yang menghubunginya lebih dulu.
Ana berjalan mengenakan topi dan juga sepatu boots. Dia melihat kakeknya yang sedang memanen wortel, lalu Ana pun berjalab dan membantu kakeknya mencabut wortel.
"Apa kamu bisa cucukku?" tanya kakeknya sambil menyeringai pada Ana.
"Tentu bisa kek! Tenang saja." Kata Ana santai.
Ibu Ana sedang membantu neneknya di dapur. Ana dan ibunya masih belum saling menyapa, Ana masih kesal tentang kejadian semalam. Sedangkan ayahnya sekarang sedang berjalan mendekati mereka di kebun.
Sambil membawa cangkul pria itu mendekat ke arah Ayah mertuanya, "Apa ini sudah cukup ayah?" tanya ayah Ana pada mertuanya.
"Sudah, Ayo cepat bantu aku mencangkulnya!" Kata kakek Ana.
Ana hanya menyeringai melihatnya, dia terkesan dengan keakraban ayahnya dan kakeknya itu. Dia sempat berpikir, Apakah bumi nanti akan seakrab itu dengan ayahnya?
Tapi dia langsung menggeleng dan membuang jauh pikiran itu,
Kenapa aku sampai berpikir jauh ke sana sih. Gumamnya.
Ana pun kembali tersenyum melihat ayah dan kakeknya yang kini sedang melempar candaan.
Dia mendengar ponselnya yang berdering, dia pun meraih ponsel itu. Ternyata itu adalah pesan dari Dongmin. Pesan balasan yang belum sempat dia lihat tadi.
...****************...
...****************...
__ADS_1