
Setelah menempuh perjalanan 1 jam lamanya akhirnya Bella pun sampai di apartemen Bumi, wanita yang sedang berbadan dua itupun berjalan masuk ke arah gedung apartemen. Dia masuk ke lift dan menekan tombol 13.
Menunggu sampai lift itu berbunyi, tidak lama pintu lift pun terbuka lebar. Wanita itu segera melenggangkan kakinya keluar dari sana dan berjalan menuju kamar yang sudah di beri tahu oleh Ibu Bumi.
Wanita itu pun menekan bel yang ada di samping pintu apartemen Bumi, sambil menunggu pria itu membukakan pintunya Bella bersandar di samping pintu itu. Bumi yang masih dalam keadaan pengar pun berjalan menuju arah pintu, dia keheranan karena dia sama sekali tidak merasa mengundang seseorang ke apartemennya.
Jadi dia berjalan dengan malas ke pintu dan melihat tamunya dari layar bel pintar miliknya. Tapi tidak ada siapapun di sana, diapun langsung membukakan pintu itu dan terlihatlah Bella yang sedang bersandar di dinding. Pria itu agak membelalak melihat Bella di depan apartemennya.
Sedangkan Bella menyilangkan tangannya di dada menatap bumi dari atas sampai ke bawah, pria itu sungguh kacau dan berantakan matanya terlihat kurang tidur, lingkaran matanya terlihat jelas di sana. Bella pun menatap Bumi dengan sorot mata yang tajam, "kau mabuk?" itulah yang dia tanyakan pada Bumi.
Pria itu dengan malas langsung berbalik badan dan kembali ke dalam apartemen tanpa menjawab sepatah katapun pertanyaan Bella, dan Bella mengikuti Bumi dari belakang. Dia masuk dan melihat ke sekeliling apartemen pria itu, wanita itu mendengus pelan, "sebentar lagi kau akan menjadi ayah, kenapa kau masih mabuk-mabukan Bum?" wanita itu merasa kesal karena Bumi mabuk-mabukan lagi. Setelah apa yang terjadi di Amerika, sekarang dia malah melakukannya lagi di Korea bahkan saat mereka baru saja sampai di sana.
Bumi duduk di sofa menjatuhkan tubuhnya ke sana, dia meraih botol yang tinggal sedikit lagi akan habis isinya. Dia menenggak itu sampai habis, "Ayolah Bum! Apa kau mendengarkanku? Kau akan menjadi seorang ayah, tapi kenapa kau masih mabuk-mabukan seperti ini?" kini Bella mendekat ke arahnya, dia pun merebut botol yang ada di tangan Bumi.
"Bisakah kau tidak mengganggu kesenanganku sehari saja? aku benar-benar penat dan sekarang aku mulai meragukan anak itu! Aku tidak pernah merasa melakukan itu bersamamu!" kata Bumi sambil menaikan alisnya , menatap tajam ke arah wanita itu.
__ADS_1
"Bum! Apa kau gila? Kau berbicara itu di hadapan anak kita sendiri! Apa kau tidak percaya padaku? Ini anakmu untuk apa aku membohongimu! Jika aku mau, aku bisa saja menggugurkan anak ini! ... Bukankah itu yang aku mau sejak awal, tapi kau malah melarangku untuk menggugurkan anak ini Bum!!" jelas Bella dengan lugas.
Bumi memutar bola matanya, Dia merasakan akan ada drama-drama selanjutnya setelah ini. "Kau benar, kenapa tidak aku setujui soal menggugurkannya sejak awal!"
"Kau sudah gila! Kau melukai hatiku dan itu berarti kau akan melukai hati anak kita juga! Kenapa kau mengatakan itu sekarang Bumi? Kenapa tidak sejak awal kau menolak bayi ini! Bahkan dulu kau bilang sanggup mengurusnya sendiri walau tanpa aku!"
"Sekarang aku sudah ingin menjadi istrimu ! Tapi kenapa kau malah bersikap seperti ini Bum?" Imbuh Bella bertubi-tubi.
Bumi pun menatap tajam Bella, "ini semua karena ide gila mu kan? Kau memintaku untuk menikahi adikmu dan kami secara tidak sengaja di pertemukan oleh takdir! Kini aku benar-benar mencintainya Bella!" Bumi menatap Bella dengan sorotan amarah berkobar.
"Aku ingin menikah dengannya, tapi adikmu itu menolakku karena yang dia pikirkan hanya kau! Apa kau pernah memikirkan perasaannya? Adikmu sekarang sedang ada di rumah sakit, apa kau tahu itu? Dia menyakiti dirinya sendiri! Dia tahu soal hubungan kita dan soal anak itu. Dan itu semua kesalahanku! Aku yang bodoh!" Mata Bumi memerah dia mengerutkan dahinya.
Sekarang Bumi hanya bisa menangis sambil menundukkan kepalanya, Bella menata pria itu, ini kali pertamanya pria itu menangis sedih di hadapannya. Bella menatap Bumi dengan iba, ada rasa kasihan di dalam hatinya pada pria itu. Tapi, dia juga tidak bisa membiarkan anaknya lahir tanpa seorang ayah.
Bagaimanapun rencananya sudah hampir berjalan mulus, dia tidak mungkin kembali lagi ke daratan. Dia bagaikan sudah ada di tengah danau, hanya tinggal beberapa langkah lagi rencananya akan terwujud. Wanita itu duduk di samping Bumi, dia memperhatikan pria yang sedang menangis itu, tapi dia tidak bisa melakukan apapun karena menenangkannya adalah hal yang percuma.
__ADS_1
Bumi menatap wajah wanita itu, " Pergilah dari sini! Aku sedang tidak ingin diganggu, lakukan apapun yang ingin kau lakukan beli apapun yang ingin kau beli, tapi ku mohon ... Beri aku waktu untuk sendiri!" setelah mengatakan itu Bumi kembali menunduk dan menutup wajahnya dengan telapak tangan.
Bella menghela Nafas pelan, dia pun bangkit dari duduknya dan keluar dari apartemen itu. Kali ini dia akan menemui Anastasia di apartemennya, setelah keluara dari sana dan turun dari apartemen Bumi dia langsung meminta supir untuk pergi ke apartemen SeeU house untuk menemui adiknya.
Sebenarnya dia tidak tahu keberadaan wanita itu, dia hanya akan menunggunya disana. mmMereka pun bergegas ke apartemen Anastasia.
Ana dan Minhyun yang masih berada dalam perjalanan pulang masih diam tanpa kata di dalam mobil. Ana sendiri hanya menatap keluar jendela mobil dengan raut wajah yang datar, sebenarnya wanita itu sedang memikirkan ayahnya. Dia hanya berharap bahwa ayahnya sampai dengan selamat di Indonesia.
Dia sama sekali tidak peduli pada ibunya, Dia memutuskan untuk menjauhi wanita itu karena itulah yang terbaik untuk kesehatannya. Sesampainya di apartemen Ana dan Minhyun langsung masuk ke gedung dan berjalan menuju lantai 6.
Minhyun dengan telaten membantu Ana dengan membawakan segala barang-barangnya. Ana sangat merasa tidak enak pada Minhyun, karena dia selalu merepotkan pria itu. Tapi Minhyun melakukan itu dengan tulus, dia malah merasa senang karena dibutuhkan oleh Ana.
Setelah sampai di lantai apartemen, keduanya melihat seorang wanita berbadan dua sedang menunggu di depan sana. Ana menatap wanita itu, dia tertegun melihatnya. Tapi, wajahnya tetap menunjukkan ekspresi yang datar.
Minhyun pun masuk ke dalam apartemen untuk menaruh tas yang dia bawa lalu kembali keluar, dia masih melihat kedua wanita itu saling menatap tanpa kata. Akhirnya, dia pun meminta izin pada Ana untuk pergi dari sana sebentar, karena dia tahu mereka pasti akan membicarakan sesuatu yang bersifat privasi. Ana pun mengangguk dan Minhyun pun pergi meninggalkan mereka.
__ADS_1
...****************...
...****************...