MENIKAHI ADIK MANTAN

MENIKAHI ADIK MANTAN
Bab 131 : Wanita asing (Bonus)


__ADS_3

Di ruang VVIP rumah sakit itu terlihat bayi mungil nan cantik yang kian hari bertambah berat badannya. Ana merasa senang karena Beby tumbuh dengan baik, semua organnya sudah sempurna.


Hanya tinggal menunggu waktu untuk di bawa pulang ke apartemen.


Ana menggendong Beby dengan penuh kehangatan, sedangkan Bumi sedang asyik membalas pesna dari para kolega perusahaan.


"Kau mau mencoba menggendongnya?" Ana menawarkan Bumi untuk menggendong Beby. Pria itu langsung menatap Ana agak lama, dia merasa ragu untuk menggendong bayi sekecil itu.


"Boleh," tapi dia tidak bisa menolak permintaan istrinya.


Ana berjalan ke arah Bumi yang kini sudah berdiri dan memasukan ponsel ke sakunya.


"Pelan-pelan, tunggu dulu. Apakah bajuku ada debu aku harus membersihkannya." Bumi menepuk-nepuk kemejanya khawatir ada dehu menempel yang dapat mengganggu si kecil.


"Tidak ada sayang, sudah siap?" Ana mulai menaruh bayi kecil itu ke dekapan Bumi yang agak gemetar.


"Biasa saja, jika kau gemetar bayinya akan menangis." Ana menatap wajah suaminya yang agak pucat.


"Darimana kau tahu banyak soal mengurus bayi? Aku semakin terkesan padamu." kata Bumi sembari menyeringai.


Itu sukses membuat Ana tersipu. "Tentu saja, dari internet."


Keduanya tertawa kecil bersama, terlihat bayi itu merasa nyaman di dekapan Bumi bahkan dia tidak terbangun dari tidurnya saat dipindah tangankan.


Setelah dua jam berlalu, Ana dan Bumi memutuskan untuk pergi jalan-jalan sembari mencari jajanan kesukaan mereka. Sambil menunggu waktu sore dan pertemuannya bersama Pengacara Hyun, keduanya ingin menghabiskan waktu bersama dengan bersenang-senang.


Mereka berjalan ke dalam pusat Mall di tengah kota Seoul, mungkin mereka akan sekalian berbelanja disana. Bumi merangkulkan lengannya ke bahu istrinya, dia sudah yakin pasti banyak paparazzi yang sedang sibuk mengambil foto mereka diam-diam.


Walau bukan seorang selebritas, Bumi dan Ana tentunya selalu menjadi pusat perhatian. Apalagi setelah hengkangnya pria itu dar perusahaan, banyak rumor mengatakan bahwa keduanya hidup dari sokongan keluarga Kim.


Memang tidak salah, tapi tidak benar juga. Bumi sendiri memiliki saham diperusahaan lain. Sehingga, dia mendapat penghasilan dari sana juga.


Ana memilih beberapa pakaian yang cantik, rata-rata semuanya bertemakan vintage atau floral. Entahlah, dia rasa selera berubah semenjak menikah. Dia sekarang lebih suka gaya yang feminim dan simpel.


Tidak seperti sebelumnya, dia selalu ke kampus dengan setelan tomboy. Misalkan boyfriend jeans ataupun kemeja oversize.


"Sayang, apa ini cocok?"


Bumi mengangguk, "apapun sangat cocok digunakan olehmu."


"Belilah apapun yang kau inginkan," kata Bumi sembari menyeringai tipis.


Ana mengangguk lalu memilih yang lainnya. Sebenarnya, ada hal yang mengganggunya sejak tadi. Dia memikirkan soal perkataan pengacara Hyun. Dan sangat penasaran tentang pernyataan tersangka kasus pelecehan itu.


Bumi memperhatikan Ana yang terlihat melamun, pria itupun berjalan ke arah istrinya lalu menepuk pelan pundak Ana.


"Ada apa?"


"Tidak ada." Ana menggeleng lalu tersenyum.

__ADS_1


"Jangan melamun, setelah itu, kita mencari pakaian untuk Beby."


Bumi tahu, itu akan membuat mood Ana langsung baik, istrinya itu sangat suka berbelanja perlengkapan maupun printilan bayi.


"Tentu," jawab Ana bersemangat.


Setelah berbelanja dengan puas, Ana dan Bumi menyempatkan diri untuk makan siang bersama di restoran ramen.


Disana Bumi memasan mie dingin sedangkan Ana memesan mie kuah seafood. Sambil menunggu pesanan datang, Ana membuka ponselnya dan mencoba menanyakan kabar sahabatnya di grup yang sudah hampir tidak aktif itu.


^^^Dari : Ana^^^


^^^Halooo, kalian baik?^^^


Dari : Somi


Hai, huhu aku rindu.


Dari : Ze


Kenapa baru muncul?


^^^Dari : Ana^^^


^^^Maafkan aku, aku sangat sibuk.^^^


Dari : Ze


^^^Dari : Ana^^^


^^^Tentu aku akan meluangkan waktu bersama kalian,^^^


^^^Kita bertemu di kampus nanti,^^^


^^^Aku makan siang dulu, bye.^^^


Dari : Somi


Cih, Baru muncul, sudah menghilang lagi.


Ana tertawa melihat layar ponselnya. Itu agak membuat Bumi sedikit kurang diperhatikan. Dia menatap Ana agak tajam tapi dengan bibir yang mengerucut.


"Aku mau lihat,"


"Bukan apa-apa, hanya percakapan bersama sahabatku." Ana tetap tidak menyerahkan ponsel itu.


"Saat sedang bersamaku, fokuslah padaku. Aku tidak ingin fokusmu teralihkan." Bumi menatap Ana dengan datar, tatapannya itu mematikan.


"Baiklah, maafkan aku." Ana menghela napas panjang. Dua tidak merasa bahwa suaminya akan seberlebihan itu.

__ADS_1


Tidak lama makanan yang mereka pesan pun datang, Ana dan Bumi segera melahap makanan mereka. Tanpa bicara sepatah katapun. Setelah makanan mereka selesai, keduanya keluar dari tempat itu dan menaruh belanjaan mereka dimobil.


Bumi masih setia melingkarkan lengannya dibahu sang istri, saat berjalan di sekitar area jajanan kota Seoul mereka melihat beberapa pedagang kaki lima berjejer disana.


Ana menginginkan beberapa makanan yang tersedia disana, dan Bumi pun menuruti setiap keinginan istrinya.


"Aku mau odeng," kata istrinya dembari menoleh ke arah Bumi.


"Tentu saja sayang,"


"Eh, tidak menyangka ya kita bertemu disini," tiba saja suara sopran milik seorang wanita mengalihkan pandangan mereka.


"Pak Bumi. kau ingat? Aku yang waktu itu bertemu dengan mu di club malam di Amerika."


Bumi memerhatikan gadis berpakaian minim itu sembari mengerutkan dahi, dia tidak ingat pernah bertemu wanita itu disana. Tapi mungkin, memang pernah karena saat itu dia sedang mabuk jadi kemungkinan besar dia tidak ingat.


"Maaf, aku tidak ingat."


Ana hanya mendangah kearah suami yang berada disampingnya, bahkan kini dia berada di tengah mereka berdua.


"Kau pasti tidak ingat, waktu itu kau mabuk berat" wanita itu tersenyum pada Bumi tanpa menoleh ke arah Ana yang berada didepannya.


"Ini silahkan nona," penjual kaki lima itu menyerahkan pesanan Ana.


"Terimakasih," Ana melirik ke arah Bumi dengan agak tajam lalu melenggang pergi meninggalkan keduanya.


Bumi yang melihat itupun langsung menyusul Ana tanpa menghiraukan perempuan tadi. Dia berlari kecil ke arah istrinya.


"Kau tidak ingin beli yang lain?" Bumi mencondongkan tubuhnya melihat wajah Ana.


"Aku sudah tidak minat," bibirnya mengerucut merasa kesal karena perempuan yang datang secara tiba-tiba tadi.


Bumi mendengus pelan, lalu merangkulkan lengannya pada Ana. Mereka masuk kedalam mobil lalu mencari tempat yang bagus untuk makan jajanan yang telah mereka beli tadi.


"Aku saja yang mengemudi," kata Ana menoleh ke arah Bumi.


"Bukannya baru beberapa kali latihan?"


"Aku sudah bisa, kita ketempat yang bagus." Ana beralih ke kursi kemudi sedangkan Bumi di dampingnya.


"Hati-hati," Bumi mengerutkan dahi.


"Kau tidak percaya padaku?" Ana memicingkan matanya pada Bumi, tatapan itu membuat Bumi sampai menelan ludah. Ada yang tidak beres dia merasa sudah melakukan kesalahan sekarang.


"Aku percaya, heheh"


Ana hanya mengerucutkan bibirnya tanpa sepatah katapun selama dalam perjalanan.


...****************...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2