
Ana berdiam diri sambil menunggu pintu lift terbuka, Wanita itu kemudian melihat Dongmin yang sudah berdiri didepan pintu apartemennya. Ana tersenyum menghampiri Dongmin,
"Kau sudah pulang," Ana mendekat ke arahnya, Dongmin yang lebih tinggi dari Ana tiba-tiba memeluknya sampai harus membungkuk.
"Aku menyelesaikan pekerjaanku lebih cepat untuk segera kesini," untuk beberapa saat ptia itu enggan melepaskan pelukannya.
"Mari kita bicara di dalam," Ujar Ana sambil melepaskan pelukan mereka, dia mengajak Dongmin untuk mengobrol di dalam.
Dongmin duduk di sofa sambil melihat ke sekeliling ruangan, dia menyandarkan tubuh nya disana , Ana pun pergi ke dapur untuk mengambil minuman. Perkataan Bumi terngiang di kepalanya, pikirannya terganggu karena hal itu, dia belum tahu harus bagaimana sekarang.
Disatu sisi dia ingin sekali mengungkapkan perasaannya pada Dongmin, tapi disisi lain dia takut jika hubungan mereka tidak akan berhasil.
Ana kembali dengan dua kaleng minuman, menaruhnya di meja di depan Dongmin.
"Minumlah" Tangan Ana mempersilahkan Dongmin untuk minum
Dongmin membuka kaleng minuman itu, dia juga membuka kan kaleng minuman Ana.
Dongmin menenggak minumannya, Ana memperhatikan leher Dongmin tapi dia langsung mengalihkan pandangannya saat Dongmin memergokinya.
"Kenapa?" Dongmin tersenyum menyipitkan mata.
"Tidak apa-apa," jawab Ana, suasana pun menjadi canggung. Jantung Ana berdegup kencang, dia ingin menyampaikan perasaannya kepada Dongmin dan menjawab perasaan pria ini waktu itu.
"Ada yang harus aku bicarakan," Ana terbata-bata, dia menatap Dongmin dengam grogi, pria itu sudah siap, dia tersenyum lalu menggenggam tangan Ana. Jantung Ana rasanya mau copot, suasanya menjadi semakin tak karuan.
"Tanganmu dingin sekali," kata Dongmin sambil.ememgang tangan Ana yang gemetaran.
"Aku mengangumimu juga Dongmin," Kata Ana gelagapan.
Dongmin terlihat sumringah, dia langsung memeluk Ana dengan spontam. Perasaan bahagia yang menyelimutinya itu membuat mood nya menjadi lebih baik. Dongmin tersenyum dan seakan tidak mau melepaskan pelukannya dari Ana.
ini pertama kalinya aku merasakan hal ini
batin Ana.
"Aku sangat senang karena perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan." Dongmin melepaskan pelukannya. Mereka saling menatap satu sama lain. Ini adalah pertama kalinya Ana Jatuh cinta. Dongmin adalah pria sempurna bagi Ana dan kriteria yang selalu dia idamkan.
__ADS_1
"Tapi, kurasa kita tidak bisa bersama. Aku punya perjanjian dengan Bumi." ujar Ana, dia menunduk.
Ana pun menjelaskan tentang perjanjian yang dia lakukan bersama Bumi, mengenai hubungan sandiwara keduanya. Ana mengatakan bahwa itu dibuat dengan secara terpaksa, karena mereka tidak punya pilihan lain selain berpura-pura menjadi pasangan.
Ana juga meyakinkan Dongmin untuk tidak perlu khawatir soal Bumi, karena mereka hanya akan tampil di keadaan tertentu saja. Sebenarnya, wanita itu juga tidak yakin hubungan nya dan Dongmin akan berhasil, bahkan dia sempat takut mereka hanya akan menyakiti satu sama lain, tapi tidak ada salahnya mereka mencoba.
Hanya saja, Dongmin terdengar tidak setuju mengenai perjanjian itu dia tidak mau Ana mengikuti kemauan sepupunya. Karena dia tahu bahwa ada orang lain yang harus Bumi jaga perasaannya.
Ana pun akan berusaha bicara pada Bumi nanti untuk membatalkan perjanjian mereka.
*
*
Bumi masih memukul Dashboard Mobil, air mata mengalir ke pipinya,
...Pada Malam itu.... (Malam pemadaman listrik)...
Saat Ana tertidur di sofa, Bumi merebahkan tubuhnya di tempat tidur di kamarnya. Tidak berselang lama, ponselnya berdering . Panggilan itu dari Bella.
"Bella, itu salah paham" Bumi mencoba menjelaskan.
"Ternyata Kau sudah dekat dengan adikku." Bumi langsung duduk dan membelalak mendengar ucapan Bella.
"Apa maksudmu?" tanyanya.
"Anastasia adalah adik ku!" Bella mencoba menjelaskan kepada Bumi.
Bumi masih tidak percaya dengan apa yang disampaikan Bella, tapi dia sedikit meyakini nya, karena setiap dekat dengan Anastasia, terkadang mengingatkan nya pada Bella. Bahkan beberapa hal yang bumi lihat hampir seperti Bella. Seperti es krim kesukaan wanita itu, atau itu terjadi hanya karena pikiran Bumi yang tertuju pad Bella?
"Nama belakang kami sama!" kata Bella sambil mendengus.
"Apa kau yang mengirimnya kesini? Apa yang kalian rencanakan huh? Kau masih kukuh dengan perjodohan gilamu itu untukku?" Kamar Bumi dilengkapi dengan kedap suara, jadi tidak akan terdengar dari luar. Dia agak menaikan suaranya satu oktaf.
"Tidak, tapi kurasa Tuhan yang mengirimnya padamu." ucap Bella sambil tertawa kecil.
"Berhenti bicara omong kosong, Bella!" Bumi mengganti posisi duduknya berkali-kali. Dia lelah mendengar ocehan Bella yang tidak masuk akal, bahkan dia sempat berpikir mungkin menggugurkan bayi itu adalah jalan terbaik, tapi dia tidak mau menjadi pembunuh. Bagaimana pun anak itu adalah hasil buah cinta nya dengan Bella.
__ADS_1
"Aku sempat terkejut mendengar rumor berkencan mu, jujur aku merasa sedih ternyata kau dekat dengan adik ku sendiri." perempuan labil itu semakin membuat Bumi tidak mengerti dengan jalan pikirannya, dia sendiri yang memintanya untuk menikahi adiknya tapi dia yang malah merasa sedih.
"Bukankah kau yang menginginkan ini?" Bumi sudah lelah mendebat Bella, tapi dia tidak ingin menjadi pria brengsek yang kasar terhadap wanita.
"Ya, aku tahu, aku lah yang menginginkan mu menikah dengan nya, tapi saat aku tahu bahwa kau dekat dengannya bukan karena bayi ini, aku jadi merasa sedih. Tapi itu tidak penting, karena yang terpenting sekarang adalah ini kesempatanmu untuk menikahinya demi bayi ini!"
Bella terdengar bersemangat, Bumi belum berkomentar apa-apa, dia masih harus mencerna setiap perkataan Bella.
"Ini kesempatan mu agar Anastasia, mau tidak mau menikahi mu!" Bella terdengar antusias , dia sudah tidak menangis lagi sekarang. Hormon kehamilannya kadang membuatnya cengeng.
"Kau pasti sudah gila, aku tidak mau merusak kehidupan orang lain hanya demi ego ku, Aku tidak sepertimu!" Bumi hendak memutus panggilannya tapi dia urungkan.
"Ini bukan demi ego mu, tapi demi pewarismu! Jika kau tidak ambil kesempatan ini, aku tidak akan memberikan bayi ini!" Bella selalu saja memaksa.
"Terserah kau saja, Aku mau tidur!" Bumi mematikan panggilannya lalu melempar ponselnya ke kasur. Dia tidak akan menghancurkan orang lain demi dirinya sendiri, kalau pun harus menikahi Anastasia, dia akan menikahinya karena cinta, bukan karena paksaan atau demi apapun,
bahkan demi bayi itu.
Pernyataannya pada media memang spontanitas nya agar keluar dari situasi itu, dia tidak menyangka jika itu akan menjebak mereka berdua sampai seperti ini.
Tapi menurutnya, selama Ana tidak masalah dengan rumor itu, semuanya akan baik-baik saja. Kalaupun mereka harus memiliki perjanjian di atas materai. Dia tetap tidak akan memaksa Ana untuk menyukainya.
Bumi tidak ingin melihat Ana sebagai bayang-bayang Bella. Karena menurutnya, Dunia ini adalah tempat dimana kamu semestinya tidak terus merasa dibandingkan dengan yang lain dan tidak merasa tersisih dari orang yang 'katanya' lebih baik dari mu.
Dia sudah lelah dengan sikap Bella, ada masa dimana dia tidak mau berurusan lagi dengan perempuan itu, tapi kenangan yang mereka lalui bersama saat berpacaran dulu, sering muncul di pikirannya. Apalagi Bella sedang hamil, dia tidak ingin menjadi contoh yang buruk untuk anaknya kelak.
Bagaimana pun, Bella adalah ibu dari anaknya. Baik atau buruk dialah yang melahirkan anak itu yang kelak akan menjadi pewarisnya nanti..
Bumi melanjutkan perjalanan nya ke KIK, malam itu dia tidak pulang ke apartemen, dia memilih untuk tidur di kantor dengan setumpuk pekerjaan yang menunggunya.
"Aku harus menyelesaikan ini," gumamnya. Bumi terlihat lelah, lingkaran hitam di bawah matanya pun terlihat jelas. Dia stress belakangan ini, walaupun dia mencoba menutupi itu dan bersikap biasa saja di depan yang lain, tetap tidak bisa dipungkiri bahwa dia benar-benar frustasi.
...****************...
...****************...
...****************...
__ADS_1