
Sesaat Ana melangkah mendekat, ibunya langsung duduk dan menatapnya.
"Pantas saja Bumi meninggalkan mu," Ibunya menaikan sebelah alisnya, ibu kandung yang serasa ibu tiri ini memang sangat kejam pada Ana.
Ucapannya yang selalu menyakiti hati Ana itu tidak pernah disaring walau ditegur oleh ayahnya. Ana menatap ibunya dengan kebingungan.
"Maksud ibu?" Tanya Ana.
"Tidak ada maksud apa-apa." Ibunya menyeringai dengan malas, sedangkan Ana mendengus pelan, dia tidak mau memikirkan apapun yang ibunya katakan.
Ana meraih satu bantal dan selimut dari tempat tidurnya, sedangkan ibunya memakai bed cover yang ada disana. Ana berjalan keluar dari kamar itu.
Lalu berjalan ke ruang tv, Ana duduk sambil mendengus. Ayahnya yang melihat ada sesuatu yang aneh pada Ana pun bertanya padanya.
"Ada apa nak?" Tanya Ayahnya.
"Aku hanya lelah, kenapa ibu selalu menatapku seolah aku melakukan hal yang menjijikan?" Ana menunduk, sekuat apapun dia menahan untuk tidak meperdulikannya. Tapi, kenyataannya itu tetap mengganggu pikirannya.
Ana mulai menangis, ayahnya yang berada disampingnya memeluk Ana dan mengelus kepala anak itu.
"Maafkan ayah, maafkan ibumu." Ayahnya pun tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, dia sadar sikap istrinya pada anaknya sendiri seperti apa.
"Aku hanya sedih ayah." Ucap Ana sambil menangis.
Disisi lain, Domgmin yang masih mengendarai mobilnya melipir ke salah satu coffee shop dengan drive thru .
Dia memesan Capuccino panas, Dongmin menunggu sampai petugas itu memberikan kopinya. Dia langsung mengendarai mobilnya lagi, dia pun mengingat buku sketsa yang Ana berikan padanya.
Dongmin menoleh ke arah buku disamping nya sebentar, lalu meraih kopi dan meminumnya. Dia berkendara sambil mendengarkan musik di radio.
Dongmin mencoba mencari cara agar bisa menghubungi Bumi, dia harus secepatnya tahu kabar pria itu. Dia tidak bisa melihat Ana sedih terus menerus.
Sesampainya dirumah Kakek Kim, Dongmin turun dari mobil lalu berjalan di pekarangan rumah. Dia menghentikan langkahnya sesaat, dia melihat pelayan yang bernama Daisy itu sedang menatap bulan purnama yang indah.
"Ehemm" Dongmin berdehem, dia menyapa wanita itu.
"Malam Tuan Dongmin, maaf saya melamun jadi tidak tahu jika tuan datang." Kata Daisy sambil menunduk.
"Tidak apa-apa, apa yang sedang kau lakukan disini?" Tanya Dongmin basa basi, dia tahu wanita itu sedang menatap Bulan Purnama.
__ADS_1
"Hanya menatap bulan purnama Tuan, tapi saya akan masuk kedalam. Mari Tuan" Wanita itu dengan gugup berjalan masuk ke dalam rumah dsn beristirahat di kamar tidur khusus pelayan.
Dongmin yang masih menatap wanita itu kemudian beralih menatap bulan purnama. Pria itu kemudian ikut masuk ke dalam rumah. Di lihatnya kakek, paman dan bibinya sedang berjalan menuju ruang makan.
"Nak kau sudah pulang, ayo makan dulu." Kata bibinya.
"Memang dia darimana?" Tanya Kakek ketua.
"Mengantar Ana pulang, tadi dia kesini." Mereka kemudian duduk di kursi ruang makan.
"Kesini? Kenapa tidak menunggu kakek pulang?" Tanya Kakeknya sambil menunggu pelayan menyiapkan makanan ke piringnya.
"Dia terburu-buru karena ada orang tuanya, Bumi tidak mengabari Ana jadi dia kesini untuk.bertanya." Kata Ibu Bumi sambil membalikan piring yang menelungkup.
Ayah Bumi tidak berkomentar apa-apa, tapi dia sangat menyayangkan karena tidak bisa bertemu dengan calon mantunya.
"Dia pasti canggung juga berlama-lama disini tanpa Bumi," Kata Dongmin sambil menatap keluarganya.
"Ya, kau benar." Kata Ibu Bumi..
Setelah selesai makan malam, Dongmin kembali ke kamar. Dia lupa kalau buku sketsa Ana tertinggal. Sepertinya, Ana juga tidak tahu bahwa Dongmin tinggal dirumah Bumi untuk sementara.
Dia membawa kunci mobilnya lalu menekan tombol yang ada, dia membuka pintu, lalu membungkuk untuk meraih buku sketsa yang Ana berikan.
Dia membawa nya kembali masuk kedalam rumah, dikamar tidur, Dongmin merebahkan tubuhnya. Kemudian dia menatap buku itu.
Dengan posisi tengkurap Dongmin membuka lembar demi lembar buku sketsa Ana. Dia memuji kepandaian wanita itu dalam menggambar,
"Dia penuh bakat," ucapnya memuji Ana.
Dia membalik lagi, terlihat sketsa wajah seseorang di bukunya. Yaitu wajah Bumi, Dongmin mendengus pelan lalu menutup bukunya. Dia menaruh buku itu di meja samping tempat tidurnya.
~
Ana dan ayahnya sedang menonton tv bersama, mereka menonton serial drama korea berjudul sweet home.
"Lihatlah orang itu mirip denganmu." Ayah Ana tertawa sambil menunjuk TV.
"Aish ayah, dia cantik seorang model dan juga pemain film. Tidak bisa dibandingkan denganku." Ana mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Lihat dirimu di cermin, kau sungguh cantik. Bahkan lebih dari dia." Ayahnya menggoda Ana agar anaknya tersenyum.
Bersama ayahnya, membuat Ana bisa melupakan Bumi untuk sesaat. Malam itu, dia tertidur di sofa bersandar dengan ayahnya. Mereka tertidur dengan posisi kaki diatas meja.
*
*
Bumi meregangkan tubuhnya, rasanya lelah sekali 14 jam berada di dalam pesawat. Dia sampai di jam setengah 6 sore waktu Amerika.
Dia berjalan keluar Bandara lalu mencari menunggu jemputannya, Setelah jemputannya tiba, Bumi langsung pergi menuju hotel yang sudah di booking skretarisnya.
Dia menghela nafas, akhirnya dia sampai juga. Dia berniat untuk beristirahat dulu di hotel dan mengabari Anastasia menggunakan laptopnya.
Untung saja, salah satu aplikasi pesan di ponselnya tersambung langsung ke laptop, jadi dia bisa segera menghubungi Ana melalui itu.
Tidak jauh dari Bandara, Bumi sudah sampai dihotelnya. Disina dia menyewa jasa professional asisstent yang bisa disewa selama dia melakukan perjalanan bisnis. Untuk merangkum semua hal yang penting, nantinya hasil dari pekerjaannya akan diberikan langsung dalam bentuk flashdisk atau melalui email.
Bumi juga sudah menyewa mobil selama dia berada di Amerika, beserta supirnya.
Bumi masuk ke hotel Lana berbintang 5, lalu check in. Setelah itu, dia diantar ke kamarnya dan dibawakan koper-kopernya.
Perjalanan bisnis kali ini pasti akan melelahkan, dia harus menghadiri 10 pameran yang akan dilaksanakan mulai minggu depan.
Bumi membuka pintu kamarnya menggunakan kartu, dia melihat kamar mewah yang luas itu, kopernya sedang dirapikan oleh petugas hotel. Dia langsung duduk di ruang tamu hotel dan bersandar dibahu sofa.
Bumi menghela nafas panjang, "Akhirnyaaa aku sampai."
Dia langsung membuka tas berisikan laptop, dia menekan tombol power dan menghidupkan laptopnya. Sambil menunggu laptipnya hidup, dia berjalan ke arah daour dan melihat cemilan juga minuman yang tersedia.
Bumi mengambil minuman bersoda dan tortilla chips. Dia menaruh itu dimeja. Membuka bungkusan chips nya dan juga minumannya.
Bumi menatap layar laptopnya, dia langsung menyambungkan internet ke bebas wifi disana. Dia membuka aplikasi chatting.
Terlihat obrolan paling atas, dari Ibunya, Ana dan juga sekretarisnya. Dia langsung segera membalas pesan mereka. Pertama, dia membalas pesan ibunya dan mengabarkan dia sudah sampai.
Kedua, dia memberi kabar pada Ana, serta meminta maaf karena pergi tanpa berpamitan.
...****************...
__ADS_1
...****************...