
...(sumber : google image)...
Pemukiman padat yang ada di Busan tidak serta merta membuat hari Anastasia Jung menjadi ceria. Setelah hubungannya berakhir dengan Bumi, wanita itu belum mendengar kabar apapun lagi darinya.
Hari demi hari dia lalui dengan harapan kosong semata, pada waktu kejadian itu terjadi, dia menemui Dongmin dan mengajaknya berbicara di luar. Bukan bermaksud tidak sopan, tapi saat itu dia sangat ingin menyendiri sehingga dia merasa tidak enak jika harus mengabaikan Dongmin yang ada di sana.
Setelah mengungkapkan keinginannya, pria itu pun menghormati keinginan Anastasia. Dongmin pulang malam-malam sekitar jam delapan lebih lima belas menit saat itu.
Anastasia mengurung diri di kamarnya, dia tidak membukakan pintu untuk siapapun selama sehari penuh.
Kini, waktunya di Busan sudah habis. Dia dan orang tuanya harus segera pergi dari sana. Masih banyak hal yang harus dia lakukan di Seoul. Ana menenteng tas berisikan pakaiannya dengan lemas, ayahnya yang melihat itupun langsung mengambil alih apa yang anaknya bawa.
"Biarkan ayah yang membawanya," pria itu berucap sambil merebut tas putrinya dan memindahkan itu ke bahunya.
Ana tidak banyak protes, dia hanya diam saja dan berjalan masuk ke mobil. Ibunya yang sedari tadi memperhatikan pun mulai menyapanya.
"Kenapa? Murung sekali." tutur ibunya yang menoleh ke arah wanita berambut coklat panjang itu.
"Bukan urusan ibu," Ana tanpa menoleh melihat keluar jendela, dilihatnya juga nenek dan kakeknya melambai ke arah mereka. Ana merasa iba melihat kedua orang yang sudah melebihi setengah abad itu berdiri disana.
Dia sempat berjanji pada dirnya sendiri bahwa Ana akan selalu mengunjungi mereka nanti. Seiring melajunya mobil yang dia naiki Ana hanya menyandarkan kepalanya di bahu kursi. Dia memejamkan matanya, dua hari penuh dia menangis dan merasa tersakiti dengan berakhirnya hubungan mereka.
Setelah lima jam berkendara, Anastasia turun di depan gedung apartemen. Sedangkan, ayah dan ibunya melanjutkan perjalanan sampai ke hotel Amarysm. Hotel dimana Bumi membiayai semua operasional mereka.
Ana berjalan memasuki gedung itu, dia berdesir sambil mengarah ke pintu lift. Tanpa kata dan tanpa suara wanita itu menekan tombol nomor enam pada tempat berbentuk persegi panjang.
Ting
__ADS_1
Bunyi pintu terbuka, dia perlahan sambil menunduk berjalan ke arah apartemennya. Tanpa disadari tiga orang wanita sudah menunggunya untuk memberi kejutan.
"Selamat Ulang Tahuuuum baby!"
Ketiga wanita itu bersorak ceria, Ana kelimpungan melihat mereka tersenyum merekah sambil membawa balon dan juga kue tart.
"Huaaaaaa," Ana menangis seperti kucing kecil yang mengaum, dia mencongkong kan diri dibawah sambil menutup wajahnya.
Para wanita itu membelalak melihat Anastasia yang menangis. Mereka pun mencoba membantu Ana berdiri.
"Kami tahu kau terharu, tapi jangan terlalu sedih begitu ya." Somi membungkuk menatap Ana yang masih terisak.
"Aku sedih," Ana memeluk Somi erat. Yuri yang sedang memegang balon dan Lee Ze yang memegang kue masih belum mengerti kenapa Ana sesedih itu.
Mereka pun memutuskan untuk bercakap di dalam apartemen. Ana masih duduk di sofa, dengan satu box tisu di pangkuannya. Wanita itu sedang menceritakan kejadian detailnya kepada para sahabatnya.
Somi, Yuri, dan juga Lee Ze memperhatikan Ana dengan seksama, setelah Ana menceritakan apa yang dia alami dan mengenai hubungannya dengan Bumi. Mereka pun menatap Ana dengan raut wajah yang sedih.
Kedua orang tuanya bahkan tidak mengingat hari ulang tahun anak itu. Apalagi Bumi, Ana tidak yakin dia tahu soal ulang tahunnya. Mereka sama sekali tidak mengucapkan apapun bahkan sepatah kata pun tak terlontar dari mulut mereka.
Ana menunduk lalu menyaka air matanya, dia menatap satu persatu wajah sahabatnya itu, "Terima kasih.... aku sangat menyayangi kalian." Dengan wajah sembap dan hidung tersumbat, Ana mencoba untuk berbicara dan menunjukkan kasih sayangnya kepada sahabatnya. Mereka pun memeluk Ana lagi setelah curhatan Ana yang berderai air mata selesai.
*
*
......INGGRIS......
Jembatan yang kokoh berdiri ditengah perkotaan London itu membentang sepanjang 104 meter, Bumi mengendarai mobilnya sambil mendengarkan lagu dari The Beattles.
__ADS_1
Bukannya dia tidak memikirkan Ana, tapi setelah sampai di London pria itu memang dihadapi kesibukan yang memadat. Dia dan sekretaris wanita nya sudah menentukan jadwal ke pameran besok. Bumi hanya berharap, pameran itu akan berjalan sempurna.
Selama beberapa hari, Bumi mengabaikan semua orang. Dia ingin fokus pada pekerjaanya lebih dulu. Jika ditanya apakah dia bersedih setelah hubungannya dan Anastasia berakhir, tentu saja iya. Dia bahkan menangis saat setelah memutuskan panggilannya dengan wanita itu.
Bumi merasa egois jika harus menahan Anastasia, menurutnya wanita itu bisa mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari pada dirinya. Pria itu sudah sampai di hotel yang dia singgahi.
Dia masuk ke hotel itu lalu beristirahat di dalam, kemudian ponsel baru nya yang sudah dia ganti lagi itupun berdering. Terlihat nama Johan pada layar ponselnya. Dia mendekatkan ponsel itu ke arah telinganya.
"Sudah selesai? Mereka baik-baik saja kan?" Bumi berbicara lewat panggilan telepon dengan ajudannya yang baru sampai mengantar Ana dan orang tuanya.
"Nona Ana terlihat murung, pak." Suara berat Johan terdengar agak lantang di ponsel Bumi.
Bumi pun menghela nafas, dia tahu ini semua pasti karena dirinya. Tapi, dia tidak mampu untuk hanya sekedar mengucapkan maaf pada Ana. Biarlah, wanita itu membencinya. Karena semakin dia mencintainya semakin dia terluka karena telah menutupi kebohongannya selama ini.
Bumi rupanya sudah menyiapkan hadiah untuk Anastasia, bingkisan yang sangat spesial untuk wanita itu. Benda itu akan dikirim langsung ke apartemen Ana.
"Mendengarnya sehat dan sampai ke rumah dengan baik sudah cukup bagiku, apa kau melihat Dongmin disana?" Bumi penasaran dengan keberadaan sepupunya.
"Tidak ada pak, saya malah melihatnya di rumah bapak sejak kamis malam." Johan berkata dengan jujur, dia hanya berpapasan dengan Dongmin hanya saat pria itu ada di kediaman Bumi. Setelah itu, dia tidak terlihat lagi, karena Johan berjaga di KIK Otomotif setelahnya.
"Baiklah, jaga Anastasia selalu. Aku tidak ingin sesuatu terjadi padanya." Bumi bermuka datar.
"Apa kalian sedang bertengkar?" pertanyaan Johan membuat Bumi membelalak.
"Kau tidak perlu tahu, hus!" Bumi menutup panggilan ajudannya yang kepo maksimal itu. Dia merebahkan tubuhnya sambil melihat kembali foto-foto Ana yang ada diponselnya.
Dia memejamkan matanya perlahan lalu tertidur dengan cepat, banyaknya masalah membuatnya cepat kelelahan.
...****************...
__ADS_1
...****************...