
"Sayang..." Bumi tertawa kecil mencoba menggoda wanitanya.
"Aissh jangan panggil aku sayang, panggil seperti biasa saja. Aku tidak terbiasa dengan panggilan itu" Ana kembali menatap jalan raya.
Dia mendengus pelan, masih memikirkan cara untuk bicara dengan Dongmin. Dia tahu Bumi memperhatikannya, pria itu juga pasti tahu kalau ada yang Ana pikirkan.
Bumi tertawa kecil melihat respon Ana, dia menatap wanita itu lekat sambil memicingkan mata. Sepertinya dia sedang menilai mimik muka Ana.
"Sepertinya... Dongmin akan di jodohkan"
Deg...
Dijodohkan?
Ana merasa terkejut dengan apa yang Bumi katakan, matanya membelalak. Untuk sesaat dia semakin merasa kasihan terhadap Dongmin.
Jaman sekarang masih ada kisah-kisah seperti itu?
"Dikalangan kami, perjodohan masih menjadi hal yang lumrah" Bumi memakan es krimnya.
Ana tidak menjawab Bumi sepatah kata pun, Dia bahkan hanya menatap datar es krim nya yang mulai mencair. Sesekali dia terlihat menghela nafas panjang, itu membuat Bumi berpikir bahwa Ana sedih mendengar tentang perjodohan Dongmin itu.
"Kau sedih?" Bumi berhenti memakan es krimnya, mode posesifnya pun mulai aktif. Jangan sampai pria itu malah membuat mood Ana makin hancur.
Ana menggeleng, berbohong pada Bumi. Jujur saja, dia sedih karena merasa kasihan pada Dongmin. Dia tidak berhak diperlakukan seperti itu oleh ayahnya
He doesn't deserve it. Ana membatin
"Tapi aku rasa.... Ayahnya sudah keterlaluan"
Bumi mengangguk, pria itu nampak setuju dengan Ana.
"Kau benar, Lee Rojun sangat keterlaluan. Apalagi Dongmin akan dijodohkan dengan teman seangkatannya sendiri"
"teman seangkatan?" Ana mengernyitkan dahi penasaran.
Oke jangan bilang kalau itu Yeri.
Ana seperti ditampar dengan dua pukulan, pantas saja Dongmin mabuk berat. Sepertinya untuk saat ini, dia tidak perlu mengatakan perasaannya untuk Bumi kepada Dongmin. Ana pikir itu hanya akan membuat pria itu merasa sedih.
Lalu, Ana tiba-tiba saja teringat mengenai orang tuanya, dia memang sudah yakin bahwa Kakek Ketua akan menghubungi mereka langsung. Tapi, dia tidak menyangka kalau mereka akan datang di acara tadi.
__ADS_1
"Oh iya.. Tentang orang tua mu, Aku minta maaf karena tidak mengabari mu soal kedatangan mereka. Awalnya aku pikir mereka akan mengabarimu sendiri. Tapi melihat mu terkejut saat melihat mereka, rupanya mereka tidak mengabarimu ya?"
Ana menggeleng, sudah dia bilang dia adalah anak buangan. Ibunya tidak pernah peduli padanya, sedangkan ayahnya terlalu sibuk untuk memikirkan perasaannya.
Anastasia lagi-lagi mendengus, kali ini dia agak kesal. Meskipun mereka tidak suka padanya, setidaknya mereka mengabari kedatangannya. Supaya Ana bisa menyiapkan sesuatu, atau sekedar menjemput mereka ke Bandara.
"Maafkan aku" Bumi mengelus punggung tangan Ana, Sekarang dia bertindak seperti kekasih sungguhan sekarang. Ana tidak protes akan hal itu, dia menyukainya.
Malam itu, setelah selesai makan es krim. Bumi mengantar Ana pulang sampai ke depan pintu Apartemennya. Pria itu sudah percaya diri akan diundang masuk ke dalam sana, tapi nyatanya Ana tidak basa-basi sama sekali.
"Kau tidak memintaku tinggal?" Bumi mengangkat alisnya menunggu jawaban Ana.
"Bum, aku lelah sekali. Aku ingin istirahat saja. berhati-hati lah saat mengemudi" Ana melambaikan tangannya,
Bumi menghormati keputusan Ana, dia tidak bisa memaksakan kehendak walaupun dia ingin menemani wanita itu sekarang. Tapi perasaan Ana lebih penting, dia terlihat sedang tidak ingin di ganggu.
Bumi berjalan kembali masuk ke dalam lift, Ana masih berdiri di ambang pintu menunggu pintu lift tertutup. Bumi melambaikan tangannya sekali.
Dia menghela nafas, dia senang akhirnya Ana menjadi miliknya. Seketika, dia teringat kejadian saat di toilet tadi.
Kilas balik Acara perayaan KIK
Setelah waktu yang romantisnya dengan Ana selesai, Dia kembali ke keluarganya. Bumi mendengar tentang Lee Ro Jun yang akan menjodohkan Dongmin dengan seorang wanita yang tidak lain adalah teman sekampus pria itu, Yeri.
Dongmin yang sengaja menyusul, masuk ke toilet dan melihat Bumi dengan tatapan tajam.
"Ada apa?" Bumi bertanya datar pada pria itu soal tatapannya yang tajam.
Dongmin menarik kerah kemeja Bumi, melotot ke arah wajah itu. Rasanya dia ingin sekali menghantam wajah sepupunya.
"Menantu? Besan? Sudah kubilang katakan yang sebenarnya pada Ana !!! " Dongmin masih menatap pria itu , wajahnya memerah. Saking merahnya terlihat mata nya berkaca-kaca. Pria ini pasti sudah menahan amarahnya sejak tadi.
"Kau mabuk huh?" Bumi mengangkat sebelah alisnya
"Persetan dengan mu!!! Yang ku inginkan hanya perkataan jujur darimu pada Ana. Tidak dengan cara licik seperti ini, jika sampai besok kau tidak mengatakannya. Aku sendiri yang akan mengatakan padanya."
"Kau kira itu akan membantu? Ana sudah mencintaku, kau pikir mudah mengatakan itu semua padanya? Kau kira dia akan baik-baik saja? Pikirkan itu ! " Bumi balas menarik kemeja Dongmin.
"Kau brengsek ! Apa kau memanfaatkannya sebagai pelampiasan hasratmu? arrgh aku benar-benar muak melihat tanganmu menyentuhnya! Dia tidak mungkin mencintaimu jika dia tahu kebenarannya !!!!! " Dongmin mengepal tangannya erat dan siap untuk meninju Bumi. Tapi tangan gagah lain menahannya.
Itu adalah Minhyun, dia datang diwaktu yang tepat. Pria itu melerai keduanya dan mengingatkan mereka tentang tamu yang lain. Jika orang tahu alasan keduanya bertengkar, sudah pasti yang akan menjadi sorotan adalah Anastasia.
__ADS_1
Ternyata sedari tadi Yeri menguping percakapan Dongmin dan bumi diluar toilet.
"ck wanita itu lagi" dia mengangkat sudut bibir kirinya kesal.
"Bawalah dia pulang" Bumi meminta Minhyun membawa Dongmin pulang ke rumah. Sedangkan dia berjalan keluar lalu membaur lagi dengan semua orang disana sambil merapikan kerah kemejanya.
Minhyun mengangguk, lalu membopong Dongmin yang terkulai lemas, efek dari alkoholnya. Dia berpapasan dengan Yeri didepan toilet.
"Kau mau membawanya kemana?" Yeri mendekat
"Pulang, dia mabuk berat."
Minhyun mengabaikan wanita itu, dia berjalan dan meninggalkan pesta tanpa berpamitan pada siapapun.
Bumi yang kembali ke keluarganya nampak melamun.
"Ada apa?" Tanya kakek ketua
"Tidak apa-apa kek" Bumi menyeringai
"Oh iya, Rojun ! Dimana anak-anakmu huh?"
"Minhyun dan Dongmin pulang lebih dulu" Bumi menatap Kakek Ketua dan Lee Ro Jun.
"Pulang? Kenapa?" Tanya Lee Rojun bingung.
""Dongmin mabuk berat"
Semuanya saling melempar pandangan, hingga akhirnya Kakek ketua mengatakan bahwa itu tidak apa-apa asalkan mereka sudah menikmati pestanya. Sedangkan, Lee Rojun nampak menahan amarahya. Dia sudah geregetan dan ingin segera menghajar anak itu dirumah.
Bisa-bisanya anak itu pulang dengan keadaan mabuk berat. Itulah yang ada dipikiran pria itu.
Bumi memperhatikan Lee Ro Jun agak tajam, bagaimana pun, Dongmin adalah sepupu terdekatnya. Dia tidak suka juga jika pria itu diperlakukan seenaknya oleh Lee Ro Jun. Apalagi, pria ini sejak kecil sudah sering membantu dongmin saat sedang dipukuli ayahnya.
Bumi juga merasa kalau perjodohan Dongmin dan teman kampusnya sangat keterlaluan.
Kilas Balik Selesai....
...****************...
...****************...
__ADS_1
...****************...