
Malam itu, Ana pulang ke apartemen sekitar jam 10 malam. Dia membuka pintunya perlahan. Saat bersama Dongmin, dia lupa tidak membawa ponselnya, jadi dia tidak tahu apakah Bumi menghubunginya atau tidak.
Saat pintu terbuka, lampunya otomatis menyala, karena memakai sensor gerak. Ana berjalan ke ruang tamu, betapa terkejutnya dia melihat seseorang duduk di sofanya.
"Astaga.." Ana membelalak,
Bumi berdiri lalu menghampiri Ana, dia menatap wanita itu datar.
"Dari mana saja?" Tanyanya sambil memperhatikan wajah Ana.
Sepertinya dia sedang marah besar pada wanita itu. Bumi masih menatap Ana, matanya memicing tajam. Pria itu mendekat ke arah Ana lalu memegang kedua bahu wanita itu dengan kencang.
"Bum, aku bisa jelaskan."
Bumi membungkukan badannya mencoba mencium Ana, tapi saat itu Ana langsung memalingkan wajahnya. Pria itu takut, Dongmin mengatakan yang sebenarnya pada Ana.
"Kenapa?" Bumi melihat mata Ana yang hanya menatap Bumi datar. Lalu mencoba lepaskan pegangan pria itu dari bahunya. Ana melewati Bumi lalu duduk di sofa. Bumi sangat kesal melihat sikap wanita itu. Dia menghampiri Ana, masih dengan tatapan tajamnya.
"Katakan padaku dari mana kau?"
"Maafkan aku, Aku makan malam bersama Dongmin." Ana menunduk, dia tidak menyangka reaksi pria itu akan semenakutkan ini.
Pria itu mempresentasikan ketakutannya dengan amarah. Dia takut akan kebohongan yang dia tutupi terbongkar. Itu membuatnya semakin posesif pada Ana, dia takut, Ana pergi meninggalkannya. Sedangkan Ana yang tidak tahu alasannya, merasa terkekang dengan sikap Bumi.
"Kenapa kau tidak memberitahuku terlebih dahulu? Kau bahkan tidak membawa ponselmu. Apa kau sengaja? Kau tidak ingin diganggu huh?" Bumi menatap Ana penuh amarah wajahnya terlihat memerah.
Ana berdiri menghadap pria itu, dia mendongakkan wajahnya dan menatap Bumi lekat.
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan..."
"Yang kupikirkan? Bukankah kenyataannya jika kau menyukai pria itu huh?" Bumi makin menatap Ana tajam.
"Bum... Kumohon, aku sedang tidak ingin berdebat."
Ana memalingkan wajahnya lalu berjalan berbalik dari Bumi, tapi tangan pria itu dengan sigap menariknya kembali mengahadapnya dan merangkul pinggang Ana.
Keduanya kini berhempitan tak ada celah, nafas Ana berderu dan jantungnya berdegup kencang. Bumi masih menatap wanita itu tajam, lagi-lagi dia mendekatkan wajahnya kearah Ana. Perlahan wanita itu menutup matanya, menunggu bibir itu menyentuh bibirnya.
__ADS_1
Akhirnya, bibir Bumi menyentuh miliknya. Nafas pria itu terdengar tersenggal-senggal. Amarah dicampur dengan hasrat yang menggebu membuatnya semakin larut dalam ciumannya.
Ana meletakkan tangannya di pipi pria itu, sedangkan kedua tangan Bumi merangkul pinggang Ana dengan erat. Bumi melepaskan ciumannya, lalu mengatur nafasnya dengan baik.
"Kau milikku Ana. Jangan pernah melakukan itu lagi," Bumi langsung mencumbu Ana lagi sebelum wanita itu menjawab.
Ana mencoba melepas jeratan pria itu, Bumi yang sadar akan ketidak nyamanan Ana. Melepaskan ciuman dan pelukannya.
"Maafkan aku." Bumi mengelus anak rambut Ana, dia meraih tangan Ana dan lalu mengecupnya.
Ana menghela nafas panjang, pria itu menakutkan saat marah. Padahal dia selama ini selalu terlihat ceria dan senang menggodanya. Ana memeluk pria itu lagi, dia mencoba memeriksa apa pria itu sudah tenang. Ana rasa, amarah nya sudah mereda.
Setelah apa yang Ana lakukan, dia memang merasa bersalah. Sejujurnya, Ana tidak tahu bahwa berkomitmen itu butuh tenaga se ekstra ini, bukan hanya sekedar kau pasanganku dan aku pasanganmu. Melainkan sesuatu yang harus dijaga mulai dari kepercayaan dan komunikasi yang lancar.
Ini kali pertamanya Ana menjalin hubungan, wajar jika dia masih belum tahu apa yang harus dia lakukan. Setelah kejadian ini, Ana berjanji pada dirinya sendiri, untuk selalu terbuka pada Bumi dan tidak akan menutupi hal apapun. Kecuali masalah keluarganya.
Bumi mengelus rambut Ana. Dia merasakan kehangatan dari tubuh wanita itu. Dia merasa bersalah karena telah meluapkan emosinya pada Ana. Padahal itu semua hanya karena ketakutannya tentang apa yang dia tutupi terbongkar.
"Kau sudah makan malam?" Ana mendongakan kepalanya sambil tersenyum.
"Baiklah, Kau tidak mau pulang?" Tanya Ana.
"Kau mengusirku?" Bumi mengernyitkan dahinya.
"Tidak, Jika kau mau pulang aku tidak akan membiarkannya." Ana tersenyum. Bumi langsung memeluk wanita itu lagi.
Rupanya Dongmin belum mengatakan apapun. Bumi membatin.
*
*
Saat Dongmin pulang, pria itu melihat mobil Bumi terparkir disana. Dia yakin, pria itu ada di apartemen Ana.
"Dia pasti takut aku mengatakannya." Dongmin mengangkat sebelah alisnya, lalu membuka pintu mobil dan mengendarainya.
Selama perjalanan, pria itu mengingat-ingat perbincangannya dengan Ana tadi. Wanita itu, akhirnya dengan gamblang jujur pada Dongmin. Bahwa dia sudah mencintai Bumi. Ana meminta agar Dongmin tidak menunggunya, dia juga mengatakan pada Dongmin untuk tidak menyakiti dirinya sendiri dengan menunggu Ana yang tidak pasti akan kembali padanya.
__ADS_1
Hati wanita itu, sudah benar-benar milik Bumi. Dongmin yang tahu rahasia Bumi, sangat geram mendengarnya. Tapi.... dia tidak ingin membuat Ana kecewa, dengan mengatakan hal yang sebenarnya pada wanita itu. Dia tidak mau merusak kebahagiaan orang yang dia sayangi.
Dongmin juga bercerita soal perjodohannya dengan Yeri, Ana terlihat mengerti perasaanya. Dongmin senang, karena dia bisa mencurahkan isi hatinya pada Ana. Perjodohan konyolnya bersama Yeri adalah hal yang paling mengerikan menurutnya.
Bukan karena wanita itu tidak cantik, Yeri sangatlah cantik. Tapi, wanita itu memang bukan tipe idealnya. Dia akan sebisa mungkin mencari cara agar perjodohan itu dibatalkan.
"ck.. Kenapa wanita selalu mencintai pria yang salah?"
Dongmin memutar bola matanya kesal, malam itu dia melajukan mobilnya lebih cepat. Setelah sampai dirumahnya, dia bertemu ayahnya diluar rumah. Rupanya Lee Rojun sedang menunggu Dongmin pulang.
Tiba-tiba saja pria itu menampar pipi Dongmin dengan kasar.
"Kau masih mengaharapkan wanita murahan itu hah?" tanyanya pada Dongmin. Yang ayahnya maksud adalah Ana.
"Jangan bicara sembarangan!!!!" Dongmin terlihat geram, dia mengepalkan tangannya.
"DASAR BODOH!!! BISA-BISANYA KAU DIPERMAINKAN WANITA SEPERTI ITU !" Lee Rojun menatap Dongmin tajam, pria itu kembali memukul Dongmin.
"SETELAH APA YANG KAU LIHAT ? KAU MASIH MENYUKAI NYA?"
Entah darimana Lee Rojun tahu soal itu. Tapi yang pasti, satu-satunya sumber Informasi yang mengetahui kejadian hari itu hanyalah Yeri. Wanita itu pasti mengadu pada Lee Ro Jun tentang pertengkaran Bumi dan Dongmin di malam acara KIK Otomotif.
"Kau tidak perlu ikut campur!" Dongmin lalu menggigit bibir bawahnya untuk menahan amarah yang meluap.
"ANAK BRENGSEKKK !!!!" Lee Ro jun memukul Dongmin dengan kepalannya yang kuat, Dongmin lalu tersungkur ke mobilnya. Sehingga membuat alarm mobil itu berbunyi.
Mendengar kebisingan itu, Ibunya dan Minhyun keluar untuk menghampiri mereka. Ibu Dongmin terkejut melihat anaknya tersungkur dan terluka dibagian sudut bibirnya.
"Aku tidak mau tinggal disini lagi!!!!" Dongmin berteriak.
"Pergilah!!!!! Jangan pernah kembali !" Jawab Lee Ro Jun dengan penuh amarah.
"Ayah sudahlah.." Minhyun menghampiri Lee Ro Jun, sedangkan Ibu Dongmin menangisi anaknya yang terluka.
...****************...
...****************...
__ADS_1