MENIKAHI ADIK MANTAN

MENIKAHI ADIK MANTAN
Bab 116 : Perjalanan ke pantai


__ADS_3

Kali ini, Ana lah yang menunggu Bumi selesai. Mereka seperti sedang bermain, jadi saling menunggu seperti itu. Tidak lama Bumi keluar dari sana, dia menoleh ke arah Ana yang sudah menunggunya di dapur.


"Cantik," katanya sambil menyeringai. Kemudian dia pergi ke kamar Anastasia, dilihatlah lemari Ana, sayangnya hanya ada kaos saja disana.


"Ugh aku harus pakai apa," katanya bingung.


Sambil mengenakan handuk di bagian bawah tubuhnya, Bumi meraih ponsel yang ada di nakas tempat tidur Anastasia. Entah lah, kemungkinan dia lupa menggeletakannya disana.


Pria itupun langsung menelepon Johan untuk mengantarkan mobil ke apartemen Ana juga beberapa setel pakaian untuknya. Johan pun mengiyakan permintaan bosnya dan segera akan kesana.


Bumi mengenakan kaos oblong warna putih dan bawahan yang semalam. Pria itu langsung keluar dari kamar dan menemui Ana.


Ana mengerutkan dahi saat melihat Bumi mengenakan pakaian seadanya itu, "tidak ada pakaian lain" ujar pria itu.


"Kita tunggu Johan sembari sarapan ya," kata Bumi mendekat ke arah wanita itu dan duduk di meja makan.


Bumi langsung menyerahkan sandwich milik Ana, dan dia juga meraih miliknya. "Terimakasih," imbuh Ana sambil mengambil makanan itu dari piringnya.


Bumi hanya menyeringai, kemudian mereka melahap makanan itu bersama. Ana terlihat murung, pasti ada banyak hal yang dia pikirkan. Bumi pun meraih tangan wanita itu, "jangan bersedih" ujarnya.


"Bagaimana jika anak itu memang anakmu Bum? Aku tidak bisa bayangkan betapa merasa bersalahnya aku padanya nanti," Ana menatap pria itu dengan dalam.


Bumi pun mendengus pelan, dia juga tahu resikonya. Jika anak itu memang anak kandungnya, dia pasti akan merasa sangat bersalah karena telah meragukan bayi itu.


Bumi tidak menjawab sepatah katapun, pria itu hanya beraut wajah sedih lalu kembali melahap sarapan buatannya sendiri. Setelah selesai, keduanya pun kembali ke ruang tamu untuk menunggu Johan datang.


Seperti biasa, Bumi memainkan rambut Anastasia dengan lembut. Dia terus menatap wanita itu, seolah tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Ana. "Kau tidak bisa bayangkan betapa aku sangat mencintaimu." kata Bumi sembari menatap Ana lekat.


Wanita itupun menoleh ke arahnya, dia menyeringai tipis ke arah Bumi. "Akupun sama, tapi keadaannya tidak semulus yang ku pikirkan. Entahlah apa aku bisa bertahan lebih jauh, yang pasti batasku hanya sampai tes DNA itu di lakukan. Semuanya tergantung hasil dari tes itu." Ana menunduk, perasaannya campur aduk. Rasa bahagia juga cemas ada di dalam hatinya.


Tidak lama, suara bel pun berbunyi, Bumi langsung beranjak dan membuka pintu. Benar saja, itu adalah Johan yang menyerahkan kunci mobil dan satu setelan tuxedo milik Bumi.


"Sisa pakaiannya sudah ada dimobil pak," imbuh Johan, lalu di balas anggukan.

__ADS_1


"Terimakasih, kau boleh kembali ke kantor!" seru Bumi pada pria itu.


Johan pun mengangguk dan melenggang pergi, sedangkan Bumi membawa setelan tuxedo nya dan berjalan ke kamar Ana. Dia segera mengganti pakaiannya dengan itu.



Pria itupun langsung keluar dan berjalan bak model catwalk. Dia mencoba menghibur Ana dengan itu dan usahanya pun berhasil. Pria itu membuat Ana tertawa kecil. Dia pun segera menghampiri wanita itu dan mengulurkan tangannya. "mari" katanya sambil membantu Ana berdiri.


Bukannya langsung pergi, Bumi malah memeluk Ana dengan erat. "Aku menyayangimu." katanya lagi. Entah sudah berapa kali pria itu mengatakan betapa cinta dan sayangnya dia pada Anastasia.


Tapi, respon wanita itu tetap sama. Dia masih belum tahu harus bagaimana, untuk saat ini dia hanya akan menghabiskan waktu bersama pria itu saja. Dia tidak ingin memikirkan hal lain lagi, karena bisa saja ini adalah kesempatan terakhirnya untuk bersama pria itu.


Ana pun membalas pelukan Bumi yang hangat, wanita itu tertawa kecil dan mendangah ke arah pria itu yang kini menunduk menatapnya. "Berikan aku ciuman sebelum pergi." Bumi memajukan mulutnya seperti bebek, dia hanya ingin menggoda Ana.


Tapi, tidak disangka wanita itu benar mengecup bibirnya dengan cepat. Bumi pun membelalak, dia menatap Ana dengan lekat, sedangkan wanita itu kini sudah tersipu malu. Bumi tertawa kecil lalu mendekatkan bibirnya ke arah bibir Ana.


Cup..


Satu kecupan lagi mendarat, mereka sama-sama memejamkan matanya dan menikmati ciuman itu. Ini efek rasa rindu yang tak tertahankan selama satu bulan lamanya. Mereka bak dimabuk asmara, setelah pertengkaran yang menguras tenaga beberapa waktu lalu, kini cinta mereka seperti semakin membara bahkan terasa lebih bergairah.


"Baiklah, mari kita berangkat!" Bumi menggenggam tangan Ana dengan erat, mereka keluar dari apartemen dan segera masuk kedalam mobil yang sudah tersedia.


"Aku merasa silau," Bumi menoleh ke arah Ana.


"Maksudmu?" Ana terlihat keheranan.


"Aku silau dengan kecantikanmu" pria itupun tertawa terbahak, Pipi Ana langsung memerah, dia berusaha menahan untuk tidak tertawa keras.



"Godaanmu tidak akan mempan padaku," Ana menyilangkan tangannya di dada.


"Benarkah? Tapi yang ini pasti mempan." Bumi mengecup pipi wanita itu dengan cepat.

__ADS_1


"Bum!" Ana menoleh ke arah Bumi yang kini menyeringai, dia hanya menggeleng lalu memasang sabuk pengamannya.


Mereka kini mulai berkendara untuk ke pantai, "Kita akan ke Villa ku disana," Bumi menoleh ke arah Ana, dia berharap wanita itu tidak protes dan yeah, Ana sama sekali tidak keberatan.


"Tepat di pinggir pantai," lanjut pria itu.


"Disana ada beberapa penjaga juga jadi kita akan aman." katanya sambil sesekali menoleh ke arah Ana.


"Baiklah," jawab Ana singkat.



Wanita itu kemudian menoleh ke arah Bumi, "sejujurnya, kau terlalu ekstra dengan setelan tuxedomu. Kita hanya akan ke pantai," Ana menggelengkan kepala.


"Walaupun aku sudah tidak menjadi Pimpinan KIK aku harus tetap tampil all out di depan publik." Bumi menyeringai tipis sembari terus fokus pada kemudinya.


"Ah baiklah, tapi itu sangat menunjukan betapa jauhnya jarak usia kita," kata Ana bercanda.


Bumi menoleh dengan sinis, "heyyy! Jarak usia? Jika aku memakai pakaian biasa aku pasti akan di anggap adikmu oleh orang-orang!" sahut Bumi sembari mengerucutkan bibirnya.


"Maksudmu? Wajahku lebih tua darimu? Turunkan aku sekarang, disini." Ana mendengus kesal.


"Hahahah, tidak-tidak aku hanya bercanda. Tentu saja kau yang paling imut, cantik dan segalanya." kata Bumi hiperbola.


"Cih berlebihan!" kata Ana mencibir.


Pria itu hanya menyeringai melihat wanitanya sudah kembali ceria seperti dulu, dia merasa sangat bahagia.


"Aku ingin makan es krim," kata Ana sembari menoleh ke arah Bumi.


"Tentu saja, kita akan membeli itu nanti!" jawab Bumi sambil tersenyum.


...****************...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2