
AMERIKA, JAM 07.00 PAGI...
Bumi terbangun dari tidurnya, kepalanya terasa berat dan juga pusing. Tapi ada sesuatu yang lebih aneh, tangannya juga terasa berat. Dilihatnya dengan samar-samar, ada sosok wanita di sampingnya.
Bumi pun mengerjap terkejut, "Astaga" kata Bumi.
Bella yang ada di sampingnya pun langsung melotot bangun, dia kebingungan. "ada apa Bum? kau mengejutkanku saja!" maki Bella.
Bumii menghela nafas panjang setelah tahu kalau itu adalah mantan kekasihnya.
"Aku kira tadi... kau hantu." Kata Bumi, ada-ada saja pria itu. Bumi pun mengelus dadanya. Tapi dia agak tercengang melihat mereka di satu ranjang yang sama.
"Kenapa kau di sini?" Tanya bumi pada Bella.
"Kau tidak ingat? Kau mabuk berat dan menyusahkanku! Lagipula, ini apartemenku! Aku yang membawamu kesini! "Bella memaki Bumi dengan kesal, kemudian dia bangun dari tidurnya dan melangkahkan kaki keluar kamar.
Bumi yang masih merasa pengar, langsung duduk dan bersandar di ranjang. Dia memegang kepalanya yang sebelah kanan, rasanya Dia terserang migrain.
Kenapa aku jadi mabuk berat seperti ini sih?
Dia pun langsung mencari-cari ponselnya, dilihatnya ponsel itu berada di bawah bantal yang dia tiduri. Bumi langsung meraih ponsel itu.
Betapa terkejutnya dia, ketika melihat bahwa dia mendapat panggilan tak terjawab yang banyak sekali dari ibunya. Bumi pun langsung menelepon balik ibunya, sambil memegang kepalanya dia menunggu panggilan itu tersambung.
Setelah panggilannya tersambung, Bumi pun langsung menyapa ibunya seolah tidak terjadi apa-apa.
"Halo Bu, selamat pagi." katanya sambil bernada manja.
"Bumi... Jawab yang jujur! Jika kau berbohong Ibu tidak akan pernah memaafkanmu!" Kata Ibunya serius.
Bumi membelalak mendengar perkataan ibunya, "maksud ibu apa? Apa yang ingin ibu tanyakan?" Tanya Bumi, pria itu mengernyitkan dahi bingung.
Dia tidak tahu kalau Ibunya sudah mengetahui tentang kehamilan Bella. " Jawab ya atau tidak, Apa kau menghamili orang lain?" Tanya ibu Bumi langsung pada intinya.
Bumi membelalak, dia terkejut tidak menyangka. Bagaimana mungkin Ibunya bisa tahu soal kehamilan Bella.
"Hehe Apa maksud ibu? Ibu sedang bercanda ya? Ibu tahu aku tidak pernah melakukan apapun pada Anastasia Bu." Bumi mencoba bersikap tenang.
__ADS_1
" Bukan Ana, yang ibu maksud. Tapi wanita lain, apa benar Bum? Kau berselingkuh dari Ana?" Ibu Bumi terdengar kesal, walau anaknya belum menjawab tapi bukti yang dia lihat sudah cukup membuktikan.
Bumi mencoba menjawabnya dengan tenang, dia menghela nafas.
"Ibu Tenanglah aku akan menjelaskannya, tapi aku mohon untuk saat ini jangan memberitahu siapapun dulu." pinta Bumi pada ibunya.
Kepalanya yang pengar kini semakin menjadi-jadi. Bella masuk ke kamarnya membawakan Bumi segelas air dan juga sarapan. Dengan nampan ditangannya dia masuk ke kamar secara perlahan.
Saat melihat Bumi sedang dalam panggilan, Bella dengan sengaja menyapa pria itu.
"Lihatlah, Appa mu sudah bangun." Kata Bella sambil menyeringai, wanita itu berjalan membawa makananya ke arah Bumi.
Sedangkan pria itu menatap Bella tajam, ibunya yang mendengar suara Bella langsung terkejut sampai menutup mulutnya.
"Bum jawab ibu! itu suara siapa?" Ibunya semakin geram karena merasa Bumi bertele-tele dalam menjawab pertanyaannya.
"I-itu temanku." Jawab Bumi gelagapan.
"Bu, sudah dulu ya. Aku akan menelepon Ibu nanti, dah." Bumi menyeringai lalu menutup panggilan dengan ibunya.
Bumi meninggalkan ibunya dengan tanda tanya besar, pria itu benar-benar membuat ibunya pusing. Dia memang sama pusingnya, dia tidak habis pikir darimana ibunya tahu soal kehamilan itu? Apakah ibunya menyewa mata-mata? pikirnya. Dia merasa menyesal, mungkin jika dia jujur sejak awal, ini tidak akan begitu sulit.
"Aku tidak sengaja, aku hanya ingin menyapa ayah bayi ini. Ayo Bum, sarapan dulu." Bella mendekat, Bumi berjalan ke arah Bella dia mengibaskan nampan berisikan makanan yang dibawa Bella.
Trang
Suara nampan itu mengadu dengan lantai, makanan yang di bawa Bella berhamburan di lantai. Bahkan gelas itu pun pecah. Bella menutup matanya, dia ketakutan melihat Bumi semarah itu.
"Kau selalu membuatku seperti ini, kau menganggap aku budak cintamu kan? Sehingga kau dengan mudahnya mempermainkanku?" Bumi menunjuk Bella yang masih membelalak.
"Aku tidak menganggapmu begitu Bum!" Bella mengernyitkan dahinya.
"Halah omong kosong!" Tiba-tiba saja rasa pengarnya kembali menyerang. Bumi langsung keluar dari kamar itu lalu meraih kunci mobilnya. Rupanya semalam salah seorang pegawai Bar mengantarkan mobilnya.
Bumi dengan kesal keluar dari apartemen Bella, pria itu merasa geram. Dia masuk kedalam lift lalu bersandar disana. Ponselnya berdering, menandakan ada pesan masuk.
Dari : Ibu Ana
__ADS_1
[Foto]
Bumi membuka foto itu, dia melotot ketika melihat Anastasia sedang duduk di sebuah taman bersama seorang pria. Dia kemudian memperbesar gambar dibagian pria itu.
"Dongmin?" Gumam Bumi, emosinya yang tadi membara kini tersulut lagi. Bumi melempar ponsel barunya didalam lift.
Dia merasa kecewa, "bukan kah dia sedang di Busan? Lalu kenapa Dongmin bersamanya?" Bumi bergumam lagi, dia melihat ponselnya yang retak pada bagian layar.
Walaupun dia kesal, dia tetap meraih lagi ponselnya. Dia menggenggam ponsel itu kencang. Walaupun dia meminta Dongmin untuk menjaga Ana. Tapi, bukan berarti pria itu harus selalu disampngnya.
*
*
BUSAN, JAM 05.00 Sore...
Ana mengajak Dongmin pergi ke taman, mereka berdua sedang asyik mengobrol bersama sambil melemparkan candaan satu sama lain. Ana tersenyum melihat Dongmin, begitupun pria itu. Dia mampu membuat Ana melupakan tentang kecemasannya pada Bumi sedikit.
Ibu Ana yang juga sedang berjalan dengan ayahnya, melihat Ana bersama Dongmin. Wanita itu menatap mereka sinis dari kejauhan. Ibu Ana secara diam-diam mengambil foto Ana dan juga Dongmin. Dia lalu dengan sengaja mengirimnya kepada Bumi.
"Biarkan saja mereka putus! biar saja si Bumi itu tahu." Kata ibu Ana sambil menaikkan sudut bibirnya ketus.
Dongmin sedang mendorong ayunan yang diduduk Ana, "Dongmin pelan-pelan!" kata Ana sambil tertawa kecil.
"Baiklah, maafkan aku." Dongmin mengayunkannya dengan pelan.
Ana dan Dongmin bermain disana sampai satu jam lamanya. Kadang, mereka juga sambil bertukar pengalaman masa kecil mereka. Dongmin mengajak Ana untuk makan malam diluar hari ini, tapi Ana menyarankan agar Dongmin saja yang ikut makan malam bersama keluarganya.
Akhirnya, walaupun dengan ragu. Dongmin mengiyakan ajakan Ana. Setelah itu mereka pun kembali ke rumah neneknya. Dongmin mengeluarkan sesuatu untuk Ana. Itu adalah sebuah kalung dengan liontin kucing.
"Ah lucu sekali," Ana menatap kalung itu.
"Itu untukmu," Kata Dongmin.
Ana dengan ragu ingin menolak, dia tidak bisa menerima pemberian Dongmin begitu saja.
...****************...
__ADS_1
...****************...