
Amerika, Jam 09.30 Malam,
Bella mengemudi dengan kecepatan normal, dengan perut buncit dia akan menyusul Bumi ke Bar.
Dia mendengus pelan, "Sedang apa dia disana?" gumamnya.
Bella merasa kesal pada pria itu, bukannya berisitirahat seperti yang dia sampaikan padanya. Bumi malah ke bar untuk minum-minum.
"Apakah dia tidak sadar bahwa dia sebentar lagi akan menjadi seorang ayah?" Bella memukul stir mobilnya, emosinya meronta-ronta ingin dikeluarkan.
"Sekalipun ini bukan anaknya, tapi !!!!! Arghhh." Bella bergerutu kesal.
Tiiiiiiiiiin.
Klakson mendadak dari mobil yang akan keluar dari kiri, Bella menginjak rem dengan cepat.
"Sialan! " Pekiknya pada pengendara itu, pria yang tadi didalam mobil langsung menurunkan kaca mobilnya lalu mengeluarkan jari tengah pada Bella.
Bella semakin geram, dia berkendara dengan cepat. Dia ingin segera menemui Bumi di Bar useless. Setelah berkendara sekitar 30 menit, Bella sampai di bar itu, dia langsung menemui para penjaga itu. Tapi, penjaga bar melarangnya masuk karena dia tengah berbadan dua.
Bela tetap memaksa masuk dia mengatakan bahwa bartender meneleponnya untuk menjemput seseorang.
"Izinkan aku masuk, aku harus membawa seseorang!" Pekiknya kesal.
"Tidak bisa nyonya, ini terlalu berbahay untukmu." Kata para penjaga itu sambil menyeringai.
"Persetan! Cepat konfirmasi sendiri pada Bartender disana!" Bell menunjuk ke arah dalam.
Setelah dikonfirmasi oleh penjaganya langsung, barulah dia dibiarkan masuk ke bar itu. Bella dengan mata tajam berjalan masuk untuk mencari seseorang yang dia kenali. Dengan kemeja salur yang dia pakai, pria itu tertunduk sambil menelungkupkan wajahnya di meja bar.
Bella dengan agak kesal menghampiri pria itu.
"Bum, Apa yang kau lakukan di sini?" Bumi menoleh ke arah Bella dengan mata yang sayu dan juga khas orang mabuk.
"Halo." Sapanya sambil menyeringai.
__ADS_1
"Halo katamu! Ayo cepat pulang, ini sudah jam berapa sudah larut malam Bum!!" Bella menarik lengan bumi dengan agak kasar, tapi pria itu tetap tidak bergeming.
Dia masih duduk di sana dan malah mengibaskan tangan Bela dengan kasar.
"Ini semua karenamu, jika saja saat itu kau menerima lamaranku pasti aku tidak akan mengalami ini." Ujar bumi pada Bela sambil memutar bola matanya dan memalingkan wajahnya ke arah kiri .
Bella dengan kebingungan tidak mengerti apa yang dikatakan bumi.
Apa maksudnya mengatakan hal itu.
Bella membatin, lalu dia menoleh ke arah Bumi dengan serius.
"Kalau begitu aku terima lamaranmu, mari kita menikah dan merawat anak ini bersama." Bella masih menatap bumi dengan serius dan agak lama.
Tapi bumi tiba-tiba saja tertawa kecil, "ck .. untuk apa aku menikah denganmu sekarang? Perasaanku sudah bukan untukmu lagi ! Kau yang membuatku seperti ini ! Kau membuatku merasakan hal sesakit ini ! aku tidak ingin menyakiti orang yang aku cintai dan aku tidak ingin membuat wanita yang ku sayangi kecewa Bella! " Bumi menatap wanita itu tajam.
Bartender didepannya melihat mereka berdua berdebat, bahkan orang disampingnya pun. Bella menoleh ke arah orang-orang itu, sekarang dia merasa malu.
Dia memicingkan matanya tajam pada Bumi, dia masih tidak mengerti siapa yang dimaksud oleh bumi, Apakah Ana?
"Ya benar! orang yang kucintai adalah Anastasia! Adikmu! Bukan kah itu yang kau mau? Kau mau aku mencintainya dan menikahinya!" Mata Bumi terlihat memerah, air matanya seperti tertahan disana.
"Aku tidak memintamu mencintainya!!" Bella menekankan suaranya, Bumi tertawa lagi menanggapi jawaban Bella.
"Sudahlah Sudahlah bum Ayo kita pulang! Kita lanjutkan pembicaraan ini di rumah, lagi pula kau sedang mabuk berat dan Lihat kondisiku, Aku sedang hamil besar. Apa kau tega melihatku seperti ini?" Bella menatap Bumi, lalu menoleh ke arah Bartender tadi untuk meminta bantuannya membopong Bumi.
Bumi dengan kondisi setengah sadar terdiam, Bella membantunya berdiri. Bumi pun menuruti keinginan wanita itu untuk pulang. Bella dibantu oleh bartender membopong Bumi ke mobilnya, lalu merebahkan pria itu di kursi belakang.
Bella segera duduk di kursi pengemudi dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan normal. Dia mengingat perkataan bumi tadi, ada rasa bersalah dan sesal di dirinya.
Bella merasa menyesal karena dia sudah menolak lamaran Bumi waktu itu dan dia merasa menyesal telah mengiyakan ide gila ibunya untuk menjadikan Ana sebagai penggantinya.
Pada akhirnya dialah sendiri yang menginginkan Bumi untuk kembali, tapi sayangnya Bumi sudah tidak mencintainya lagi, bahkan pria itu sudah tidak mengharapkan apapun darinya lagi.
__ADS_1
Bumi benar-benar sudah mencintai Anastasia itulah sebabmya dia mengalami kegalauan besar seperti hari ini. Dia meraaa bersalah padanya. Malam itu Bella membawa bumi ke apartemennya lagi bukan ke hotel di mana Bumi menginap.
*
*
Busan , 07.30 Pagi.
setelah mendapat telepon dari bartender tadi, Ana merasa gelisah karena dia memikirkan Bumi yang ada di sana. Bagaimana mungkin pria itu pergi ke bar sedangkan, dia mengatakan bahwa dirinya sedang ada urusan Bisnis.
Apa ini yang dia maksud tidak ingin diganggu apa dia ingin bersenang-senang di sana?
Ana membatin dan terus-menerus memikirkan itu, dia bahkan sampai belum sarapan karena sibuk mondar-mandir di dekat ruang tv. Ayahnya yang baru saja bangun melihat Ana yang terlihat gelisah dan kebingungan, pria itu pun menanyakan apa yang sebenarnya putrinya itu rasakan.
"Ada apa nak? sepertinya kamu sedang gelisah? Apa ada sesuatu terjadi pada Bumi?" Ayahnya menatap anaknya agak lama, karena tidak mungkin menceritakan hal yang sebenarnya, maka dari itu Ana pun berbohong pada ayahnya.
Dia menggeleng lalu tersenyum kecil, "Tidak Ayah aku hanya memikirkan tentang proyek patung bulan depan, Aku merasa gugup." Katanya sambil mendekat ke arah Ayahnya.
Ayahnya pun merubah posisinya ke duduk, Dia menepuk sofa agar Ana duduk di sampingnya. Ayah Ana memeluk putrinya dengan pelan.
"Tidak perlu merasa gugup nak, Ayah yakin kamu pasti bisa. Putri Ayah adalah seorang yang berjiwa seni tinggi. Ayah tahu Kau pasti akan berhasil membuat patung itu." kata ayahnya menyemangati.
Ana pun membalas senyuman pria itu, "Terima Kasih Ayah." Katanya, tapi hatinya tidak bisa bohong. Dia masih tidak tenang memikirkan Bumi.
Apa yang sebenarnya terjadi pada pria itu, dan kenapa pria itu tidak ingin dia ganggu? Ana mencoba untuk menelepon Bumi, tapi panggilannya tidak dijawab.
Dasar Ana bodoh, kekasihmu itu sedang mabuk berat! Bagaimana bisa dia menjawab panggilanmu!
Ana mencibir dirinya sendiri, dia merasa kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi, dia juga merasa khawatir. Dengan siapa pria itu akan pulang? Kenapa dia bisa ada di bar itu?
Pikirannya dipenuhi pertanyaan yang menghantui, Ana pun berdiri dengan kesal.
"Ayah, aku mandi dulu." Katanya sambil tersenyum palsu.
...****************...
__ADS_1
...****************...