MENIKAHI ADIK MANTAN

MENIKAHI ADIK MANTAN
Bab 19 : Lapor pak


__ADS_3

Pagi yang cerah itu, membuat suasana hati Anastasia membaik. mereka melenggang keluar dari gedung itu, tidak lupa Bumi pun membukakan pintu keluar untuk Ana, Ana berjalan lebih dulu, disusul pria itu dibelakangnya.


Ana mengenakan masker dan topi sedangkan Bumi tidak memakai apapun, dia sudah biasa menjadi sorotan perhatian para media apalagi orang-orang., Para ajudannya pun langsung menghampiri dan menjaga mereka.


"Sepertinya ada paparazzi yang mengikuti bapak kesini," ucap ajudannya pelan.


"Sudah pasti, apalagi di kantor polisi nanti, tolong jaga Anastasia jangan sampai dia bertemu dengan para wartawan, biar aku yang menemui mereka." Bumi melirik ajudannya yang membukakan pintu mobil untuk Ana.


Pria berseragam hitam itupun mengangguk, mengerti perkataan Bumi. Pria itu mengendarai mobilnya sambil menatap Ana yang sedang membuka topi juga merapikan poninya kebelakang.


"Bagaimana keadaanmu? Kau sudah membaik?" Tanya Bumi sambil sesekali melihat wanita itu.


"Sudah," Ana menoleh ke arahnya sambil tersenyum.


"Adik-adikku tidak membuat keributan kan semalam? " Bumi tertawa kecil mengingta tingkah konyol adik sepupunya, Minhyun dan Dongmin.


"Mereka selalu saja bertengkar,nsetiap kali bertemu satu sama lain selalu saja ada hal yang diperdebatkan." Ana mendengus tapi kemudian menyeringai mengingat kelucuan Dongmin dan Minhyun saat berinteraksi semalam.


"Mereka memang seperti itu, kurasa itu lebih baik dibanding tidak menyapa satu sama lain. Karena, selama ini mereka saling menyapa hanya di acara formal saja." Bumi menyeringai sambil terus fokus ke jalanan.


"Syukurlah, aku harap hubungan keduanya membaik seiring berjalannya waktu." Ana menatap lurus ke depan, wanita itu seketika melamun mengingat pernyataan Dongmin semalam.


"Disana, akan ada banyak wartawan yang menunggu. Ada rumor yang beredar mengenai kita, katanya aku berkelahi dengan pecandu alkohol karena melindungi kekasihku hahaha. Gosip tak masuk akal memang akan selalu aku hadapi." Mendengar celotehan Bumi, wanita itu merasa tidak enak. Karena dia adalah penyebab pria itu terlibat dalam hal ini.


"Kau serius? Aku tidak melihat beritanya dimana-mana," Ana menatap Bumi keheranan.


"Karena berita Lee Rojun menutupi itu," Bumi melihat Ana sesekali lalu fokus lagi menyetir.


"Aku akan menghadapi para wartawan, ajudanku akan membawa mu langsung masuk lewat pintu belakang kantor polisi. Para wartawan itu pasti akan berusaha mengorek lebih jauh tentangmu, aku tidak mau kau terganggu jadi ikutilah saranku dan jangan menolak!" Bumi tertawa kecil, dia lalu melipir ke sebuah coffee shop.


"Latte 1 , kau mau apa?" Tanya Bumi pada Ana yang duduk di sampingnya di mobil.


" Aku mau Latte juga," Jawab wanita itu singkat.


"Baiklah, aku pesan latte-nya 2 ya." Dengan senyuman manis, pria itu mengambil uang lembaran di dompetnya.m dan meletakkan itu lagi sembarang.


"Apa anda ingin yang lain?" Tanya pegawai itu.


"Kau mau yang lain?" Bumi melempar pertanyaannya pada Ana , wanita itupun menggeleng dan menolak.


"Tidak ada," Kata Bumi singkat.


"Baiklah tunggu sebentar.."


Tak lama, kopi pesanan mereka pun datang dan di raihlah oleh Bumi, pria itu mengestafetkan kopi itu pada Anastasia.


"Terimakasih" Bumi menaruh kopi itu disampingnya, lalu menutup jendela mobil dan kembali menyetir, Ana juga membuka kopi panasnya. Ternyata dia memberikan itu untuk Bumi.


"Terimakasih Ana," Bumi menyeringai pria itu menoleh ke arah Ana yang kini meraih kopi bagiannya.

__ADS_1


Sesaat suasana sangat hening, hanya ada suara seruputan kopi yang berdengung di dalam mobil. Ana sesekali melihat ke arah jendela untuk menatap pemandangan di luar.


"Aku baik padamu bukan berarti aku menyukaimu," Bumi memecah keheningan mereka, Ana langsung membelalak mendengar pernyataan aneh itu.


"Aku tidak memikirkan itu, kau tidak perlu menjelaskannya." Ana melirik pria itu sambil meminum kopi nya, ada rasa kesal di dadanya sedikit. Lagipula, siapa yang mengharapkan itu darinya? Tidak ada!


"Hahaha, maaf aku hanya bercanda. Aku tahu, kau menyukai sepupuku Dongmin kan?" Pria itu kini terasa seperti menginterogasi Anastasia.


Wanita itu tidak menjawab, dia berpura-pura tidak mendengarkan Bumi. Dia malas sekali jika harus membahas soal cinta, suka dan hal yang seperti itu. Jelas, dia kesana bukan untuk itu. Tapi, sejujurmya memang sulit bagi Ana untuk tidak jatuh cinta pada salah satu dari mereka.



Sesampainya di kantor polisi, Bumi menurunkan Anastasia di belakang kantor. Sedangkan dia kembali masuk ke jalan depan kantor polisi. Itu dia lakukan agar wartawan terfokus padanya dan bukan pada Anastasia. Pria itu, cukup dewasa untuk menyembunyikan Ana agar dia merasa nyaman.


"Sudah kuduga, mereka menungguku." Para wartawan langsung mendesak mobil Bumi yang sudah terparkir, pria itu menghela nafas panjang sambil keluar dari mobil.


Untungnya, para pengacara yang menangani kasusnya sudah lebih dulu sampai. Sehingga mereka bisa menghalau para wartawan.


"Apakah wanita itu tidak bersamamu?"


"Apa benar dia adalah kekasihmu?"


"Kami mendengar dari rekaman yang beredar kau menyebutkan bahwa dia kekasihmu? Apa itu benar pak Bumi?"


Bumi agak membelalak soal pernyataan rekaman itu, dia bahkan tidak mengerti apa maksud mereka. Pertanyaan bertubi-tubi yang dia dapatkan membuat pria itu kelimpungan. Tapi, dia memilih untuk tidak menjawab satu pun dari pertanyaan itu.


Dia belum mendengar tentang itu, dia melirik pengacaranya.


"Maaf, Pak Bumi sedang tidak bisa berkomentar apa-apa untuk saat ini, beliau harus menyelesaikan masalah ini terlebih dahulu, sampai jumpa." Kata pengacaranya, sedangkan Bumi melenggang masuk ke dalam kantor polisi.


Bumi melihat Ana yang sedang bersama polisi, dia dan pengacaranya berdiri dibalik kaca yang tembus ke dalam ruangan.


"Aku pulang dari pusat kota lalu menaiki bus di jam 9 malam, bus itu hanya berisi beberapa orang saja. setelah kurang lebih satu jam aku berada di dalam bus itu, aku akhirnya di turunkan di sekitar perusahaan pak Bumi, yaitu KIK Otomotif." Ana menjabarkan dengan lugas, walau masih agak terbata-bata karena dia harus mengorek lagi lukanya itu. Tapi, akhirnya dia berhasil memberikan keterangan pada polisi secara rinci.


Setelah 30 menit berlalu, Ana lega karena dia sudah menjelaskannya secara rinci. Bumi pun tersenyum dibalik kaca itu.


"Urus semuanya," Bumi menepuk pundak pengacaranya.


"Ya tentu, aku akan memberitahu jadwal sidangnya nanti." Jawab pengacaranya. Ana pun keluar dari ruangan itu dan Bumi langsung menghampirinya sambil tersenyum.


"Kerja bagus!" Bumi tersenyum, dia melihat mimik wanita itu yang seperti sedih. Ana menghela nafas panjang tanpa sepatah katapun.


"Sekarang kita pergi ke rumah sakit, tunggu aku di pintu belakang.!" Bumi langsung keluar dari kantor polisi. Dia mengabaikan para wartawan yang masih memaksanya untuk menjelaskan. Sedangkan Ana dan ajudannya menunggu di pintu belakang.


Tidak lama mobil Bumi datang,


"Ayo naik" Bumi menurunkan kaca jendelanya, Ajudan itu membukakan pintu untuk Ana, wanita itupun langsung duduk di kursi depan tepatnya di samping Bumi.


Ana yang sedang fokus pada jalanan kemudian mendapatkan pesan dari seseorang, ponselnya pun berdering.

__ADS_1


Ting


^^^Dari : Dongmin^^^


^^^Bagaimana? Sudah selesai?^^^


Ana menyunggingkan senyuman di wajahnya saat mendapat pesan itu, dia pun buru-buru membalas pesan Dongmin.


^^^Dari : Ana^^^


^^^Sudah, semuanya berjalan baik...^^^


Bumi melirik Ana yang terfokus pada ponselnya, disisi lain Dongmin sedang melakukan tugas-tugas dihari magang pertamanya.



...(Gambaran Lee Dongmin sata magang)...


Ting


Ponsel wanita itu berdering lagi.


^^^Dari : Dongmin^^^


^^^Mampirlah ke kantor, aku ingin melihatmu hehe^^^


Dongmin tersenyum sambil mengetik pesannya, sama hal nya dengan Anastasia. Dia pun tersenyum, pipinya memerah bak kepiting rebus.


"Ada apa?" Tanya Bumi penasaran melihat wanita itu mesem-mesem tidak jelas.


"Tidak apa-apa pak." Pipi Ana masih memerah, Bumi memutar bola matanya saat dia mendengar kata 'pak' . Memangnya dia setua itu? Pikirnya.


^^^Dari : Ana^^^


^^^Tentu, sebelum itu aku harus ke Psikiater dulu.^^^


...RUMAH SAKIT...


Ana dan Bumi masuk ke rumah sakit, lalu menunggu sebentar sampai nama wanita itu di panggil. Tak lama hal itupun terjadi, kemudian mereka masuk ke ruangan dokter bak suami istri yang.


"Selamat pagi nyonya Ana, selamat pagi Pak Bumi." Dokter itu menjabat tangan mereka.


"Pagi," ujar mereka bersamaan.


"Silahkan duduk!" seru dokter itu.


Bumi dan Ana pun duduk dihadapannya.


...****************...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2