
"Jadi kamu belum jawab pertanyaanku, kemarin," mendadak shock dan segala macam dampak dari pelecehan yang Kiki alami lenyap seketika, dia melirik Diandra yang duduk di sampingnya membawa mobil milik sang suami.
"Apa lagi sih Ki? apa?" Diandra melirik sekilas, wajahnya mendadak kesal, dia tau ke mana arah bicara Kiki, bukankah kemarin dia menanyakan suatu hal kepadanya? sesuatu yang bagi Diandra begitu privasi dan cukup Diandra dan Gavin yang tahu.
Senyum Kiki merekah, dia bersandar dengan santai di mobil, menatap Diandra yang entah mengapa di mata Kiki sekarang jadi lebih dan makin dewasa.
"Apa yang membuatmu berubah pikiran?" tanya Kiki to the point.
"Kemarin kamu mati-matian pokoknya mau cerai dari suamimu, sekarang kayaknya bukan cuma Dokter Gavin yang bucin sama kamu, kamu sendiri aku lihat juga begitu," ucap Kiki.
Kiki kenal betul dengan Diandra, tentu dia tahu betul perubahan-perubahan dan bagaimana Diandra ketika tengah jatuh cinta dan Kiki melihat itu pada Diandra sekarang, secepat itu dia jatuh hati pada rivalnya sejak pre-klinik? ajian apa yang Dokter Gavin gunakan sampai-sampai gadis keras kepala macam Diandra bisa bertekuk lutut?
Senyum Diandra merekah sebuah senyum manis yang membuat hati Kiki berbunga-bunga, jadi betul Diandra sudah jatuh cinta pada sosok Dokter Gavin Narendra Putra, bukan main!
"Kamu benar Ki," desis Diandra sebelum Kiki kembali bersuara.
Alis Kiki berkerut, dia nampak begitu antusias menyimak apa yang hendak Diandra katakan, pasti sebuah rahasia dibalik mesranya Diandra bersama dosen itu, sebuah hal yang membuat Diandra lantas pasrah menyerahkan diri, agaknya bagaimana panasnya momen pertama kali Diandra kemarin? ah... Kiki ketinggalan rupanya.
"Benar untuk?" Kiki masih mencoba memancing, untung jarak rumah Dokter Gavin dengan kosnya agak jauh jadi bisa puas Kiki mengorek rahasia syahdu mereka berdua.
"Benar dalam hal apa nih?" tanya Kiki lagi.
"Soal sisi lain, dia benar-benar punya sisi lain, tepat seperti apa yang kamu katakan kemarin, Ki" jawab Diandra.
Kiki kontan nyengir lebar, dasar Diandra, dia memang keras kepala kalau tidak dia mungkin sekarang masih lajang, tapi karena dia keras kepala segala nasehat Kiki perihal jangan suka asal ngomong sama sekali tidak dia gubris, semua kebiasaannya lantas yang membuat Diandra harus pasrah dinikahi sosok Gavin Narendra Putra.
"Dan kau jatuh cinta pada sisi lain Dokter Gavin, iya?" tebak Kiki yang sebenarnya sudah tahu jawabannya tanpa harus bertanya.
Diandra mengangguk, senyum itu belum mau lepas dari wajahnya, Gavin memang manis sangat manis sekali terlebih ketika mereka tengah berdua saja, bagaimana mata itu menatapnya dengan sangat lembut dan hangat bagaimana tangan Gavin begitu lembut menyentuh dan mencengkram tangan Diandra, jangan lupa bagaimana Gavin... ah! jangan memikirkan itu untuk saat ini Dian, jangan!
__ADS_1
"Ya Aku berusaha membohongi dan memaksa diriku untuk tidak terperdaya, sayangnya pesona sisi lain itu begitu kuat," jelas Diandra dengan senyum merekah, benar kata orang kita tidak boleh terlalu membenci seseorang benar juga yang orang bilang kalau benci dan cinta itu beda tipis.
Kiki kembali tertawa kecil.
"Ku bilang apa? gitu aja kemarin mati-matian mau minta cerai sekarang apa heh?" ucap Kiki.
Kini Diandra tertawa terbahak. Mau bagaimana lagi, Gavin memang tidak bisa dilewatkan begitu saja, pesonanya benar-benar luar biasa dan Diandra sekarang merasa beruntung bisa menjadi pemilik lelaki itu seutuhnya.
"Hmmm Dian, cerita dong pengalaman malam pertama kalian asik nggak?" tanya Kiki yang begitu antusias ingin tahu bagaimana sosok judes semacam Gavin lantas bisa meluluhkan dan membobol Diandra, bertolak belakang dengan apa yang selama ini orang-orang lihat pada keduanya kan?
Biasanya saling debat, adu urat, eh sekarang adu keringat, bagaimana orang tidak penasaran?
Bukannya menjawab Diandra malah tertawa terbahak-bahak, tertawa cukup keras yang kontan membuat kebiasaan Kiki kambuh, dia menepuk keras-keras lengan Diandra, terkejut dan heran kenapa Diandra malah tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaannya.
"Heh? Aku serius tanyanya Dian," Kiki nampak gemas sementara Diandra mati-matian berusaha menghentikan tawanya.
Kiki langsung mencebik, melipat tangan di dada.
"Kalau nggak serius pengen tahu, kenapa aku tanya sih Dian?" ucap Kiki.
Tawa Diandra terhenti, dia menginjak pedal rem perlahan-lahan berhenti tepat di belakang garis putih, Diandra menoleh menatap Kiki yang masih nampak begitu penasaran.
"Absurd banget Ki, sumpah aku nggak bohong," tentu ingatan Diandra kembali pada bagaimana malam-malam absurd yang harus dia dan Gavin jalani di rumah mertua, bagaimana Gavin berkali-kali gagal menyentuh Diandra dan bagaimana mereka ke gep tengah berciuman oleh Mira.
"Hah?" tentu Kiki melongo.
"Absurd gimana sih Dian? Dokter Gavin kaku banget yah atau gimana?" tanya Kiki.
Diandra kembali terkekeh, menginjak pedal gas perlahan ketika lampu berubah hijau, apakah hanya mereka yang mengalami malam absurd pasca menikah? atau banyak pasangan yang mengalami hal yang sama?
__ADS_1
"Bukan itu, intinya nggak seindah yang orang-orang bayangin, malah bikin ngakak terus," ucap Diandra.
Memang begitu, Diandra saja masih suka terbahak-bahak kalau ingat betapa jelek wajah suaminya ketika Sisil menggedor pintu kamar di saat pertempuran mereka tinggal di depan mata, bagaimana malunya ketika Mira memergoki mereka tengah menautkan bibir satu sama lain, semuanya benar-benar kocak, gila dan memalukan!
"Terus gimana? memangnya kalian kenapa?" Kiki makin penasaran setengah mati, intinya dia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Jadi pas nginep di rumah mertua dulu..."
########
Gavin terus membawa motor itu mengikuti mobilnya, Diandra cukup lihai menyetir rupanya buktinya mobil sebesar itu tidak nampak sekalipun dia kaku, Gavin tersenyum terus memacu motor itu agar berjarak tidak terlalu jauh di belakang mobil kesayangannya.
Tentang apa yang dialami Kiki, Gavin jadi khawatir kalau hal serupa dialami oleh sang istri, agaknya setelah ini dia akan larang Diandra membawa motor seorang diri, tidak masalah sih, orang mobil di rumah tidak hanya satu!
"Ketemu orang model begitu aku patahin tangannya, lihat saja nanti!" desis Gavin geram.
Apa coba yang ada di dalam pikiran orang macam itu, ah mungkin mereka ada kelainan yang membuat mereka merasa puas dan nikmat ketika melakukan pelecehan itu terhadap lawan jenis.
Ranah kejiwaan ini bukan ranah bedah.
Apapun itu keberadaan orang-orang macam itu memang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan, pasti ada saja orang yang memiliki perilaku menyimpang macam itu.
"Kalau sampai istriku yang kau lecehkan, patah beneran tangan kau," ucap Gavin lagi.
Gavin masih teringat bagaimana Kiki shock dan ketakutan tadi membuatnya bertekad bahwa jangan sampai Diandra mengalami hal yang sama.
Gavin menghela nafas panjang, jangankan di lecehkan atau sampai di perkosa, ada orang yang terlalu lama menatap istrinya saja Gavin tidak rela!
Diandra miliknya apapun itu dari ujung rambut sampai ujung kaki, tidak akan Gavin biarkan ada lelaki yang bisa sembarangan menyentuh tubuh istrinya, tidak kecuali untuk kepentingan medis, hanya itu!!!
__ADS_1