
"Khas banget kamar cewek," ucap Gavin.
Sebuah komentar yang keluar dari mulut Gavin begitu dia masuk ke dalam kamar kos itu, kamar yang selama ini jadi saksi betapa Diandra berjuang cukup keras untuk bisa lulus dari Fakultas Kedokteran.
"Kan yang tidur di sini cewek emang harus gimana?" Diandra menoleh, dia sudah mengepak barangnya dalam kardus koper jadi mereka hanya tinggal membawanya ke bawah dan memasukkan ke dalam mobil.
"Ya nggak sih! nggak ada masalah," Gavin tersenyum langsung peka dengan membawa satu dus yang cukup besar itu dalam gendongannya.
"Apa ini isinya?" tanya Gavin, cukup berat sih bagi Gavin tentu bagi Diandra yang mungil itu kardus ini akan terasa sangat berat.
"Buku-buku aku Mas semua di sana!" jawab Diandra yang nampak masih meneliti sudut-sudut meja.
Pantas!
Gavin tidak lagi banyak berkata-kata, segera membawa kardus besar itu keluar dari kamar dan menuruni anak tangga, dia sudah izin ibu kos kok, ibu kos juga sudah tahu apa status Gavin saat ini, jadi tentu dia tidak akan dimarahi karena sudah masuk ke dalam rumah kost milik wanita lima puluh lima tahun itu.
Gavin segera membawa kardus itu turun, memasukkan kardus itu ke dalam bagasi mobil dan bergegas kembali naik guna menyusul sang istri, senyum Gavin tersungging ketika melihat Diandra nampak mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan, tentu berat bagi gadis itu untuk pergi tiga setengah tahun dia tinggal di sini dan sekarang dia harus pindah ikut suami.
Kamar itu memang nampak begitu nyaman, mungkin efek dari si pemilik juga yang bisa membuat kamar itu begitu cozy.
__ADS_1
"Maaf ya harus bikin kamu keluar dari kamar ini," ucap Gavin.
Bisa Gavin lihat Diandra nampak terkejut, menoleh dan tersenyum simpul dengan mata sedikit memerah.
"Agak berat juga rasanya pindah dari sini ya?" Diandra tersenyum, dia menyeret satu koper yang cukup besar, menaruhnya di tumpukan kardus yang sudah dia siapkan di dekat pintu.
"I see... bagi cowok sih mungkin nggak akan terlalu berat rasanya kalau cewek mungkin rasanya lain," Gavin menatap tumpukan kardus sementara Diandra sudah berdiri di depan sang suami, sebuah hal yang entah mengapa malah menimbulkan ide lain di kepala Gavin.
"Memang," Diandra kembali meraih kopernya.
"Yuk pergi seka...," dia menoleh, mengangkat wajah menatap Gavin yang tiba-tiba mencekal tangan dan menghentikan langkahnya yang hendak keluar dari kamar.
"Kenapa?" tentu itu yang Diandra tanyakan, terlebih Gavin lantas menutup dan mengunci pintu kamar, sebuah tindakan yang makin membuat kecurigaan Diandra semakin menjadi-jadi.
"Nggak pengen bikin kesan tak terlupakan di kamar ini, Dian?" tanya Gavin dengan senyum merekah.
Diandra langsung paham dengan apa maksud yang dilontarkan suaminya, baru beberapa hari menikah sudah membuat Diandra mengerti dan peka dengan modus-modus macam ini, dia menghela nafas panjang menatap gemas ke arah sang suami yang masih nyengir lebar itu.
"Please Mas kemarin kita udah kayak orang minum obat sehari tiga kali jadi kali ini nggak..."
__ADS_1
"Sehari sepuluh kali pun nggak apa-apa kok kalau kuat," Gavin segera memeluk tubuh itu, mendekap erat-erat sambil menjatuhkan kecupan di puncak kepala sang istri.
"Salah sendiri kenapa kamu senangih itu, Dian," bisiknya lalu mulai menyusuri leher Diandra, membuat Diandra kontan meremang dengan aksi dadakan sang suami.
"Ya tapi nggak di sini kan..."
"Sssttttt, nggak ada waktu lagi jadi tolong jangan terlalu banyak mendebat," Gavin memutar tubuh itu, mengangkat dagu Diandra dan mencium bibir nya dengan begitu lembut.
Bukan salah Gavin kalau dia seperti ini semua karena Diandra, Gavin sama sekali tidak bisa menahan diri ketika hanya berdua dengan Diandra di tempat yang sesempit ini dan yang Gavin tahu hanyalah dia harus segera menuntaskan semua ini, melampiaskan semua gairah yang mulai membakarnya.
Gavin membawa tubuh yang kini sudah tidak lagi berkutik itu ke ranjang merebahkan tubuh itu ke atas ranjang, cukup mudah bagi Gavin membuka kain yang menutupi tubuh Diandra, hanya tinggal menyingkap, menarik turun dan apa yang membuat Gavin 'gila' sudah otomatis tersaji di depan mata.
Gavin masih tidak mengerti kenapa sekarang dia bisa segila ini padahal dulu dia sangat membenci Diandra!
"Sekali saja please!" rintih suara lembut itu ketika Gavin menarik kain miliknya perlahan-lahan.
"Aku nggak bisa janji, yang jelas cukup kooperatif dan nikmati, oke?" ucap Gavin.
Mata mereka bertemu, saling tatap beberapa waktu hingga kemudian Gavin menundukkan wajahnya kembali mencium bibir itu dan menyesapnya dengan begitu lembut.
__ADS_1