
"Eh, apaan sih Mas!" Diandra setengah berteriak ketika Gavin lantas menariknya masuk ke dalam rumah.
"Nurutin mau kamu," Gavin mempererat genggaman tangannya, menarik sang istri masuk dan naik ke lantai atas.
Mata Diandra membulat jangan bilang kalau...
"Lepas ih! aku nggak mau," Diandra mencoba berontak, urusan sama om-om mesum itu ternyata bahaya juga rupanya.
"Nggak ada nggak mau! kamu yang mulai kok sekarang tanggung jawab," Gavin terus menarik istrinya naik ke lantai atas, sudah cukup dia berkeringat dan memanas sepanjang perjalanan tadi dan sekarang dia ingin melampiaskan semuanya.
"Ya tapi kan... aduh Mas! lepas!" Diandra hanya iseng tadi, gemas saja memainkan milik Gavin yang entah mengapa rasanya akan menjadi sebuah hobby baru Diandra setelah dia menikah.
"Nggak ada tapi! pokoknya sekarang tanggung jawab, oke?" Gavin membuka pintu kamar membawa istrinya masuk dan mengunci pintu kamar rapat-rapat.
Diandra lantas memucat, dari wajahnya Gavin tidak nampak main-main, dia bahkan langsung membuka bajunya di depan Diandra, membuat Diandra menelan saliva membayangkan apa yang akan terjadi padanya setelah ini.
"Kamu tahu dibuat bangun doang tanpa dikasih penyelesaian itu bikin sakit kepala sayang dan sekarang bantu aku ngilangin sakit kepalaku, oke?" kini tubuh itu sudah polos sementara Diandra melangkah mundur menjauhi suaminya.
"Ada ibuprofen, Paracetamol Mas, tentu Mas sudah hafal berapa saja dosisnya bukan?" Diandra mencoba berkelit, dia hanya gemas memainkan milik Gavin tidak berniat hendak mengajaknya bercinta.
Gavin mendelik, menatap istrinya dengan tatapan gemas, tanpa ba...bi...bu Gavin mendorong tubuh itu hingga jatuh ke atas ranjang, dia menindih Diandra yang nampak hendak melawan.
"Mas udah dong kan tadi udah," apakah semua laki-laki yang baru saja menikah akan seperti ini atau hanya Gavin saja?
"Nggak bisa! udah terlanjur bangun," Gavin mulai membuka pakaian Diandra, tidak peduli sang istri menolak cukup sentuh di beberapa titik tubuhnya dan bisa Gavin pastikan Diandra akan bertekuk lutut.
Diandra tidak lagi melawan tangannya sudah dikunci, mulutnya dibungkam dan Gavin benar-benar tidak pernah main-main dengan apa yang dia katakan.
"Dian, sumpah kamu nagih banget sayang," ucap Gavin.
#########
Kiki menatap bayangan dirinya di cermin dia sedang berusaha melupakan semua kejadian buruk yang menimpanya tadi, bagaimana lelaki misterius yang tidak dia kenal menyentuh benda kenyal miliknya dengan begitu kurang ajar.
__ADS_1
Tapi segala macam rasa shock dan marah yang menderanya mendadak lenyap mengingat bagaimana serunya dia mengobrol dengan sahabatnya tadi, siapa lagi kalau bukan Diandra?
"Namanya juga pasangan absurd! astaga!" kembali Kiki terkekeh, bisa-bisanya kepergok ibu mertua? bisa-bisanya juga senjata tinggal masuk beberapa cm tapi gagal? agaknya itu hanya dialami oleh pasangan somplak Gavin dan Diandra.
Kiki menjatuhkan diri di tepi ranjang, tiba-tiba dia jadi membayangkan bagaimana kalau dia nikah nanti, apakah akan se absurd pasangan itu? atau malah begitu manis?
"Ah! kenapa malah mikir itu, kenapa nggak mikirin calonnya," nampak Kiki berpikir keras.
"Kira-kira bisa dapat spesialis macam Diandra nggak yah? atau setidaknya Dokter residen? atau..." Kiki merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Ah! memang ada yang mau?" tawa Kiki pecah dia sudah hampir melupakan kejadian buruk tadi, semua itu karena Diandra, mendadak dia kembali membayangkan momen di mana Diandra ke gep ibu mertua, kira-kira apakah besok ibu mertua Kiki se frekuensi dengan ibu mertua Diandra?
########
Gavin tersenyum penuh kemenangan ketika miliknya sudah keluar memenuhi inti tubuh sang istri, nampak wajah itu memerah bersimbah peluh, sebuah pemandangan yang sangat indah di mata Gavin, begitu menggemaskan dan cantik luar biasa.
"See? lain kali jangan macam-macam sama suamimu ini sayang," desis Gavin sambil menjatuhkan ciuman mesra di bibir Diandra.
Gavin segera bangkit menarik miliknya pelan-pelan dari dalam sana, menjatuhkan diri di samping sang istri yang nampak tengah menetralkan nafas, Diandra menggebuk lengan suaminya dengan gemas, mesum sekali ternyata lelaki cuek satu ini.
"Suka banget main kasar sih sayang?" Gavin terkekeh, gebukan itu sebenarnya tidak terasa sakit walau meninggalkan rasa panas di bekas gebukan di lengannya.
"Bodo amat," Diandra memiringkan badannya membelakang Gavin yang nampak cengar-cengir penuh kemenangan setelah kembali berhasil menaklukkan Diandra, tangan kekar itu nampak kembali merengkuh tubuh Diandra memeluknya erat-erat.
Diandra menggeliat.
"Mas... lepas!" Diandra bergumam sambil berusaha melepaskan pelukan tangan itu, bisa gawat kalau Gavin terus-menerus menempel seperti ini.
"Apaan sih! nyaman banget lo kayak gini serius!" Gavin bergeming terus memeluk tubuh itu tidak peduli Diandra memberontak terus-menerus.
"Iya tapi gerah banget ini Mas," Diandra terus berusaha melepaskan diri.
"Lengket banget rasanya badan mau mandi," ucap Diandra lagi.
__ADS_1
Gavin membelalak, dia kontan bangkit menarik tubuh Diandra dengan begitu lembut, Diandra nampak terkejut luar biasa menatap Gavin dengan tatapan tidak mengerti.
"Kenapa lagi sih Mas?" Diandra mencebik, dia masih nampak begitu lemas.
"Katanya mau mandi, ayo" mata Gavin nampak berbinar, senyumnya merekah, hal yang membuat Diandra lantas meraih bantal dan melempar bantal itu tepat ke wajah Gavin.
"Mesum aja ini. Astaga!" Diandra berteriak gemas melepaskan tangan Gavin lalu menarik selimut dan menutupi tubuhnya yang masih polos bersimbah peluh.
Gavin mendengus.
"Kok aku lagi yang kena? kan tadi kamu sendiri tadi yang bilang kalau mau mandi sayang," Gavin meletakkan bantal itu kembali ke tempatnya, untungnya cuma bantal yang dilempar sang istri kalau lampu tidur bisa bocor kepala Gavin nanti.
"Kalau sama Mas mah nanti ganti agenda, nggak jadi mandi," Diandra memejamkan mata, agaknya untuk saat ini lebih aman menutupi seluruh tubuh dengan selimut dan berlaga galak di depan Gavin.
"Tetap mandi sayang, kita bakalan tetap mandi tapi sambil a..."
"Nggak mau!" potong Diandra setengah berteriak.
"Pokoknya hari ini sudah cukup, nggak ada nambah," ucap Diandra lagi.
Gavin menghela nafas panjang, senyumnya merekah menahan tawa yang siap pecah dia kembali merebahkan tubuhnya di sisi Diandra, masuk ke dalam selimut dan memeluk tubuh itu sekali lagi.
"Massss," Diandra menggeliat, macam orang yang benar-benar antipati dengan sosok Gavin.
"Astaga Dian cuma peluk aja ini serius deh!" Gavin terkekeh, jangan salahkan Gavin kalau tiap berdekatan dengan Diandra, Gavin bawaannya selalu ingin memacu dan meneguk habis nikmat tubuh itu terus, Gavin sudah begitu ketergantungan dan itu semua karena Diandra.
Diandra tidak menjawab mencoba memejamkan mata dan mengabaikan Gavin yang begitu posesif memeluknya, dia bisa merasakan hembusan nafas itu membelai leher dan bahunya yang terbuka.
Diandra tidak mengerti kenapa dia tidak pernah bisa menolak pesona lelaki ini? kenapa dia selalu kalah dan tidak berdaya jika berhadapan dengan Gavin?
"Dian program kembar besok mau kan? dua kali dua jadi empat, mau kan?" ucap Gavin.
Mata Diandra yang sudah hampir terpejam itu sontak membelalak terkejut dengan begitu luar biasa, dengan apa yang dia dengar barusan.
__ADS_1
"Apa!"