
Diandra menatap nanar lelaki yang tengah tersenyum lebar ke arahnya itu, nampak gigi putih dan rapi dirinya terlihat begitu indah berpadu dengan senyumannya. Apa tadi dia bilang? seret? Ah... sedetik kemudian Diandra menyesal sudah menyentuh dan menarik tangan lelaki menyebalkan ini! Diandra bergidik, segera lari masuk ke dalam lift begitu pintu lift terbuka. Gavin melangkah masuk, berdiri tepat di sisi Diandra dengan jarak yang begitu dekat, membuat perpaduan aroma lavender, jeruk dan lemon kembali memanjakan indra penciuman Diandra.
Diandra sendiri heran, parfum apa yang lelaki ini pakai? kenapa baunya bisa seenak ini? mungkin kalau tidak ilfeel setengah mati dengan si pemakai parfum, Diandra ingin berada terus di dekatnya. Tapi masalahnya tiap dekat dengan Gavin, kepala Diandra bisa dipastikan auto pusing!!! tidak peduli seenak ini bau parfum yang menguar dari tubuhnya.
Tidak ada percakapan yang terjadi sampai kemudian pintu lift kembali terbuka, secepat kilat Diandra melangkah keluar, berjalan sedikit tergesa diantara beberapa orang yang menunggu antrian periksa. Tidak terdengarnya suara langkah kaki di belakang Diandra membuat dia sontak menoleh, mendapati Gavin masih berdiri di depan pintu lift yang kini sudah tertutup kembali.
"Dok,, ayo ngapain sih masih disitu?" Diandra setengah berteriak ke arah Gavin, membuat beberapa pasien yang sedang duduk menanti antrian menoleh ke arahnya.
Gavin tidak menjawab,, dia mengangkat tangan kanannya sambil menaikkan kedua alis. Diandra melongo, kenapa bisa makin absurd begini sih si bujang lapuk itu? tidak mau menjadi tontonan dan banyak membuang waktu,, Diandra segera menghampiri Gavin, menarik tangannya dengan sedikit kasar dan menyeretnya menuju ruangan praktik sang Papa.
"Nah gitu dong! kan tadi saya udah minta!!!" ucap lelaki itu dengan begitu santai.
Diandra mengumpat di dalam hati. Wajahnya memerah ketika menyadari beberapa pasien yang duduk di sana nampak memperhatikan mereka. Sungguh ini sangat memalukan sekali, bagaimana bisa lelaki hampir umur empat puluh tahun bertingkah macam bocah begini sih?
Diandra terus melangkah, hingga tiba di pintu yang ada identitas sama Papa menempel di tembok yang berada tepat disisi pintu, Diandra segera melepaskan tangan itu, mengetuk pintu dengan sedikit lembut lalu menekan knop.
Pintu berbuka nampak sang Papa melongo ke arahnya,, membuat Diandra lantas melangkahkan kaki hendak masuk ke dalam. Belum ada satu langkah Diandra masuk, tangan itu mencekal nya, membuat Diandra refleks menoleh menatap Gavin yang kembali menyodorkan tangannya.
Diandra kembali melongo dengan tatapan nanar,,, sementara Gavin? dia tersenyum lebar sambil menaikkan kedua alisnya.
"Lagi dong!" ucap Gavin sambil tersenyum manis.
#################
__ADS_1
Darmawan tengah membaca undangan simposium ketika pintu ruangannya diketuk, dia menatap pintu yang lantas terbuka mendapat anak gadisnya muncul dari sana, senyum Darmawan merekah, pasti Diandra datang bersama Gavin kan? jujur dia sudah tidak sabar hendak bertemu dengan kekasih Diandra itu.
Alis Darmawan berkerut ketika Diandra tidak kunjung masuk dan nampak menoleh ke belakang,, apa yang mereka lakukan memangnya? namun hal tersebut tidaklah lama karena beberapa saat kemudian Diandra masuk ke dalam sambil menarik seseorang yang langsung mencuri perhatian Darmawan begitu wajah itu muncul dan terlihat oleh matanya.
"Selamat siang Prof," sapa sosok itu lalu mengulurkan tangannya yang terlepas dari tangan Diandra.
Darmawan sontak berdiri menyambut uluran tangan itu dengan senyum yang sama manisnya.
"Siang nak Gavin,, jam berapa sampai?" tanya Darmawan.
"Baru saja Prof, dari bandara ke rumah, kemudian langsung kemari," jawab lelaki yang di mata Darmawan tidak nampak kalau dia sudah berumur tiga puluh enam tahun.
"Kita langsung turun lagi aja yah,, sekalian makan siang," gumam Darmawan yang langsung mendapat protes dari Diandra.
"Y ampun Pa! kalau gini jadinya mending tadi kita nungguin di bawah lah," wajah itu nampak mencebik, membuat Darmawan tertawa lalu mencubit gemas pipi anak gadisnya.
Diandra tidak menjawab, dia hanya menghela nafas panjang sambil menganggukkan kepala. Darmawan tersenyum menepuk pundak Gavin lalu memberinya kode untuk mengikuti langkahnya keluar dari ruang praktik.
Setelah ini dan sampai beberapa hari ke depan akan ada banyak hal yang hendak Darmawan bicarakan dengan sosok itu mengingat permohonan apa yang dia minta pada Darmawan? hendak menikahi si bungsu kesayangan Dharmawan? tentu dia tidak boleh sembarangan memberi izin bukan?
Diandra menghela nafas panjang sambil menatap lemas punggung Papanya yang melangkah lebih dulu, tahu begini dia tidak akan naik tadi mana lelaki ini menyebalkan bukan main lagi, Diandra menoleh nampak Gavin tersenyum membuat Diandra makin gemas dan kesal kepadanya.
"Kenapa masih di sini, kita diajak turun tuh," ujar Gavin kemudian.
__ADS_1
"Dokter juga kenapa nggak langsung ikutin Papa?" balas Diandra sengit, dia tidak tahu kalau lelaki judes dan jutek macam Gavin ini bisa modus juga!!!
"Nungguin kamu gandeng lah! apa lagi?" tangan itu kembali terulur ke arahnya membuat Diandra sontak melotot tajam.
Rasanya dia ingin benar-benar ingin mencekik leher Gavin saat ini juga, demi apa!!! kerasukan setan apa sampai Gavin bisa bertingkah macam ini, sungguh Diandra tidak percaya dan sedikit takut kalau Gavin benar-benar kerasukan jin genit atau siluman duda genit.
"Dok jalan sendiri nggak bisa apa?" tolak Diandra ketika tangan Gavin tidak kunjung turun, meskipun sudah sepersekian detik diabaikan olehnya.
"Bisa!!! tapi kalau kamu gandeng jadi terasa beda Dian," jawabnya santai tanpa menurunkan tangan.
Kembali mata Diandra membulat, fix!!! Gavin nampaknya benar-benar kerasukan!!! Diandra hendak lari, namun tangan yang sejak tadi terulur ke arahnya itu dengan cepat dan sigap mencekal lengannya.
"Apaan sih Dok? kita ditungguin Papa," Diandra mencoba menggunakan sang Papa untuk alasan,, kali aja siluman yang merasuki Gavin takut dan keluar dari tubuh Gavin namun agaknya tidak.
"Nggak mau gandeng saya nih?" tanya Gavin begitu santai.
"Nggak!!!" teriak Diandra sambil mencoba melepaskan lengannya.
"Oke!!!" Gavin senyum.
"Kalau begitu biar saya yang gandeng kamu!!! sini!!!" tangan yang tadi mencekal lengannya kini berubah meraih telapak tangan Diandra,, mencengkram telapak tangan itu erat lalu membawanya melangkah keluar.
Ingin rasanya Diandra berteriak,,, namun dia sadar situasi dan kondisi serta tempat di mana mereka berada tidak mendukung, akhirnya dia pasrah saja ditarik Gavin keluar dari ruangan sang Papa, melangkah melewati banyak orang yang duduk di ruang tunggu periksa.
__ADS_1
Sekali lagi wajah Diandra memerah, belasan pasang mata itu menatap ke arah mereka dan di dekat lift nampak sang Papa yang tengah mengobrol dengan rekan sejawatnya juga menoleh dan menatap mereka dengan seksama.
Diandra memejamkan mata sambil mendengus kesal, kenapa makin lama kelakuan bujang lapuk ini makin tidak terduga?