
"Mas tunggu!" Diandra pasrah saja ditarik Gavin kembali naik, tapi dia begitu penasaran dengan Profesor Rian, dia benar-benar tidak pernah mendengar nama itu jadi tidak ada salahnya dia penasaran dan ingin tahu perihal sosok itu bukan?
"Apa sih? mau ribut lagi sama Tati? udah ah aku nggak mau mood kamu jadi jelek terus, aku lagi nanti yang kena!" Gavin terus menapaki anak tangga, buru-buru membawa Diandra masuk begitu sampai di kamar.
Ribut lagi sama Tati? apakah tidak ada hal lain yang lebih berguna dan bermanfaat yang bisa Diandra lakukan selain ribut dengan gadis itu?
"Bukan itu," Diandra mengoreksi, siapa juga yang mau ribut terus-terusan sama gadis nggak jelas itu, tentu Diandra ogah!
"Lantas?" alis Gavin berkerut menatap sang istri dengan seksama.
"Cuma mau tanya Profesor Rian itu siapa? namanya asing aku belum pernah dengar," ucap Diandra.
Mendengar itu tawa Gavin sontak pecah, dia tertawa terbahak-bahak membuat Diandra mencebik dan yakin bahwa ada sesuatu yang Gavin sembunyikan.
"Kenapa ketawa?" Diandra menjatuhkan diri di kasur masih menantikan jawaban atas rasa penasaran akan sosok Profesor Rian.
"Iya karena sebenarnya Profesor Rian itu nggak ada sayang, itu cuma alasan biar kita bisa balik hari ini," jawab Gavin.
Mata Diandra membulat, jadi benar dugaannya, benar bahwa Gavin hanya berbohong perihal telepon dari Profesor Rian itu.
Tawa Gavin kembali pecah melihat bagaimana wajah itu begitu terkejut mendengar pengakuan darinya, sementara tangan Diandra melayang menimpuki lengan Gavin dengan gemas, membuat tawa Gavin makin menjadi-jadi.
"Dasar kenapa pakai bohong sih Mas?" tentu Diandra tidak paham kenapa Gavin harus bohong.
Gavin menarik kursi duduk di kursi berhadapan dengan Diandra yang nampak masih tidak mengerti.
"Yang pertama nih aku nggak mau kamu bad mood terus di sini karena ribut melulu sama Tati, jadi kita harus cepat pulang," Gavin menjelaskan dengan wajah begitu serius sementara Diandra dia menyimak sambil menganggukan kepala, dia cocok dan setuju dengan alasan ini.
__ADS_1
"Lalu yang kedua," Gavin nampak berhenti sejenak.
"Aku nggak kuat gagal terus mau gituan sama kamu sayang, jadi aku mau bawa kamu pulang dan balas dendam tiga kali gagal menaklukkan kamu," ucap Gavin lagi.
Mata Diandra sontak melotot, kenapa alasan kedua jadi begitu horor, tiga kali gagal Diandra tahu betul itu, jangan bilang nanti kalau mereka sudah sampai rumah Gavin akan...
"Jangan harap kamu bisa lepas nanti, jadi bersiap-siaplah," Gavin berbisik tepat di telinga Diandra, bangkit dari kursi lantas meraih koper dan meletakkan koper-koper itu di atas kasur.
Diandra tertegun, koper itu miliknya satu lagi milik Gavin, nampak Gavin mulai menyusun barang-barang ke dalam koper itu, terlihat Gavin sangat antusias untuk segera bisa pulang ke rumah.
"Kenapa cuma diam? pengen di sini terus ribut tiap hari sama Tati, iya?" tanya Gavin.
Diandra tersentak bibirnya mencebik.
Ribut tiap hari dengan gadis itu? gila apa! lama-lama bisa Diandra cekik gadis itu sampai kehabisan nafas, dia lantas bangkit mengeluarkan beberapa bajunya yang berantakan lalu melipat dan menyusun baju-baju itu dengan rapi di dalam koper.
Ah sial!
Bayangan tubuh Diandra yang begitu menggoda itu kembali terngiang dalam pikiran Gavin, kulit Diandra putih bersih dengan tubuh mungil, pinggang ramping dan dia benda kenyalnya...
"Tidak Vin, jangan," Gavin mengingatkan dirinya sendiri, tentu dia tidak ingin kembali terbakar gairahnya sendiri, berkali-kali gagal justru membuat dia trauma, intinya dia tidak akan memulai kalau tidak di rumahnya sendiri.
"Mas nanti bantuin ambil barang-barang di kost yah," Diandra masih sibuk mengemasi barang-barangnya, wajahnya nampak begitu serius dan menggemaskan membuat Gavin begitu betah menikmati pemandangan di depannya.
Gavin bergeming, seulas senyum terukir di wajahnya, kenapa dia baru sadar kalau Diandra sebenarnya begitu cantik dan menggemaskan, dulu di mata Gavin seperti kuman, rasanya Gavin ingin mengenyahkan Diandra jauh-jauh dari depan matanya, tapi kali ini rasanya Gavin sama sekali tidak ingin pergi dan terus menikmati wajah itu dari dekat.
"Mas," ucap Diandra.
__ADS_1
Gavin sampai tersentak ketika Diandra memekik dengan bibir mengerucut menatap Gavin dengan sudut mata kesal dan wajah cemberut, Gavin menghela nafas panjang memejamkan mata sejenak lalu kembali menatap mata itu dalam-dalam.
"Dian, suami kamu ini belum budek, bisa nggak agak pelan gitu kalau manggil, sayang?" heran Gavin bisa melengking begini istrinya kalau berteriak, macam toa bakul tahu bulat yang sering lewat di depan rumah, makanan Diandra ini apa sih? dahsyat banget suaranya.
"Mas sih, kenapa aku ngomong nggak didengerin?" protes Diandra yang sejak tadi tidak mendapatkan respon dari permintaan yang diajukan pada Gavin.
"Mas denger sayang, Mas dengar kamu tadi ngomong minta diantar ke kos buat ambil barang-barang kamu kan? Mas dengar semua sayangku," Gavin dengan lembut sabar menjelaskan, Gavin dengar semua permintaan itu tetapi wajah cantik Diandra membiusnya hingga dia seperti tidak rela mensia-siakan sedetik waktu saja untuk menikmati wajah itu.
"Kenapa diam aja?" Diandra masih nampak tidak terima membuat Gavin gemas.
Gavin tidak menjawab, menarik dagu Diandra lalu meraup bibir yang sejak tadi cemberut, mencium bibir itu tanpa ampun dan mengulumnya dengan penuh gairah, bibir itu benar-benar luar biasa gila! dia sudah membakar Gavin dengan begitu sempurna.
Gavin terus mencium bibir itu tanpa ampun terlebih Diandra tidak berkutik dan malah mengalungkan dua tangannya ke leher Gavin menekan kepalanya agar Diandra lebih mudah dan leluasa membalas serangan itu, tubuh Gavin bergetar hebat rasanya dia sudah tidak sanggup namun terus dia tanamkan dan ingat betul dalam dirinya bahwa rumah ini bukan tempat yang tepat untuk mereka memulai momen pertama kali dalam seumur hidup mereka, cukup menikmati bibir seperti ini terlebih dahulu, sisanya akan Gavin tuntaskan ketika sudah sampai di rumahnya sendiri, Gavin masih begitu asik menikmati bibir sang istri ketika mendadak pintu kamar terbuka dan suara itu mengejutkan mereka.
"Vin serius kalian mau pulang sekarang?" ucap Mira.
Mira tertegun, wajahnya memanas melihat adegan di depan matanya ini, Mira lupa seharusnya dia ketuk dulu pintu kamar ini, Gavin sudah tidak lagi sendiri dan mereka baru saja menikah, baru panas-panasnya.
"Maaf Ibu nggak ketuk," ucap Mira dulu Vin, Dian.
"Ibu keluar dulu," ucap Mira.
Mira buru-buru keluar dan menutup pintu kamar itu, dia merasa berdosa dan malu sudah mengganggu momen romantis Gavin dan Diandra, Mira baru saja hendak melangkah pergi ketika Kakak Gavin mendadak muncul dan mengerutkan kening sambil menatap ke arahnya.
"Bu kenapa?"
"Ah tidak apa-ap,a," Mira hendak pergi ketika tangan Kakak Gavin mencegahnya.
__ADS_1
"Ada live streaming ya Bu? mereka lagi ngapain memangnya Bu?" tanya Kakak Gavin.