Musuhku Suamiku

Musuhku Suamiku
Kecuali jika kamu yang ingin menyudahi!!!


__ADS_3

"Dian, kau sakit?"


Hari ini mereka sudah pindah ke stase obsgyn. Kiki terkejut ketika mendapati Diandra nampak berbeda tidak seperti biasanya. Wajah itu nampak pucat, sedang PMS, kah? Dia nampak lesu dan tidak bersemangat.


"Entah, Ki. Kepala rasanya pusing." Desis Diandra yang langsung menjatuhkan diri di kursi.


Kiki ikut menjatuhkan pantatnya di kursi yang ada di sebelah Diandra. Tangannya refleks menyentuh dahi Diandra.


Memastikan dia tidak demam, meksipun caranya sebenarnya tidak boleh seperti ini. Normal, tidak terasa panas. Itu artinya normal, kan? Meskipun Kiki tidak tahu pasti berapa derajat suhu tubuh Diandra saat ini.


"Pucet banget kamu, Dian! Kamu nggak lagi hamil, kan?"


DEG!


Diandra nampak terkejut bukan main mendengar pertanyaan itu. Hamil? Spontan Diandra merogoh ponsel membuka aplikasi pemantau siklus bulanannya dan mata Diandra kontan membelalak, membuat Kiki mendekatkan wajah guna kepo apa yang membuat Diandra terkejut macam itu.


"Astaga, Dian! Kau telat sembilan minggu!" Kiki baca betul tulisan apa yang tertera di layar ponsel Diandra.


Di sana tertulis bahwa Diandra sudah terlambat datang bulan sembilan minggu. Tangan Diandra bergetar hebat. Ponsel dengan logo apel tergigit itu hampir saja jatuh meluncur ke lantai kalau saja Kiki tidak tangkap lebih dulu.


Mata Diandra memerah, dia nampak shock. Hal yang membuat Kiki lantas meraih Diandra ke dalam pelukan. Tangis Diandra pecah. Sebagai sahabat baik tentu Kiki paham apa yang membuat Diandra begitu shock.


Diandra sudah bilang ingin menunda dulu. Dia belum siap hamil selama masih harus menjalani kepanitiaan klinik dan membaca tulisan tadi. Bisa dipastikan untuk saat ini Diandra sudah berbadan dua!


"Udah dong, jangan nangis. Kita cek dulu gimana? Aku beliin testpack?" Tawar Kiki sambil menepuk bahu Diandra yang naik turun itu.


Diandra melepaskan diri dari pelukan Kiki. Wajahnya sudah banjir air mata. Diandra mengangguk sambil menyeka air mata. Membuat Kiki tersenyum lalu bangkit berdiri.


"Tunggu di sini, aku ke apotek depan dulu!


########


"Vin!"


Langkah Gavin sontak terhenti. Suara itu... Gavin menghela napas panjang. Mati-matian Gavin menghindar agar tidak harus bertemu dengan wanita ini, kenapa sekarang malah mereka seperti sengaja dipertemukan di koridor ini?

__ADS_1


Gavin mengangkat wajah. Sosok itu sudah sangat berbeda sekali dari sosok yang dulu Gavin kenal! Kulit Rachel bisa seputih itu? Tidak heran sih, teknologi kecantikan zaman sekarang bukan mustahil untuk siapapun merubah tone kulit mereka. Dan hidung itu... Masih Gavin ingat betul Rachel tidak memiliki hidung semancung ini! Apakah dia operasi plastik? Atau hanya filler? Entah Gavin tidak tahu dan tidak peduli.


"Aku nggak nyangka kita ketemu di sini." Desis sosok itu sambil tersenyum manis.


Gavin mendesah panjang.


"Aku malah sama sekali tidak berharap kita ketemu lagi, Rachel!" Balas Gavin dengan sedikit pedas.


Nampak wajah itu terkejut. Menampakkan sebuah gurat kesedihan di wajah putih mulus macam tak berpori-pori. Tapi apa peduli Gavin? Dulu wajah itu selalu berhasil membuat Gavin luluh dan kalang kabut hendak melakukan apapun asal wajah itu bisa kembali tersenyum, tapi sekarang? Dia siapa sampai-sampai Gavin harus melakukan hal itu untuknya?


"Kau masih belum bisa memaafkan aku, Vin?" Suara itu bergetar, membuat Gavin jujur makin muak.


"Aku sudah maafkan, tapi sudah aku tekankan berkali-kali kalau aku tidak semudah itu melupakan." Tegas Gavin dingin.


Nampak Rachel mengangguk, tersenyum getir sambil menyeka air matanya yang menitik.


"Aku paham, Vin! Aku yang salah." Ujarnya lirih.


"Aku yang udah bikin semua mimpi-mimpi kita han..."


"Aku nyesel banget, Vin! Sungguh itu adalah kesalahan terbodoh yang pernah aku lakukan seumur hidup!"


##########


"Kita nggak satu wahana nggak apa-apa ya?"


Gavin mendesah, dia mengangguk pelan. Habis mau bagaimana lagi? Memilih wahana internship bukan perkara mudah, telebih untuk Dokter berdarah 'kotor' macam mereka ini.


"Nggak apa-apa, asal komunikasi kita masih bisa jalan, Asal kita bisa jaga komitmen kita. Itu lebih dari cukup, Hel" Gavin memegang tangan itu dengan lembut. Tentu hanya itu harapan Gavin untuk hubungan mereka yang sudah hampir empat tahun berjalan.


Wajah itu tersenyum, mengangguk pelan lalu menyandarkan kepala di bahu Gavin. Gavin ikut tersenyum, berat memang rasanya. Tapi semua ini demi masa depan dan cita-cita yang selama ini sudah mereka rencanakan sedemikian rupa bersama-sama.


"Selesai internship, jadi ke rumah mau ketemu Bapak sama Ibu, kan?"


Gavin mengangguk dengan mantap. Tentu itu yang akan Gavin lalukan begitu mereka beres dengan kewajiban internship mereka. Melamar Rachel masuk jadi salah satu list dan tujuan hidup Gavin selain menjadi Dokter.

__ADS_1


"Tentu! Aku akan kesana. Minta kamu ke Bapak sama Ibu" Indah bukan rencana yang sudah mereka rancang bersama?


Bisa Gavin rasakan tangan itu melingkar di perutnya, memeluk tubuh Gavin erat- erat. Hal yang lantas membuat Gavin menjatuhkan satu kecupan penuh cinta ke puncak kepala Rachel, gadis yang sudah empat tahun ini Gavin pacari.


"Kita nanti nikah. Terus kamu duluan yang PPDS. Begitu kamu lulus nanti gantian aku!" Kembali suara itu mendesis, membuka kembali rancangan impian mereka selama ini.


"Jadi ambil spesialis kulit?" Gavin tersenyum, seberat apapun PPDS itu nanti, Gavin tetap akan mati-matian berjuang masuk ke sana.


Tidak peduli dia bukan Dokter berdarah murni, tapi dia yakin dan percaya bahwa kelak tambahan gelar di belakang namanya itu akan benar-benar bisa Gavin dapatkan!


"Tentu. Kamu jadi ambil bedah, kan?"


Gavin mengangguk. Otaknya sudah membayangkan betapa indah nanti kehidupan mereka. Berjuang bersama dari nol untuk gelar spesialis impian masing-masing. Ah! Rasanya Gavin sudah sangat tidak sabar!


"Jadi. Untuk itu aku berjuang mati-matian di FK." Jadi Dokter bedah adalah cita-cita Gavin sejak kecil. Hal yang membuat Gavin berusaha keras bagaimanapun caranya untuk bisa selalu jadi nomor satu dengan nilai akademik tertinggi.


Rachel belum beranjak dari bahu Gavin. Katanya bahu Gavin adalah tempat paling nyaman. Membuat Rachel begitu betah bersandar di bahu kekasihnya ini.


"Vin... Janji nggak macem-macem, ya!"


Tawa Gavin pecah, dia mencubit pipi yang nampak cemberut itu. Macam-macam? Gavin mau macam-macam yang seperti apa memangnya?


"Janji! Apakah selama empat tahun kita sama-sama belum bisa bikin kamu percaya, Hel?" Tanya Gavin serius Gavin bukan lelaki yang suka mempermainkan perasaan perempuan!


"Bukan gitu!" Rachel mengangkat kepalanya, menatap langsung ke dalam mata Gavin.


"Banyak yang bilang ujian internship itu berat, Vin!"


Gavin menepuk bahu Rachel dengan lembut. Matanya menatap lurus ke dalam bola mata sang kekasih.


"Trust me, Hel! Aku tidak akan pernah mengecewakan kamu. Semua impian kita akan terealisasi, kecuali...."


Alis Rachel berkerut.


"Kecuali apa?"

__ADS_1


"Kecuali jika kamu yang ingin menyudahi"


__ADS_2