
"Udah ah! ayo balik," Diandra menarik tangan sang suami yang malah terlentang pasrah di atas ranjang.
Mungkin ini pertama kalinya dalam sejarah kamar kost Putri milik Bu Rani digunakan penghuninya untuk memadu cinta, Bu Rani orang yang sangat ketat jadi tidak ada satupun orang yang berani melanggar aturan kos kalau tidak ingin diusir dari sini dan Diandra baru saja melakukan satu dari sekian banyak aturan terlarang yang Ibu kosnya terapkan.
Gavin lantas bangun duduk di tepi ranjang dengan baju yang belum dia betulkan, nampak wajah itu masih begitu payah dengan bersimbah peluh, sementara Diandra dia sudah kembali rapi dan beres membersihkan diri. Untung saja dia dalam masa tidak subur sekarang, kalau tidak Diandra mungkin akan mendapati dua garis merah di testpack yang dia gunakan.
"Jadi gini rasanya main takut ketahuan ibu kos yah? memacu adrenalin," ujar Gavin santai lalu memungut pakaian bagian bawah miliknya dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
Bibir Diandra mengerucut, dasar om-om mesum! Diandra menatap pantulan dirinya di cermin, dia sudah kembali rapi dan tidak nampak kalau habis bercinta bukan?
Diandra masih asik membantu diri di depan cermin ketika kemudian ponsel miliknya berdering, siapa lagi yang menghubungi dirinya? apakah Kiki lagi? Diandra segera meraih ponselnya dan menghela nafas ketika benar Kiki yang meneleponnya.
"Halo, kenapa Ki?" tanya Diandra yang kemudian menjatuhkan diri di atas ranjang, alis Diandra berkerut, nampak wajahnya lantas berubah panik Kiki meneleponnya sambil menangis.
"Please, Dian, bisa tolongin?"
__ADS_1
#########
Gavin membawa mobil sesuai instruksi Diandra, tentu Gavin tahu betul bagaimana istrinya itu begitu dekat dengan gadis bernama Kiki itu, gadis yang juga salah satu mahasiswi Gavin itu adalah teman baik, sahabat baik sang istri.
"Mana Kiki nya?" Gavin nampak mengedarkan pandangan mencari sosok yang beberapa saat yang lalu menelepon istrinya minta pertolongan.
"Bentar sayang!" Diandra pun nampak celingak-celinguk, wajahnya nampak begitu khawatir, begitu tegang dan tidak tenang sejak Kiki beres meneleponnya.
Mata Diandra membulat menepuk lengan sang suami sambil menunjuk di tepi jalanan tak jauh dari mereka motor Kiki terparkir dan si pemilik nampak duduk di trotoar sambil dengan wajah yang dia sandarkan di lutut.
Gavin tidak berani banyak bertanya lagi, dia segera membawa mobil mendekati motor yang sudah nampak di depan mata, begitu mobil menepi, Diandra tidak mau menunggu waktu lama lagi dia langsung melompat turun dan menghambur mendekati Kiki yang bahunya nampak naik turun.
"Kiki... are you okay?" Diandra menepuk pundak sahabatnya, hal yang membuat Kiki lantas mengangkat wajah dan menjatuhkan diri dalam pelukan Diandra.
"Dian, please aku takut banget, Dian," tangis Kiki kembali pecah tubuhnya nampak bergetar hebat hal yang membuat Diandra menatap sang suami yang sudah berdiri di depan mereka.
__ADS_1
"Bawa ke rumah aja sayang, biar motor Kiki Mas yang bawa, kamu sama Kiki bawa mobilnya gimana?" tawar Gavin yang paham membahas hal ini tidak baik jika di tepi jalan terlebih kondisi Kiki yang nampak begitu shock.
Diandra mengangguk, menepuk lembut punggung Kiki yang nampak terisak itu.
"Ke rumahku yuk, kita cerita di sana, di sini nggak aman gimana?" tawar Diandra dengan begitu lembut.
Kiki mengangguk pelan membuat Gavin lantas naik ke atas motor matic milik Kiki dan langsung mengenakan helmnya.
"Motor kamu saya bawa Ki, kamu balik sama Diandra yah?" ucap Gavin.
Mendengar itu Kiki melepaskan diri dari pelukan Diandra, nampak dia mengangguk pelan sambil menyeka air mata.
"Masuk buruan! aku ikutin dari belakang, Dian!" titah yang membuat Diandra segera bangkit dan membantu Kiki berdiri.
Nampak Kiki begitu payah membuat Diandra iba dan makin geram dengan apa yang terjadi pada Kiki beberapa saat yang lalu, Diandra segera masuk ke sisi lain mobil menghidupkan mesin mobil dan membawa mobil milik Gavin pergi dari tempat itu, nampak dari spion mobil Gavin benar-benar mengikuti mereka dari belakang hal yang entah mengapa membuat hati Diandra terasa begitu aman, Diandra menoleh ke arah Kiki yang masih nampak shock itu, satu tangannya menepuk lembut pundak Kiki, sama sekali tidak menyangka bahwa sahabatnya harus mengalami hal seperti ini.
__ADS_1
"Ki udah dong! jangan nangis," kenapa rasanya sakit mendengar dan melihat Kiki seperti ini.