Musuhku Suamiku

Musuhku Suamiku
Laki-laki sejati nggak main kasar sama wanita!!


__ADS_3

Bayangan di cermin itu tidak mau berubah, Diandra masih tertegun setengah tidak percaya dengan cermin yang ada di hadapannya ini, wajahnya sudah berubah total dia sampai tidak bisa mengenali dirinya sendiri, benar itu dia? bau bunga melati pun semerbak memenuhi ruangan, bau yang dulu kesannya angker bagi Diandra kini terasa begitu menenangkan dan sangat enak untuk dicium


"Nah selesai deh," ucap penata rias ketika berhasil menancapkan mentul terakhir disanggul Diandra, nampak senyum itu begitu lepas dan nampak puas membuat Diandra ikut tersenyum begitu manis.


"Adudu... Nyonya Gavin cantik banget," Kiki yang sudah siap dengan kebaya warna dusty pink mendadak muncul dan berdiri di belakang Diandra menatap Diandra dari pantulan cermin dan ikut tersenyum lebar.


"Please jangan mulai Ki," desis Diandra sambil membelalakan matanya.


Tawa Kiki pecah, dia buru-buru merogoh tas guna mengambil ponsel membuat Diandra lantas menoleh dan nampak antusias.


"Foto di depan jendela situ bagus Ki, ayo foto berdua," ucap Diandra yang begitu bersemangat.


Kiki mengangguk membantu Diandra berdiri dan melangkah menuju depan jendela kamar hotel yang luas dan tertutup vitrase itu, Kiki memposisikan Diandra lalu sudut matanya menangkap sesuatu dia segera meninggalkan Diandra dan menghampiri benda yang mengganggu matanya.


"Eh mau ke mana sih?" tanya Diandra berteriak, pasalnya berdiri dengan riasan macam ini membuatnya sakit kepala.


"Pakai ini aku fotoin sendiri dulu, bagus kayaknya," Kiki segera memasangkan tudung putih itu di atas kepala Diandra dengan begitu hati-hati, tudung inilah yang nantinya akan menyelimuti mereka berdua saat ijab qobul bukan? Ah sungguh Kiki sudah tidak sabar lagi.


Dibantu penata rias yang juga hendak mengambil gambar Diandra untuk portofolio, Kiki memposisikan Diandra agar apik di foto, setelahnya jepretan demi jepretan kamera pun mengabadikan tubuh Diandra yang begitu cantik berbalut kebaya lace warna putih.


Senyum Kiki merekah, Diandra benar-benar perfect hari ini, kira-kira bagaimana dengan Dokter Gavin? bagaimana penampilan lelaki yang biasanya selalu rapi dengan kemeja lengan panjang dan celana bahan itu dalam balutan busana pengantin khas Jawa? rasanya Kiki sudah sangat penasaran dan tidak sabar untuk menantikan acara sakral ini, siapa yang tidak bahagia melihat teman seperjuangan yang menikah lebih dulu?


###############

__ADS_1


"Diandra safaluna"


"Darmawan"


Tentu itu yang tengah Gavin tanamkan dalam pikirannya, dia ingin dengan satu tarikan bisa sukses mengucap ijab qobul itu, jadi sebisa mungkin dia meminimalisir kesalahan dalam pengucapan nanti, Gavin menghela nafas panjang sungguh scrub dan gown operasi lebih nyaman digunakan daripada pakaian yang melekat di tubuhnya ini.


Mana gerah, rasanya sesak dan geraknya terbatas tetapi sekali lagi demi Diandra, demi masa depannya Gavin rela harus terkungkung dalam pakaian ini barang beberapa jam ke depan nanti.


"Vin?"


Gavin menoleh nampak Ari sang ayah yang juga sudah siap dengan jarik dan beskap itu melangkah ke arahnya, wajahnya nampak serius membuat Gavin menghela nafas panjang dia tahu betul pasti sang ayah hendak memberinya wejangan bukan?


"Kenapa yah?" tanya Gavin ketika sang ayah sudah duduk tepat di sisinya.


"Tentu Gavin tahu yah," gumam Gavin sambil tersenyum.


"Ingat Vin, wanita yang hari ini kamu nikahi adalah anak gadis yang begitu disayangi dan diperjuangkan dengan begitu keras oleh kedua orang tuanya, diperjuangkan kebahagiaan dia, kecukupan, kebutuhan dia dan diperjuangkan segalanya oleh orang tuanya, jadi tolong ingat betul apa kata ayah ini Vin bahwa kelak setelah menjadi istrimu dia harus bisa lebih bahagia, lebih tercukupi dari sebelum dia menjadi istrimu," ucap Ari.


Gavin tertegun, mendadak dadanya sesak.


"Diandra, gadis yang begitu dicintai ayahnya, jadi kamu juga harus mencintai dan menyayangi dia seperti ayah Diandra, sayang ke dia Vin," kembali Ari bersuara tangannya mengelus lembut pundak Gavin.


"Ketika dia kau sakiti hatinya, sakit yang ayahnya rasakan itu berkali-kali lipat, sedih yang ayahnya rasakan juga berkali-kali lipat, dia alasan ayahnya bekerja begitu keras, kalau kamu punya anak perempuan kamu akan tahu bagaimana rasanya Vin," mata Ari berkaca-kaca, Gavin tentu tahu apa yang membuat ayahnya seperti itu mungkin flashback ketika kakak perempuan Gavin menikah, Kakak nomor dua Gavin yang kini menjadi guru SMA di pulau Sulawesi.

__ADS_1


Mata Gavin memanas, bayangan air mata sudah menggenang di pelupuk mata Gavin, dihirupnya udara sebanyak-banyaknya berusaha untuk tidak menangis di depan sang ayah seperti ini.


"Ketika mengucap qobul, bukan hanya nikah dan kawinnya saja yang kamu terima Vin, tapi juga sikap jeleknya, kebiasaan dia yang mungkin bertolak belakang sama kamu, ngambeknya dia, marahnya dia, semuanya lah jangan cuma mau nerima enaknya aja, itu bukan laki-laki namanya, Vin," ucap Ari.


Gavin kembali mengangguk masih berusaha sekuat tenaga menahan air matanya.


"Sejelek apapun dia nanti ingat bahwa dia adalah pilihan kamu, wanita yang kamu percayai untuk jadi partner masa depan kamu, ingat betul bahwa dia adalah yang kamu ingini menjadi bagian hidupmu, jadi jika ada yang tidak sesuai perbaiki, buat jadi lebih baik bukan malah pergi cari pengganti,, ngerti Vin?" ucap Ari.


"Ngerti Yah," jawab Gavin dengan suara parau, rasanya Gavin sudah tidak kuat untuk tidak menangis.


"Dan ketika dia lepas melahirkan nanti, ingatlah segala macam perubahan fisik dan emosional yang terjadi semata-mata karena demi memberimu keturunan, ingatlah bahwa dia berkorban banyak hal dalam hidupnya untuk menjadikanmu Ayah, jadi pesan Ayah tetap dampingi, sabar, hadapi dan tentu saja tetap terima dan cintai dia tidak peduli bagaimana bentuk fisiknya, Vin," ucap Ari.


Kembali Gavin hanya bisa mengangguk, dadanya sudah terlampau sesak, air matanya bahkan sudah hampir menitik namun Gavin menyusutnya lebih dulu.


"Nangis aja kalau mau nangis, mumpung calon mu nggak lihat, Vin," goda Ari setelah beberapa menit dalam mode serius.


Gavin mengangguk dan tersenyum getir, tak selang beberapa detik tangis Gavin pecah, dia menjatuhkan diri dalam pelukan Ari, menangis sejadi-jadinya guna menuntaskan sesak yang menghimpit dadanya sejak tadi.


"Satu lagi pesan Ayah, Vin, istri itu partner, teman hidup bukan rival atau saingan, selama dia bisa menghormati kamu sebagai suami, menjalankan kewajibannya sebagai istri, dukung semua cita-citanya Vin, dampingi dia dan tuntun dia sampai sukses, tidak peduli nanti gajinya lebih banyak dari kamu, karena menikah itu mewujudkan mimpi bersama, mimpi kalian berdua bukan hanya mimpimu saja," ucap Ari.


Gavin sudah tidak mampu lagi bersuara, lidahnya serasa kelu.


"Intinya tetap tuntun dan ingatkan dia ke arah yang baik, nasehati jika salah dengan cara yang lembut, karena laki-laki sejati nggak main kasar sama wanita, Vin. Baik ucapan ataupun perlakuan, ngerti?" ucap Ari.

__ADS_1


__ADS_2