Musuhku Suamiku

Musuhku Suamiku
Boleh, kan?


__ADS_3

"Mas" Diandra mengguncang lengan itu, dia sudah beres mandi, sementara Gavin? tidur tengkurap dengan begitu pulas tanpa sehelai benang pun.


"Hmm?"


Sebuah respon yang jujur sangat Diandra benci. Kembali dia mengguncang tubuh itu dengan sedikit posesif. Hingga kemudian perlahan-lahan mata itu terbuka, menatap Diandra dengan sorot mata yang masih mengantuk.


"Kenapa, Sayang? Mau nambah?"


Sebuah gebukan gemas mendarat di lengan itu, Gavin bahkan sampai terkejut, dia lantas merubah posisinya jadi terlentang, dengan mata yang masih setengah mengantuk, dia mencoba membuka matanya lebar-lebar.


"Apaan sih? Kenapa Sayangku?" Gavin lihat betul bagaimana jeleknya wajah Diandra, dan itu artinya adalah Diandra tengah merajuk!


"Izin ke kos Kiki boleh, ya? Mumpung masih jam segini. Bosen di rumah."


Sudah lama Diandra tidak pergi dan nongkrong di kos Kiki. Saling ghibah sambil merampok persediaan camilan gadis itu. Pulang begitu camilan habis tanpa membereskan semua kerusuhan yang sudah Diandra buat adalah tradisi wajib yang selalu dia lakukan sejak kenal Kiki di semester satu.


Gavin bangkit, menguap sejenak lalu kembali menoleh menatap sang istri.


"Boleh. Tapi Mas yang antar, oke?"


Mata Diandra membulat. Dia lantas mengangguk cepat dengan senyum lebar. Sementara Gavin, dia melangkah turun setelah menjatuhkan kecupan penuh cinta di puncak kepala sang istri.


Diandra menatap tubuh itu sampai kemudian menghilang di balik pintu kamar mandi, dia segera meraih ponsel, menghubungi si pemilik kamar yang hendak dia kunjungi. Lama sekali panggilannya tidak terjawab, hingga kemudian suara cempreng khas Kiki menyapa indra pendengaran Diandra.


"Gimana, Dian? Ada apa?"


"Mau ke kos, boleh? Nggak ada jadwal jaga, kan?" Sebenarnya tanpa harus bertanya, Diandra sudah tahu betul apa jawabannya. Mereka kan satu tim!


"Boleh dong, wait aku masih di jalan. Bentar lagi sampai kok."


Alis Diandra berkerut, masih di jalan? Bukankah mereka sudah sejak tadi baliknya? Lantas kenapa bisa ini Kiki masih dijalan? Mata Diandra membulat, ah! Dia lupa kalau tadi Kiki pulang sama Derren tadi. Mungkin mereka jalan-jalan atau.....


"Cie... Habis nge--"


"Nggak ada cie-cie ku gaplok mau, Dian?" Potong suara itu galak.


Diandra terbahak-bahak, jujur itu membuat dia makin bernafsu hendak cepat sampai di kos Kiki. Akan di cecar Kiki dengan banyak pertanyaan. Dan agaknya semua taruhan yang kemarin mereka sepakati lalu dibatalkan sepihak oleh Kiki akan jadi kenyataan Diandra sudah mulai mencium ada bau-bau cinta lokasi di sini!

__ADS_1


"Galak amat sih! Aku otewe deh! Cepetan kau otewe nya! Jangan lupa bawa camilan yang banyak!"


Tut!!!


Tanpa menunggu tanggapan Kiki, Diandra segera mematikan sambungan telepon, tak beberapa lama pintu kamar mandi terbuka. Nampak sosok Gavin melangkah keluar dengan pakaian lengkap dan wajah yang lebih segar.


"Berangkat sekarang? Tanya Gavin sambil menyeka wajah dengan handuk kecil.


"Ya dong! Makasih, dah dianterin," Diandra yang sudah bangkit spontan menjatuhkan diri ke dalam pelukan Gavin. Kenapa dada ini begitu nyaman?


Bukan hanya dada, bahu, paha dan hampir semua bagian tubuh Gavin begitu nyaman dan menyenangkan untuk Diandra sentuh hal yang membuat Diandra begitu betah dan suka sekali menempel di tubuh Gavin kapan pun dan di manapun.


"Sama-sama, Sayang!" Tangan itu mengacak gemas rambut Diandra yang nampak baru selesai keramas. Membuat Diandra melepaskan pelukannya dan menggebuk lengan sang suami dengan bibir mengerucut


Gavin terbahak, merapikan rambut itu lantas sedikit menunduk agar bisa menatap lurus mata Diandra yang bulat dan hitam legam.


"Dian, boleh tanya?" Nada Gavin berubah serius, membuat Diandra otomatis berpindah juga ke dalam mode serius.


"Ya? Apa yang mau Mas tanyakan?"


"Jawab jujur, oke?"


"Dari aku jawab ijab dari Papa, sampai detik ini kamu jadi istri aku, apa kamu bahagia, Dian?"


Hampir tawa Diandra pecah, ada angin apa Gavin menanyakan hal itu?


"Kok tanya gitu? Kenapa?" Diandra melingkarkan tangan memeluk pinggang sang suami, jujur hatinya berbunga-bunga mendengar pertanyaan sang suami.


"Hanya memastikan bahwa kamu bahagia bersamaku, menjadi istriku."


Rasanya seperti ada jutaan kupu-kupu bertebangan di dalam perut Diandra. Sungguh dia bahagia! Pelukan itu makin erat, pelukan yang lantas dibalas oleh tangan yang mengelus lembut puncak kepala Diandra.


"Kau tau, Mas? Aku bahkan belum pernah sebahagia ini. Terima kasih."


#######


"Langsung balik?"

__ADS_1


Kiki menoleh, dia hanya mengangguk pelan. Tidak dia sangka, Derren sore ini membawanya konsul ke dermatolog. Bukan hanya membahas bekas luka parut di tangan Kiki, Derren bahkan merogoh kocek untuk prosedur penghilangan bekas luka itu dari tangan Kiki.


Derren tidak banyak bicara, langsung membawa mobilnya melaju pergi dari depan klinik kecantikan itu. Hal yang membuat Kiki mendadak merasa sungkan, padahal beberapa saat yang lalu dia lebih suka Derren diam tidak bersuara.


"Mas, makasih banyak, ya!" Gumam Kiki lirih. Derren sahabat kakak Diandra, apa jangan-jangan Diandra yang memberitahunya tentang kekhawatiran Kiki pada bekas luka ini?


"Santai, Ki. Tidak usah sungkan. Oke?"


Kiki spontan tersenyum, Derren ternyata tidak selalu menyebalkan seperti apa yang terlihat selama ini. Dia bahkan punya banyak hal yang membuat Kiki terkesima ketika hal itu dia tunjukkan di depan Kiki.


"Mas... A-aku--,"


"Kalau kau menolak aku antar jemput, maka jawabanku tetap sama!" Potong Derren tidak mau dibantah.


"Tugas visiting bangsal ku pindah jadi tugasmu!"


Kiki mendesah, sejak tadi hanya itu yang mereka bahas. Dan belum menemukan juga titik terang untuk masalah itu. Derren nekat mau antar jemput Kiki, sementara Kiki tidak mau dijemput oleh Derren. Kapan ketemunya?


"Kamu itu diktator ya, Mas?" Gerutu Kiki sambil mencebik.


"Biarin! Aku cuma nggak mau kehilangan kesempatan ku kali ini!"


Kiki tersentak, dia mengangkat wajah dan menatap Derren dengan tatapan tidak mengerti. Apa tadi Derren bilang? Kehilangan kesempatan? Kesempatan apa? Yang bagaimana?


"Wait!" Kiki begitu penasaran.


"Kehilangan kesempatan apaan sih, Bang?"


Derren menoleh sekilas.


"Kalau aku jawab jujur apakah kau akan berhenti menolak dan menurut aku antar jemput?"


"Ya tergantung." Kiki menggaruk kepalanya, kenapa jadi penuh teka-teki begini sih Derren ini?


"Kiki serius belum ada pacar, kan?" Bukannya menjawab, Derren malah kembali banyak bertanya, membuat Kiki makin tidak mengerti dan jangan lupa, dia merasa sedikit besar kepala. Jangan- jangan....


"Be-belum, Mas. Memang kenapa?"

__ADS_1


"Jujur aku pengen kenal kamu lebih deket, Ki. Boleh, kan?"


__ADS_2